27 Februari 2015

JIKA SAYA PRESIDEN JOKOWI

Sambil menunggu keputusan mahapenting dari Presiden Jokowi (PJW) tentang Kapolri dan Cicak vs Buaya dkk, saya kok pingin berandai-andai kalau saya dalam posisi beliau. Seringkali kita (saya termasuk) bak pengamat bola yang bahkan lebih pintar dalam melakukan analisa pertandingan. Padahal kalau disuruh nendang pinalti belum tentu dari 10 kesempatan ada 1 yang masuk.

Keputusan statejik yang baik (Good Strategic Decision) menurut para ahli memiliki beberapa karakter penting seperti:
- Berkualitas tinggi
- Dimengerti oleh stakeholder
- Diterima oleh stakeholder
- Mendapatkan komitment (promise to act) stakeholder
- Mudah diterapkan
- Dan CEPAT (maksudnya keputusan cepat diambil)

PJW adalah presiden pertama republik ini yang lahir dari bapak demokrasi dan ibu reformasi yang bukan militer (seperti pak Harto dan SBY), darah biru (Megawati), kecelakaan sejarah (seperti Habibie dan Gus Dur).

Modal PJW satu2nya yang dimiliki adalah dukungan rakyat yang dikatalisasi oleh sebagian media (yang netral). PJW walaupun kaya untuk ukuran orang Indonesia tapi jelas lebih miskin dibandingkan dengan Megawati, Wiranto, Prabowo, Yusuf Kalla atau Konglomerat yang bernafsu main politik seperti Aburizal Bakrie atau Hari Tanu. Dukungan rakyat (dan media) adalah modal nyata satu2nya yang dimiliki oleh PJW.

PDIP dan jaringannya? jelas terlalu naif kalau kita menganggap bahwa elite PDIP (Mega dkk) "support without reserve" terhadap Jokowi. Semuanya menggunakan hitung2an. Kalau perlu pakai kalkulator cost and benefit ratio. Dari hasil survey 2013 dan 2014 jelas Megawati tidak akan bisa memenangkan Pilpres kalau lawan Prabowo. Mengusung Jokowi adalah satu2nya pilihan bagi PDIP yang sudah makan debu selama 10 tahun jadi oposisi.

Dengan demikian sudah teridentifikasi stakeholder utama PJW yaitu rakyat. Teridentifikasi juga tidak ada modal langsung yang dikeluarkan oleh capres Jokowi karena rakyat yang memilih dan relawan yang mendukung. Relawan bergerilya menggunakan uang mereka sendiri bahkan memberikan sumbangan untuk kampanye 2014. Dari kondisi seperti ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya PJW tidak memliki "something to lose" lha wong dia menjadi presiden juga tidak bermodal kok.

Rakyat mendukung pemberantasan korupsi. Survey dari jaman purbakala sampai survey terkini menjadi bukti. Cakapolri BG yang sempat dijadikan tersangka oleh KPK (walau dibatalkan oleh Hakim Sarpin) jelas bukan pilihan yang dimengerti, diterima, mendapatkan komitmen oleh stakeholder utama PJW yaitu rakyat. Pilihan satu2nya yang merujuk pada "good strategic decision" versi stakeholder utama adalah tidak melantik BG.

Melewati titik awal penting (tidak melantik BG) masuk ke titik penting keputusan berikutnya. Siapa yang dilantik dan menggantikan? seperti judul tulisan diatas kalau saya yang jadi PJW saya akan membuat keputusan seperti dibawah ini. Ingat, saya dalam posisi "nothing to lose".
1. Mengangkat Suhardi Alius dan melakukan penugasan untuk melakukan pembersihan di Polri terhadap oknum2 yang anti KPK.
2. Segera mengangkat Pansel KPK baru untuk menggantikan pimpinan yang "terlanjur diberi catatan hitam" untuk memilih pimpinan baru. Memastikan nama Komjen Purnawirawan Oegroseno masuk.
3. Meminta pada Pangab untuk menjaga ketertiban dan keamanan. Memastikan pergantian Kapolri berlangsung mulus.
4. Memanggil menteri2 yang partisan seperti Tedjo, Puan, Yasona untuk memilih jadi menteri atau balik partai. Memastikan bahwa semua menteri adalah President's man.
5. Bertemu ketua partai KIH (satu persatu) mau tetap dukung atau tidak. Kalau tidak dukung silahkan pergi.

Skenario yang terburuk yang terjadi? dimaksulkan sama DPR? bisa tapi sulit. Anggap pemaksulan terjadi seperti yang dialami oleh Gus Dur. PJW akan kehilangan apa? nothing! namun tetap akan mendapatkan dukungan rakyat. Kalau sesudah pemaksulan masih minat jadi Presiden segera buat partai (Projo bisa jadi embrio) dan negara ini paling suka sama underdog yang dikuyo2 seperti SBY tahun 2004. Jokowi dan partai baru pasti akan mendominasi pileg dan pilpres 2019.

Kalau melakukan sebaliknya? modal satu2nya akan hilang. Akan dikenang sebagai kelelawar dan bukan rajawali seperti yang dibilang Buya Syafii Maarif.

Dan sesuai dengan teori strategic decision diatas maka semuanya harus dilakukan dengan CEPAT. Nasi sudah jadi bubur. Segera dimakan. Kalau dibiarkan jadi busuk akan mengundang banyak penyakit.

Rabu abu yang kelabu.
18 Peb 2015
BSD City

Note: untung saya bukan PJW, kalau harus memutuskan seperti ini saya bisa turun 20 kg dalam sebulan!

Tidak ada komentar: