16 Mei 2010

Gipong (Gigi Ompong) Tesa - Melepas yang lama untuk menerima yang baru.


"Pa....gigi Tesa lepas berdarah...".
Demikian warta berita utama jam 7 malam dibawakan oleh Tesa Utomo langsung dari BSD City khusus untuk sang papa saat pulang kerja.
"Coba papa lihat gigi ompongnya!"
Gigi taring lebih bagian atas kiri itu sudah tak terlihat disana. Gigi taring kecil yang sering membuat aku menjuluki bidadari kecil ini dengan julukan Tesa putri drakuli akhirnya pergi dari sarangnya.

Sama dengan anak-anak diseluruh dunia rentang usia 5-12 tahun, maka Tesa sedang menjalani masa menikmati goyang dan luruhnya gigi susu dan digantikan dengan gigi permanen. Nah gigi taring berlebih ini cukup mengkawatirkan. Lha kelebihan gigi kok gigi taring, sudah gitu kecil dan runcing pula. Maka episode warta berita malam itu merupakan episode warta berita yang menyenangkan dan membahagiakan. Paling tidak probabilitas Tesa untuk pasang kawat gigi saat SMP nanti berkurang.

"Papa....gigi Tesa goyang"
Untuk yang kesekian kali salah satu gigi susu Tesa sudah sampai diujung masa pengabdian. Namun sang gigi agak bandel, sudah goyang selama 4 hari dan belum mau tanggal juga. Tesa jadi risi dan sering lapor ke papa bahwa giginya goyang dan tidak mau copot.
"Pa........gigi goyang tidak mau copot" katanya sambil menunjukkan gigi seri bagian bawah.
"Coba papa lihat" kataku sambil memegang gigi tersebut dan ternyata memang sudah goyah sekali.

"Papa.....Tesa ompong" kata Tesa dengan sedikit ekspresi malu.

"Tesa sini sayang" kataku sambil menarik badan Tesa kedalam pelukanku. "Gigi Tesa yang ompong nanti akan tumbuh yang baru, seperti yang ini nih" kutunjukkan 2 gigi permanen yang telah tumbuh. "Kalau gigi Tesa ngak ompong tar gigi baru Tesa tumbuh dimana dong?" kataku sambil mencium pipinya. "Gigi lama lepas agar gigi baru datang sayang" sekali lagi aku cium dahi pujaan hati yang sudah mulai lancar bicara ini. Duduk dibelakang Tesa, mamanya duduk mendengarkan sambil tersenyum simpul mendengarkan dialog suami dan anak perempuannya.

***

Malam hari jam 7 malam lantai 3 Teraskota BSD City.
Malam ini aku dan mantan pacar sedang menjalani ritual lama nonton film di Blitz Megaplex.
"Pa, baju2 ku yang lama sudah habis nih" kata mama Tesa selepas dari pintu lift.
'Emang bajunya dikemanain"
"Kan waktu pulang ke Klaten kemarin aku bawa semua untuk diberikan ke saudara disana".
"Baguslah kalau begitu" kataku menyahut dengan muka tenang.
"Tapi pa, bajuku jadi sedikit nih!"
"Maksudmu?"
"Kan seperti diskusi papa dengan Tesa tadi, bahwa untuk menyambut yang baru kita harus mau dan berani melepas yang lama"
"Trus"
"Nah.....lihat tuh, counter Levis lagi diskon sampai 70%. Ada rok mini yang keren lho!"
Dan aku tidak mampu lagi mempertahankan muka tenangku.

BSD City
15 May 2010
Sesudah nonton Lucky Luck
EU for U

Cerita wayang mbah Kakung

Almarhum mbah Kakung* sudah sowan yang memberi hidup 10 tahun yang lalu dalam usia hampir 90 tahun. Mbah Kakung, demikian aku memanggilnya untuk membedakan dengan mbah Kauman. Mbah Kakung yang tinggal di desa Senden merupakan bapak dari ibuku sedangkan mbah Kauman yang tinggal di desa Kauman adalah bapak dari bapakku.

Saat kecil dulu, aku dititipkan kepada mbak Kakung karena bapak dan ibu sedang berjuang menegakkan ekonomi keluarga dengan mengembara sampai ke Lampung. Tinggal selama kurang lebih 3 tahun dengan mbah Kakung sampai kelas 2 SD inilah yang menjadikan jawaban mengapa saat ditanya oleh ibu siapa laki laki yang paling aku sayangi maka jawaban yang keluar dari mulutku adalah "mbah Kakung!", sedangkan bapak cuma mendapat nomer 3 sesudah Paklik.

Mbah Kakung orangnya tinggi besar dan warna kulit yang hitam ditambah dengan karisma orisinil yang dimiliki membuat Sukarnois tulen ini disegani lawan dan kawan. Pejabat Bayan** hampir seumur hidup ini adalah pejuang kemerdekaan yang gigih. Namun cerita tentang dirinya yang paling berkesan adalah peran yang diambil pentolan PNI ini dalam menyelamatkan hampir separo warga desa yang "kekirian" saat periode hitam sejarah Indonesia tahun 1965 juga mampir ke desa Senden, Ngawen Klaten. Desa Senden pada saat itu terbagi menjadi dua kubu yaitu PNI dan PKI. Dan mbak Kakung berperan besar melindungi warga desa anggota dan simpatisan PKI dari pembantaian massal pihak pemenang politik yang lebih memilih idiom politik ketimbang persaudaraan dalam memperlakukan pihak yang kalah.

Sebagai cucu pertama maka aku mendapatkan banyak keistimewaan dari mbah Kakung. Dan keistimewaan yang paling istimewa adalah menikmati kemewahan untuk bisa merasakan kelonan dan cerita mbah Kakung. Cerita yang paling populer adalah cerita wayang Mahabarata!. Sebagai priyayi jawa ndeso lulusan HIS kelas 3 tahun 20an, mbah Kakung sangat hapal dan piawai dalam cerita wayang Mahabarata. Cerita asal usul dan leluhur trah Pandawa dan Kurawa sampai dengan matinya Gatotkaca di perang campuh itu menjadi pengantar tidur yang tidak boleh dilewatkan setiap malamnya. Jam 8 malam saat mau tidur, hangat kelonan mbah Kakung ditambah dengan suaranya yang mantab bak dalang profesional membuat mimpiku melayang jauh tinggi, setinggi terbang Gatotkaca dan sedalam Antareja masuk kedalam bumi.

Teori NLP*** mengatakan bahwa kehidupan manusia 96% dikendalikan oleh Unconscious Mind(UM)****. Dan cara UM belajar adalah dengan pelajaran2 yang simbolic dan bukan pelajaran yang yang direct(menggurui). Pelajaran simbolic yang paling hebat adalah Metaphore, cerita dan analogi. Teori ini membantu aku mendapatkan jawaban kok kenapa cerita2 mbah Kakung sampai sekarang masih menempel sesudah lebih dari 30 tahun cerita itu diberikan, sedangkan petitih dan petatah yang langsung diberikan malah tidak ada yang diingat. Hal yang sama berlaku untuk semua cerita yang lain termasuk juga cerita2 yang dibuat oleh pengarang dongeng terbesar didunia Hans C Andersen, pendekar Super Saktinya mbah Kho Ping Hoo dan termasuk Agung Sedayu dan Mahesa Jenar titisan pakde SH Mintardja. Siapa yang tidak kenal Cinderella? Anak2 dan juga orang dewasa akan belajar jauh lebih banyak dari satu cerita dibandingkan dengan seribu perintah.

Hayoooo sudah mendongengkah Anda malam ini untuknya?


BSD City,
14 May 2010
Sesudah ditinggalkan 10 hari.
EU 4 U



*Mbah Kakung: Kakek
** Bayan: perangkat desa pembantu Lurah
*** NLP: Neuro Linguistic Programming
**** Unconscious Mind: Alam bawah sadar

Lirikan matamu..................(Eye Pattern)

Sore tadi kebetulan menonton TV One yang sedang menyiarkan sidang komisi etika kepolisian terhadap Kompol Arafat dalam kasus Markus (Makelar Kasus) yang sedang heboh di bumi pertiwi. Sabar......jangan menuduh yang aneh-aneh. Saya jelas bukan anggota Markus club dan juga bukan penggemar Kompol Arafat yang ganteng itu. Sampai saat ini saya masih penggemar mama Tesa yang jelas-jelas bergender wanita!

Yang membuat saya tertarik dengan siaran TV tadi sore adalah proses sidang yang sedang dilaksanakan. Fokus ketertarikan adalah pada response yang diberikan Kompol Arafat pada saat ditanya oleh penyidik. Pada saat hendak memberikan jawaban terlihat jelas bahwa mata beliau bergerak mengarah sebelah kanan(sering) dan juga kanan atas. Dalam konsep Neuro Linguistic Programming (NLP) untuk orang tangan kanan (right handed) gerakan mata ke sebelah kanan disebut sebagai Auditory Construction(AC) dan kanan atas sebagai Visual Construction(VC).

Trus, apa sih artinya AC dan VC? apabila seseorang pada saat berbicara mengakses sisi kanan dan kanan atas maka yang bersangkutan dengan melakukan construction (membangun) suatu hal yang baru. Hal ini berlawanan dengan akses ke kiri (Auditory Remembering) dan kiri atas (Visual Remembering) yang berarti yang bersangkutan sedang mengakses memori atau pengalaman yang memang sudah pernah dialaminya.

Apakah dengan demikian kalau pada saat seseorang ditanya dan saat memberikan jawaban banyak mengakses kekanan maka dia berbohong? tidak juga. Karena yang dinamakan construct tidak semata2 berbohong tetapi "membangun". Misalnya kita bertanya "coba bayangkan harimau yang punya sayap dan bertanduk serta bersuara seperti bebek" maka pihak yang ditanya pasti juga akan banyak melirik ke kanan dan kekanan atas karena memori tentang hal tersebut belum ada dan baru "dibangun sesudah ditanya".

Disclaimer:
Eiiiiiiiiiiiit penulis tidak bertanggung jawab dan tidak cawe cawe apabila sesudah Anda baca note ini kemudian terjadi kasus seperti ini:

"Mas, kok pulangnya malam banget" tanya sang istri.
"Iya dik, aku disuruh lembur sama boss" jawab suami sambil matanya mengakses kanan atas
"Tadi pulang sama siapa mas"
"Pulang sendiri kok" tetap dengan mata melirik kekanan atas
"Bonus tahun ini dah keluar belum mas?"
"Ngak ada bonus dik, perusahaan sedang kesulitan cashflow" tetap kanan atas.

Sabaaaaaaaaaaaaaar, jangan buru-buru marah, Siapa tahu sang suami sedang menderita mata juling.

Bandung, beautiful city
5 May 2010
EU 4 U
NLP Trainer

Menidakkan si TIDAK dan Jangan memunculkan kata JANGAN.

Pikiran bawah sadar (Unconscious Mind) mempunyai cara bekerja yang unik. Pikiran bawah sadar yang mengendalikan 96% kehidupan kita itu tidak memproses kata yang memiliki makna negative seperti "Tidak" atau "Jangan". Tidak percaya? mau bukti? Untuk mendapatkan hasil yang optimal saya mohon Anda mengikuti langkah2 yang saya tulisi. saya minta Anda untuk rileks sekarang, tarik nafas dalam dalam dan rasakan kenyamanan menguasai diri Anda sepenuhnya. Ikuti perintah berikut ini:

"Jangan membayangkan tugu Monas!". Apa yang ada dalam pikiran Anda sesaat sesudah Anda membaca perintah tersebut? Saya yakin bahwa bayangan tugu Monas muncul dalam pikiran Anda. Pikiran bawah sadar kita tidak memproses kata "Jangan" yang muncul dalam kalimat "Jangan membayangkan Tugu Monas", Tugu Monas muncul dalam pikiran kita.

Di Indonesia, ada ungkapan yang menyatakan bahwa peraturan ada untuk dilanggar. Proses pelanggaran terhadap aturan yang dibuat, sadar atau tidak sadar seringkali malah dipercepat oleh peringatan-peringatan yang memasukkan unsur kata negative yang tidak diproses oleh pikiran bawah sadar. Kalimat seperti:
- Jangan membuang sampah disini >> dibaca "buanglah sampah disini"
- Jangan menginjak rumput >> dibaca pikiran bawah sadar sebagai "injak rumputnya"
- Jangan main air >> dibaca "silahkan main air"
- Jawaban kamu tidak jelek >> dibaca "jawaban kamu jelek
- dlsb

Apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir kata negative yang hasilnya malah berlawanan dari apa yang kita inginkan? Alih-alih menggunakan kata negative kita bisa menggunakan kata positive yang mempunyai makna yang sama. Kalimat "Jangan membuang sampah disini" bisa digantikan dengan "Jagalah kebersihan", dan kalimat "jangan main air" dengan mengajak anak kita mengucapkan "ayo main kereta2an saja".

Eiiiiit, jangan terburu nafsu untuk mengambil kesimpulan bahwa kata negative harus disimpan rapat2. Saat kita menyadari bahwa kata negative tidak diproses oleh pikiran bawah sadar, maka kita bisa menggunakannya dalam konteks untuk menetralkan hal2 yang negative atau kurang memberikan motivasi. Misal suatu ketika kita menghadapi suatu pekerjaan yang sulit, kalimat "pekerjaan ini tidak mudah!" lebih baik dibandingkan dengan "pekerjaan ini sungguh sulit".

***

"Jason mama mau tidur siang, jangan main air ya! kamu hari ini sudah main air dan mandi sampai 4 kali. Jangan main Rinso mama ya, kemarin kamu sudah menghabiskan Rinso satu kilo untuk main cuci cucian!" mama Tesa memberikan pesan kepada Jason sebelum naik kelantai atas untuk istirahat.

Dan sejam kemudian.
"Mama Tesa............" dari lantai atas terdengar suara opung memanggil.
"Ada apa Opung" sahut mama Tesa dari lantai atas masih dengan mata sipit karena belum puas tidur siang.
"Ini lihat anakmu......"
"Kenapa Pung?"
"Dari tadi main air terus tidak mau dihentikan. Rinso 2 kg yang baru saja dibeli sudah habis dibuat main sama dia!".


BSD City
2 May 2010
EU 4 U

"Cantik ngak dik?"

Siang yang panas ini mampu melelehkan lilin. Kata orang posisi bumi saat ini berada dalam jarak yang dekat dengan matahari. Panas yang menyengat itu membuat banyak orang rajin2 untuk mengusap keringat yang mengucur di pelipisnya. Namun panas yang sama membuat kantin sekolah laris manis. Semua orang menyerbu kesana untuk sekedar menyruput teh dalam botol atau es teh dalam gelas besar.

Seorang gadis melangkah masuk kedalam kantin. Wajahnya cantik dan manis. Kulitnya cukup terang untuk ukuran orang Indonesia. Hidung yang kecil dan mancung mempercantik wajahnya yang sedikit oval. Rambut sebahu ikal kecil kecil menjadi bingkai yang tepat bagi wajahnya. Senyumnya manis, namun yang paling manis adalah matanya. Mata indah itu memancarkan senyum yang paling manis yang mampu memberikan kesejukan dipanas terik disiang hari bolong itu. Gadis cantik itu segera memesan mie goreng dan segelas es teh, untuk mengganti energinya yang hilang saat berlatih piano tadi.

"Ferdinand" sapa gadis itu.

Dua orang pemuda datang memasuki kantin. Dari mukanya terlihat bahwa mereka adalah kakak dan adik. Dua-duanya sama sama ganteng. Dengan gaya yang keren khas anak muda jaman sekarang. Ferdinand sang kakak berdesir hatinya saat disapa sang gadis.Gadis itu teman sekelasnya. Dan semua cowok dikelasnya suka dengan gadis yang ramah itu. Dalam kegugupannya Ferdinand hanya mampu melemparkan senyum simpul pada sang gadis.

"Ferdinand, aku makan dulu ya"

Sekali lagi Ferdinand hanya mampu membalas dengan senyum. Walau setiap hari dia bertemu dengan gadis itu dikelas tetap saja dirinya merasa tersihir saat diajak bercakap.

"Kakak, siapa sih dia?" adik Ferdinand menjadi penasaran.

"Dik, dia teman sekelasku, namanya Tesa. Cantik ngak dik? kata Ferdinand ke adiknya. Saking terpesonanya Ferdinand tidak sadar perkatannya terdengar di seluruh ruangan kantin yang sempit itu. Seorang ibu yang duduk didekat Tesa tersenyum simpul.

"Ferdinand, kamu ngak sopan ya ngomong begitu!" seorang ibu yang duduk didekat Ferdinand berkata dengan sedikit malu. Ibu itu adalah mama Ferdinand. Dia mungkin malu Ferdinand anaknya yang baru kelas 1 SD itu bisa melontarkan pernyataan seperti itu.

"Ngak papa kok jeng, namanya juga anak kecil" sahut mama Tesa dengan senyum simpul mencoba meredakan situasi.


BSD City
Pagi yang indah di awal May 2010
EU 4 U

"Mbaaak....tolong buatkan teh manis ya!"

Lantai 4 mall megah diselatan Jakarta pagi itu ramai seperti biasanya. Kalau dihitung berdasarkan komposisi jenis kelamin maka kaum hawa sangat meratui dan menguasai hampir keseluruhan pojok ruangan. Kaum Adam dipagi hari sedang dipaksa menikmati hiruk pikuk jalan dan harus berkutat menembus kemacetan ibu kota.

"Pagi mbak" sapa seorang ibu usia 30an dengan gaya yang chick, kacamata hitam model terbaru seharga 3x UMR DKI, baju serasi dengan sepatu keluaran rumah mode ternama dan tas anyar cap LV serta tas olahraga dengan lambang swoosh besar menyapa dengan anggun resepsionis yang duduk di meja depan. Menyusul dibelakangnya 2 orang ibu2 temannya dengan gaya yang tidak kalah anggun masuk keruangan fitness yang maha luas itu.

Masuk kebagian dalam disambut oleh ruangan santai dengan sofa empuk dan dispenser yang berisikan softdrink disediakan cuma cuma untuk para members. Menempel pada ruang santai kurang lebih 20an orang ibu-ibu yang dipandu oleh seorang Trainer yang "sedikit gemulai" sedang asyik berlatih tari Salsa. "Kanan kiri kanan, kiri kanan kiri, putar...... betino!" aba2 trainer menembus dinding kaca. Semua peserta tampak penuh semangat untuk belajar salsa entah untuk kesehatan, menjaga badan supaya langsing atau sekedar membuang waktu.

"Jeng......kita main kardio yuk....!" sang ibu muda yang chick tadi mengajak temannya untuk pindah ke alat kardio.

"Oke jeng, habis kardio kita ikut kelas bersepeda ya"

"Ogah say.........capek kalau ikut RPM, yang kemarin aja belum sembuh capeknya nih. Mending kita freeweight atau cross trainer aja, kalau dihitung2 bisa habis 1000an kalori juga kok!".

Dan selama sejam mereka bertiga dengan penuh semangat melakukan banyak exercise termasuk angkat mengangkat barbel dan latihan crosstrainer yang mirip dengan naik turun tangga dirumah. Keringat mengucur deras disekujur tubuh mereka, handuk kecil yang dibawa bahkan sudah basah kuyup. Dan latihan baru selesai sesudah mereka merasa cukup latihan dipagi itu.

Tak berapa lama kemudia 3 orang ibu2 muda yang chick itu keluar dari fitness center. Wajah mereka kelihatan bercahaya dan fresh. Kulit mukanya agak kemerah2an efek dari mandi sauna yang mereka lakukan sesudah fitness.

"Jeng, kita kerumahku aja dulu yuk..........anak2kan masih sejam lagi baru pulang dari sekolah"

Hanya butuh 10 menit mereka bertiga sampai dirumah besar bertingkat 2 di salah satu cluster mewah di bilangan Cibubur itu. Segera mereka masuk kerumah dan menuju ruang keluarga di lantai 2.

"Kalian mau minum apa jeng" tanya sang pemilik rumah kepada dua orang temannya.

"Teh manis aja say, seperti biasa"

"Oke, tunggu sebentar ya" jawab sang pemilik rumah sambil berdiri dan menuju ke alat putih berbentuk kotak kecil menempel di dinding. Sambil memencet tombol terdengarlah order
"Mbaaak......tolong buatkan teh manis ya!"

"Tunggu sebentar jeng, kita ini aneh ya?"

"Apanya yang aneh?" dua yang lain balas bertanya.

"Ya aneh, lha di fitness center aja kita mau2nya angkat2 barbel, lari2 kayak orang dikejar anjing, trus ngayuh sepeda ngak kira2 plus bayar lagi, sementara dirumah sendiri turun tangga membuat minum aja males dan musti menyuruh pembantu!"

BSD City
27 April 2010
EU 4 U

27 April 2010

"Is it negotiable?"

"Apakah angka ini bisa dinegosiasikan?" tanya recruiter.
"Maaf, itu adalah angka minimal yang sudah saya tetapkan" jawab yang diinterview tegas.

***

Siang hari itu saya dan dua orang rekan kerja sedang diskusi santai tentang proses seleksi yang baru saja dilakukan oleh rekan kerja kami, sebut saja Anya. Beberapa hari yang lalu Anya mendapatkan panggilan untuk mengikuti suatu proses interview oleh suatu perusahaan. Sesudah proses interview dan proses-proses lainnya selesai, profile Anya dinyatakan cocok dengan kebutuhan perusahaan tersebut.

"Jadi itulah yang terjadi dengan negosiasi saya kemarin" kata Anya kepada kami berdua.

"Bentar bu, jadi Anda mengajukan angka tertentu dan kemudian ditanya apakah angka tersebut bisa dinegosiasikan?" Ito yang sedari tadi diam menyimak mencoba mengklarifikasikan apa yang terjadi antara Anya dan perusahaan yang hendak merekrutnya yang diwakili oleh HR Manager mereka.

"Betul, itulah yang saya jawab".

"Anya, kamu tadi bilang bahwa peristiwa kemarin itu merupakan peristiwa negosiasi gaji antara kamu dan perusahaan yang hendak mengambil kamu, namun kalau mendengarkan ceritamu, kok aku tidak melihat dimana letak proses negosiasi berlangsung ya", kali ini aku bertanya sambil mencoba untuk memberikan sudut pandang lain ke Anya.

"Maksud pak Eko?" alis Anya terangkat.

"Cerita kamu itu mirip dengan proses kita belanja di Mall. Tidak ada negosiasi disana. Yang ada adalah harga pas bandrol. Kalau yang namanya negosiasi tentu saja ada yang naik dan ada yang turun." aku mencoba menjelaskan definisi negosiasi versiku.

"Hmmm, bener juga sih pak. Trus baiknya harus gimana pak?"

"Anya, pihak disebrang meja merupakan manusia juga seperti kita. Dengan demikian mereka pasti ingin juga merasakan suatu kemenangan dalam suatu proses negosiasi. Kalau belum belum kita sudah bilang bahwa angka yang kita ajukan adalah angka mati, tentu saja mereka jadi keki, meskipun angka yang diajukan masuk didalam budget mereka" jawabku. "Sebelum proses negosiasi gaji dilakukan, akan lebih baik kamu tentukan berapa sebenarnya angka yang kamu ingin dapatkan atau istilah kerennya BATNA*. Dari situ baru kamu naikkan sekian persen untuk memberikan kesempatan kepada pihak seberang meja menawar".

"Untung ruginya buat mereka dan kita apa pak?", Ito melontarkan pertanyaan manis.

"Misalkan saja BATNA kamu adalah 10 jt. Let say, kamu naikkan 20% dari angka BATNA sehingga angka yang didapatkan adalah 12 jt. Kita lihat skenario yang mungkin terjadi:
Skenario 1: Disetujui pihak sana karena masuk dalam budget mereka, Anya tetap untung karena dapat lebih tinggi dari BATNA dia. Pihak sana juga senang karena dapat karyawan sesuai budget.
Skenario 2: Ditawar 10 juta. Anya minta 11 juta dan akhirnya ketemu di angka 10,5. Anya senang karena yang didapatkan tetap lebih tinggi dari Batna dan pihak sebrang meja juga senang karena (merasa) menang dan dapat menurunkan permintaan.

"Wah, bener juga tuh pak. Dan sepertinya konsep ini bisa juga dipakai dalam banyak konteks yang lain", sahut Anya dengan gembira. "Saya akan pakai di kesempatan berikutnya pak".

***

"Hallo, ada apa ma?" tanyaku sesaat sesudah mengangkat telepone dari mama Tesa.

"Pa, biaya sekolah Tesa & Jason, plus terapi dan guru bantu total 3 jt. Kirim sekarang ya pa, aku mau bayar ke sekolah hari ini", suara mama Tesa dari sebrang terdengar merdu khas suara (mantan) penyanyi.

"Ma, aku transfer 2,5 jt saja ya?"

"Papa ini gimana sih? biaya sekolah kok ditawar kayak beli ikan dipasar saja!" gerutuan dari sebrang tetap terdengar merdu ditelinga.

BSD City
Hampir tengah malam
24 April 2010
EU 4 U

BATNA: Best Alternative to Negotiate Agreement. Alternative yang bisa kita terima.

"Tesa......tadi menang ngak sayang?" (arti sebuah kemenangan bagi Tesa)

Pagi yang cerah di hari Rabu 21 April 2010. "Papa..........!" suara nyaring nan bening menyambutku saat turun dari lantai 2. Di depan TV seorang gadis kecil cantik sedang membentangkan tangannya sambil memegolkan (memiringkan) pantatnya kekiri dan kekanan. Kebaya modern berwarna putih dan rok corak batik yang agak terlalu besar membalut tubuhnya. Sambil tersenyum centil sirambut keriting kecil ini menatapku sambil memamerkan baju barunya.

"Wah.....cantik sekali nih anak papa!, baju apa nih?"

"Kartini pa....."

"Siapa yang beliin sayang?"

"Bli mama ITC". Aku tahu maksud Tesa, bahwa baju barunya adalah baju untuk memperingati hari Kartini dan dibelikan mamanya di ITC BSD tadi malam.

"Tesa akan ikut lomba di sekolah hari ini pa" mama Tesa tahu-tahu sudah berdiri dibelakang memberikan laporan tentang kegiatan Tesa hari ini.

"Tesa sini sayang..........,papa yakin Tesa nanti pasti menang!" sambil memeluk dan mencium pipinya aku memberikan semangat kepada bidadari kecil ini. Dan Tesa melanjutkan senyum simpulnya sambil mematut matut dirinya di depan kaca.

"Tesa.....ayo berangkat! ajak adik Jason", kata mamanya saat jam menunjukkan pukul 6.30 saat mobil Piso Siwi warna biru itu meninggalkan rumah. Jendela mobil terbuka dan terlihat Tesa melambaikan tangannya. Tesa penuh dengan semangat untuk mengikuti lomba baju di hari Kartini.

***

"Hallo papa............", suara nyaring dan paling merdu sejagad itu kembali menyambutku malam jam 7.30 saat aku pulang kantor.

"Hallo Tesa sayang.........cium dulu dong", aku pegang pipinya dan "ngoook" ciuman sayang di kedua pipi Tesa mendarat dengan sempurna.

"Bagaimana lombanya ma" tanyaku kepada mama Tesa yang berdiri dibelakang pintu.

"Payah........., Tesa nunggu berjam-jam ngak dipanggil2. Padahal dia semangat banget untuk naik ke pentas dan megal megol disana." jawab mama Tesa.

"Trus...akhirnya dipanggil ngak?"

"Dipanggil sih, Tesa saat dipanggung percaya dirinya luarbiasa. Persis kayak kamu pa, PD dan sedikit narsis kalau lagi workshop". sambung mamanya.

"Menang ngak?" tanyaku penasaran.

"Itu dia, jurinya kurang fair nih........ngak dapat apa-apa" katanya mamanya dengan nada kecewa.

Sementara itu anak yang sedang dibicarakan malah asik menonton PlayHouse Disney di TV. Pocoyo dan teman temannya menyihir Tesa dan membawanya ke dunia yang penuh dengan warna ceria.

"Tesa........." aku memanggil sang gadis kecil. Tesa menoleh sambil memamerkan senyum manisnya. "Tesa tadi di sekolah lombanya menang ngak?" tanyaku sambil menatap mata beningnya.

"Lomba Kartini!" Tesa bangkit dari duduknya dan kembali bergaya bak pragawati megal megol didepan kami sambil tersenyum lebar. Dari cerah senyumnya dan binar matanya aku tahu bahwa dia menikmati lomba pagi tadi.

"Tuh ma.........bagi Tesa kemenangan adalah lomba itu sendiri dan bukan pialanya!" bisikku kepada sang mama.

BSD City
22 April 2010
Sehabis main tennis malam hari
EU for U

Potret Gayus disekeliling kita......atau malah kita?

Ibuku adalah ODD, istilah ini memang bukan merupakan istilah populer dimedia masa seperti istilah ODH (Orang Dengan HIVAIDS). ODD yang dalam bahasa Inggris merupakan lawan dari even berarti ganjil. Ibu memang menjadi agak ganjil dari sudut pandang orang awam yang sehat karena setiap hari musti suntik insulin pagi dan sore. Tiap pagi Thesa si cucu sulung dengan suara kurang lebih 110 desibel pasti berteriak "Eyang sedang suntiiiiiiiiiik!" saat melihat eyangnya swalayan menancapkan jarum ke paha kanannya untuk memasukkan insulin kedalam tubuhnya. Yup, sejak 10 tahun yang lalu eyang Thesa menjadi ODD, Orang Dengan Diabetes.

Sebulan yang lalu eyang datang ke Jakarta. Tujuan utamanya untuk berobat mata dan juga ketemu cucu cucu tersayang. Diabetes membuat eyang susah beraktivitas dan juga menurun fungsi penglihatannya. Saat di Klaten, pergi ke Rumah Sakit tanpa didampingi anaknya menjadi sangat melelahkan buat beliau apalagi sesudah bapak dipanggil menghadap kanjeng Gusti.Terlebih saat keponakan yang selama ini rajin membantu dan mengantar juga pindah ke Jakarta.

Insulin cadangan yang dibawa dari Klaten kemarin sore habis. Saat ibu memberitahukan keaku tadi pagi aku sempat tanya ke beliau berapa harga insulin yang biasa dipakainya.

"Gratis Le, rumah sakitnya ngasih gratis karena ditanggung sama Askes*"

"Ya sudah bu, nanti malam pulang dari kantor aku tak mampir ke apotik beli insulin, gak usah minta dari rumah sakit negeri dan pakai Askes" kataku kemarin sore dengan percaya diri tinggi untuk mampu membelikan insulin tanpa harus menggunakan Askes. Lha berobat laser mata ke eye center aja mampu membiayai kok masak beli insulin musti pakai Askes, desisku dalam hati setengah sombong.

"Novomix flexpen jarum dan uang lain totalnya 2,2 jt pak!" si mbak apoter menjawab pertanyaanku saat aku bertanya berapa harga insulin yang dibutuhkan ibu.

"What the hell is it" teriakku dalam hati tentunya. "Makasih mbak, coba saya cek dulu ke ibu saya. Nanti saya telepon kesini kalau mau beli" kataku bergegas pulang. Aje gile...., kalau sampai 2,2 juta mending pergi ke Puskesmas minta rujukan dan berobat ke RS Negri dan dapat insulin gratis menggunakan Askes.

***

Pagi ini, ibu, istriku, Thesa dan aku pergi ke Puskesmas untuk mendapatkan surat rujukan sebagai syarat berobat dengan tanggungan Askes. Lokasi Puskesmas sudah diintip dari Google Map dan letaknya di dekat kantor kecamatan Serpong. Dari BSD ke arah Puspitek dan kemudian belok kanan dan posisinya disebelah kanan jalan.

Kami datang agak siang, malah menjadi berkah karena Puskesmas sudah sepi (atau memang sepi?). Eyang dan Thesa kami tinggalkan di mobil sementara aku dan istriku yang akan mengurus surat rujukan. Puskesmas ini memang agak aneh, loketnya sempit dan rendah. Kami tidak tahu alasannya kenapa kok loket pendaftaran dibuat sempit dan harus membungkukkan badan untuk melihat mahluk apa gerangan yang ada didalam loket.

"Pagi bu"

Hampir berbarengan aku dan istriku memberikan salam kepada dua orang ibu-ibu setengah baya yang tampak dari lubang loket. Baju coklat khas PNS, dengan jilbab warna putih menutup kepala mereka dan badan besar kelebihan gizi.

"Perlu apa?" kata ibu yang disebelah kanan dengan ketus. Weladalah, kalau ngak salah PNS dan puskesmas itu pelayan masyarakat kok galak ya? Sudah ngomongnya ngak bersahabat masih ditambah dengan muka ditekuk. Mungkin kami berdua dianggap mahluk pengganggu keasyikan mereka merumpi.

"Ini bu, kami minta surat rujukan untuk berobat ke rumah sakit" kata istriku sambil menyerahkan kartu Askes ibu.

"Ada kartu biru ngak?"

"Kartu biru apa ya bu?"

"Kalau ngak ada kartu biru ngak bisa minta surat rujukan disini"

"Tunggu sebentar, coba saya tanyakan ke ibu saya dulu", kataku menyela pembicaraan antara sang ibu penjaga loket pendaftaran puskesmas dengan istriku yang suhunya aku rasakan meningkat tajam. Dengan bergegas aku kembali ke mobil untuk bertanya ke ibu yang menunggu dengan Thesa disana.

"Ma, ngak perlu pakai kartu biru. Kata ibu, di Klaten, di Bandung atau di Blora cukup dengan menggunakan Kartu Askes!" kataku agak heran karena dari raut muka istriku kelihatannya urusan pendaftaran sudah selesai.

"Sudah beres........"

"Apanya yang sudah beres ma? ibu ngak punya kartu biru katanya".

"Kamu kayak ngak tahu aja pa, waktu papa pergi ke mobil tadi, aku pura-pura tanya ke dia biayanya berapa? dan dia minta 3 rb. Ya udah aku kasih aja 3 ribu dan urusan beres!".

"Kata ibu selama ini kalau minta surut rujukan ngak perlu bayar sama sekali lho" kataku heran.

"Yailah pa........namanya Markus** kan ada dimana2, termasuk di Puskesmas ini. Yang penting mintanya ngak 3 juta biarin aja pa".

***

"Pa, minta uang buat bayar parkir!" mama Thesa sang sopir menodongkan tangannya ke aku saat kami keluar dari basement Teraskota usai makan sore disana.

"Ngak ada uang receh nih, pakai duitmu dong"

"Aku juga ngak ada, uang berapa aja deh....buruan"

Akhirnya aku berikan uang biru dengan tulisan 50.000 untuk bayar parkir 3500. Sesudah menerima kembalian dari petugas parkir dengan santai mama Thesa memasukkan uang kembalian kedalam dompetnya.

"Lho, kok masuk kedompetmu?" kataku heran.

"Alah.............segitu doang!" jawabnya kalem tanpa menoleh.

"Waaah, Markusnya emang dekat nih....bankan jadi teman tidur tiap malam!" desisku mati kutu.

BSD City,
17 April 2010
EU 4 U
Selalu berpengharapan Indonesia menjadi lebih baik!

Siapa bilang susah buat NETWORKING?

"Hallo pak, saya Tomi dari Underground Engineering"

Kalimat sederhana itu menjadi senjata ampuh yang dipergunakan Tomi pada fase 3 bulan pertama keberadaanya di perusahaan pertambangan Freeport Indonesia. Sebagai karyawan baru, di tempat yang sangat jauuuuuh sekali dari kota dimana dia tinggal bahkan harus dilalui dengan menyeberangi ribuan pulau plus 5 jam penerbangan pastilah dirinnya akan kesepian, bosen, sendu, melankolis dan seribu satu emosi negative lainnya plus kerja yang amburadul kalau ngak segera mengoleksi teman dan membuat network sesegera mungkin.

Kalimat "Hallo, nama saya Tomi" sambil mengulurkan tangan dan kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan2 yang lain dengan cepat menambah jumlah teman yang dia miliki, ibarat sembarangan add orang di fb jaman sekarang. Berhubung Tomi sering pindah kerja maka action plan ini sering diulangnya di setiap tempat kerja yang baru sejak 14 tahun yang lalu!

Tempat favorite Tomi untuk menciptakan networking yang pertama adalah kantin perusahaan atau warung yang banyak didatangi karyawan perusahaan dimana dia bekerja. Begitu sudah mendapatkan makanan, matanya segera mencari meja yang sudah terisi tapi masih ada bangku yang kosong. Kalimat pembukanya sedikit dimodifikasi.

"Maaf, apakah saya bisa join disini?......nama saya Tomi"
Target dua orang kenalan baru setiap sesi makan siang segera membuat Tomi segera menjadi manusia "lama" diperusahaan baru karena sudah lebih dari 40 orang yang dia kenal!.

Tempat favorite yang kedua adalah lapangan olahraga. Hobi main bulutangkis dan tennis sangat efektif untuk dimanfaatkan memperluas network dan pertemanan. Pada saat main bulutangkis atau tennis maka pada saat itu juga bertambah 3 teman baru! satu partner dan dua orang sparring partner.

Tempat favorite yang ketiga adalah di bus karyawan. Setiap pagi, paling tidak ada satu orang kenalan baru yaitu teman duduk sebangku. Perbincangan selama sejam dalam perjalanan menuju tempat kerja dengan sendirinya menambah jumlah teman dalam daftar friendlist Tomi.

Tempat favorite yang keempat adalah di ruangan Training. Hobi sebagai fasilitator memberikan kesempatan bagi Tomi untuk mendapatkan kesempatan dan berkenalan dengan para peserta. Tomi selalu menargetkan untuk dapat menghapal nama peserta Training sebelum lunch break. Tempat favorite ini bahkan jauh lebih efisien karena sekali workshop maka ada lebih 20 orang masuk kedalam friendlistnya.

***
Kantin Freeport tahun 2000 jam makan malam.

"Maaf bisa join disini?" Tomi menyapa keseorang pemuda yang sedang duduk makan sendirian di pojok kantin. Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan dan hanya memberikan ijin dengan bahasa senyuman.

"Nama saya Tomi, saya karyawan baru di departmen Engineering" kata Tomi dengan kalimat pembuka yang sudah dia lakukan ratusan kali. Kali ini pemuda itu kembali hanya tersenyum sambil meneruskan makan steak yang ada dipiringnya.

"Kalau boleh tahu, mas namanya siapa?" Tomi agak sedikit gregetan karena sejak tadi hanya mendapatkan balasan senyum dari orang yang hendak dia ajak kenalan.

"Kerja di departemen mana mas?" Tomi menambahkan pertanyaan walaupun yang bersangkutan belum menjawab pertanyaan tentang nama yang bersangkutan.

"Mas Tomi lupa ya?, 2 minggu yang lalu kita kan sudah kenalan disini!" jawaban singkat dari pemuda itu langsung membuat muka Tomi merah menahan malu.

BSD City
16 April 2010
EU 4 U