06 Mei 2008

Emosi Negatif & Pembelajaran

Memori, Emosi dan Pembelajaran.
Rahasia yang akan membawa Anda untuk maju dan tidak tersandera oleh masa lalu.

“Apa yang Anda pelajari dari peristiwa itu?". Eko Utomo

Rapat Membara
Ruang meeting berukuran 4x5 meter itu hening. Walaupun sesak dipenuhi oleh 10 orang, tidak ada suara terdengar, senyap, namun hawa panas menggelegak sangat terasa, batuk kecil dari salah seorang peserta meeting seakan-akan bunyi geledek 120 desibel.

Diujung meja, seorang pria bule setengah baya dengan rambut yang sudah memutih terlihat kontras dengan mukanya yang merah, tanda bahwa banyak darah yang memenuhi sekujur sel-sel diwajahnya. Raut mukanya menyinarkan aura yang gelap. Bibir bagian bawah tipis seperti garis, tanda bahwa dia sedang sangat tidak senang dengan kondisi yang dihadapi dalam meeting tersebut.

Dimeja yang sama, namun di ujung yang berbeda, seorang anakmuda diusia awal 30an duduk dengan tegak. Mukanya yang memang sudah gelap tambah gelap dengan banyaknya darah yang mengalir disana. Rahangnya terlihat mengeras dan siap untuk beradu argumentasi

8 orang peserta yang lain duduk diam tepekur, beberapa orang bermain-main dengan pena dan notebook dengan mencoretkan kalimat2 tanpa makna.

“Eko, this is my order. As your manager I order you to do and accept 20 Non Papuan for the new batch of our apprentice” ucap pria bule diujung meja dengan nada keras penuh dengan representasi kekuasaan.

“As I said before, you are the manager. I will do what you said. But again I am warning you that this decision will create a riot and strike! It will happen here, In front of our building. I want everybody including you responsible if the strike happen not just only me”. Balas anak muda diujung meja dengan tidak kalah tegas.

Pak Manager Bule yang mungkin hampir seumur hidupnya tidak pernah dibantah ini seperti tersengat kalajengking. Betapa kurang ajarnya bawahan dia yang masih muda ini. Berani melawan perintah dia. Dengan segera dia menutup meeting dan meminta semua pihak untuk melaksanakan action plan yang sudah dibahas dalam meeting.

Disisi lain, anak muda diujung meja panas hatinya sepanas gunung Merapi. Sang Anak muda panas karena dia pikir bahwa tetap saja dia yang akan menanggung akibat kalau keputusan merekrut 20 orang Non Papua di batch apprentice minggu depan akan menyulut demo ratusan Papuan yang sudah berbulan2 menunggu kesempatan dan antri untuk menjadi apprentice.

Hantu Masa Lalu
Peristiwa yang sudah berlangsung lebih dari 3 tahun itu sedemikian erat melekat dalam benak sang Anak Muda. Setiap kali nama manager bule tersebut di sebut, secara tidak sadar (Unconscioulsy) emosinya naik, mirip dengan emosi yang dia alami di ruang meeting tersebut.

Bahkan tidak jarang apabila pada suatu meeting dia bertemu dengan seorang yang memiliki kedudukan tinggi, arogan, dan memaksakan kehendak, maka peristiwa meeting horor tadi akan datang dengan cepat menguasi dirinya. Dan memaksa dia sukarela dan paksa untuk melakukan tindakan defensif yang sama yaitu: LAWAN!

Pilar2 Memori
Semua peristiwa yang kita alami dalam kehidupan disimpan didalam otak sebagai memori. Memori ini sangat penting didalam kehidupan manusia. Kenapa demikian? Memori ini akan menjadi rujukan bagi kita untuk memutuskan apakah kita akan melakukan sesuatu.

Sebagai contoh jika pada kali pertama kita pergi berlibur ke Bali mengalami peristiwa2 yang menyenangkan, maka kalau ada kesempatan lain kita dengan senang hati untuk pergi ke Bali kembali. Karena otak kita memberitahu bahwa dari memori ada hal2 yang menyenangkan yang akan kita alami di Bali seperti liburan sebelumnya.

Masalahnya adalah bahwa tidak setiap memori yang tersimpan dibenak kita adalah memori dengan emosi yang positif. Banyak memori2 negatif yang tersimpan dan terkubur disana dan sewaktu2 bisa bangkit dari kuburnya untuk merongrong keputusan2 yang hendak kita ambil.

Seorang anak sekolah yang mengalami perlakukan tidak menyenangkan dari guru Matematikanya, bisa2 tidak akan pernah suka dengan pelajaran matematika seumur hidup, walaupun pelajaran matematika diajar oleh guru yang berbeda-beda.

Memori memiliki 3 pilar utama yaitu:
1. Fakta dan gambar
2. Emosi
3. Learning/Pembelajaran


Yang sangat mengherankan adalah bahwa Pembelajaran dan Emosi Negatif berlaku sebagai faktor yang saling menggantikan. Artinya didalam memori yang masih tersimpan Emosi negatif pasti belum terdapat Pembelajaran disana. Sebaliknya apabila ada Pembelajaran disana makan Emosi negatifnya sudah menyingkir.

Apakah Emosi Negatif ada manfaatnya buat kita? Kalau saya sih ogah ah.....Emosi negatif ini akan merusak perilaku saya dalam banyak hal, khususnya dalam mengambil keputusan.

Emosi Negatif yang terbawa dalam meeting membara 3 tahun lalu diatas sering banget merongrong saya dalam pengambilan keputusan dalam meeting. Saya sering kali terbawa oleh emosi, ingin sekali saya menyingkirkan emosi negatif ini.

Apakah Anda juga tertarik untuk menyingkirkan Emosi2 negatif di memori Anda? Langkah2 dibawah ini akan bisa membantu Anda.

Mengganti Emosi Negatif dengan Pembelajaran
1. Duduk dan tarik nafas dalam dan tenang
2. Ingat kembali pada saat peristiwa tersebut berlangsung. Lihat apa yang dilihat pada waktu itu, rasakan apa yang dirasakan (emosi2 negatif yang terjadi) dan dengar suara2 yang didengar pada saat peristiwa tersebut terjadi.
3. Keluarkan diri Anda dari Anda dan lihat diri Anda pada waktu itu(menjadi pihak netral). Apa yang bisa Anda pelajari dari peristiwa tadi?
4. Saat Anda sudah mendapatkan pembelajaran (learning) dari peristiwa tadi coba Anda rasakan kembali apakah masih ada emosi negatif dari memori tersebut.
5. Apabila masih terasa emosi negatif silahkan kembali ke no. 1


Kelima langkah diatas membantu saya untuk bisa mendapatkan Pembelajaran dari Meeting Membara 3 tahun yang lalu. Sejak tahun lalu jika nama manager bule tersebut disebut, bukan lagi emosi negatif yang muncul tapi senyum dikulum.

Ujar2 Lama
Jaman dulu, saat saya masih tinggal di desa dan hidup dengan orang2 desa. Mereka ternyata sangat paham dengan prinsip ini bahkan menjalankannya dalam kehidupan mereka yang sederhana. Apabila ada orang yang sedang bermasalah dan memunculkan emosi negatif maka mereka akan berujar “apa yang kamu pelajari (hikmah) dari peristiwa ini”.

Anda mau mencoba?

Apa yang anda pelajari dari peristiwa tidak menyenangkan terakhir yang Anda alami?

Selamat Tinggal dan Sukses Selalu!

Salam Perpisahan:
- Saya akan kenang dan simpan semua memori yang manis, menyenangkan dan membahagiakan selama 2 tahun kehidupan profesional saya di Holcim.
- Tidak ada kenangan negatif tentang Holcim di diri saya, yang ada adalah Pembelajaran.


Eko Jatmiko Utomo
CCR Narogong
Awal Mei 2008
Akhir Pelayanan di Holcim

21 April 2008

The Meaning of Your Communication is The Response You Get

Be Flexible Please!
The Meaning of Your Communication is The Response You get.

“If you get slapped, try anything else.". NLP Saying

Jason Utomo
Nama lengkapnya adalah Jason Ariel Kusuma Utomo. Rambut ikal, ganteng dan punya senyum manis yang bisa menaklukkan banyak hati wanita. Saking kesengsemnya sama Jason, ada seorang ibu-ibu yang sampai berujar, “Jason, tunggu Jandaku ya!”.

Jason (Spellingnya Jesen), memang orang yang teguh hatinya. Tidak mudah dirinya dibujuk, dirayu dan juga diperintah oleh orang lain. Mirip dengan batukarang di pantai Krakal Yogyakarta. Namun, keteguhan hati Jason ini seringkali membuat banyak orang jadi pusing karena tidak bisa membelokkan apa yang sudah menjadi kemauannya termasuk juga Orang tuanya sendiri.

Salah satu lakon keteguhan hati yang sering dimainkan oleh Jason adalah naik kursi main saklar lampu! hidup – mati – hidup – mati, demikian berulang-ulang membuat semua orang pusing.

Segala macam cara sudah dicoba oleh orang tua Jason untuk mengubah perilaku itu, cara yang pertama tentu saja cara yang paling konvensional dan sering dilakukan oleh semua orang tua anak berumur Balita di dunia, yaitu dengan berkata, “Jason, berhenti main saklar lampu!” 1x, 2x.....20x dan hasilnya: TIDAK BERHASIL

Berhubung papa Jason adalah Master NLP maka dicobalah untuk mengubah kebiasaan/kesenangan Jason ini dengan teknik motivasi Toward* dari NLP. “Jason, sini nak, daripada kamu main skalar, lebih baik main puzzle sama Papa. Atau ayo kita lihat acara Baby di TV”, dst, dst, dst, dan hasilnya?
TIDAK BERHASIL

Huuuuuih, pernah ngalami hal seperti diatas ngak? Papa Jason pada akhirnya give up dan menggunakan teknik paling barbar yang bisa dilakukan (jangan ditiru saudara-saudara) pada saat Jason mulai main saklar, Papa Jason melakukan tindakan agresif yaitu: weeeeeeer, jewer telinga Jason, turunkan dari kursi. Hasilnya Jason tidak berani melakukan hal yang sama lagi. Luar biasa, ternyata cara paling kuno dan tradisional manjur! Eiiiiiiiit nanti dulu, ternyata besoknya Jason mengulangi hal yang sama tanpa takut untuk dijewer!

Minggu lalu, saat berlibur ke Bandung, Jason si Ganteng kreatif ini dengan semangat yang sama melakukan kesenangannya di rumah Bandung. Sang Master NLP sudah kehabisan kreativitas untuk mengubah perilaku Anak bungsunya ini saat dia mendengar istrinya berbicara ke Jason: “Jason, ayo terus kamu mainkan skalar, Mama senang nih jadi kayak lampu disko, terus jangan berhenti, terus, terus”. Apa yang terjadi? Jason langsung menghentikan main skalar dan beralih kemainan yang lain! Ternyata Istri Master NLP, akibat coaching luar dalam ternyata lebih kreatif dibandingkan sang Master NLP dalam menemukan alternatif cara mengubah perilaku anaknya he he he.

Gaji untuk Ngomong
Kalau boleh dihitung, saya kok yakin kalau gaji yang kita terima setiap bulan lebih dari 30% diperuntukkan oleh perusahaan untuk menggaji kita untuk ngomong! Edan tenan! Enak benar nih, digaji untuk ngomong! Kalau gaji perbulannya adalah 6 jt maka uang 2 jt adalah gaji untuk ngomong!.

Tentu saja perusahaan ngak mau ngasih uang sia-sia bukan? Pekerjaan ngomong tadi ditambahi embel-embel bahwa omongan kita, harus didengar dan dituruti oleh orang yang kita ajak berbicara. Ngak peduli itu anak buah, rekan kerja, kontraktor bahkan atasan. Ngomongnya gampang, tapi untuk didengar dan dituruti.......ini dia sulitnya.

Coba bayangkan! Anda sedang berbicara dengan anak buah tentang suatu pekerjaan. Anda jelaskan semuanya dengan sejelas-jelasnya dengan harapan Anak buah mengerti. Bahkan akhir pembicaraan Anda menanyakan kalau-kalau ada yang belum dimengerti, semua mengangguk tanda mengerti. Kemudian Anda minta kepada mereka untuk segera kerja saat Anda harus meeting ke ruangan atas selama 2 jam. Saat Anda kembali, ternyata apa yang dikerjakan oleh mereka sama sekali berbeda dengan yang Anda inginkan!!

Atau, saat Anda berbicara dengan pasangan Anda (istri, suami atau pacar), Anda mendapati bahwa response mereka jauh diluar dugaan, tidak seperti yang diharapkan! Yang lambat seraya Komputer XT sebenarnya mereka atau kita ya??

Response sebagai parameter
Seperti yang pernah ditulis di artikel Selayang Pandang sebelumnya, setiap orang memiliki peta/program yang berbeda dalam menanggapi peristiwa dari luar. Demikian juga mereka pada saat berkomunikasi dengan kita, mereka menggunakan peta yang berbeda dengan peta kita dalam menterjemahkan apa yang kita katakan. Sangat mungkin sekali kita bicara tentang A, namun yang tertangkap adalah B. Sebaliknya saat kita bicara tentang B yang tertangkap malah A.

Apa yang bisa kita lakukan? Menyalahkan mereka?
it’s their fault they didn’t get it. But then they didn’t get it, you didn’t get it, nobody got anything.
Salah mereka kalau ngak ngerti. Tapi kalau mereka ngak ngerti, kerjaan ngak beres. Kalau kerjaan ngak beres, kerjaan kita juga jadi ngak beres dan akhirnya semua terbengkalai!

Kalau kita tidak ingin berakhir seperti diatas, satu-satunya cara untuk mengukur apakah cara kita berkomunikasi (mohon jangan diterjemahkan komunikasi ini dalam arti sempit berbicara, tetapi juga termasuk negosiasi, mempengaruhi, mimpin meeting, memimpin dll) sudah efektif atau belum adalah melihat response lawan bicara.

Kalau response mereka seperti yang kita inginkan, artinya cara kita berkomunikasi sudah benar. Tapi kalau response mereka tidak seperti yang kita inginkan, tidak perlu kita menyalahkan mereka, namun coba cari cara lain> Kalau tetap ngak berhasil? Cari lagi cara yang lainnya sampai berhasil!. Kita menjadi orang yang bertanggung jawab pada diri kita sendiri dan tidak menyalahkan orang lain atas response yang tidak kita kehendaki.

Performance dan Persepsi
Minggu lalu, saat memberikan materi kepada NR Laboratory di Team Day workshop, ada pertanyaan yang menarik dari salah seorang peserta. Pertanyaanya seperti ini: “Pak Eko, kalau kita sudah berusaha memperbaiki kinerja kita dengan sekuat tenaga, tapi tetap saja dipandang tidak berprestasi, apa yang bisa kita lakukan?”.

Sebelum menjawab pertanyaan tadi saya bertanya kepada yang bersangkutan “Prestasi/perbaikan kinerja” tadi dari sudut pandang siapa? Atasannya atau dirinya sendiri? Kalau perbaikan kinerja tadi diukur dari diri sendiri, wait a minute! Alat ukur kita bukan diri kita sendiri tapi orang lain.

Dalam kasus ini alat ukurnya adalah atasan. Kalau response atasan tidak seperti yang kita harapkan apa yang harus kita lakukan? Menyalahkan atasan? he he he he...........hayoo siapa yang lebih berkuasa! Anda atau atasan Anda? Jelas jawaban satu-satunya adalah dengan merubah cara dia (penanya) dalam berkomunikasi! Bahkan kalau perlu tanya langsung ke atasan (minta feedback) apa yang harus dia lakukan agar sesuai dengan peta atasan tentang yang namanya prestasi!

SELAMAT MENCOBA!

Tips komunikasi efektif:
1. Kenali lawan bicara
2. Gunakan pendekatan yang disukai lawan bicara
3. Lihat response
4. Berhasil? Lanjutkan komunikasi dengan cara yang sama.
5. Tidak berhasil? Ubah pendekatan
6. kembali ke no. 3

Sayonara und Adios!

Eko Jatmiko Utomo
CCR Narogong
Minggu ke-3 April 2008

* Ada 2 jenis teknik memotivasi:
1. Toward : teknik motivasi dimana kita mendorong orang untuk mencapai goal (Toward) tertentu.
2. Away From: teknik memotivasi dimana kita menarik orang untuk menjauhi (Away) sesuatu yang tidak diinginkannya

07 April 2008

Siapa yang Benar?

Siapa yang Benar?
The Map is Not The Territory.

“Our perception of reality is not reality itself, but our own version of it, or our "map". Rex Steven Sikes

Miss Thailand
Minggu lalu saya mendapatkan email dari seorang teman, judul emailnya cukup menarik, “Miss Thailand”. Terlebih lagi kalimat pembuka dari email tersebut sangat menggoda, “Friends, mau lihat pose dan gaya Miss Thailand ngak?, ada foto swim suitnya lho”.

Dengan terpaksa saya tidak dapat menahan godaan untuk tidak membuka email tersebut. Ada beberapa gambar yang dilampirkan dari email tersebut. Satu persatu saya buka gambar dengan judul Miss Thailand tersebut. Tentu saja sebagai peserta kontes Miss Thailand, para peserta dalam gambar tersebut semuanya memiliki wajah yang enak dipandang, tubuh yang seksi dan tentu saja senyum yang menawan.

Kurang lebih 2 menit saya melihat gambar2 yang ada dan mata saya menangkap pesan terakhir dibagian bawah email, “Friends, sesudah puas melihat gambar tersebut saya perlu informasikan bahwa kontes diatas adalah kontes Miss Thailand Transvetit*!, saya jamin kalian akan melihat gambar2 diatas sekali lagi!”.

Ramalan teman saya terjadi, dengan penuh rasa penasaran saya melihat sekali lagi gambar2 wanita cantik tersebut untuk menemukan apakah ada tanda-tanda bahwa mereka adalah Tansvetit, pagi bernama Joko dan malamnya menjadi Joice he he he he……………

Peta Pikiran
Apa yang saya pelajar dari cerita diatas? Suatu pembuktian bahwa apa yang saya tangkap dengan pancaindra saya dan kemudian tertuang dalam bentuk persepsi di benak saya (Peta/Map) ternyata salah.

Cewek berwajah cantik, feminin dan berbodi seksi yang saya lihat dan saya persepsikan sebagai wanita “sejati” ternyata adalah pria tulen!.

Semua hal yang kita lihat, dengar, rasakan, cium, kecap oleh pancaindra diubah menjadi sebentuk peta didalam otak kita. Satu hal yang harus diperhatikan bahwa Peta yang kita buat sering tidak tepat dan cepat menjadi out of date(tidak relevan lagi).

Saya memiliki kebiasaan baru sejak menikah 7 tahun yang lalu. Pada status lajang, saya membeli baju baik celana, kemeja dan kaos dan dengan pertimbangan saya sendiri yang saya pikir baik. Kebiasaan ini berubah sejak menikah, apa yang saya anggap bagus (peta saya), sering dianggap jelek oleh istri saya (peta istri).

Perbedaan ini sering menimbulkan pertengkaran kecil diantara kami berdua. Pada suatu ketika saya mengalah untuk membeli kemeja pilihan istri, dan yang menakjubkan adalah banyak teman kantor yang memuji bahwa baju yang saya pakai bagus!, suatu pujian yang tidak pernah saya dengar sebelumnya!.

Sejak saat itu saya dengan sukarela menyerahkan keputusan membeli baju kepada istri tercinta. Peta tentang baju bagus milik Istri saya ternyata lebih cocok di muka umum dibandingkan peta saya sendiri he he he he.......

Memberikan Empati
Masih ingat Key Principle #2 yang kita pelajari saat mengikuti workshop LDP?
KP #2 berbunyi “Listen and Response with Emphty”. Empati dalam bahasa sederhana berarti “mencoba mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain” atau mencoba memakai sepatu yang dipakai orang lain.

Konsep Empati akan mendapatkan pendalaman makna dengan tambahan konsep Peta Pikiran, pada saat kita menyadari bahwa tidak ada satu petapun yang sama dalam menangkap suatu peristiwa. Pada saat kita menyadari bahwa orang pasti berbeda dengan kita maka proses kita untuk bisa berempati kepada orang lain menjadi jauh lebih mudah!.

Coba Anda ambil Peta yang ada dirumah atau di mobil anda masing-masing. Perhatikan, seberapa akurat peta tersebut? 80%?, 90%?, yang jelas peta tersebut pasti tidak akan mencapai akurasi 100%. Demikian juga peta yang kita ciptakan dalam pikiran kita dalam menangkap suatu peristiwa diluar.

Pertengkaran Atasan dan Bawahan
Pada suatu pekerjaan Overhaule, seorang Superintenden Maintenance berdebat dengan anakbuahnya Team Leader Mntc**. Mereka berdebat tentang apakah satu suku cadang(part) perlu diganti atau cukup diperbaiki.

Sang Superintendent ngotot bahwa suku cadang tersebut tidak perlu diganti dengan yang baru, cukup diperbaikisaja. Alasannya adalah bahwa suku cadang tersebut masih cukup bagus dan proses perbaikannya jauh lebih murah dibandingkan dengan penggantian baru.

Team Leader punya alasan yang kuat mengapa dia ngotot suku cadang tersebut harus diganti. Menurut pengalaman dia, dari kondisi fisik yang dia lihat, apabila suku cadang tersebut tidak diganti akan menimbulkan potensi breakdown maintenance di masa depan.

Mana diantara mereka berdua yang benar? Apakah Superintenden ataukah Team Leader? Mereka berdua memiliki Peta yang berbeda dari suatu kondisi (suku cadang) yang sama!.

Pemahaman tentang Peta yang Berbeda akan membantu kedua tokoh diatas untuk tidak terlibat dalam pertengkaran. Kedua belah pihak sadar bahwa masing2 mempunyai Peta yang berbeda terhadap suku cadang tersebut. Sehingga yang terjadi bukan berdebat untuk memaksakan Petanya diterima oleh pihak lain, namun mendengarkan Peta orang lain dan mengevaluasi Peta siapa yang lebih akurat pada saat itu untuk dipakai untuk membuat keputusan.

Summary
Apa yang dapat kita pelajari dari prinsip yang hebat ini:
1. Semua orang memiliki Peta yang berbeda.
2. Menerima perbedaan adalah langkah awal untuk mendapatkan kesepakatan
3. Hormati Peta Orang Lain
4. Share Peta Anda dan bukan memaksakannya untuk diterima orang lain.

Anda setuju dengan tulisan diatas? Atau tidak setuju? Atau bingung? Saya mengakui dan menghormati Peta Anda untuk berbeda dengan Peta saya dalam memaknai artikel selayang pandang ini.

Jadi siapa yang benar dalam pertengkaran antara Superintenden dan Team Leader diatas? Jawabannya saya serahkan kepada para pembaca.

Sayonara und Adios!

Eko Jatmiko Utomo
CCR Narogong
Minggu ke-2 April 2008

* Transvetit: istilah lain untuk Waria yang sering dipergunakan di Thailand.
** Kasus ini merupakan kasus fiktif/karangan

31 Maret 2008

Perception is Projection


Warna Apakah yg Hendak Engkau Lihat! Perception is Projection.

“No man ever looks at the world with pristine eyes. He sees it edited by a definite set of customs and institutions and ways of thinking.”. Ruth Benedict

Warna Kacamata Rayben
Mari kita mengingat masa Remaja kita ditahun 80an, salah satu fashion tool yang sangat populer di tahun2 tersebut adalah Kacamata Rayben.

Sebagai anak remaja, kalau kita bisa memiliki Kacamata Rayben (kebanyakan yg palsu) dan menaruhnya diatas hidung kita saat mengendarai Honda Astrea Star, wah………rasanya seperti orang paling ganteng di dunia.

Rayben menyediakan bermacam warna untuk kacamata sun glassesnya ini. Warna sedikit kebiruan, kecoklatan atau sedikit ungu kehijauan menjadi favorite pada saat itu. Saat kita memakai Rayben warna biru, maka apapun yang kita lihat akan berwarna kebiruan juga.

Ganti Mobil
Adakah diantara leaders yang akhir2 ini baru saja ganti mobil atau mau ganti mobil? Apa yang terjadi dengan “penglihatan” Anda terhadap mobil sejenis dengan yang Anda beli atau mau beli? Yuup....di jalan raya mobil jenis tersebut kelihatan lebih banyak dibandingkan dengan sebelumnya.

Saya merupakan contoh yang nyata tentang fenomena ini. Setahun yang lalu saat kami hendak mengganti mobil kami dengan Kia Carrents, mendadak saya dan istri memiliki kesan banyak mobil sejenis yang beredar di Bandung. Padahal sebelumnya perasaan tersebut tidak ada.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan diri saya? Keinginan saya untuk membeli mobil Kia Carrents memberikan sinyal ke pancaindra saya untuk lebih memperhatikan Kia Carrents kalau mobil tersebut lewat di depan saya. Satu hal yang sebelumnya tidak terprogram dalam pikiran.

Perception is Projection
Apa yang kita proyeksikan (inginkan) adalah apa yang terprogram didalam pikiran kita. Seperti contoh cerita Kacamata Rayben diatas, warna yang akan kita lihat diluar tergantung warna Kacamata Rayben yang kita pakai.

Dalam contoh mobil, keinginan saya untuk membeli mobil Kia Carrents memberikan sinyal kepada pikiran saya untuk bisa melihat semua Kia Carrents yang lewat didepan saya. Padahal jumlah mobil tersebut di Bandung sebelum dan sesudahnya tidak mengalami perubahan alisa sami mawon.

Pemimpin, Bakat Alam atau Dibentuk
Kemarin, pada saat saya membawakan materi IM Essentials untuk GDP Batch 3 di Club House, ada satu pertanyaan yang menarik dari salah seorang peserta, “Pemimpin apakah dilahirkan dengan bakat memimpin atau bisa dibentuk dan dikembangkan?”. Suatu pertanyaan yang sebenarnya merupakan pertanyaan laten yang menjadi perdebatan para ahli kepemimpinan sampai sekarang ini.

Jawaban saya kepada penanya adalah Holcim percaya pada kedua-duanya. Mengapa bisa begitu? Sebab pada saat Holcim mencari kandidat GDP(Calon Pemimpin masa depan) ada banyak syarat yang harus dipenuhi. Syarat bahasa Inggris, TPA, IPK dll harus dilalui oleh mereka yang hendak bergabung dengan program ini. Dengan demikian Holcim percaya bahwa Pemimpin dilahirkan(bakat).

Namun disisi sebaliknya progam GDP yang dilakukan secara intensif selama 1 tahun dengan begitu banyak Training, Coaching, Job Rotation, Paper Assignment menunjukkan bahwa Holcim percaya bahwa pemimpin harus dikembangkan.

Proyeksi Seorang Engineer
Terlepas dari kedua sudut pandang diatas, saya pribadi percaya bahwa seorang pemimpin akan lahir pada saat yang bersangkutan percaya bahwa dirinya bisa menjadi pemimpin!

Seseorang terlepas apakah dia memiliki bakat sebagai pemimpin atau mendapatkan pendidikan dan training kepemimpinan yang intensif namun apabila tidak ada keyakinan bahwa dirinya memang seorang pemimpin maka yang akan nampak dalam perilakunya adalah “pemimpin” yang berperilaku seperti “pengikut”.

Beberapa waktu yang lalu, seorang engineer muda, menjawab pertanyaan saya bahwa dia yakin bahwa 5 tahun kedepan dia bisa menjadi pemimpin di Holcim dengan posisi sebagai Manager. Dari hasil observasi saya dalam diskusi saya temukan bahwa keyakinan tadi bukan merupakan keyakinan kosong.

Keyakinan engineer muda tadi membentuk proyeksi pada dirinya dan kemudian akan membentuk persepsi dalam pikirannya bahwa dia bisa dan mampu untuk menjadi pemimpin (manager) 5 tahun lagi.

Persepsi ini secara otomatis akan memberikan sinyal keotak dia untuk melihat setiap “kesempatan”, baik itu training, tugas tambahan, role modeling, buku dan banyak hal lain yang bisa dia pakai dan membantunya untuk membangun kompetensinya serta mewujudkan keyakinannya bahwa dia bisa menjadi pemimpin.

Kisah 2 Anak Kecil.
Tersebutlah 2 anak kecil Pesimus & Optimus, mereka masih sangat muda dan baru berumur 2 tahun pada saat dokter memvonis bahwa mereka menyandang Autis**. Dokter mengatakan bahwa IQ kedua anak ini jauh dibawah normal dan mereka akan sulit tumbuh besar seperti anak-anak yang lain.

Orang tua Pesimus mengamini diagnosa dokter dan memperlakukan Pesimus seperti apa yang dikatakan oleh Dokter. Pesimus mereka ikutkan dalam kelas terapi. Pada saat Pesimus tidak mengalami kemajuan berarti mereka menerimanya karena mereka percaya bahwa memang itulah “nasib” Pesimus sesuai titah Dokter.

Sang Ibu(tidak bekerja/ibu rumah tangga) kadang-kadang menemani anaknya terapi, seringkali yang dilakukan saat menemani anaknya terapi bergosip dengan ibu2 lain dan bilang “anak saya memang begitu, dokter bilang IQ_nya dibawah rata-rata”, pada saat melihat anaknya berperilaku aneh dan menyimpang. Bahkan tidak jarang sang Ibu menyuruh pembantu untuk menemani Pesimus terapi dan dirinya sendiri jalan2 di Mall.

Dilain pihak orang tua Optimus melihat bahwa vonis sang Dokter bukan merupakan sabda Tuhan. Bukankah dokter juga manusia? Selagi masih manusia sangat mungkin bahwa diagnosanya bisa salah dan tidak akurat. Mereka sangat sadar akan beberapa perilaku Optimus yang berbeda dengan anak-anak lain seusianya.

Orang tua Optimus percaya bahwa Tuhan memberikan cukup bekal (talenta) kepada Optimus untuk hidup, survive dan berkarya di dunia. Dengan berbekal keyakinan ini, mereka mendidik dengan penuh passion dan kasih sayang bahwa Optimus akan bisa berkembang dengan baik. Sama seperti orangtua Pesimus, mereka mengirim Optimus untuk ikut kelas terapi Autis. Ibu Optimus selalu menemani Optimus di tempat terapi, setiap saat sang Ibu memperlakukan Optimus sesuai dengan keyakinannya bahwa Optimus bisa sembuh dan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya.

Tiga tahun sudah berlalu sejak dokter mendiagnosa Pesimus dan Optimus sebagai penderita Autis. Saat ini Pesimus masih dikelas terapi dan serangkali lari keluar ruangan dan menangis meraung-raung sambil bergulingan di tanah kalau ada suatu hal yang tidak berkenan dihatinya. Ibu Pesimus menyaksikannya sambil berkata pada seorang ibu yang duduk disampingnya “Pesimus memang begitu, dokter mengatakan bahwa IQ_nya jauh dibawah anak normal dan berperilaku tidak sewajarnya”.

Optimus terlihat duduk dengan tenang dan memperhatikan dengan seksama apa yang sedang diajarkan oleh ibu guru di TK A. Pada saat istirahat Optimus bermain dengan teman2nya dengan menggunakan bahasa yang masih belum jelas pengucapannya. Meskipun demikian Optimus terlihat percaya diri dan sangat menikmati perannya sebagai murid TK A. Sang Ibu yang duduk dikejauhan bergumam dalam hati, “Aku yakin dan percaya bahwa Optimus bisa berkembang dengan baik seperti anak2 yang lain”.

Apa Pilihan Anda?
Nah, sekarang apa pilihan Anda? Kacamata warna apa yang akan Anda kenakan. Apabila Anda ingin melihat lingkungan terlihat hijau dan sejuk, segera cari Rayben berwarna hijau.

Apabila Anda ingin menjadi pemimpin, yakinlah bahwa Anda bisa menjadi pemimpin dan belajar, bertindak dan berperilakulah seperti pemimpin.

Atau Anda memang yakin bahwa Anda hanyalah seorang pengikut, maka senandung iklan Holcim akan cocok bagi Anda, Qui Sera Sera, What will be will be.

Eko Jatmiko Utomo
CCR Narogong
Awal April 2008

* Neuro Linguistic Programming (NLP) belief atau kredo.
** Suatu bentuk kelainan perilaku akibat “penyimpangan” dalam syaraf yang ada di Otak.

30 Maret 2008

Kuasa Doa

Apakah Doa Didengar?
Kuasa doa bagi orang beriman*.

"There are many things that are essential to arriving at true peace of mind, and one of the most important is faith, which cannot be acquired without prayer”. John Wooden

Kapan Terakhir Anda Berdoa?
Dalam dunia materialisme seperti sekarang ini, hal-hal yang bersifat immaterial seringkali menjadi terpinggirkan. Keterpinggiran ini bisa bersifat paksaan maupun sukarela.

Salah satu hal immaterial yang terpinggirkan adalah Doa. Doa adalah alat komunikasi yang dipakai oleh manusia untuk berhubungan dengan sang Penciptanya.

Berapakali dalam sehari Anda berdoa? Benar-benar berdoa dalam arti berkomunikasi dengan sang Pencipta untuk mengkomunikasikan kondisi Anda kepada yang empunya hidup? Sebesar apa Iman Anda bahwa Dia mendengar Doa Anda? Atau mungkin Anda dan juga saya sudah terjebak menjadikan Doa sebagai ritual kosong yang tidak berarti?

Apakah Dia Mendengar?
Semua orang yang memanjatkan doa pasti berkeinginan doanya dikabulkan. Masalahnya apakah Tuhan akan mengabulkan semua doa? Orang beriman percaya bahwa ada 3 kemungkinan response yang dilakukan oleh Tuhan akan doa kita:
1. Mengabulkan Saat itu juga
2. Meminta kita untuk bersabar sampai saatnya doa dikabulkan
3. He say “NO”

Untuk kasus yang pertama saya yakin banyak sekali dari kita sudah pernah mengalaminya? Atau Anda malah belum pernah mengalaminya?

Poin kedua sering terjadi pada diri kita kalau kita peka. Berapa tahun Abraham harus bersabar sampai Tuhan memberikan Iskak, Anak perjanjian itu?

Poin ketiga bisa kita lihat di dalam Kitab Keluaran, bagaimana Tuhan berkata “No” kepada Musa atas keinginannya untuk masuk dan melihat tanah perjanjian.

Dan saya juga yakin Tuhan berkata “No” pada saya 25 tahun yang lalu saat saya berdoa “Tuhan, Aku mau melempar mangga dengan batu ini, buatlah pemilik mangga tidak mendengar bunyi batu jatuh”. Kalau pada akhirnya pemilik mangga tidak nonggol dan mengejar2 saya karena melempar mangga miliknya tanpa ijin, saya yakin bukan karena doa saya dikabulkan oleh Tuhan, tetapi karena memang pemilik mangga lagi tidak ada dirumah he he he he.

Doa yang Terkait
Baik bagi Anda yang tidak percaya akan kuasa doa dan bagi Anda yang percaya, saya yakin cerita dibawah ini akan memberikan sudut pandang menarik tentang kuasa Doa.

Pdt. Bambang Soebono pada akhir tahun 1990an mendapatkan tugas pelayanan di suatu gereja di wilayah Cirebon. Seperti biasa, seusai kebaktian, pak Pendeta dengan ditemani oleh salah seorang penatua berdiri di depan Gereja untuk memberikan selamat kepada Jemaat yang pulang.

Berhubung jemaat yang datang banyak, jumlahnya sekitar 600an orang, maka dibutuhkan waktu kurang lebih 30an menit hanya untuk bersalaman saja. Selesai bersalaman dengan semua jemaat, Pdt. Bambang memperhatikan bahwa masih ada 2 orang jemaat yang masih tinggal didalam gedung gereja. Satu orang muda dengan pakaian yang rapi duduk di bangku belakang dan satu orang nenek2 duduk di bangku paling depan.

“Pak Penatua, apakah Anda kenal dengan dua orang yang masih berdoa didalam”? “Wah sayangnya, saya tidak mengenal mereka berdua pak Pendeta”, jawab Penatua sambil memperhatikan mereka. “Bagaimana kalau kita tunggu sampai mereka selesai berdoa, siapa tahu kita bisa membantu pergumulan mereka” pinta Pdt. Bambang. “Baik pak”, jawab penatua.

Pdt. Bambang dan Penatua dengan bersabar menunggu dua orang jemaat yang masih tekun berdoa. Akhirnya laki2 muda dibangku belakang yang duluan mengucapkan “Amin” dan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri mereka berdua.

Sang Juragan & Doanya
“Selamat hari minggu pak Pendeta, kata laki2 tersebut dengan tersenyum seraya mengulurkan tangan. “Selamat hari minggu pak, Tuhan memberkati Anda, kalau boleh saya tahu, apa yang membuat Anda begitu tekun dalam doa?” kata pak Pendeta.

“Begini pak, akhir tahun lalu, pada saat semua perusahaan di negara ini tiarap dan hancur karena krimon, saya malah mendapatkan berkat dari Tuhan”. Ucap lelaki tadi mengawali ceritanya. “Usaha saya malah mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat”.

“Bapak, usaha dibidang apa pak?” tanya pak Pendeta penasaran. “Saya memililiki usaha dibidang ekspor kerajinan rotan, beberapa bulan sebelum krismon saya melakukan ekspor beberapa kontainer ke Amerika. Sebelum krismon kurs rupiah adalah Rp.2500/1 US$ dan kami mendadak untung besar karena kurs berubah menjadi Rp. 16.000/1US$” lanjut sang eksportir rotan.

“Lalu apa yang menjadi pergumulan Anda sampai anda begitu tekun dalam doa?” tanya pak Pendeta. “Saya berusaha untuk membagi2kan rejeki tadi keorang-orang yang membutuhkan. Dari amplop-amplop yang saya siapkan, masih tersisa satu amplop yang belum saya berikan.

Amplop terakhir ini saya tujukan kepada saudara seiman, orang kristen yang benar2 memerlukannya. Masalahnya sampai sekarang saya bingung, orang Kristen mana yang akan menerima amplop terakhir ini. Saya tidak bisa mengetahui orang Kristen mana yang lagi butuh atau tidak punya uang. Tadi saya berdoa agar Tuhan menunjukkan orang yang saya cari ini“.

“Apakah Tuhan menjawab doa Anda?” tanya Penatua yang dari tadi setia mendengarkan. “Betul pak, Tuhan mengabulkan doa saya. Tadi saya berdoa bahwa saya akan memberikan amplop terakhir ini kepada orang yang pertama kali saya lihat saat saya membuka mata sesudah berdoa”. “Siapa orang yang Anda lihat pak” tanya Penatua penasaran. “Saya lihat Ibu tua yang berdoa didepan itu”, serempak mereka bertiga mengarahkan mata mereka ke nenek tua yang masih belum selesai berdoa di bangku depan. “Baik, kalau begitu kita tunggu beliau” ucap pak Pendeta.

Nenek Tua dan Persembahan
Sesaat lamanya mereka bertiga menunggu sang Nenek selesai berdoa. Dengan tertatih-tatih sang Nenek bangkit dan kemudian melangkah menghampiri mereka.

“Selamat hari minggu bu, Tuhan memberkati Ibu” sapa pak Pendeta sesudah sang Nenek datang dan mengulurkan tangan. “Selamat hari minggu pak Pendeta” balas sang Nenek.

“Ibu, kalau boleh saya tahu, apa yang membuat Ibu berdoa begitu tekun” tanya pak Pendeta.. “Wah, malu saya pak untuk menceritakannya” cetus sang Nenek sambil sedikit tersipu. “Kalau sama pendeta, ngak perlu malu bu” sahut pak Pendeta sambil sedikit bercanda.

“Begini pak, hari ini sebenarnya saya tidak berniat untuk pergi ke gereja, hari Jumat lalu uang saya tinggal 2 ribu rupiah. Sesudah krismon tahun lalu, anak2 saya yang di Jakarta dan di Bandung belum juga mengirim uang. Saya maklum karena saya tahu kondisi sekarang ini jadi serba berantakan karena krisis.

Hari Jumat lalu saya menimbang2 apakah saya akan pergi ke gereja atau tidak, sebab uang 2 ribu hanya cukup untuk 2 hari, yaitu hari Sabtu dan hari Minggu. Padahal kalau hari minggu saya pergi ke gereja, saya harus menyisihkan seribu untuk persembahan” jelas sang Nenek.

“Lho, bukankah persembahan bukan merupakan keharusan” kata Penatua memotong cerita. “Saya malu pak, kalau tidak memberikan persembahan, karena itulah saya bimbang untuk pergi ke gereja hari ini. Namun tadi pagi saya merasa saya harus pergi ke gereja, urusan makan biar Tuhan yang atur. Terus terang, saat saya masukkan uang seribu terakhir saya ke kantong persembahan sempat terbesit kekhawatiran saya tentang apa yang akan terjadi pada diri saya karena saya sudah tidak mempunyai uang sama sekali untuk membeli makan.

Tadi saya berdoa kepada Tuhan tentang pergumulan saya ini. Saya bilang pada Tuhan bahwa saya siap dipanggil oleh beliau sewaktu-waktu, lha wong umur sudah 82 tahun ini. Namun sempat saya bilang pada Tuhan, mosok Orang Kristen matinya karena kelaparan Tuhan. Saya berniat pulang dari gereja untuk mandi dan baring2 di tempat tidur untuk siap2 dipanggil Tuhan karena tidak ada lagi yang bisa saya makan hari ini“.

Terharu sekali mereka bertiga mendengarkan cerita dan pergumulan dari sang Nenek. Sang Usahawan mengulurkan tangan dan berkata “Ibu, anggap saya hamba Tuhan untuk menjawab doa Anda. Terimalah ini titipan dari Tuhan untuk Anda“ kata sang Usahawan sambil mengulurkan amplop ditangannya.

“Lho, ini apa pak?” Kata sang Nenek terkejut. “Terimalah bu, ini berkat dari Tuhan dan saya sekalian minta pamit“. Kata usahawan tadi sambil pamit dan berlalu dari hadapan mereka.

“Wah, saya jadi penasaran”, kata sang Nenek sambil membuka amplop. Saat amplop terbuka, sang Nenek menjerit kecil. “Banyak sekali uang ini!” sambil memperlihatkan segepok uang dalam amplop. “Pak Pendeta, terimalah sebagian uang ini, uang ini terlalu banyak buat saya”, kata sang Nenek sambil mengambil separuh uang dari amplop tanpa dihitung. “Terimakasih bu, Tuhan telah memberikan saya cukup rejeki” tolak pak Pendeta dengan halus. “Kalau begitu, biarlah uang ini untuk persembahan buat gereja”, sang Nenek memasukkan uang tadi ke kantong persembahan yang ada di atas meja.

Kuasa Doa
Apa yang dapat Kita pelajari dari kisah nyata diatas? Jadilah orang yang terakhir pulang dari gereja.....he he he he tentu saja bukan itu maksudnya. Percaya atau tidak percaya, Tuhan telah bekerja dengan luar biasa pada doa 2 orang percaya yang tidak saling mengenal dengan cara yang luarbiasa pula.

Bagimana dengan Anda?

Eko Jatmiko Utomo
Cilengsi Hijau_ Pinggir Cibubur_ Pinggiran Jakarta
30 Maret 2008

* Cerita ini saya ambil dari khotbah Pdt. Bambang Soebono pada tanggal 30 Maret 2008 di Bajem GKI Kota Wisata Cibubur

25 Maret 2008

Can Time Be Manage?

Can TIME be Managed?
Mengelola pekerjaan untuk meningkatkan produktivitas diri.

"One thing you can't recycle is wasted time." Anon


Jumlah Waktu
Berapa jam dalam sehari (siang & malam) yang dimiliki oleh seorang Bill Gate? Berapa jam waktu yang dimiliki oleh George Bush? Berapa jam waktu yang dimiliki oleh Eamon Ginley?

Berapa jam dalam sehari yang Anda miliki? Semua jawaban pertanyaan diatas, baik yang ditujukan kepada Bill Gate, George Bush, Eamon Ginley dan Anda adalah 24 jam dalam sehari, tidak lebih dan tidak kurang!

Jadi...........baik itu orang terkaya atau tersibuk di dunia memiliki waktu yang sama dengan yang kita miliki, 24 jam sehari. Kalau dipikir2, Tuhan sangat Adil dan tidak melakukan diskriminasi kepada umatnya bukan?.

Namun apa yang membedakan mereka dengan kita? Apa yang membuat Bill Gate bisa sedemikan kaya, George Bush sedemikian berkuasa dan Eamon Ginley membawahi 2 Plant plus HA masih punya waktu , kala kitaminta untuk bertemu dan berdiskusi? Jelas bahwa jumlah waktu mereka sama dengan yang kita miliki.

Kalau boleh mengambil kesimpulan, faktor yang membedakan antara mereka dengan kita pasti bukanlah cara mereka mengelola waktu. Sebab waktu mereka sama dengan waktu kita. Waktu tidak dapat kita kelola dan kita perpanjang menjadi 36 jam sehari misalnya, atau kita perpendek menjadi 20 jam sehari. Dengan kata lain, mengelola waktu (Time Management) adalah salah satu bentuk salah kaprah yang kita lestarikan sampai dengan saat ini.

So........apa yang membuat mereka berbeda dengan kita? Jawabnya tak lain dan tak bukan adalah Produktivitas!

Produktivitas
Dalam bahasa mudahnya produktivitas dapat didefinisikan sebagai suatu satuan jumlah (hasil pekerjaan) dibagi dalam suatu satuan (waktu misalnya).

Misal, dalam satu hari (24 jam) berapa banyak & setinggi apa kualitas yang kita hasilkan akan menentukan produktivitas kita. Sebagai contoh misalnya Group X maintenance bisa menyelesaikan pengerjaan perbaikan A dalam jangka waktu 2 jam, sedangkan Group Y maintenance menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam waktu 4 jam. Dengan perhitungan matematika sederhana kita dapatkan bahwa produktivitas Group X 2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan group Y.

Dari apa yang kita tangkap dalam contoh diatas terasa bahwa waktu adalah sumberdaya yang tidak dapat kita kelola, yang bisa kita kelola adalah Cara kita mengelola pekerjaan, dalam waktu yang tersedia.

Hukum Pareto
Sekian puluh tahun yang lalu, orang Italia bernama Vilvredo Pareto menemukan suatu hukum kecenderungan yang kemudian dinamakan sesuai dengan namanya yaitu Hukum Pareto.

Hukum Pareto menyatakan bahwa 80% dari suatu kondisi menghasilkan 20% result. Sedangkan 20% sisanya akan menghasilkan 80%! Hukum ini seringkali juga dimanakan sebagai hukum 80/20 sesuai dengan definisinya.

Kalau Hukum Pareto kita terapkan dalam kontek pekerjaan akan berbunyi seperti dibawah ini:
Hukum Pareto untuk Pekerjaan:
80% dari item pekerjaan kita hanya akan menghasilkan 20%, dan 20% sisanya akan menghasilkan 80%!

Muncul 2 pilihan disini, mana yang akan Anda kerjakan terlebih dahulu:
Mengerjakan 80% item pekerjaan yang akan menghasilkan 20% hasil atau
Mengerjakan 20% item pekerjaan yang menghasilkan 80%.
Pada kelas workshop Time Management yang saya fasilitasi, semua peserta menyatakan memilih nomer 2. Saya yakin para Leaders yang sedang membaca artikel ini juga akan menyatakan hal yang sama.

Nah biasanya dalam kelas Time Management akan muncul pertanyaan lanjutan: Bagaimana caranya kita tahu bahwa item pekerjaan A, B, C, dst merupakan item pilihan nomer 2 dan bukan merupakan item nomer1?

Membuat Prioritas
Untuk memilah2 pekerjaan seperti yang diajarkan oleh Hukum Pareto, Matrik prioritas dibawah ini bisa menjadi alat yang sederhana untuk mengidentifikasikannya.

Matrik Prioritas ini dibentuk oleh 2 komponen utama yaitu:
Importancy (Kepentingan)
Urgency

Matrik membagi semua item pekerjaan kita menjadi 4 bagian:
Q1: Urgent – Important
Q2: Not Urgent – Important
Q3: Urgent – Not Important
Q4: Not Urgent – Not Important

Menurut Anda, Kuadran manakah (Q) yang merupakan bagian dari 20% dari hukum Pareto? Yup, semua kuadran yang mengandung kompenen Penting dalam hal ini adalah Q1 dan Q2. Dua kwadran yang lain Q3 dan Q4 merupakan bagian 80% hukum Pareto.

Jadi untuk menjadi orang yang produktif kerjakan semua yang penting dan urgent terlebih dahulu yaitu Q1 dan Q2.

Siapa yang menentukan?
Salah seorang peserta Time Management workshop dari Customer Care melemparkan pertanyaan menarik: Penting & Urgent itu menurut siapa?
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan super penting yang akan membawa Anda mendapatkan nilai A dalam Dialoque akhir tahun ini. Menurut siapa penting dan urgentnya suatu pekerjaan?

Dalam dunia pelayanan ada pepatah yang berbunyi Customer is the King!
Pepatah tersebut dapat kita pinjam untuk menjawab pertanyaan sueeeper penting diatas. Dimulai dengan pertanyaan ini, siapa customer Anda? Siapa customer Anda yang paling penting dalam pekerjaan Anda? Yes, you are right, customer Anda yang akan menentukan merah dan birunya konteks penting dan Urgent adalah ATASAN!

Tidak setuju? Kesal? Punya pendapat lain? Boleh2 aja, mumpung NKRI belum melarang kebebasan berpendapat he he he he……

Selagi anda masih sebagai anggota *TDB (Tangan di Bawah) atau istilah lain Kuli (sekalipun punya posisi Presdir), saya himbau untuk membuang jauh-jauh idealisme yang meletup didada yang menyatakan “Saya yang menentukan penting dan urgentnya suatu pekerjaan karena saya yang paling mengerti tentang pekerjaan ini”. Emangnya anda yang membuat Dialogue dan melakukan performance appraisal bagi Anda sendiri he he he he.

Caranya bagaimana agar kita tahu mana yang penting dan mendesak dari sudut pandang boss?? Nah pertanyaan seperti ini sering banget keluar saat coaching session dan workshop, jawabannya juga standard banget. Gampang! Gunakan mulut kita untuk menanyakan langsung kepada Atasan…..gampang kan?

Kalau Anda tetap ngeyel dan tidak menerima hal ini bagaimana? Ok, mari kita resign dan patungan untuk membuka usaha agar kita bisa jadi anggota TDA (Tangan di Atas)...berani?

Q1 atau Q2?
Antara Q1 dan Q2 mana yang akan Anda kerjakan terlebih dahulu? Semua pasti bilang Q1, sebab selain penting Q1 juga membawa komponen urgent! Sudah penting, mendesak pula!

Pemilihan mana yang akan Anda prioritaskan apakah Q1 atau Q2 adalah faktor yang akan membawa Anda tidak hanya mendapatkan nilai A pada akhir tahun namun juga ke posisi Eamon Ginley suatu saat nanti.

Penasaran?? Jawabannya adalah Q2, alasannya? Maaf, terlalu panjang saya bahas disini, lebih baik Anda mendaftarkan diri di workshop Time Management agar bisa lebih jauh berdiskusi tentang hal ini.

Saat Anda membaca artikel Selayang Pandang ini, Anda sedang melakukan pekerjaan Q2, keep going dan lakukan pekerjaan2 Q2 yang lain(kalau Anda mau dan setuju).

Kalau tidak setuju? It’s ok, dengan demikian kita sepakat untuk tidak sepakat!

Merdeka!

Salam Hangat selalu.
Eko Jatmiko Utomo
CCR Narogong
Akhir Maret 2008

* TDB= Tangan di Bawah atau istilah saya adalah Kuli. Istilah ini saya ambil dari weblog Catatan dari Madurejo milik pak Yusuf Iskandar mantan TDB Freeport yang sekarang menjadi TDA pemilik swalayan di Yogya.

17 Maret 2008

Selalu Sukses!


There is No FAILURE Only FEEDBACK! Pentingnya Feedback dan cara menyikapi “kegagalan” dalam membangun kompetensi dan pengembangan pribadi.

“I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that don’t work”. Thomas Alva Edison

Mr. Narto bin Narsis
Pak Narto bin Narsis mengetuk pintu ruangan Maintenance Manager. Dia lihat pak Hero sedang serius bekerja menggunakan laptop yang terletak di meja kerjanya. Beberapa waktu yang lalu pak Narto membaca email di Lotus Notes bahwa pak Hero sebagai atasannya memanggilnya ke kantor untuk membicarakan suatu masalah.

Pada ketukan kedua, pak Hero mengangkat kepala dan melihat keluar ruangan yang disekat oleh dinding kaca tersebut dan kemudian melambaikan tangan untuk mempersilakan pak Narto untuk masuk keruangan.

“Pak Narto, bagaimana kabarnya? Sudah 3 hari ini saya tidak bertemu dengan Anda”. Pak Hero beranjak dari tempat duduknya, menyalami pak Narto dan mempersilahkan duduk di kursi di dekat meja bundar.

“Baik pak Hero, kebetulan 3 hari ini saya berada dilapangan terus menerus untuk memantau progress pengerjaan Overhaul Kiln kita, ada keperluan apa pak Hero memanggil saya?”.

“Begini pak Narto, saya sebagai atasan dan Coach Anda terpanggil untuk meneruskan feedback yang saya dengar dari rekan2 dan anak buah Anda. Dari pengamatan saya pribadi sebagai atasan langsung saya nilai Feedback ini Valid dan perlu untuk disampaikan kepada Anda”. Pak Narto yang semula santai dan penuh percaya diri seketika tegak badannya, dahi berkerut dan bibir terlihat mengeras menunggu kalimat berikutnya dari pak Hero.

“Begini pak Narto, ada keluhan dari teman2 Anda bahwa dalam meeting2 koordinasi Overhaul Anda terlalu mendominasi pembicaraan dan tidak mau memberikan kesempatan pada pihak lain untuk memberikan pendapat. Disisi lain, pada tataran implementasi, Anda tidak mau membantu tim lain dan kalau ada kesalahan Bapak terkesan cuci tangan dan melemparnya ke teman Anda”.

Sebelum pak Hero menyelesaikan ucapannya pak Narto memotong pembicaraan “Pak Hero, mosok bapak percaya dengan apa yang diomongkan oleh Jarot?, kalau bapak mau tahu, sejak dulu Jarot iri dengan keberhasilan saya menjadi Superintendet, sementara dia masih jadi Team Leader. Saya ini adalah karyawan yang paling berpengalaman di Maintenance. Kalau bukan karena saya, Overhaul tahun lalu pasti lewat dari deadline yang sudah ditentukan pak!, kalau Jarot ngomong anggap saja sebagai angin lalu!”.

“Pak Narto, feedback tentang Anda ini tidak berasal dari pak Jarot!, feedback ini saya terima dari orang Produksi, Teknikal dan juga Supervisor kontraktor!”.*

Blind Spot (Daerah tak Terlihat)
Nah lo....., kalau Anda yang menjadi pak Narto diatas apa yang akan Anda rasakan? Pikiran apa yang akan muncul dalam benak Anda? Marah? Malu? Putus Asa? Menerima? Atau menantang feedback yang diberikan tadi seperti yang dilakukan oleh pak Narto?.

Saya yakin bahwa kejadian yang mirip dengan cerita diatas sering kita lihat sehari-hari di pekerjaan kita. Bahkan mungkin kita sendiri yang berperan menjadi pak Narto, pak Hero maupun pak Jarot.

Dalam cerita diatas pak Narto merasa bahwa dirinya adalah karyawan teladan dan berprestasi, namun feedback yang dia terima ternyata berlainan dari apa yang dibayangkan. Persepsi yang terbentuk di kepala orang lain (Personal Brand**) berbeda dengan persepsi yang ada di dalam benaknya.

Dalam Teori JoHari Window*** pak Narto masuk didalam kuadran yang dinamakan area Blind Spot. Blind Spot berarti bahwa yang bersangkutan tidak melihat/merasa apa yang orang lain lihat/rasa pada diri orang itu. Pak Narto merasa bahwa beliau adalah orang yang kompeten dan sangat ahli dalam bidang pekerjaanya.

Feedback yang diterima dilihat pak Narto sebagai kritik dan ungkapan ketidakpercayaan terhadap keahliannya! Pak Narto jengkel kenapa orang masih saja tidak percaya bahwa dia adalah yang terbaik dan Dia merasa mengerjakan pekerjaan jauh lebih baik dari orang lain!

Apa sih pentingnya Feedback?Pada jamannya penemuan2 dari Newton dianggap merupakan penemuan ilmiah yang paripurna(sempurna), yang tidak mungkin dikoreksi kembali. Contohnya adalah hukum Mekanika V1 + V2 = V3, kecepatan 1 ditambah kecepatan 2 hasilnya kecepatan 3 yang merupakan penjumlahan dari kecepatan 1 dan kecepatan 2. Einstein pada awal abad 20 mengkoreksi rumus tadi dengan menyatakan bahwa rumus tadi tidak berlaku pada kecepatan tinggi, terlebih pada kecepatan yang mendekati kecepatan Cahaya.

Jika pada saat itu seorang Einstein menerima dan mengamini bahwa rumus Newton merupakan rumus yang “Paripurna” maka tidak akan keluar rumus Einstein dan dunia pasti menjadi berbeda pada saat ini.

Diatas gunung ada gunung, diatas awan ada awan. Peribahasa yang dengan sangat tepat sekali menggambarkan analogi kondisi diatas.

Bertumbuhnya seseorang didalam perjalanan pengembangan diri hanya dapat berjalan pada saat orang yang bersangkutan mengakui bahwa ada level yang lebih tinggi lagi yang bisa dijangkau! Pada saat “rasa paripurna” muncul, berhenti pula proses pengembangan diri.

Feedback/umpan balik/masukan dari orang lain merupakan alat yang sangat ampuh untuk melihat persepsi orang terhadap kita (dalam kontek Personal Brand) dan juga peluang area pengembangan diri (go to the next level).

Feedback yang ditangkap sebagai suatu kritik, sesuatu yang harus dilawan (termasuk yang memberikan feedback) merupakan tanda yang bersangkutan masuk dalam “rasa paripurna”.

Disisi lain, mereka yang masuk di katagori orang yang melihat ada “ruang perbaikan”. Melihat feedback dalam segala macam bentuknya merupakan alat untuk naik ke level berikutnya dengan mengambil tindakan perbaikan dari feedback yang didapat. Bahkan untuk mendapatkan pertumbuhan diri yang lebih cepat, mereka mencari dan meminta feedback pada semua kesempatan yang mereka miliki.

There is no FAILURE only FEEDBACK
Thomas Alva Edison(TAE) menemukan bola lampu pijar pada percobaan yang ke lebih dari 10.000X. TAE menyikapi bahwa “10.000 percobaan gagal” yang terjadi sebelumnya bukan merupakan suatu “kegagalan” namun merupakan feedback bahwa masih ada hal2 yang harus diperbaiki agar sukses. Sikap ini membantu TAE untuk bisa melakukan percobaan yang untuk ukuran kita walaaaah banyaknya! Dan tetap punya semangat untuk mencoba dan akhirnya berhasil!

Tidak Pernah gagal!
Bagaimana kalau Anda tidak pernah “gagal” dalam kehidupan pekerjaan dan pribadi Anda? Apakah para Leaders dan pembaca ingin memiliki skill untuk tidak pernah gagal? Tertarik?dibawah ini beberap tips yang akan membantu Anda untuk tidak pernah “gagal” dalam pekerjaan.

TIPS UNTUK SUKSES
1. Miliki sikap “diatas awan ada awan” selalu ada ruang bagi kita untuk lebih baik.
2. Perlakukan Feedback sebagai “klangenan” atau sesuatu yang Anda senangi, bukan sesuatu yang harus dihindari.
3. Jangan hanya “menunggu bola” kejar bola. Mintalah feedback ke orang2 terdekat misal: atasan, bawahan, rekan sekerja dan atau customer internal.
4. Pakai feedback yang didapatkan untuk melakukan perbaikan diri.
5. Sikapi dan perlakukan “kegagalan” sebagai bentuk lain dari feedback.
6. Kembali ke nomer 1.


Keputusan ada ditangan Anda semua, jika Anda ingin sukses dan ingin “tidak pernah gagal”, tips diatas membantu Anda untuk mencapainya.

Selamat Mencoba & Sukses Selalu.

Eko Jatmiko Utomo
CCR Narogong
Tengah Maret 2008

* Cerita dan nama merupakan fiksi, namun kisah ini adalah kisah yang dibuat mirip dengan kejadian2 di lingkungan pekerjaan kita sehari-hari.

** Baca kembali artikel tentang Personal Brand.

*** Teori JoHari Window menyatakan bahwa persepsi orang terhadap dirinya sendiri dan orang lain bisa di kelompokkan menjadi 4 Kuadran
Kuadran 1: Open >> Diri sendiri tahu dan terlihat orang lain
Kuadran 2: Blind Spot >> Diri sendiri tidak tahu namun orang lain melihat
Kuadran 3: Hidden >> Diri sendiri tahu namun orang lain tidak tahu
Kuadran 4: Unknown >> Diri sendiri tidak tahu orang lain juga tidak tahu.

09 Maret 2008

Laskar Pelangi

Laskar Pelangi! Potret Pendidikan Indonesia.

"The roots of education are bitter, but the fruit is sweet.”
Aristotle

Royalti 1 M!
Sore itu, saat sedang membuka-buka halaman2 website Detik.com mata saya terperangkap pada sebuah judul artikel “penulis Novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata mendapatkan Royalti 1 M!”.

1 M wooow, jumlah yang tidak kecil untuk sebuah royalti bagi penulis novel. Ukuran yang sama mungkin tidak akan mengherankan saya apabila royalti sebesar itu didapat oleh sebuah band macal Dewa 19, Ungu, Nidji atau Samson.

Satu fakta luarbisa lain dipaparkan oleh penulis artikel bahwa buku Laskar Pelangi telah terjual lebih dari 300.000 copy! Suatu jumlah yang sangat besar untuk sebuah negara yang lebih suka menghamburkan uang dan merusak tubuh dengan merokok daripada investasi intektualitas dengan membeli dan membaca buku.

Seingat saya sudah lebih dari 4 tahun ini saya tidak pernah membaca Novel lagi, Bacaan saya 4 tahun terakhir lebih banyak pada buku-buku Leadership, Management, Self Help, Personal Development, Bisnis dan NLP.

Dua novel terakhir yang saya baca (lebih tepatnya 1 ½) adalah Novel Saman karangan Ayu Utami dan Supernova Dewi Lestari eks personil RSD. Supernova tidak pernah benar2 saya selesaikan karena keburu bosan dengan plot yang disajikan.

Namun untuk buku yang terjual 300.000 copy, dan pernah masuk ke Acara Kick Andy, saya berjanji kepada diri sendiri untuk menyempatkan membelinya ke Gramedia pada kunjungan rutin saya. Sebenarnya bisa dibilang agak Katrok dan ketinggalan jaman, sebab Novel ini sudah keluar lebih dari 2 tahun yang lalu tepatnya akhir tahun 2005.

Setelah beberapa kali terlupa beli saat di Gramedia Merdeka Bandung(harap maklum karena sudah lama sekali tidak pernah mampir di rak Novel) akhirnya saya mengkhususkan diri datang untuk membeli Novel ini pada liburan panjang awal Maret 2008.

Tampilan Buku
Seperti kebiasaan saya saat membaca (atau mau membeli) buku apapun, yang pertama kali dilihat adalah sampul buku..........hmmm design cover cukup menawan dan eye catching, orang tipe Visual langsung akan tertarik pada buku ini hanya karena melihat sampulnya, penuh warna-warni seperti judulnya Laskar Pelangi. Siluet Anak2 yang sedang bermain pada suatu senja(atau fajar) berhasil memancing rasa penasaran.

Sampul dengan kertas tipe gloss terasa halus dijari-jari yang akan membuat seorang Kinestetic nyaman untuk memegang Novel dengan ketebalan yang relatif cukup ini.

Orang Auditory Digital pasti akan terpuaskan dengan sederetan kesaksian positif nama2 besar yang sudah membaca buku ini seperti Arwin Rasyid, Kak Seto sampai ke Garin Nugroho.

Karena memang sudah berniat untuk membeli buku tersebut ditambah tampilan buku yang mendukung, dalam waktu 3 menit saya memutuskan untuk membeli Novel ini ditemani sejumlah majalah lain untuk bekal melewatkan long weekend di kota kesayangan Bandung.

Sudut Pandang Baru
Jam menunjukkan pukul 19.30 saat kami sampai dirumah kami di perbukitan di timur Bandung. Sesudah menurunkan anak pertama saya yang tertidur diperjalanan, dengan penuh semangat saya nongkrong di teras rumah untuk mulai membaca Novel yang menggemparkan ini.

Alis saya sedikit terangkat saat membaca istilah istilah biologi yang asing di bagian awal Novel seperti Filicium dibab 1 dan Antedilivium pada bab 2. Alis yang sama mulai turun ketika tiba pada bagian dimana Andrea Hirata dengan menarik menggambarkan masa dia dan gengnya masuk ke SD Muhammadiyah di Belitong.

Cara Andrea menggambarkan peristiwa tersebut “memaksa” saya untuk ikut berimajinasi menggambarkan saya pada masa yang sama puluhan tahun lalu saat saya masuk SD, dan imajinasi saya terhitung GAGAL!

Gambaran masa kecil saya masuk SD tidak berhasil saya munculkan sejelas Andrea menggambarkannya dalam Novel. Secara bawah sadar saya angkat topi dengan Andrea untuk gambaran detail tersebut, terlepas apakah yang dia ceritakan benar2 keluar dari bagian memorinya atau merupakan salah satu skill yang harus dimiliki oleh pengarang Novel IMAJINASI!.

Tak terasa jam 10 malam sudah tiba saat istri saya melongok dari pintu, saya Cuma bilang “tar Ma tanggung nih, dah dapat separo”. Luar biasa....dengan gaya bertutur yang memikat dan dibumbui oleh teknik Metapor disekujur badan Novel. Andrea berhasil memaksa saya untuk menyelesaikan Novel itu pada malam itu juga! Suatu prestasi yang istimewa karena untuk menyelesaikan buku favorit “Good to Great” pun saya butuh waktu 3 hari. Prestasi ini hanya bisa disaingi oleh komik bergambar “Long Hu Men” punyanya Tony Wong yang pasti akan saya selesaikan pada saat itu juga sampai jam berapapun kalau ada jilid baru yang terbit!

Bab tentang Lintang dan Mahar, 2 orang maskot dari Laskar Pelangi memancing tawa kecil dan senyum sendu saya. Kejeniusan seorang Lintang (saya jadi penasaran apakah aslinya sejenius di Novel tersebut) membuat saya sedih dan setuju dengan gambaran dalam novel tentang kecongkakan dan kebodohan negeri ini dalam mencampakkan talenta2 terbaik yang dimiliki.

Cinta monyet Ikal dan A Ling termasuk bagian cerita dengan metafora yang sangat kuat! Bagian ini berhasil menyentuh rasa emosi disamping saat Laskar Pelangi memenangi Cerdas Tangkas dengan Lintang sebagai maskotnya.

Bagian akhir novel melompat sekian belas tahun kedepan dengan banyak fragmen2 kehidupan yang (dengan sengaja?) terlewat. Faktor ini jelas menjadi salah satu faktor yang mendorong saya untuk membeli novel lanjutannya saat saya liburan panjang lagi 2 minggu kedepan.

Jam 11 malam lebih 15 menit saat saya menyelesaikan Novel tersebut. Saat menyusul istri untuk pergi ke alam mimpi saya bergumam “ma, coba besok kamu baca novel ini.”!

