30 Juni 2013

LIVE WITH CHARACTER



“The essential thing is not knowledge, but character”

Joseph Le Conte

LIVE WITH CHARACTER
Man of Steel
Anda sudah menonton “Man of Steel”? Seminggu yang lalu saya dan istri menemani kedua kurcaci kami pergi ke bioskop untuk menonton film daur ulang (yang kesekian kalinya) dari salah satu pahlawan  fiksi yang paling terkenal. Siapa lagi kalau bukan sosok alien (mahluk luar bumi) dari planet Krypton yang ganteng, fisiknya sama dengan manusia tetapi berotot kawat dan bertulang besi serta memiliki sinar mata multi fungsi. Matanya dapat berfungsi sebagai laser, alat las, kamera tembus pandang yang jelas lebih canggih dari feature-feature yang sedang dikembangkan oleh Google Glass saat ini.

Bagi saya dan istri, menonton film Superman adalah proses validasi terhadap sebuah ciri pribadi seorang alien yang bernama bumi Clark Kent.  Bagi Thesa dan Jason (dua kurcaci kami),  menonton Superman di bioskop adalah sebuah proses pengenalan sebuah karakter baru yang “wah” pada dimensi pengalaman mereka. Thesa berkali-kali berdiri dan bertepuk tangan (kelakuan yang mengingatkan saya kejadian 30 tahun yang lalu, saat papanya nonton layar tancap di alun-alun pelosok desa di Klaten) pada saat Superman berjuang mati-matian saat harus menyelamatkan Lois Lane, Ibunya dan mahluk bumi yang lain dari serbuan jendral Zod dan pasukannya.

Bagi Thesa, Superman adalah pengenalan sebuah karakter baru tentang pribadi yang hebat, suka menolong, mau mengorbankan diri sendiri untuk keselamatan umat manusia di bumi (Superman versi baru ini dalam beberapa adegan mengingatkan saya akan Superman  yang lain. Superman yang lain juga menyembunyikan diri sampai umur 33 tahun dan kemudian mengorbankan dirinya demi keselamatan manusia). Bagi saya dan istri, film terbaru tentang Superman adalah validasi ulang karakter superman yang ada dipikiran kami.

Apa itu Karakter?
Kamus Webster mendefinisikan karakter sebagai “one of the attributes or features that make up and distinguish an individual”.  Kalau kita mengacu pada definisi ini maka secara sederhana apabila kita ditanya siapakah si Polan itu? Dan kemudian kita jawab Polan adalah si “baik hati” atau “penolong” atau si “Judes” atau si “Pelit” atau si “Pinter” dan lain sebagainya sebenarnya kita sedang menggambarkan karakter dari Polan. Karakter seseorang merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang dipegang teguh oleh sebuah pribadi yang diperkuat oleh belief (kepercayaan) dan moral yang dipercayainya.

Darimana asal-usulnya karakter?, riset menyatakan bahwa karakter merupakan kombinasi dari dua hal “Nature” dan “Nurture”. Nature adalah gen yang diwariskan oleh kedua orang tua kita, sedangkan Nurture adalah proses pembentukan tingkat lanjut terhadap gen yang diwariskan yang didapatkan dari didikan orang tua, pengaruh pergaulan dan teman bermain, pelajaran dari teman sekolah dan guru, didikan si mbak dan suster, sinetron yang ditonton dan games yang dipelototi setiap hari. Sampai dengan usia remaja, proses pembentukan karakter secara masif terjadi. Sesudah dewasa, karakter terbentuk dan sangat tidak mudah untuk berubah.

Banyak orang mencampuradukkan antara karakter dan kepribadian. Kalau ditelisik lebih lanjut kepribadian adalah “karakter yang dimunculkan untuk diperlihatkan kepada orang lain”. Jadi kalau seseorang terlihat berbeda-beda karena yang bersangkutan sedang “playing character” atau dengan kata lain menampilkan kepribadian. Bagi anda yang ingin melihat karakter asli seseorang perhatikan “kepribadian” ybs. pada saat sedang mendapatkan tekanan, niscaya karakter aslinya keluar. Seseorang yang dimanapun berada memiliki tampilan kepribadian yang sama, bisa kita sebut sebagai “man of character”.

So what with my character?
Karakter menjadi sangat penting dalam kehidupan kita sebagai manusia karena karakter kita menentukan bagaimana hidup akan kita jalani (Our Character determine how we live our live). Karakter akan menjadi catatan sejarah yang hidup dalam memori orang lain terhadap anda.

Perjanjian Baru menggambarkan sebuah tranformasi yang luarbiasa pada diri seorang Yahudi tulen yang bernama Saulus. Saulus seorang yang disiplin, keras, pinter, pemberani dan pantang mundur. Saulus lama adalah pemburu jemaat Kristen mula-mula yang paling terkenal dan kejam. Saulus baru yang berganti nama menjadi Paulus menjadi Rasul  yang pelayannya menjangkau banyak wilayah didunia dan berkontribusi besar dalam Alkitab Perjanjian Baru dengan surat-surat yang dia tulis. Apa yang membedakan? Karakter yang dia miliki ibarat sebuah mobil, Saulus adalah sopir lama dan Paulus sopir baru. Mobilnya sama, tapi sopirnya memiliki jiwa yang berbeda. Sopir baru diperbaharui jiwanya oleh Roh Kudus sehingga karakter yang ada menjadi berkat yang luarbiasa bagi banyak orang.

Alkitab menujukkan karakter seperti apa yang Tuhan ingin ada pada diri kita. Galatia 5:22-23 mengajarkan karakter yang patut untuk dipupuk dan ditumbuhkan adalah karakter orang yang penuh kasih,  sukacita, orang yang damai sejahtera, sabar, murah hatinya, baik, setia, lemahlembut dan karakter yang penuh penguasaan diri. Seberapa besar karakter (buah roh) ini nampak dalam hidup anda?

Saya, anda dan semua orang memiliki pilihan dan kesempatan yang sama dalam membangun karakter. Nature jelas tidak bisa diganggu gugat. Nurture pilihannya ada ditangan anda, dan yang terakhir tidak kalah penting adalah siapa yang menjadi pengendali karakter anda, apakah diri pribadi yang penuh nafsu, atau Roh Kudus yang akan menjadi nahkoda karakter dan kehidupan kita.  
How do you live your live? Man of character or following where ever the wind blow?

Eko Jatmiko Utomo
Konsultan & Praktisi HR dan Leadership Development
Candidate Doctor (S3) UI jurusan Strategic Management
Mantan Aktivis GKI MY

Tidak ada komentar: