21 Desember 2016

Bersatu (tidak selalu) Teguh. Bagaimana Keputusan Unggul dibuat #Hal96


Catatan Harian Eko Utomo

Bersatu (tidak selalu) Teguh. Bagaimana Keputusan Unggul dibuat #Hal96

Suasana dalam ruangan meeting hening. Ada sekitar 10 orang berada didalamnya. Meeting dipimpin oleh Vice President (VP) operation. Selama lebih dari satu jam, meeting (atau boleh disebut pengarahan) berjalan satu arah. Sang kepala Division (VP) mengemukakan agenda dan permasalahan, yang lain mendengarkan. Beberapa waktu kemudian sang VP mengemukakan solusi dan alasan kenapa solusi tersebut dipilih, peserta lain mendengarkan dan mencatat.

Meeting berjalan lancar dan cepat. Apakah efektif dalam mengambil keputusan? Tunggu dulu. Proses pengambilan keputusan yang diambil (hanya) oleh satu orang dinamakan GROUP THINK (GT).

Fenomena GT sering terjadi diruang2 meeting BOD, Proyek atau ruang2 meeting lainnya dimana ada seseorang yang sedemikian powerful sehingga peserta meeting yang lain menjadi "takut" untuk berbicara dan bersikap berbeda.

Dalam banyak penelitian, baik secara teori maupun empiris, fenomena GT dalam ruang meeting menghasilkan keputusan yang BURUK!. Logikanya sebenarnya sangat sederhana, isi kepala banyak orang jelas LEBIH BAIK dibandingkan dengan isi kepala satu orang!.

Dalam konsep Johari Window, manusia memiliki sebuah area yang dinamakan BLIND SPOT. Blind Spot adalah sebuah area di mana kita secara pribadi TIDAK TAHU tentang diri kita. Orang lain yang malah mampu melihatnya.

Proses pembuatan keputusan hanya oleh satu orang dalam fenomena GT (persatuan semu) akan menghasilkan keputusan yang memiliki banyak "kelemahan" karena bawaan cacat Blind Spot si pembuat keputusan yang dominan.

Semakin kaya dan beragam orang2 yang terlibat dalam pengambilan keputusan (latar belakang, fungsi pekerjaan, pendidikan, karakter, masa kerja dll) maka semakin "kaya" dan komprihensif keputusan yang dihasilkan. Keputusan dibedah dengan menggunakan pisau yang tajam dan beragam, tidak ada lubang yang terlewat.

***
"Pak Eko, saya ingin melanjutkan sekolah S2/S3, kalau saya mengambilnya di Univ dimana saya dulu mengambil S1 bagaimana?".

Saya sering mendapatkan pertanyaan ini, dan jawaban saya sama: "sebaiknya anda mengambil kuliah di Univ yang BERBEDA!".

Landasan jawaban atas pertanyaan ini sama dengan penjelasan fenomena GT diatas, S2 dan S3 di Universitas yang berbeda akan memberikan sudut pandang dan citarasa yang berbeda buat kita. Sehingga kita akan kaya oleh sudut pandang yang berbeda yang pada akhirnya akan membantu kita dalam banyak hal termasuk pengambilan keputusan.

Jadi fenomena sukuisme, almamaterisme dlsb., di tempat kerja sesungguhnya sebuah proses yang mendorong GT terjadi. Semakin seragam sudut pandang pengambil keputusan, semakin buruk keputusan yang dihasilkan, demikian sebaliknya. Susun tim kerja anda dengan latar belakang yang berbeda, anda akan takjub dengan hasilnya.

Bukankah alam dan ilmu fisika mengajarkan bahwa pelangi itu indah?. Bahwa mejikuhibiniu yang beragam itulah yang menghasilkan warna tertinggi dan suci: PUTIH?.

Let's celebrate different!

EU4U
BSDCity140816

Untuk anda yang berbeda.

Tidak ada komentar: