19 Mei 2016

Point of View #Hal71


Catatan Harian Eko Utomo

Point of View #Hal71

Kalau kami sedang berlibur bawa mobil masalah ini sering muncul. Mencari rest area yang memiliki toilet duduk bukan toilet jongkok.

Masalahnya bukan hanya sekedar mencari rest area bertoilet duduk, namun juga naiknya tensi udara karena diskusi sesudahnya.

"Mom, heseh banget sih. Urusan toilet aja kok bikin pusing. Tinggal buka celana sreet, pasang posisi udah deh selesai", kataku mengomentari mama Thesa yang uring2an karena tidak menemukan toilet duduk di rest area.

"Papa gimana sih, masak rest area sebesar ini ngak ada toilet duduknya?. Toilot jongkok itu cenderung jorok dan bikin pegel!", yang ditanya masih tinggi tensi.

"Hadeeeeuh, masih untung ada toilet. Gua dulu saat kecil kalau mau buang hajat pergi dulu ke sungai. Nongkrong pinggir kali asoy geboy", komentarku ngak mau kalah.

"Dasar, jorok. Papa mah cah ndeso. Sejak aku kecil aku sudah pakai toilet duduk tahu. Ngak ndesok kayak papa", kata mama Thesa sebel sambil menarik mukanya heran aku bangga dengan pengalaman buang hajat di sungai.

***
Manusia, bisa diibaratkan sebagai komputer. Sama2 memiliki dua komponen penting yaitu HARDWARE dan SOFWARE.

Hardwarenya manusia ya tubuh dan organ2nya. Sedangkan software manusia terletak di hardisk otak dimana didalamnya banyak menyimpan aplikasi2 kehidupan yang diprogramming dan dicoding oleh Values, Beliefs, Norma2, Pengalaman dll.

Yang membedakan antara manusia dan komputer adalah sofware manusia itu unik, tidak ada yang sama. Sementara software komputer bisa seragam. Sofware komputer tinggal beli dan install, bisa dilakukan seketika. Sedangkan sofware manusia lama proses instalnya dan cenderung dinamis (bisa berubah2).

Dalam proses interaksi di kantor atau di lingkungan sosial, proses diskusi, proses coaching, managing atau juga consulting setiap saat menghadapi kasus yang sama. Kasus dimana dua orang yang berinteraksi tidak ketemu ujung pangkalnya karena mereka berdua terlibat dalam sebuah debat dengan basis yang berbeda.

Pernah terjadi dua orang manager berdiskusi tentang jam kerja. Yang satu menerapkan jam kerja bagi anggota timnya secara ketat. Masuk dan pulang kerja harus sesuai aturan perusahaan, datang jam 9 pagi dan pulang jam 6 sore.

Manager yang satu menerapkan aturan jam kerja secara fleksibel, anggota timnya dibiarkan sesukanya datang dan pulang kerja jam berapapun, tanpa pernah ditegur.

Dan mereka berdua berdiskusi dan berdebat tiada habisnya. Yang terjadi sebenarnya sederhana, masing2 manager memiliki point of view yang berbeda. Manager pertama memegang dan menghargai value yang namanya DISIPLIN. Manager yang kedua menghargai value yang namanya FLEKSIBILITAS.

Debat mereka tidak akan pernah selesai kalau tidak menggunakan point of view yang sama. Salah satu berganti posisi dan mengikuti point of view yang lain atau mencari point of view yang sama2 mereka setujui bersama.

Misalnya mereka bisa saja menentukan point of view baru yang disetujui bersama misalnya PRODUKTIVITAS. Pembahasan diskusi akan fokus pada hal sama yang sudah disepakati. Tidak lagi fokus pada perbedaan nilai. Perbedaan nilai baik itu disiplin atau fleksibilitas "hanya" akan menjadi faktor pendukung pencapaian nilai bersama yaitu produktivitas. Dengan konteks ini maka manager yang sebelumnya erat memegang nilai Disiplin akan lebih mudah menerima apa yang dilakukan temannya yang memberikan jam kerja Fleksibel SEPANJANG mereka produktif, demikian sebaliknya

Kasus yang sama terjadi dalam diskusi2 di Medsos. Saya sering menemukan diskusi yang panas dan tiada ujung karena masing2 MEMILIKI point of view yang berbeda.

Terjadi diskusi antara Islam, Kristen dan Atheis. Topiknya adalah Iblis. Diskusi muter2 ngak kemana2 dan hanya menaikkan tensi dan merusak suasana. Yang mereka (sering) tidak sadari adalah dasar pemikiran (software) yang melandasi diskusi mereka berbeda. Islam mengimani bahwa Iblis diciptakan dari api, Kristen mengimani bahwa Iblis tidak diciptakan namun wujud kelam dari Malaikat. Sedangkan atheis mengimani tidak ada yang namanya Iblis, lha Tuhan aja ngak ada kok.

Kalau masing2 tidak mencoba mengerti basik pemikiran teman diskusinya, maka yang terjadi hanyalah debat kusir yang hanya cocok untuk membuang waktu belaka.

Kalau kemudian kita tahu dasar pemikiran berbeda trus bagaimana? Ya, fokuslah berdiskusi untuk menunjukkan bahwa dasar pemikiran mereka itu salah atau tidak tepat. Untuk merobohkan rumah tidak perlu repot2 mulai dari atap, rusak pondasinya dan rumah akan roboh dengan sendirinya.

Kalau teman tetap kekeh dengan pondasi pemikirannya? Ya biarkan saja. Namanya juga berdiskusi. Seringkali kita ketemu dengan kondisi "we agree.to disagree". Kecuali diskusi itu terjadi di ruang meeting kantor, keputusan tetap harus diambil, dan itu ada di sang atasan. Istilah kerennya "Decision Discretion", hak untuk mengambil keputusan.

Kalau ngak setuju dengan keputusan atasan? Kalau sudah didiskusikan dan sudah jadi keputusan ya harus dilaksanakan, atau anda cari atasan baru.

EU4U
BSDCITY310316

Merayakan perbedaan point of view.

Tidak ada komentar: