13 Februari 2016

NAIK GAJI #Hal33


Catatan Harian Eko Utomo

NAIK GAJI #Hal33

"Harga cabe naik tinggi, inflasi melambung, semua jadi tak terbeli!", seorang Jokowi haters mengeluh (mungkin lebih tepat disebut merengek).

"Sabar, katanya intelektual. Media dan koran jelas menyatakan bahwa inflasi 2015 dibawah 4%, terendah dalam satu dekade", kataku meluruskan.

"Beli koran aku juga sudah ngak mampu", sambung hater dengan nada satir.

"Kasihan, artinya loe butuh minta NAIK GAJI", jawabku tidak kalah satir.

***
Urusan naik gaji selalu menjadi berita ramai setiap tahun. Khususnya sejak rezim UMR ditetapkan. Para buruh dengan gegap gempita meminta kenaikan UMR setinggi mungkin. Tidak peduli bagaimana KONDISI perusahaan mereka dan tidak peduli apakah PRODUKTIVITAS mereka layak mendapat kenaikan gaji.

Urusan nail gaji juga bukan monopoli kaum buruh. Saya pernah ketemu Senior Manager perusahaan besar dengan gaji 35 jt nett merengek-rengek minta naik gaji ke kiri dan kekanan. Permohonannya lama dikabulkan karena manajemen melihat bahwa KONTRIBUSI sang Senior Manager belum saatnya diganjar gaji yang lebih tinggi.

Kesalahan utama para pekerja tentang gaji adalah menganggap bahwa kenaikan gaji merupakan HAK!

Apalagi mereka yang masih berpola pikir bahwa kontribusi berbanding lurus dengan masa kerja. Semakin lama kerja maka seharusnya gaji semakin tinggi. Karena tiap tahun mereka merasa berhak untuk naik gaji.

Kondisi yang sesungguhnya naik gaji merupakan bentuk keseimbangan antara SUPPLY dan DEMAND.

Lho, apa hubunggannya? mungkin anda akan bertanya demikian.

Buruh dan karyawan hidup di pasar tenaga kerja. Sama dengan jenis2 pasar yang lain maka "harga karyawan" di pasar tenaga kerja dibentuk oleh pasokan dan kebutuhan.

Kalau pasokan tenaga kerja tinggi sementara kebutuhan rendah maka harga jadi murah. Sebaliknya kalau pasokan rendah sementara kebutuhan tinggi maka harga (baca gaji) jadi tinggi.

Pekerjaan2 yang membutuhkan kompetensi tertentu dan memberikan kontribusi besar kepada perusahaan niscaya akan diganjar gaji yang besar.

Dari sini kita temukan formula sederhana agar kita mudah naik gaji. Jadikan diri kita jadi LANGKA karena KOMPETENSI dan KONTRIBUSI yang semakin tinggi.

Kalau kompetensi dan kontribusi kita sudah tinggi namun perusahaan tutup mata? Sederhana perusahaan lain akan melihat anda. Tinggal kibarkan CV dan prestasi di pasar tenaga kerja.

Naik gaji? Gampang!
Mau coba?

EU4U
BSD030216

Tidak ada komentar: