06 Juni 2017

“PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG DIPIMPIN INSAN NON TAMBANG, DIMANA SALAHNYA?”.



“PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG DIPIMPIN INSAN NON TAMBANG, DIMANA SALAHNYA?”.

Penulis:
Eko Jatmiko Utomo Ph.D (c)
Business & HR Consultant
Public Trainer & Master Coach
Ekoutomo05@yahoo.com

Sang CEO Dari “Dunia Lain”
Mari kita melakukan riset kecil-kecilan, pertanyaan utama riset sebagai berikut: “berapa banyak Chief Executive Officer (CEO) perusahaan tambang besar Indonesia (BUMN & Swasta) lulusan jurusan yang berkaitan langsung dengan industri pertambangan (Tambang, Metalurgi & Geologi)?”.
Kalau kita melakukan pencarian di Internet (dilakukan pada tanggal 1 Juni 2017), maka didapatkan data CEO perusahaan-perusahaan tambang besar di Indonesia sebagai berikut:

CEO Perusahaan Tambang BUMN & Latarbelakang Pendidikan:
Aneka Tambang: Arie Prabowo Ariotedjo (Teknik Sipil)
Bukit Asam: Arviyan Arifin (Teknik Industri)
Timah: Mochtar Riza Pahlevi Tabrani (Teknik Geologi)
Inalum: Winardi (Teknik Tambang Metalurgi)
CEO Perusahaan Tambang swasta & Latarbelakang Pendidikan:
Freeport Indonesia: Chappy Hakim (Akmil AU); saat ini kosong dan belum ditunjuk pengganti.
Vale Indonesia: Nico Kanter (Hukum)
Adaro: Garibaldi Thohir (Bisnis)
KPC: Saptari Hoedaja (Teknik Mesin)
Berau: Fuganto Widjaja (Ilmu Komputer)

Dari 9 perusahaan tambang besar yang ada di Indonesia, ternyata yang memiliki latarbelakang pendidikan terkait pertambangan hanya ada 2 yaitu CEO Timah & Inalum. Bahkan kalau ditilik lebih dalam lagi, CEO Timah Riza Tabrani merupakan mantan Chief Finance Officer (CFO) PT. PGN. Karirnya lebih banyak dihabiskan di bidang keuangan dan bukan di Geologi seperti latar belakang pendidikan yang disandang. Dengan demikian hanya ada sekitar 10% CEO perusahaan tambang yang memiliki latarbelakang pendidikan jurusan tambang dan sejenisnya.

Fakta yang dihasilkan riset ini memunculkan pertanyaan lanjutan: “apakah lulusan jurusan pertambangan dan sejenisnya tidak layak memimpin perusahaan tambang?”. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menggelitik dan sensitif. Menggelitik karena fenomena ini dapat dirasakan namun tidak pernah dieksplorasi lebih lanjut, dan sensitif karena berkaitan dengan “pride” atau harga diri mereka-mereka yang merasa bahwa perusahaan pertambangan selayaknya dipimpin oleh mereka yang memiliki latar belakang pendidikan tambang.

Sebenarnya, pertanyaan ini bukanlah merupakan pertanyaan yang baru terjadi akhir-akhir ini saja, namun juga merupakan pertanyaan yang sudah muncul lebih dari 20 tahun yang lalu seperti yang diceritakan pada tulisan di kotak “Tidak Perlu Kuliah Tambang untuk Memimpin Perusahaan Tambang” dibawah ini.

***
Tidak Perlu Kuliah Tambang untuk Memimpin Perusahaan Tambang.
Bandung, medio awal tahun 1994. Di salah satu kampus ITB bagian pojok belakang. Seisi ruangan seminar di lantai 2 jurusan teknik Pertambangan ITB itu senyap. Bukan senyap yang tenang dan meneduhkan, namun senyap gunung berapi yang siap-siap memuntahkan lava yang panas membara.

Di depan ruangan berdiri seorang pembicara yang terkenal, Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto. Doktor Kuntoro pada saat itu berbicara dan diundang dalam kapasitas sebagai CEO PT. Timah (1989-1994), bukan dalam kapasitas sebagai dosen di Teknik Industri ITB.

Dalam kapasitasnya sebagai CEO PT. Timah, Pak Kuntoro diminta oleh jurusan tambang ITB untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan bagaimana cara beliau mampu untuk membuat PT. Timah yang sedang karam bisa menjadi sehat dan berlayar kembali. PT. Timah mengalami kejayaan sebagai salah satu perusahaan tambang negara selama berpuluh-puluh tahun. Dengan banyaknya keuntungan yang diterima, PT. Timah banyak menanamkan investasi pada sektor yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dan dibutuhkan oleh PT. Timah sebagai perusahaan tambang. Pada saat harga timah dunia anjlog pada pertengahan 80an, maka PT. Timah yang terlanjur tambun (kebanyakan karyawan) dan tidak efisien menjadi limbung dan jatuh.

Doktor Kuntoro yang ditunjuk oleh Departemen Pertambangan sebagai CEO segera melakukan langkah-langkah pembenahan melakukan restrukturisasi organisasi. Salah satu tindakan yang ramai diperbincangkan adalah melakukan pemberhentian lebih dari 70% karyawan. Retrukturisasi organisasi yang dilakukan berhasil mencegah “kapal Timah” yang sedang oleng menjadi karam dan tenggelam ke dasar laut. PT. Timah kembali selamat dan melanjutkan kiprahnya sebagai salah satu BUMN pertambangan.

Semua peserta seminar terpukau dan dengan seksama mendengarkan program-program yang dijalankan Doktor Kuntoro dalam melakukan restrukturisasi PT. Timah. Diskusi dan tanya jawab berlangsung dengan seru. Peserta seminar baik Dosen dan Mahasiswa merasa mendapatkan banyak manfaat dengan kehadiran Doktor Kuntoro CEO PT. Timah sebagai nara sumber.

Pada akhir seminar Dr. Kuntoro Mangkusubroto menyampakan kesimpulan dari proses restrukturisasi yang dia lakukan di Timah: “Dalam memimpin perusahaan tambang tidak perlu harus kuliah teknik pertambangan, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengelola organisasi dengan efektif dan efisien”.

Kalimat diatas khususnya bagian “tidak perlu harus kuliah teknik pertambangan” membuat seminar yang sebelumnya berjalan dengan seru dan menyenangkan berubah menjadi muram. Di luar ruangan sesudah acara seminar berlalu, beberapa mahasiswa Teknik Pertambangan bergerombol dan mencaci maki kesimpulan yang dibuat oleh Dr.Kuntoro. Harga diri mereka terluka, mereka merasa jurusan yang mereka ambil dilecehkan. Masak jabatan CEO perusahaan tambang tidak “mengerti” tambang.  Namun fakta yang terjadi di PT. Timah terlalu kuat untuk dibantah, Dr. Kuntoro, seorang lulusan Teknik Industri mampu menyelamatkan PT. Timah dari kegagalan bisnis saat dipimpin oleh CEO lulusan Teknik Pertambangan.
***
Apa Yang Dibutuhkan Untuk Menjadi CEO?
Dalam bukunya yang berjudul “What the CEO Wants You to Know”, maha guru bisnis dari Harvard, Prof. Ram Charan menyatakan bahwa untuk bisa memimpin dan mengelola bisnis maka seorang CEO harus memiliki kompetensi yang dinamakan Business Acuman (Wawasan Bisnis).

Posisi CEO merupakan posisi yang sangat strategis. Keputusan-keputusan penting dihasilkan dari rapat-rapat Board of Director (BOD) yang dipimpin oleh CEO. Keputusan-keputusan stratejik dan penting itulah yang nanti akan menentukan arah perjalanan dari perusahaan. Dengan demikian maka anggota BOD terlebih CEO merupakan faktor utama yang menentukan hitam dan putihnya perusahaan (Finkelstein dkk., 2009).

Seorang CEO yang memiliki wawasan bisnis adalah orang yang mampu untuk mengidentifikasi dan mendorong terjadinya cash generation, menciptakan margin, memupuk aset, mempertahankan pertumbuhan dan mengelola kepuasan pelanggan (Charan, 2001). Kompetensi wawasan bisnis yang dimiliki oleh CEO tadi harus dikombinasikan oleh kemampuan memimpin (leadership) yang diharapkan mampu untuk membawa perusahaan mencapai tujuan utama dalam berbisnis: mendapatkan keuntungan.

Prinsip utama bisnis (mendapatkan keuntungan) berlaku secara universal pada semua perusahaan dan semua industri. Perusahaan yang tidak mencari keuntungan selayaknya berubah nama menjadi yayasan. Kondisi ini juga berlaku di perusahaan tambang pada industri pertambangan.

Dengan demikian CEO perusahaan tambang (termasuk anggota dewan direksi yang lain) wajib hukumnya untuk memiliki kompetensi wawasan bisnis agar mereka mampu menjalankan peran sebagai direktur perusahaan.

Atau coba kita buat daftar tantangan yang harus dihadapi oleh CEO dan direksi di Industri tambang Indonesia pada saat ini: “Harga komoditas yang jatuh”, “Kesulitan aliran kas”, “Konsekuensi penerapan UU Minerba”, “Kesalahan investasi tambang”, “Kebutuhan pendanaan untuk pengembangan”, “Rendahnya produktivitas perusahaan”, “Daya saing perusahaan rendah”, dlsb. Masalah-masalah kekinian yang harus dihadapi oleh CEO dan Board of Director (BOD) tidak dapat diselesaikan oleh mata kuliah teknik Pertambangan, teknik Metalurgi dan teknik Geologi yang dipelajari pada bangku kuliah. Masalah-masalah tersebut hanya bisa diselesaikan oleh kompetensi Wawasan Bisnis, kompetensi Leadership dan ekspos/pengalaman terhadap hal-hal non teknis tersebut.

Apakah para direksi perusahaan tambang berlatarbelakang jurusan Tambang dan sejenisnya menguasai kompetensi Wawasan Bisnis?. Bagaimana dengan para first layer?. Bagaimana dengan para Manager?. Bagaimana dengan anda?.

Dalam berbagai kesempatan workshop yang saya selenggarakan dengan para executives perusahaan pertambangan di Indonesia, saya memanfaatkan kesempatan interaksi tersebut untuk melakukan riset kecil2an. Riset bertujuan untuk melihat apakah para Manager, VP, GM, Direktur perusahaan tambang dengan latar belakang pendidikan Tambang dan sejenisnya menguasai kompetensi Wawasan Bisnis (lihat cerita dalam kotak: Pemimpin Bisnis Tidak (Kurang) Mengerti Bisnis).   

Pemimpin Bisnis Tidak (kurang) Mengerti Bisnis
“Bagaimana perusahaan bisa untung?”, sang Trainer melontarkan sebuah pertanyaan yang sederhana. Tunggu punya tunggu, tidak ada seorang pesertapun yang mengangkat tangannya untuk mencoba untuk menjawab. 

Di ruangan kelas itu ada kurang lebih 30 orang peserta workshop. Workshop tersebut merupakan program pelatihan in house yang diselenggarakan oleh satu perusahaan tambang. Semua peserta masuk katagori sebagai karyawan first layer (level pertama) di perusahaan. Sebagian merupakan direktur anak perusahaan, sebagian lagi merupakan General Manager (GM) pada salah satu unit bisnis, sisanya adalah Vice President yang mengepalai fungsi-fungsi di dalam perusahaan. Semua peserta adalah karyawan dengan masa kerja lebih dari 15 tahun di perusahaan. Sebagian besar karyawan adalah lulusan jurusan terkait pertambangan (Geologi, Tambang, Metalurgi) dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia.

“Bapak-bapak merupakan pemimpin bisnis di tempat anda masing-masing, bagaimana bisa anda tidak tahu dan tidak yakin dengan faktor yang bisa membuat perusahaan anda untung?”, Trainer melontarkan pertanyaan provokatif untuk memancing diskusi. Ternyata pertanyaan pancingan provokatif tetap tidak mampu membuat diskusi di dalam kelas menjadi hidup. Semua cenderung diam dan bingung dalam menjawab pertanyaan. Padahal mereka adalah para pemimpin bisnis dalam skala masing-masing.

Dari riset kecil-kecilan yang dilakukan, saya mengambil kesimpulan bahwa kurang dari 15% first layer (Senior Manager, VP, GM) mengerti dan menguasai kompetensi Wawasan Bisnis!. Sebuah angka yang sangat rendah sekali.  Padalah para first layer ini adalah ujung tombak perusahaan dalam melakukan eksekusi strategi yang dibuat dan diputuskan oleh para direktur. Mereka adalah para villager, orang-orang terdekat BOD yang memastikan keputusan stratejik terimplementasi (Mellon & Carter, 2014).   

Apa Yang Terjadi?
Menjadi “Insinyur/Sarjana Teknik” merupakan sebuah kebanggaan. Bahkan aktor peran Rano Karno sampai membuatkan sebuah sinetron yang berjudul “Si Doel Anak Sekolahan”. Sinetron yang menggambarkan lika liku peran Doel dalam mengejar cita-cita menjadi Insinyur. Sinetron ini meledak dan laku! Artinya sinetron ini berhasil menjual mimpi yang sama dengan mimpi banyak para penontonnya: kebanggaan menjadi Insinyur!.

Faktor kebanggaan ini bahkan sudah dipupuk jauh-jauh hari. Sejak masih SMA sudah berjuang dan menjadi bangga masuk di jurusan IPA. Kebanggaan ini berlanjut saat kuliah mampu masuk ke perguruan tinggi jurusan teknik. Kebanggaan menjadi paripurna pada saat diterima bekerja menjadi “engineer” di perusahaan tambang ternama.

Sebuah “pride” yang dipupuk selama bertahun-tahun dan dilakukan dengan sangat intensif. Ibaratnya pohon yang ditanam, maka sesudah tumbuh tinggi akar pohon sudah sedemikian tajam menghunjam ke dalam tanah. Kokoh, namun sulit untuk digoyahkan, apalagi diminta pindah.

Menjadi Insinyur Tambang  dan sejenisnya (Metalurgi & Geologi) merupakan proses “a dream comes true”. Menemukan dan menghitung cadangan dengan akurat, merancang dan menambang tambang dengan rapi dan sempurna atau merancang dan mengolah hasil tambang dengan mulus bagi para Insinyur menjadi sebuah pencapaian yang hebat.

Yang kemudian menjadi masalah adalah bahwa jabatan untuk keahlian diatas bukan merupakan jabatan tertinggi diperusahaan, jabatan diatas “hanyalah” Manager atau paling tinggi adalah Senior Manager atau Vice President!. Bagaimana mungkin para Insinyur yang sudah susah payah belajar teori Peledakan, Kristalografi, Mekanika Batuan, Peralatan Tambang, Genesa Bahan Galian, Teknik Korosi, Pengolahan Bahan Galian dll., dengan segala macam kesusahannya kok jabatan cuma mentok pada posisi Senior Manager? Kenapa bukan jadi direktur dan atau CEO?.

Jawabannya sederhana, karena segala macam keahlian teknik pertambangan “hanyalah” merupakan salah satu fungsi dari bisnis, yaitu fungsi OPERASI. Sementara ada fungsi-fungsi bisnis yang lain seperti fungsi Stratejik, fungsi Human Capital dan fungsi Keuangan yang juga dibutuhkan agar bisnis dapat berjalan sempurna untuk mencapai tujuan utamanya: menghasilkan keuntungan.

Jadi ada GAP kompetensi antara kompentesi yang dimiliki oleh para Insinyur dengan kompetensi yang dibutuhkan sebagai CEO. Sementara secara mental juga terdapat gap mental merasa sudah “paripurna” keahliannya. Padahal masih banyak hal lain yang perlu dipelajari dan dikuasai oleh para Insinyur.

Wahai Para Insinyur, Masih Berminat Jadi CEO?
Jika jawaban dari pertanyaan diatas adalah “tidak”, maka jangan lanjutkan membaca artikel ini. Dengan apa yang sudah dipelajari di bangku kuliah dan pengalaman yang didapatkan di lapangan maka anda akan cukup kompeten untuk menjadi Senior Manager atau Vice President. Namun ingat, jangan marah dan iri hati kalau orang dengan latarbelakang pendidikan non tambang menjadi direktur atau bahkan CEO Anda.

Namun jika jawaban pertanyaan diatas adalah “ya, berminat”, maka ada banyak jalan dan kilometer yang harus ditempuh dan dilalui oleh tapak kaki Anda. Untuk menuju kesana tambanglah potensi diri dari gunung cadangan talenta yang ada miliki. Lakukan langkah MINE berikut ini.

1.      Masih banyak gunung yang harus didaki. Menjadi CEO membutuhkan kompetensi Wawasan Bisnis dan Kepemimpinan yang tinggi. Mulai dari sekarang, dalam posisi Anda saat ini mulailah membuka diri hal-hal diluar masalah teknis pertambangan yang anda hadapi setiap hari. Bukankah Anda sudah ahli dalam hal teknis? Artinya ada waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk mempelajari kompetensi-kompetensi lain.
2.      Inisiatif adalah kunci utama. Hukum kelembaman Newton juga berlaku kepada manusia. Anda para ahli tambang akan cenderung untuk mengerjakan yang anda kuasai dan lakukan sehari-hari. Ingat, ini akan menjadi sebuah jebakan diri karena membuat anda malas untuk belajar hal-hal yang lain. Berinisiatiflah, jangan menunggu bola, kejar bola di lapangan. Kalau perlu bola yang di luar lapangan juga Anda kejar.
3.      No Money No Honey. Menjadi CEO adalah madu (honey) Anda. Untuk itu jangan ragu-ragu untuk mengeluarkan Money (uang/sumberdaya) yang anda miliki dalam mengejar kompetensi. Belajar hal baru terus menerus, bahkan jangan ragu untuk mengorbankan waktu dan uang untuk mendapatkannya. Ingat, untuk menjadi CEO ilmu-ilmu teknis yang dipelajari tidak cukup, harus ditambah dengan ilmu-ilmu yang lain. Ikutlah pelatihan-pelatihan non teknis yang disediakan oleh perusahaan. Kalau perlu membayar sendiri (investasi) untuk ikut pelatihan di luar perusahaan atau bahkan mengambil kuliah bisnis pada saat ada kesempatan.
4.      Elaborasi & Evaluasi. Kita sudah tahu bahwa dua kompetensi utama yang harus dimiliki oleh CEO adalah kompetensi Wawasan Bisnis dan kompetensi Kepemimpinan. Coba anda elaborasi dan evaluasi sudah sejauh mana kompetensi ini ada dalam diri Anda. Lihat sekeliling, pelajari dan bandingkan cara berpikir dan bertindak Anda dibandingkan dengan mereka yang menurut Anda hebat dalam dua kompetensi tersebut. Jangan ragu untuk minta bimbingan (Coaaching) pada orang-orang yang hebat dalam dua kompetensi tersebut, baik di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan.

Right Person in the Right Place with Right Competencies
PT. Telkom merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Status sebagai perusahaan negara membuat Telkom bergerak lamban dan hidup dalam budaya yang birokratis. Hak-hak istimewa(monopoli) diberikan oleh negara kepada Telkom sehingga ibaratnya tanpa melakukan apapun maka pasti akan untung. Situasi ini berubah pada tahun 80an, persaingan mulai terjadi karena banyak bidang industri yang sebelumnya tidak boleh dimasuki oleh asing menjadi terbuka, termasuk industri telekomunikasi. Persaingan menjadi keras dan mereka yang tidak kompetitif bisa tersingkir.

Kondisi yang rentan tersebut juga dialami oleh Telkom yang tambun dan tidak kompetitif. Pada tahun 1988-1992 ditunjuklah CEO baru Telkom, Ir. Cacuk Sudarijanto. Tugas utama Cacuk membenahi Telkom agar menjadi perusahaan yang kompetitif. Cacuk menjadi CEO Telkom pada periode yang hampir sama dengan penunjukan Kuntoro sebagai CEO Timah.

Seperti yang dilakukan oleh Kuntoro di Timah, maka Cacuk melakukan proses transformasi yang luarbiasa di Telkom. Telkom yang sebelumnya merupakan perusahaan berbudaya birokrat yang lamban dan tambun diubah menjadi lebih ramping dan lincah dalam berkompetisi. Cacuk menjadi peletak dasar manajemen modern yang dimiliki oleh Telkom saat ini. Kepemimpinan Cacuk yang hebat di Telkom menjadi legenda. Faktanya Ir. Cacuk Sudarijanto adalah lulusan Teknik Pertambangan, bukan lulusan jurusan teknik Elektro.

Cerita sukses lulusan teknik Pertambangan dan sejenisnya tidak hanya ada pada diri seorang Cacuk Sudarijanto. Banyak lulusan Geologi, Tambang dan Metalurgi yang mampu dan berprestasi menjadi CEO di perusahaan di industri non pertambangan. Kesamaan yang ada pada mereka adalah berpikiran terbuka dan tidak pernah berhenti belajar hal-hal baru.
Bagaimana dengan Anda?

DAFTAR REFERENSI
Charan, R., (2001). “What The CEO Wants You To Know”, Random House, New York.
Finkelstein, S.; Hambrick, D.C.; & Canella Jr, A.A., (2009). “Strategic Leadership”, Oxford University Press, New York.
Melon, L.; & Carter, S., (2014). “The Strategy of Execution”, McGraw Hill Education, USA.

BIO PENULIS:
Eko Jatmiko Utomo adalah manusia multi dimensi. Pendidikan S1 ditempuh di Jurusan Teknik Pertambangan ITB dan selesai pada awal tahun 1997. Namun, pengalaman kerja selama 20 tahun lebih banyak bergelut dalam bidang Sumberdaya Manusia (SDM) dan Strategi Bisnis. Pada saat ini Eko Utomo adalah Konsultan, Praktisi Bisnis, Public Trainer, Coach, sekaligus Penulis. Untuk memperlengkapi kompetensinya dalam bidang bisnis, Eko Utomo mengambil S2 pada MM Statejik Management Universitas Prasetiya Mulya dan kemudian melanjutkan S3 Stratejik Management di Universitas Indonesia. Eko berpengalaman bekerja pada perusahaan besar nasional seperti Bank Danamon, Pamapersada Nusantara, Lippo dan Telkomvision. Eko Utomo juga berpengalaman bekerja pada perusahaan Multi National Company (MNC) seperti Freeport Indonesia dan Holcim Indonesia. Untuk dapat mengenal penulis lebih lanjut dapat dilihat di www.ekoutomo.blogspot.com