14 Februari 2010

On your mind! (Yogya sharing Part 1)


Apa yang paling tidak disukai oleh orang yang sedang tenggelam dalam kesibukan kerja? -sakit penyakit-. No......saya tidak bermaksud bilang bahwa orang yang tidak sibuk kerja menyukai penyakit. Maksud saya adalah bahwa orang yang sudah pusing dengan pekerjaan, dan merasa berton-ton tugas menumpuk diatas kepalanya pasti paling tidak mau ditambah dengan penyakit yang menganggu. Apalagi penyakit yang tidak elit dan tidak cukup menjadi alasan untuk ijin sakit seperti mencret. Yup........sejenis penyakit yang agak sedikit memalukan untuk disebutkan. Pada bulan Desember penyakit jelata (emang penyakit elit itu apa ya? kangker?stroke?... hiiiiiiii ngak mau juga) melanda tubuh yang sedang (atau merasa) sibuk dan susah sekali disuruh pergi dengan obat2 dari konter apotik.

Berhubung ngak enak dilihatin anakbuah karena harus sering antre dikamar mandi kantor maka dengan terpaksa saya membawa penyakit ini kedokter. Dokternya sendiri masih muda, sopan dan baik hati. Dan yang paling oke adalah mau mendengarkan kisah dan keluh kesah pasien (suatu kualitas langka pada diri dokter jaman sekarang). Setelah dengan seksama menanyakan apa yang terjadi sebelum penyakit mendera termasuk makanan yang masuk ke mulut maka dengan hati-hati pak dokter muda berkata "pak Eko, yang namanya sakit perut itu tidak hanya disebabkan oleh makanan dan bakteri. Namun stress karena suatu hal juga bisa menyebabkan gejala yang sama yang dinamakan penyakit "psikosomatis". "Tepat sekali dok, terus terang dalam beberapa minggu ini saya sedang diganggu oleh beban pekerjaan" dengan cepat saya membenarkan perkataan pak dokter. Senyum lebar mendominasi muka sang dokter, mungkin dalam hatinya dia berkata bahwa cara dia menyampaikan diagnosis yang hati2 ternyata malah langsung disamber dan di setujui oleh pasien.

Hmmm konfirmasi sang dokter yang telak mengenai ego dan keangkuhan master NLP seperti saya. Bagaimana ngak memalukan kalau bertahun2 belajar mengontrol pikiran dengan teknik2 mutakhir NLP kok bisa kecolongan sakit psikosomatis he he he .......jelas bukan metaphore yang layak untuk diceritakan didepan kelas saat workshop. Malam itu juga proses "menggarap pikiran" untuk menetralkan beban dengan intensive segera dilakukan......daripada melanjutkan penyakit mencret kan berabe. Wuuuuuh proses netralisasinya kasus ini ternyata bukan barang mudah. Butuh perjuangan dan ketetapan hati untuk bisa menetralitas emosi antara 2 pilihan: meninggalkan team yang masih butuh bimbingan atau menerima tawaran pekerjaan lain yang aduhai!

"Pa...........brrrrr" lagi asik memproses diri terdengar panggilan dari sebelah kasur. "Kenapa ma?" tanyaku melihat mama Jason yang meringkuk kedinginan dipojok ranjang?". "Ngak tahu nih pa, aku kok merasa makin lama makin kedinginan brrrr" katanya sambil makin meringkukkan badan dan memegang erat2 cover bad yang menyelimuti badannya. "Kamu sakit ma?" kataku sambil memegang dahinya. Dahi dan keseluruhan badannya dingin sekali, wajahnya pucat persis seperti wajah pendaki yang sedang kedinginan di puncak gunung. "Ngak tahu pa, aku ngak sakit apa2 kok tahu2 aku kedinginan sendiri seperti ini". "Coba kamu ingat2 apa yang terjadi ma?" telisikku mencoba mencari asal muasal kedinginan ekstrim yang melandanya. "Ngak ada apa-apa, cuma hari2 ini aku stress lihat papa stress mikirin tawaran kerja itu!" Walaaaah.....lha kok penyakit psikosomatis menular, jan njelehi ini.

"Pa, dingin sekali" keluh mama Jason perlahan. "Ma, ini bukan penyakit, kedinginanmu itu berasal dari pikiran. Masih ingat ngak dengan konsep -Mind & Body are integrated- yang pernah kita diskusikan dulu?" tanyaku sambil berguling mendekati dirinya. "Iya, ini dingin sekali pa, aku ngak bisa tidur" keluhnya lagi. Saking dinginnya terlihat tubuhnya bergetar. "Oke, aku bantu proses ya, ikutin apa yang aku ucapkan" sambil berkata aku peluk tubuhnya dan aku dekatkan mulutku di telinganya. Dingin tubuhnya menyebar dan merambat ketubuhku yang mendekapnya. "Tarik nafas............keluarkan, santai....dan rileks.Tarik nafas lagi mmmhhh dan keluarkan perlahan wuuuuuuuh. Bayangkan tahun 96 saat kita ikut camp pemuda di Puncak. Bayangkan peristiwa dimalam terakhir sebelum pulang ke Bandung, kita duduk2 didepan api unggun...........lihat api unggun yang menyala besar menjilat langit, lihat warnanya yang merah membara. Dengarkan suara gertak kayu yang terbakar dan suara kita sedang bernyanyi bersama-sama. Dan rasakan panasnya api unggun yang membakar, wuuuuh rasakan panas api unggun yang makin lama makin panas seiring dengan makin tinggi api membara. Rasakan percikan anak api yang meloncat2. Panas yang hampir2 melepuhkan kulit, dan hawa panas yang menampar muka.........duuuuuh panas nian api unggun ini.......sungguh terasa membakar.......".

Tubuh dalam pelukan berhenti mengigil dan diganti dengan tarikan nafas yang teratur. Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Hmmm konsep mind and body are integrated untuk kesekian kali terbukti. Kedua dimensi ini saling mempengaruhi dengan cara yang luarbiasa. Sambil sedikit menggesar tubuh aku lirik jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Hmmm.........back to my own psikosomatis, tarik nafas panjang dan mencoba melihat dari titik pandang netral: stay with current team? great, akan banyak hal yang akan kita lalui bersama, banyak project dan pekerjaan yang bisa kita ambil. Banyak moment sharing ilmu dan kompetensi yang bisa kita kerjakan. Get the new job? great, ketemu dengan banyak teman baru. Mendapatkan challange baru yang sangat menantang, membangun sistem people development untuk 10.000 karyawan, dapat gaji baru yang bagus..................so, apa yang harus dikawatirkan? 2 pilihan yang sangat baik ada didepan mata. Apapun yang akan diambil akan mendatangkan sukacita................wuuuuuus bunyi nafas panjang keluar dan kemudian yang ada adalah sunyi dan mimpi..

Feb
BSD pagi hari
Eko Utomo untuk Anda

NLP: Neuro Linguistic Programming (konsep pemberdayaan diri)

Hmmmm rugi kalau saya tidak ambil dia.....(sukses dalam interview)


"Pak Eko, tanya dong...........bagaimana sih caranya agar kita sukses saat interview?". Pertanyaan sejenis dengan segala macam variasinya sering banget muncul dalam interaksi sehari-hari. Hari Jumat 2 hari lalu seorang ibu muda yang baru menikah melontarkan pertanyaan ini karena sedang bersiap2 interview di kota dimana suaminya berada. Pagi hari tadi, dengan penuh antusias anak mahasiswa ITB tingkat akhir juga melontarkan pertanyaan yang sama saat workshop leadership berlangsung.

Alasan mereka menanyakan hal itu ke saya juga tidak jelas benar......lha wong saya juga ngak pernah balik bertanya kepada mereka kenapa mereka tanya ke saya. Yang ada hanyalah asumsi bahwa mereka mungkin melihat saya termasuk golongan orang yang "sukses" wawancara karena sudah 7 kali lolos wawancara dan mendapatkan pekerjaan baru sepanjang 14 tahun karir sebagai kuli perusahaan. Asumsi saya yang kedua mungkin penanya melihat saya sebagai orang HR yang tahu rahasia keberhasilan melewati proses wawancara atau dengan istilah lain memiliki "insider information". Asumsi yang ketiga mungkin mereka melihat saya sebagai fasilitator yang sering sharing berbagai macam topik kepemimpinan dan managerial jadi dianggap "cukup layak" untuk didengarkan pendapatnya tentang hal ini.

Mendapatkan pertanyaan seperti ini biasanya saya akan ajak sang penanya untuk masuk dalam alam pikiran interviewer. "Coba kalau sampeyan yang menjadi pewawancara apa yang membuat Anda menyatakan seseorang lulus atau tidak" dan biasanya sesudah merenung sejenak maka jawaban yang muncul adalah "kalau saya mewancarai orang maka mereka yang lulus adalah yang sesuai dengan kebutuhan saya dan akan memberikan benefit/keuntungan buat departemen atau perusahaan saya". Bingo!.........titik inilah titik kesepakatan kami mengenai proses wawancara. Segala macam proses yang lain hanya sebagai alat penguat agar diri kita sebagai orang yang di interview cocok dengan kebutuhan dan bisa memberikan value kepada user dan perusahaan yang hendak merekrut kita.

"Pak Eko, kalau kita ditanya dengan kalimat semisal -coba ceritakan tentang diri Anda- bagaimana caranya kita harus menceritakan diri kita pak" tanya sebut saja Butet hari Jumat pagi. "Oke, bagaimana kalau kita kembali pada titik awal yang sudah kita sepakati diatas? apakah cerita tentang diri kamu memperkuat premis bahwa Anda cocok dan akan memberikan benefit?" tanya saya balik kepada Butet. "Hmmmm kelihatannya sih enggak pak, soalnya saya juga ngak tahu benar sebenarnya yang dibutuhkan oleh mereka itu apa!" jawab Butet sambil sedikit bingung. "Terus apa yang bisa kamu lakukan agar kamu bisa tahu tentang hal itu?" desak saya. "Sebenarnya saya bisa tanya ke mereka pak, tapi kalau merekanya tanya duluan kan saya harus menjawab?" lanjut Butet setengah bertanya. "Bisa ngak kita bilang sambil minta maaf ke mereka untuk bertanya terlebih dahulu?" pancing saya lebih lanjut. "Hmmmm emang bisa ya pak?" kali ini Butet menjadi tambah penasaran. "Bisa! dan bahkan seringkali pihak Interviewer bergembira menjelaskan hal itu" kata saya setengah tersenyum membayangkan proses interview pribadi saya dengan beberapa pihak. "Nah, sesudah mendapatkan informasi tentang kebutuhan mereka, cerita tentang pribadi kita sebagai orang yang diinterview kita pusatkan kepada hal2 yang akan memenuhi kebutuhan pihak yang akan merekrut kita" sambung saya memberikan penekanan.

"Waaaah, selama ini saya ngak terfikir tentang hal itu pak Eko" kata Butet gembira. "Satu lagi pak, biar ngak tanggung, perlu ngak kita ceritakan hal2 yang baik dari diri kita kepada pihak interviewer" kata Butet semangat. "Butet, kalau kamu sedang butuh daging sapi untuk buat rendang mau ngak kamu dikasih daging ayam?" tanya saya sambil tersenyum. "Ya tidak pak, mungkin bisa kali ya rendang ayam.....tapi tetap lebih enak rendang sapi he he he" gurau butet menangkap analogi saya.

"Pak, masih penasaran nih, kan sering tuh di artikel2 HR disarankan bahwa kita harus berpakaian rapi, berbahasa yang sopan dlsb pada saat interview........kalau yang seperti itu bagaimana pak?" tanya Butet yang sepertinya tidak ingin gagal di interview minggu depan. "Jawabannya sama boss, apakah tindakan dan persiapan kita tadi "memperkuat" image bahwa kita cocok dengan kebutuhan dan akan memberikan benefit apabila direkrut dari sudut pandang mereka. Kalau memperkuat "lakukan!" kalau memperlemah jelas "tinggalkan!" jawab saya sambil tersenyum simpul melihat semangat ito Butet satu ini.

Bandung 30 Jan 2010
Eko Utomo untuk Anda

Membangun Perilaku (memujimu setulus hatiku part 2)


Pulang kerja setiap malam menjadi ritual yang ditunggu, indah dan menyegarkan. Kenapa moment ini ditunggu-tunggu? sebab demikian mobil parkir di halaman maka dari dalam rumah menghambur dua sosok kurcaci yang paling indah di dunia dengan teriakan khas mereka "papa dataaaaaaaaaang!". Teriakan itu begitu indah terdengar ditelinga dan menyegarkan badan lungkrah dan pikiran kusut diguyur berember2 kerjaan di kantor.

"Anak papa yang cantik ini pintar sekali, makasih ya Tesa!" kataku begitu Tesa selesai mencopot sepatu dan kaos kaki serta meletakkannya di rak dipojok teras rumah. Sejak 3 bulan yang lalu, secara mendadak Tesa membantu mencopot sepatu tanpa diminta, dan sejak saat itu maka ritual ini berlangsung setiap malam sepulang kerja. Senyum Tesa segera mengembang bak bunga matahari diterik siang saat papanya memberikan pujian tulus "Makasih Tesa ya....sudah membantu papa mencopot sepatu papa" sambil mencium kepalanya. Dan kelihatannya Tesa menjadi pihak yang ikut menikmati ritual mencopot sepatu tanpa diminta cukup dengan ucapan "anak cantik papa yang baik...."

Asisten kami mendapatkan kontrak kerja khusus, salah satu clausal dalam kontrak tadi menyatakan bahwa dia mendapatkan hak cuti sehari dalam seminggu. Dan hari selasa menjadi hari yang sibuk bagi kami sekeluarga, berhubung asisten cuti dan baru kembali siang hari maka pada pagi hari semua sibuk luarbiasa. Papa Tesa sibuk untuk berangkat ke kantor, sementara mama Tesa sibuk menyiapkan makan dan menyiapkan keperluan sekolah Tesa dan Jason. Yang luarbiasa, dengan keterbatasan komunikasi verbalnya Tesa dengan sigap membantu memandikan adiknya dan bahkan memasang baju Jason sekaligus. Tesa tidak berhenti disitu, pulang sekolah Tesa segera mengambil baju jemuran dan segera pasang kuda2 untuk mensetrika pakaian. Semuanya dilakukan oleh Tesa tanpa perintah kami orang tuanya. Kami hanya bisa menerka2 bahwa Tesa sebagai anak sulung memiliki kecenderungan untuk "lebih dewasa". Satu2nya hal yang kami lakukan saat Tesa mengerjakan semua hal hanyalah mengucapkan "terimakasih Tesa, anak papa yang cantik ini memang pintar!", dan Tesa akan menjawab "sama-sama papa" dan bertambah semangatnya untuk mengerjakan tugas2 itu.

Malam ini mak Erni, tukang urut langganan kami tidak bisa datang karena sudah fully booked! dan berhubung seharian mengajar diworkshop maka betis kanan dan kiri jelas kelelahan menyangga tubuh yang sedikit overweight (menghibur diri mode on). Segera setelah minum teh manis maka kalimat pertama yang keluar dari mulut adalah "ma, kalau aku rasa-rasakan, pijatanmu itu tidak kalah dari mak Erni lho! bahkan pijatnmu lebih syahdu rasanya..............." dan segera mengambil posisi menyelonjorkan kaki ke depan mukanya.

BSD City, 28 Jan 2009
Eko Utomo

Memujimu dengan setulus hatiku


Hari minggu jam 10 pagi di Gramedia jalan Merdeka Bandung penuh sesak, dari sudut ke sudut dipenuhi oleh pembeli dan para mahasiswa serta pelajar yang berkantong tipis namun berbetis tebal dan kuat siap berjam-jam belajar di Gramedia sambil berdiri. Diantara manusia yang berjubel itu berdiri seorang mahasiswa tingkat akhir ITB yang menghabiskan hari minggu di perpustakaan keren dan dingin yang dinamakan Gramedia itu. Mahasiswa Tomi tidak mempedulikan sekelilingnya, matanya yang digayutin kacamata minus dengan serius menatap buku yang sudah sejak 30 menit yang lalu dibacanya. Sekelebat buku bersampul pink dan bergambar hati itu berjudul "Memenangkan Hati Perempuan!". Biasanya Tomi langsung menuju ke lantai 3 untuk mencari komik Chinmi atau the Pitcher, namun saat melewati lantai 2 mau menuju lantai 3 matanya tersangkut di buku warna pink ini.

Tahun 1996 ini usianya sudah masuk 23 tahun, disela2 kesibukannya mengerjakan Tugas Akhir (skripsi) Tomi mempunyai target lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu mencari PW (Pendamping Wisuda) yang akan menemani wisuda awal tahun depan atau syukur2 bulan Oktober tahun ini juga. Untuk urusan yang satu ini Tomi cuma bisa garuk2 kepala. Lebih dari 4 tahun dirinya kuliah dan hidup di Bandung propasal PW satu kali ditolak dan satu kali tidak sempat disubmit karena keburu disamber orang lain. Garing juga kali ya kalau wisudah ngak ada PWnya, demikian Tomi berkeluh didalam hatinya. "Nah........mungkin buku bersampul pink ini bisa membantu memberikan jalan keluar" batinnya girang.

"Jadilah manusia yang menyenangkan" demikinan subjudul pertama yang dibacanya. "Wah............gampang di baca tapi sulit dilakukan tuh" sungut Tomi dalam hati. "Hal utama yang harus dilakukan untuk menjadi manusia yang menyenangkan adalah jangan pelit memberikan pujian. Semua manusia terlebih wanita sangat suka dengan yang namanya pujian" hmmmm.....makin menarik nih gumam Tomi dalam hatinya. "Berikan pujian yang tulus dan benar, karena wanita tahu persis mana pujian yang tulus atau pujian palsu yang tidak berdasar" kali ini alis Tomi berkerut hampir ketemu kiri dan kanan berusaha mencerna kalimat di buku pink itu. Lha, tidak semua wanita kan cantik kayak Sophia Latjuba, terus apa yang harus dipuji..............??? kacamata yang melorot di atas hidung tidak dirasakan oleh Tomi yang sedang mencoba menerima kalimat provokatif dari buku. "Jangan hanya fokus pada kecantikan wajahnya, perhatikan segala sesuatu didirinya, apakah senyumnya, giginya yang cemerlang atau perbuatannya yang menawan!, temukan fakta dan kebenaran itu dan berikan pujian yang tulus. Anda pasti akan menjadi pribadi yang menyenangkan!". Eureeeeeeeeeka sambil senyam senyum sendiri Tomi bagaikan Archimedes menemukan hukum berat jenisnya yang terkenal itu. 'Patut dipraktekkan nih" bisik Tomi didalam hatinya.

Minggu berikutnya di GKI MY Bandung, 'pagi Rina, wah....bajumu bagus dan serasi dengan sepatumu" sapa Tomi kepada Rina yang berpapasan di tangga. "Hi La, pagi ini senyummu manis banget......lagi bahagia ni yeee.......goda Tomi kepada Lara yang duduk dibelakangnya saat kebaktian". Kebaktian usai 1.5 jam berikutnya dan Tomi menuruni tangga bersama-sama dengan Voni gadis manis anak Unpad ekonomi. "Voni, btw kok aku baru memperhatikan ya kalau alismu hitam tebal dan bagus" puji Tomi. Voni yang dipuji hanya tersipu malu karena baru kali ini ada cowok muji alisnya. Saat keluar dari gereja Tomi melihat Jane sedang berjalan sendirian mencari angkot....."Jane, mau numpang aku naik motor ngak? daripada sepatu barumu yang keren itu basah kena air bekas hujan" ajaknya kepada Jane.

Dan sejak saat itu selama 2 minggu berturut2 Tomi mencoba mempraktekkan isi buku warna pink. Dan luarbiasanya ternyata memang sangat mudah untuk menemukan kelebihan seorang wanita kalau dia mau mencarinya, walaupun wanita itu selama ini dia anggap biasa-biasa saja. Dan perkembangan hubungannya dengan teman2 wanitanya juga menjadi makin baik, seringkali mereka menjadi tersipu-sipu saat Tomi mendekati mereka, entah apa maknanya Tomi sendiri juga tidak tahu.

"Tom, sini Tom.............." Tomi mendengar seseorang meneriakkan namanya sebelum dia meluncur meninggalkan GKI MY. Di lihatnya Ira, teman baik yang cukup senior secara umur memanggilnya dari dalam rumah gardu. "Ada apa Ra?" tanya Tomi sesudah memarkirkan kembali motornya dan berjalan memasuki gardu. "Sini Tom, aku mau bicara sama kamu" kata Ira sambil tersenyum manis. "Ira, kamu memilki senyum putih yang luarbiasa lho....gigimu rapi dan cantik" kata Tomi saat duduk disebelah Ira. Sambil tetap tersenyum Ira memegang pundak Tomi, keakraban yang terjalin karena Tomi merupakan teman Ira, adik Ira dan kakak Ira dan bahkan sering tidur dirumah kontrakan mereka. "Tom, sebenarnya kamu ini senang sama siapa sih?" tanya Ira sambil tetap senyum. "Lho, apa maksudmu Ra?" gantian Tomi yang bertanya keheranan. "Bukankah kamu tahu cewek yang gue taksir sudah di sabet teman kita yang lain" kata Tomi sambil tersenyum kecut. "Gini Tom...........aku mendapatkan banyak sharing dari teman2 wanita karena mereka bingung sebenarnya kamu ini suka sama siapa sih??". "Lho......" mulut Tomi terbuka persis seperti ikan mas koki yang kurang makan. "Teman2 wanita merasa kamu sedang mendekati mereka......namum mereka bingung karena mereka melihat kamu melakukannya kebanyak wanita!".

Dan saat itu juga Tomi sadar bahwa eksperimen praktek buku pink harus dia hentikan segera! gampang memang untuk mencari pujian yang tulus.....cuma salah praktek kali ya!

BSD City, End of Jan 10
Djokovic Vs Tsonga
Eko Utomo

Episode Mak Erni!


"Waduuuuh sakiiiit" pemilik badan kelas penjelajah yang cukup keras dan liat itu bagaikan tahu gembus yang empuk di jari kurus dan kecil itu. Latihan Badminton, Tennis, Volley, Taekwondo dan bahkan Karate tidak mampu melawan jurus Driji Maut. Lincah bak Jet Lee di film Wong Fei Hung, jurus Driji Maut mampu menyelesup diantara pertahanan yang kokoh dari urat dan otot yang dikencangkan untuk menahan serangan. Menghadirkan sensasi kesakitan tak terkira yang menggetarkan seluruh syaraf sakit di sel2 otot yang kena sentuh. "Aduh mak..........." sekali lagi papa Thesa sang pemilik badan minta ampun dan keringanan agar intensitas jurus Driji Maut bisa sedikit diturunkan.

Perkenalkan sang pemililik jurus maut.......Mak Erni. Demikian jawabannya saat kami tanya siapa namanya. Sekitar 6 bulan yang lalu kami sekeluarga pindah ke BSD dari Cibubur. Dan berhubung terbiasa dengan yang namanya urut mengurut maka action plan di minggu pertama adalah minta security untuk memanggilkan tukang urut yang populer didaerah BSD bagian Nusa Loka. Dan malam itu muncullah seorang nenek tua yang berbadan kecil dan pendek, ya.....patut untuk dipanggil nenek karena memang sudah punya cucu dan menurut pengakuannya umurnya sudah 64 tahun! Secara bentuk fisik akan membuat kita mudah underestimate kemampuan dia dalam urut mengurut. Namun bersiaplah untuk ditegur tetangga saat jari jemarinya sudah bermain di badan kita bak jari pianis diatas tuts......bukan suara merdu yang keluar dari mulut tapi teriakan nyaring kesakitan yang menggedor tetangga. Urut mengurut memang mirip judul buku jaman pujangga baru "sengsara membawa nikmat"

Menurut pengakuannya, mak Erni asli orang Serpong, tepatnya adalah betawi Serpong yang rumah dan ladangnya dijual ke pengembang dan kemudian menjadi cluster Neo Catalonia yang kami huni sekarang. Sedangkan mak Erni sendiri tinggal di perkampungan di depan Cluster yang dihuni oleh bekas pemilik tanah di Serpong. Seperti juga orang betawi lainnya, logat dan cara berbicara mak Erni sangat khas, keunikan itu ditambah dengan kebiasaan berbicara latah terlebih2 saat sedang mengurut disambil nonton film action. "Eeeeee Kambing, Eeeee Pistol, Eeeeeee luka, Eeeeee Ciat dlsb" tumpah ruah keluar dari mulut Mak Erni yang sudah sedikit peyot dimakan usia.

Sore itu sopir pribadi keluarga berprofesi ganda memanggil Mak Erni untuk membantu meluruskan urat2 yang sudah pada pabaliut tertekuk sana sini karena mengantar Thesa dan Jason setiap hari BSD - Cibubur pp. Pijatan mak Erni begitu dibutuhkan karena selama sebulan ini sang sopir Mama Jason merasa dirinya gering dan sakit2an. Pikiran mama Jason sedang gundah gulana ditambah dengan rasa capai dan tegang karena setiap hari harus menempuh perjalanan 60 km di lalu lintas Jakarta yang tahu sendiri bagaimana kejamnya.

Jam 4 pas mak Erni datang ke rumah. "Badannya panas" ucap Mak Erni saat pertama kali menyentuh tubuh Mama Jason. "Iya mak, ini sudah sebulan badan sakit2an" jawab mama Jason membenarkan. "Neng......menurut yang emak tahu, yang namanya penyakit itu kebanyakan datang dari pikiran" sambung mak Erni. Sunyi sejenak..........kesunyian yang tercipta karena mama Jason membenarkan ucapan mak Erni dalam hatinya plus menahan sakit akibat jurus Driji Maut mulai beraksi di kakinya. "Jangan biarkan pikiran negatif masuk dalam pikiran eneng" mak Erni melanjutkan petuahnya. "Kalau lagi nyetir dijalan jangan banyak berantem dengan sopir2 yang lain khususnya sopir angkot, buang energi sia-sia!" deg............muka mama Jason memerah dan sedikit mengernyit, apa mak Erni ini tukang urut merangkap dukun ya....kok tahu apa yang sering terjadi dijalan saat mengantarkan Thesa dan Jason sekolah.

"Kalau eneng lagi disekolah, jangan mau diajak bergosip sama ibu2, ngomongin jeleknya orang lain, menuduh suami yang ngak-enggak apalagi menjelek-jelekkan guru yang mengajar Thesa, sama sekali ngak berguna buat pikiran eneng." kali ini kernyit didahi mama Jason makin dalam karena ucapan mak Erni begitu akurat. "Kalau eneng diajak bergosip sama mereka, eneng tinggal berdiri dan bilang -permisi...saya berak dulu ya-" kernyit didahi mama Jason segera berubah menjadi senyum lebar mendengarkan nasehat ini. "Sayangi suami dan anak2 apa adanya, jangan menuntut yang berlebihan terhadap mereka". "Wah......kok makin dalam begini ya" pikir mama Jason. "Jangan-jangan mak Erni ini saudara seperguruan papa Thesa dalam ilmu motivasi yang menyamar menjadi tukang urut!".

"Tetaplah bersyujur neng dengan semua hal yang sudah eneng punya............jangan banyak pikiran dan jangan nyari musuh dimanapun", sambung mak Erni sambil mengurut dan mengelus pelipis mama Jason lembut dan pelan. Ucapan mak Erni mengharubiru perasaan Mama Jason, tak terasa diujung pelupuk matanya menggelayut bulatan kecil airmata, teringat akan apa yang sering dilakukan oleh opung Thesa padanya saat masih kecil dulu. Yang tinggal kemudian hanya sunyi dan gerakan tangan mak Erni yang ritmis mengurut urat2 dileher dan kepala mama Jason.

"Waaaaaaah" jerit mak Erni kecil dengan logat Betawinya yang khas. "Ada apa mak?" tanya mama Jason tertarik dari dunia harubirunya. "Ada tahi lalat di kuping eneng!" kata mak Erni dengan nada senang. "Emang artinya apa mak?" tanya mama Jason penasaran. "Itu artinya bahwa eneng ini orang yang suka mendengarkan nasehat dan memasukkannya kedalam hati...." jawab mak Erni dengan penuh keyakinan. Seketika itu juga mama Jason mendapatkan afirmasi yang luarbiasa terhadap wejangan istimewa mak Erni disore itu.

"Pa, emang kalau tahi lalat di telinga artinya pendengar yang baik ya?" tanya mama Jason ke papa Thesa malam harinya saat sudah kembali dari kerja. "Siapa yang bilang begitu ma?" celutuk papa Thesa. "Mak Erni" jawab mama Jason sambil menceritakan episode satu setengah jam sore hari tadi. "Mungkin kali ya........." jawab papa Thesa sambil tersenyum simpul, menahan mulutnya yang hampir bilang "kata orang kalau tahi lalat di telinga artinya suka nguping!".

Bandung, dini hari 16 Januari 2010
Eko Utomo

20 Januari 2010

Watch your move..........dady!


Thesa bidadari kecil kami sedang suka dengan guru pendampingnya di sekolah. Dari sedikit kalimat yang dapat dia ucapkan, salah satu favoritnya adalah "pak Pur Mana?". Ya......pak Pur, guru pendamping yang pandai main gitar itu merupakan guru favorite di TK A Happy Holy Kid. Orangnya masih muda, kurus namun semangat pelayanannya luar biasa.

Posisi guru pendamping dari bisik-bisik teman2 mama Thesa kami bisa tahu bahwa gaji pak Pur dibawah UMR DKI. Gaji yang kecil tidak menghalangi pak Pur untuk untuk memberikan yang terbaik bagi anak2 didiknya di TK A. Setiap pagi dengan penuh semangat pak Pur memetik gitar untuk mengiringi lagu "ayo baris...baris, ayo baris....baris yang rapi......" untuk memberikan semangat bidadari dan bidadara kecil masuk di kelas mereka. Senyumnya yang tulus dan perlakuannya yang lembut terhadap murid2 kecil ini membuatnya jadi terkenal dan selalu disebut oleh semua murid termasuk Thesa.

"Thesa, tadi belajar apa disekolah?" seperti biasa sepulang dari kerja papa Thesa bertanya tentang kegiatan sekolahnya. "Pak Pur...........Matematika" dengan bahasanya Thesa mencoba menjelaskan kepada kami apa yang terjadi pagi tadi. Ada hal yang baru dalam cara Thesa berbicara, bukan pada kosa kata yang bertambah atau kalimat yang lebih runtut tapi cara Thesa berbicara ditambah dengan gaya memencongkan mulut ke kiri dan kekanan. "Thesa, kalau bicara ngak perlu bibirnya di mencongkan" mama Thesa yang melihat perubahan itu segera bereaksi untuk membetulkan. Dan Thesa tidak peduli dengan peringatan mama.....sejak saat itu Thesa selalu memencongkan bibirnya saat sedang berbicara dan kami tidak bisa merubahnya karena pada akhirnya kami tahu bahwa gaya itu ditiru Thesa dari guru favoritenya..............pak Pur.

Naik ke TK B memisahkan Thesa dengan pak Pur..............dan untunglah bahwa warisan gaya bicara memencongkan bibir kekiri dan kekanan hanya bertahan beberapa bulan sebelum hilang karena Thesa sudah jarang berinteraksi dengan pak Pur. Tentu saja kami sebagai orang tua senang dengan perkembangan ini..........masak cantik2 kalau ngomong pletat pletot.

Dua bulan sejak naik kelas 1, kami melihat perubahan digaya Thesa bicara. Kalau setahun ini gayanya wajar tanpa syarat, sekarang kok gaya ngomongnya ditambah dengan memoncongkan bibir kedepan. "Thesa, kalau bicara ngak perlu pakai bibir maju seperti itu dong!" kata mama Thesa sedikit pasrah. Pasrah karena tahu bahwa kata2 permintaan dan harapan ini pasti tidak akan terwujud. Dan sejak saat itulah kami harus membiasakan diri melihat Thesa bicara dengan gaya itu. Harapannya saat nanti naik kelas Thesa akan lupa dengan gaya miss Sinta bicara. Thesa thesa.....masak cantik cantik kalau bicara mecucu!

Pagi ini kami buru-buru berangkat ke gereja. Telat bangun karena tadi malam keasyikan nonton film di HBO. Saking buru-burunya obat batuk lupa diminum. Sudah 2 minggu ini batuk kok ya betah banget bersarang di tenggorokan. Ditambah dengan temannya yang namanya dahak.....jan nyebelin tenan. "Uhuk uhuk uhuk.........." pas diperempatan batuk sialan ini datang plus dengan teman dekatnya si dahak, jelas harus dibuang agar nafas jadi lancar. "rrrrrrrrrrt", kaca mobil diturunkan mulut siap melontarkan dahak keluar jendela setelah dilirik aman ngak ada orang. "Pa.....buka pintu aja, dibuang lewat bawah.......tar ditiru Tesa lho!" disebelah tempat duduk mama Thesa mengingatkan. Wah...bener juga nih, pikir papa Thesa sambil buru-buru menaikkan kaca mobil. "rrrrrrrrrrt" pada saat hampir bersamaan kaca mobil dibelakang turun dan terdengar bunyi "Cuuuuuuh" saat Tesa melontarkan ludah dari atas jendela! waduuuuuuuuuuh blaik......cantik cantik kok jorok sih Thesa...........niru siapa ya???

BSD City
12 January 2010
Eko Utomo

"Sudah sampaiiii" - The Map is Not the Territory


Bumi Serpong Damai (BSD) - Cibubur pp. Jarak kurang lebih 30 km ini musti ditempuh Tesa setiap harinya untuk bersekolah di kelas 1 SD Penuai Cibubur. Jarak segitu kalau ditempuh dengan menggunakan jalan umum non tol harus ditempuh berjam-jam, namun berhubung jalan tol BSD - Pondok Indah sudah sambung dengan jalan tol TB Simatupang dan kemudian dilanjut masuk ke tol Jagorawi maka jarak tempuh dari Jakarta Barat coret sampai dengan Jakarta Selatan coret tadi cukup ditempuh dalam waktu 40an menit oleh supir pribadi bernama Mama Tesa eks sopir Medan dengan kecepatan 100 km/jam.

Perjalanan rutin pagi dimulai jam 6.30 dari BSD masuk ke tol BSD - PI, "Sudah sampaiiii" seru Tesa dari bangku tengah mobil Carents saat sampai di pintu tol Pondok Ranji. "Belum Tesa, ini baru sampai di pintu tol" sahut mbak Pur, asisten keluarga mencoba membetulkan kata2 Tesa. "Enam ribu limaratus" kata Tesa cuek saat supir pribadi membayar biaya tol.

"Sudah sampaiiii" seru Tesa lagi saat mereka sampai di pintul tol TB Simatupang. "Belum Tesa, masih jauh....ini baru sampai dipintu tol" segera mbak Pur menyahut untuk membetulkan kalimat Tesa. Tesa tetap cuek bebek dan kemudian bilang "Tujuh ribu" seperti aba2 kepada supir pribadi yang juga merangkap menjadi mamanya untuk membayar ongkos tol.

Mobil kembali meleset cepat di keriuhan pagi hari, berhimpit dan beradu kuat dengan mereka2 yang sedang diburu waktu untuk tidak terlambat di kantor. Beruntung sesudah sampai di Tol TB Simatupang arus kendaraan mencair karena menuju luar kota - melawan arus orang masuk kerja. Tak berapa lama mobil belok kekanan masuk tol Jagorawi arah Bogor.

"Sudah sampaiiii" seru Tesa kembali sesudah mobil keluar tol dan sampai di pintu tol Cibubur. "Belum Tesa, kita belum sampai di sekolah" sekali lagi mbak Pur assisten keluarga membetulkan perkataan Tesa. Sopir pribadi yang dari tadi diam mendengarkan dialog akhirnya turut campur, "mbak Pur, yang dimaksudkan Tesa dengan 'sudah sampai' adalah kita sudah sampai dipintu tol dan harus bayar, bukan sampai di sekolah seperti pikiran kita". Mbak Pur yang mendengarkan perkataan Mama Tesa hanya duduk diam seperti biasanya. Lha namanya juga asisten kalau berani berdebat dengan boss kan bisa berabe.

Pintu tol Cibubur dan sekolah hanya ditempuh dalam jarak 5 menit. "Sudah sampaiiii" dengan bergegas Tesa keluar dari mobil dengan membawa tas sekolahnya yang penuh sesak dengan buku2. "Tuh mbak.....benar kan apa yang saya bilang" kata sopir pribadi sambil tersenyum. "Pikiran Tesa adalah pikirannya sendiri yang belum tentu sama dengan apa yang kita pikirkan!".

29 Desember 2009
Malam waktu berpisah dengan Klaten
Eko Utomo

Bicara TANPA kata


Pejabat publik, khususnya mereka yang menjadi pejabat incumbent (yang sedang menjabat) pada saat pilkada periode kedua melakukan komunikasi politik sangat gencar diakhir masa jabatan agar terpilih (maunya) diperiode kedua. Ratusan baliho, spanduk dipampangkan di jalan2 protokol untuk "membujuk" mereka yang membacanya percaya bahwa mereka layak menjabat di periode kedua. Pada saat kampanye, mulut mereka berbuih merayu, membujuk masyarakat bahwa mereka baik untuk dipilih lagi tanpa melihat apa yang sudah mereka lakukan di periode pertama. Sementara alam bawah sadar (Unconscious mind) tidak terlalu peduli dengan kata2, yang dilihat, didengar dan dirasakan oleh alam bawah sadar adalah gesture dan ekspresi lain.

Pagi ini, perbatasan Jabar-Jateng dengan jernih mengajari kami sekeluarga tentang hal ini. Jalur Selatan dikabupaten Ciamis-Banjar lebar dan mulus. Trotoar di bangun dan dirawat dengan rapi. Sementara kearah timur di kabupaten Cilacap, jalan sempit rusak dan bergelombang. Dari aspek ini kalau saya jadi warga Ciamis-Banjar, tanpa ragu-ragu saya akan pilih kembali bupati incumbent karena perbuatan mereka lebih dari kata-kata. Sementara untuk Cilacap, mohon maaf, jalan Anda yang buruk telah berkampenya jelek sepanjang puluhan kilometer.

Mudik akhir tahun bawa mobil sendiri jelas lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan mudik saat lebaran. Kepadatan jalan bisa dibilang normal atau sedikit diatas normal. Tidak ada cerita satu motor menggotong 4 manusia plus barang2 dijok belakang. Kecepatan 80 km/jam bahkan sekali2 100 km/jam bisa dijangkau.

"Pa, awas!" mama Jason dengan keras berteriak saat melihat sebuah benda meluncur keluar dari jendela mobil kijang didepan kami. Sambil sedikit banting setir kami melihat bahwa yang keluar dari jendela tadi ternyata adalah botol minuman pulpy orange. "Dasar manusia katrok!" makian kecil keluar dari mulut mama Jason. Papa Tesa yang sedang menyetir mobil tertawa kecil sambil nambahin bumbu "manusia kayak begini ini nih yang kaya tapi tidak beretika". Luar biasa...........komunikasi tanpa kata berlangsung tanpa bicara antara sopir kijang dan kami dibelakangnya. Kesimpulan sementara.......pengemudi kijang adalah sebangsa manusia katrok!

"Ma, awas!" gantian papa Tesa yang berterik memberikan peringatan, mama Jason yang kebagian tugas dibelakang setir segera banting setir agak ketengah. Setumpuk tisu kotor berhamburan dari mobil Vios plat B didepan kami. "Dasar katroook!" berbarengan kami berseru. Dan kembali komunikasi tanpa kata telah berlangsung dengan penghakiman segera terhadap pengendara Vios.

"Pa" suara lembut singgah ditelinga, pipi lembut Jason menempel di pipiku. Sambil senyum Jason menunjuk ke tumpukan rambutan di bawah kakiku. Tanpa bertanya papa Tesa langsung mengambil satu rambutan dan kemudian mengupaskannya untuk Jason. Jason menerimanya dan tersenyum..........senyum yang memancarkan trimakasih dan sayang, dan semua berlangsung tanpa KATA.

Malam pertama di kota Klaten tercinta
23 Desember 2009
Eko Utomo for Smansa workshop

The Meaning of your Communication is the RESPONSE you get


Malam itu pak dosen Kusnadi uring-uringan. Dahinya berkerut kerut sampai kedua alisnya manjadi tersambung. Bibirnya menjadi tipis dan pucat ditambah wajah kusam gelap. "Dasar mahasiswa jaman sekarang!" keluhnya sembari "ndlosor" di kursi malas. "Anak-anak sekarang ini terlalu banyak dimanja oleh orang tua dan keadaan", keluhnya lagi sembari menyeruput teh manis yang dihidangkan oleh Yati istrinya.

"Emang ada apa sih mas, kok sampeyan akhir-akhir ini aku lihat uring-uringan terus?" tanya Yati sembari meletakkan pisang goreng teman teh manis diatas meja. Alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, pak dosen Kusnadi mencomot pisang goreng dan kemudian mengunyahnya pelan, terlihat diwajahnya bahwa pikiran Kusnadi seperti tidak ada diruangan itu. Bu Yati sebagai istri membiarkan pertanyaanya mengambang diudara, dia tahu bahwa suaminya butuh waktu untuk mengatasi kesesakan pikirannya. Dan dia juga tahu kalau sudah kembali normal suaminya akan menjelaskan apa yang terjadi.

"Dik, apa kita ini sudah tua ya?" ternyata yang keluar dari mulut pak dosen Kusnadi malah pertanyaan. "Maksud mas Kus apa?" tanya mbak Yati istrinya minta klarifikasi. "Maksudku, apakah memang kita ini sudah terlalu tua sehingga tidak bisa mengikuti jaman lagi" jelas pak dosen Kusnadi. "Mosok kita dibilang tua mas, lha umur 40 saja belum sampai. Emang mas Kus merasa aku sudah kelihatan tua dan tidak secantik dulu apa?" Yati berusaha bergurau agar emosi suaminya lumer. "Aku kesal dengan mahasiswa jaman sekarang dik, beda banget dengan jaman kita dulu. Mosok mata kuliah Kalkulus 101 yang aku ajarkan nilainya jeblok semua.............jan jeblok pol!" sungut pak dosen Kusnadi. "Pelajaran Kalkulus itu kan gampang asal mereka mau belajar. Aku sudah susah payah menerangkan sampai lambeku ndomble kok ya nilai UTS mereka kok dibawah standar semua!". Hening sejenak, Yati tahu bahwa suaminya butuh didengarkan agar emosi itu tidak menjadi magma yang makin membara dan meletus disembarang tempat.

"Mereka seharusnya dengan seksama mendengarkan kuliah yang aku berikan, trus kemudian banyak berlatih soal-soal yang ada di buku pendamping trus kalau ngak ngerti dikelas tanya ke dosennya. Lha ini kalau dikelas diam semua ngak ada yang tanya tapi giliran ujian kok nilainya rantai carbon semua CCCCCCCCCCCCC ngak ada putus-putusnya" kali ini pak dosen Kusnadi bicara dengan nada rendah campur putus asa. "Mas Kus, mungkin mahasiswa angkatan ini tabiatnya seperti itu. Bagaimana kalau mas Kus sebagai dosennya yang menyesuaikan cara mengajar yang kena dan cocok dengan kebutuhan para mahasiswa!" saran Yati istrinya. Mendengarkan usulan Yati itu kedua alis pak dosen Kusnadi terangkat "lha sudah tahunan gaya mengajarku seperti itu dan telah terbukti kok harus dirubah, mestinya para mahasiswa baru itu yang harus merubah cara belajar mereka!" sungut pak dosen keras. Yati tidak membantah ucapan suaminya, karena kalau dia tahu kalau dibantah maka malah akan terjadi perang argumen.

"Mas ini tadi ada surat dari pak RT" kata Yati menyodorkan selembar kertas. "Isinya apa dik" sahut pak dosen Kusnadi. "Aku ngak sempat baca mas, coba sampeyan saja yang baca!" kata Yati sembari mengambil pisang goreng terakhir di piring. Sesaat kemudian pak dosen Kusnadi mengeluh kesal "bagaimana sih pak RT, lha jaman modern gini kok cara berkomunikasinya kok kayak jaman orde baru saja!" keluhnya sambil melemparkan kertas ke atas meja. "Memangnya ada apa mas" tanya Yati heran. "RT kita katanya akan buat pos Ronda baru, dan setiap warga diminta sumbangan sebesar 500 rb, uang segitu kan cukup banyak, masak tanpa babibu tanpa ada rapat persetujuan dan sosialisasi kok tiba2 hanya dengan surat pemberitahuan seperti ini. Ini namanya kembali ke jaman Orba, jaman reformasi seperti sekarang ini cara berkomunikasinya semestinya dirubah harus lebih demokratis. RT itu harus tahu bagaimana kebutuhan dan keinginan warganya. Bukan malah asal perintah dengan menggunakan gaya lama" sesorah pak dosen Kusnadi seperti air bah yang jebol dimusim hujan.

Mbak Yati duduk diam mendengarkan kekesalan suaminya. "Bukankah dari jaman dulu, kalau ada apa2 memang seperti ini cara berkomunikasi RT kita mas?" Yati mencoba mengingatkan pak dosen Kusnadi. "Itu dulu dik.............sekarang jamannya berbeda. Pak RT musti bisa luwes menyesuaikan dirinya dengan jaman dan kebutuhan", pak dosen Kusnadi kelihatan masih kesal.

Pandangan Yati beralih dari kertas pemberitahuan ke tumpukan kertas lain diatas meja, tumpukan kertas ujian UTS mahasiswa pak dosen Kusnadi yang bertaburan dan penuh dengan nilai C disana-sini. Sambil merapikan kertas ujian, Yati bertanya ke pak dosen Kusnadi "mas Kus, mungkin betul ucapan sampeyan bahwa pak RT harus menyesuikan diri cara berkomunikasinya dengan warga. Trus masalah kuliah Kalkulus sampeyan ini apa ngak mirip dengan kasus pak RT ya mas. Mas Kus butuh gaya mengajar yang berbeda dari sebelumnya dan butuh tahu kebutuhan mahasiswa agar pemahaman mereka jadi baik dan hasil ujian bagus?" tanya Yati hati-hati. Dan pak Dosen Kusnadi terduduk diam dan merenung.

Pagi yang cerah di Bandung nan sejuk
21 Desember 2009
Eko Utomo for SmansaKla workshop

Note: The meaning of your communication is the response you get = efektif atau tidaknya komunikasi yang kita lakukan dapat dilihat dari response yang kita terima dari partner yang kita ajak berkomunikasi.

Disclosure:
Nama, lokasi dan cerita hanyalah fiksi. Kesamaan tokoh dlsb tidak disengaja dan tidak dapat diganggu gugat

20 Desember 2009

"Papa ngak Cinta aku lagi!"


Udara malam yang dingin tidak mampu menghalangi keringat yang mengucur disekujur tubuh Agus, 3 hari belakangan ini setiap kali pulang kantor, Ani istrinya membuka pintu dengan wajah cemberut, malam ini dia bawakan 2 ikat rambutan rapiah kesukaan Ani, berharap akan disambut dengan sukacita.

"Ma, ini aku bawakan rambutan kesukaanmu" bergegas Agus menyodorkan rambutan kepada Ani yang baru membukakan pintu. "Makasih" jawab Ani singkat sambil menutup pintu. Agus bingung, perkawinan mereka yang sudah berjalan hampir 10 tahun berjalan dengan baik bahkan cenderung hebat, luarbiasa dan bahagia, tapi apa yang terjadi dengan 3 hari ini? Ani selalu cemberut setiap kali Agus pulang kerja!

"Ma, mengapa kamu cemberut terus akhir2 ini" Agus tidak tahan untuk tidak bertanya. "Ngak ada apa apa" jawab Ani singkat sambil pergi ke dapur membuatkan teh manis kesukaan Agus. "Kalau ngak ada apa-apa, kenapa mukamu cemberut terus!" kejar Agus penasaran. Hening.............hanya bunyi jengkerik diluar dan denting sendok dan gelas yang mendominasi.

"Mas Agus, masih sayang sama aku ngak? mas Agus masih Cinta sama aku ngak sih sebenarnya?" bukannya menjawab, Ani malah melontarkan pertanyaan bertubi2 kepada Agus. Agus bengong campur heran dan gemas. "Ma, emang selama ini apa yang kamu lihat, apakah semua hal ini tidak bisa meyakinkan kamu bahwa aku masih mencintaimu kamu seperti 10 tahun yang lalu!" jawab Agus penasaran. "Mas Agus beda, dulu saat kita pacaran dan pengantin baru, mas Agus sering bilang I love you, sedangkan sekarang tidak pernah lagi" jawab Ani sambil duduk tertunduk di kursi. "Lho ma, apakah semua tindakanku, usahaku dan barang2 yang aku belikan tidak kamu lihat sebagai wujud rasa sayangku ke kamu dan anak2?" pertanyaan Agus hanya terjawab oleh isak tangis kecil dari Ani.

Keesokan hari, saat tiba dikantor Agus segera bergegas menemui Budi sahabatnya. Bagi Agus, Budi seperti kamus berjalan, banyak pertanyaanya yang terjawab oleh Budi. "Budi, aku mau konsultasi nih" segera Agus meletakkan pantatnya di kursi didepan meja Budi. Tanpa menunggu jawaban Budi, Agus bercerita kejadian tadi malam dan juga sikap istrinya akhir2 ini.

"Agus, menurut konsep VAK, kamu adalah manusia Visual yang suka akan gambar2, sedangkan dari ceritamu tadi istrimu adalah orang Auditory yang suka akan suara. Kamu berkomunikasi dengan menggunakan cara komunikasi yang kamu sukai yang belum tentu disukai oleh istrimu. Kamu lebih mengedepankan "yang terlihat" sedangkan istrimu butuh "suara". Agus duduk diam menyimak pendapat Budi. "Gus, kamu bisa mencoba menyesuaikan gayamu berkomunikasi dengan istrimu sesuai dengan gaya komunikasi yang dia sukai!".

Malam itu, Agus dengan harap2 cemas berdiri didepan pintu menunggu dibuka oleh istrinya. "Mama, makin lama kok aku makin cinta sama kamu" kata Agus sambil mencium pipi istrinya. 'Terimakasih ya ma, atas kesetiaan mama dan dukungan mama ke papa selama ini". Dan Agus melihat cahaya cerah dimuka istrinya yang hilang 4 hari ini, muncul dan kembali bersemi.


Bandung akhir Desember 2009
Eko Utomo