Eko Jatmiko Utomo
Ujung Berung
Awal Maret 2008

25 Februari 2008

Menciptakan Komunikasi Efektif


Menciptakan Komunikasi Efektif: Bagaimana menciptakan suasana “nyaman” agar komunikasi yang dilakukan efektif.

"People LIKE others people that LIKE them”. NLP Statement


Pada sebuah bandara
Pernahkan Anda melihat dan mengalami, pada saat berada disebuah bandara di Luar Negeri Anda seketika merasa senang dan nyaman ketika mendengar ada orang yang berbicara dengan Bahasa Indonesia? Perasaan nyaman ini bahkan mungkin diteruskan dengan menyapa dan mengajak ngobrol yang bersangkutan.

Atau Anda yang berasal dari daerah (Klaten misalnya), ketemu dengan sesama warga Klaten di Jakarta, saya jamin pasti akan langsung ngobrol menanyakan bagaimana kabarnya Kota Klaten dan waduk Jombornya dst, dst, dst.

Orang suka(Like) dengan orang yang mirip(Like) mereka.
Kesamaan daerah seperti ilustrasi diatas membantu orang untuk memecahkan kebuntuan dalam memulai dan melakukan pembicaraan. Apakah ada hal2 lain lagi yang bisa kita lakukan agar komunikasi kita menjadi lebih lancar dan efektif?

Dalam NLP*, salah satu pelajaran yang harus dikuasai adalah Building Rapport, suatu teknik yang kita lakukan dengan cara mengatur suara & postur tubuh kita agar mirip dengan teman bicara sehingga teman bicara merasa nyaman.

Dalam pekerjaan sehari-hari, baik itu di pabrik atau dikantor seberapa banyak Anda melakukan komunikasi? Dengan Building Rapport (Membangun Keakraban) maka komunikasi yang kita lakukan menjadi efektif sehingga apa yang kita inginkan bisa terlaksana. Manager bisa menyampaikan visinya ke anak buah, antar teman terjadi komunikasi yang lancar, Sales bisa jualan dengan lancar, suami makin mesra dengan istri dlsb.

Pernahkah Anda ketemu dan ngobrol dengan seseorang dan Anda langsung merasakan seperti sudah mengenal orang tersebut selama bertahun-tahun? Ilmu membuat orang lain nyaman ini bisa dipelajari lho..........tertarik?

Anatomi Komunikasi
Pada dasarnya pada saat terjadi komunikasi (langsung) yang ada adalah 2 atau lebih orang yang berhadapan dan saling bicara.

Menurut penelitan, pada saat terjadinya komunikasi Kata-kata hanya memiliki peran sebanyak 7%, Intonasi suara memainkan peran sebesar 38% dan yang paling besar peran ini diambil oleh Postur Tubuh kita yaitu 55%.

Ngak percaya? Coba Anda ucapkan I Love You ke istri/suami atau pacar dengan nada melengking, wajah cengengesan dan tangan dilipat didepan dada. Tanya ke pasangan Anda apa yang ia rasakan? Saya jamin dia akan bilang BOHONG!
Kata-kata (Words) yang Cuma 7%, inilah yang biasanya selama ini kita andalkan pada saat kita melakukan pembicaraan dan komunikasi dengan orang lain, sementara 93% lainnya (intonasi suara & postur tubuh) seringkali kita abaikan. Makanya banyak terjadi miscommunication di tempat kerja atau dirumah.

Kata-kata pada saat berkomunikasi diproses oleh otak sadar** sedangkan Nada dan Postur Tubuh diproses oleh otak bawah sadar**. Pada saat otak bawah sadar merasa tidak nyaman, maka dia akan menutup pintu komunikasi (secara bawah sadar tentunya) dan tidak mau menerima atau mempercayai lawan bicara. Walaupun pada permukaan teman bicara kita bilang menyetujui pikiran bawah sadar menyatakan sebaliknya.

Membuat Nyaman Lawan Bicara
- Berpakaian rapi dan berdasi saat presentasi di depan bos2 yang berpakaian rapi pula.
- Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
- Sesuaikan nada bicara dengan lawan bicara kita
- Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung
- Di kandang kambing mengembik, di kandang harimau mengaum
Pernah dapat tips2 seperti diatas ngak? Ternyata ada penjelasan yang mendalam mengapa tip-tip diatas benar dan perlu kita lakukan.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa komponen utama yang berpengaruh dalam sebuah komunikasi adalah komponen Pikiran Bawah Sadar. Pikiran ini terutama dipengaruhi oleh Intonasi Suara dan Postur Tubuh. Tugas utama yang harus kita lakukan pada saat berkomunikasi adalah membuat 2 komponen utama ini merasa “nyaman”.

Intonasi Suara
Coba lakukan eksperimen berikut ini:
- Bicara dengan anak kecil (Balita) dengan memakai suara asli Anda
- Bicara dengan anak kecil dengan memakai suara seperti anak kecil
Anda lihat reaksi yang terjadi pada anak kecil tersebut.
Anak kecil akan jauuuh merasa lebih nyaman bicara dengan orang yang suaranya mirip dengan suara mereka.
Hal yang sama berlaku sama secara bawah sadar pada orang dewasa. Mereka akan merasa lebih nyaman bicara dengan orang yang kecepatan bicara, volume bicara dan kata-kata yang dipakai mirip dengan suara mereka sendiri!

Postur Tubuh
Masih ingat dengan Lady Diana? Almarhum mantan istri Pangeran Charles dari Inggris? Putri Diana terkenal dengan kemampuan dia berkomunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat.

Salah satu gambar yang paling terkenal adalah saat Lady Di menyalami anak kecil dengan cara jongkok sehingga sejajar dengan anak kecil tersebut. Apa yang bisa kita pelajari dari Lady Di pada saat berkomunikasi? Beliau menyamakan tinggi tubuhnya sehingga anak kecil tersebut merasa nyaman untuk berkomunikasi.

Ada cara gampang yang bisa kita lakukan untuk menyamakan postur tubuh, perlakukan diri kita sebagai cermin dari postur tubuh teman bicara kita. Apabila yang bersangkutan kaki bersilang, anda juga menyilangkan kaki, badan bersandar ke kursi anda melakukan hal yang sama dan seterusnya. Namun harus diingat bahwa teknik mirroring ini harus dilakukan dengan halus agar teman bicara tidak merasa di contek (mimikri). Mimikri akan berakibat sebaliknya, yaitu menimbulkan perasaan tidak nyaman.

Sekali lagi tujuan dari menyamakan postur ini adalah agar teman bicara merasa nyaman, khususnya pikiran bawah sadar sehingga apa yang kita inginkan langsung bisa masuk ke pikiran bawah sadar mereka tanpa harus menabrak tembok.

Tips Komunikasi Efektif
Dibawah ini tips2 sederhana yang bisa kita lakukan pada saat berkomunikasi dengan orang lain agar apa tujuan komunikasi bisa tercapai:
1. Kalau sempat atur tampilan kita (baju, aksesoris dll) agar mirip atau tidak mencolok dibandingkan dengan teman bicara atau lingkungan dimana kita bicara. Contoh: akan aneh sekali melihat orang pakai jas rapi di pabrik dan sebaliknya orang pakai baju lapangan warna orange safety pada seminar disebuah Hotel.
2. Atur suara Anda agar kecepatan, volume dan kualitas mirip dengan teman bicara. Bicara lambat pada orang yang bicara lambat dan bicara cepat dengan orang yang cenderung bicara cepat. Samakan juga volume dan kualitas suara.
3. Kenali kata2 yang sering dipakai oleh teman bicara, pakai kata2 mereka dalam kalimat2 Anda. Misal Anda bicara dengan orang Sunda, pakai satu dua kata Sunda dalam kalimat Anda dll.
4. Perhatikan postur tubuh mulai dari posisi tangan, posisi kaki, cara duduk dll. Sama postur Anda dengan teman bicara secara halus (tidak mencolok).
5. Kerjakan dan sesuaikan langkah 1–4 sepanjang pembicaran berlangsung.


Selamat Mencoba!

Saya ingin mendengar komentar Anda sesudah mencoba teknik komunikasi diatas.

Saya Tunggu.


Eko Utomo
CCR Narogong
End of February 2008

*NLP: Neuro Linguistic Programming.
Ilmu yang mempelajari bagaimana agar manusia bisa memaksimalkan potensi diri.

* * Otak sadar: Conscious Mind

** Otak bawah sadar: Unconscious Mind

12 Februari 2008

Ayam Goreng untuk Suami Tercinta


Ayam Goreng untuk Suami tercinta!
Suatu Metapor* tentang komunikasi.


"Self-expression must pass into communication for its fulfillment”. Pearl Buck

Pasangan Bahagia
Tersebutlah suatu kisah sepasang suami istri**. Mereka sudah menikah selama 10 tahun. Pernikahan cukup panjang ini selalui diwarnai dengan hari-hari indah. Pengertian, kesabaran dan kasih sayang menjadi warna dalam kehidupan berkeluarga.

Sang Suami begitu mengasihi sang Istri, demikian juga sebaliknya sang Istri mengasihi sang Suami dengan sepenuh hati. Setiap hari yang mereka lakukan dan kerjakan adalah bagaimana caranya agar pasangan mereka bisa lebih berbahagia dan bersukacita dengan apa yang mereka lakukan.

Sang Istri senang memasak, setiap hari dia memasakkan dan menyediakan makanan kesukaan suaminya yaitu Ayam Goreng. Menu Ayam Goreng tidak pernah tidak ada di meja makan setiap malamnya

Ayam Goreng
Pada suatu ketika, sang Suami jatuh sakit. Kali ini sakit yang diderita begitu berat sehingga yang bisa dilakukan oleh sang suami hanyalah tidur di pembaringan tanpa bisa melakukan apapun.

Seperti biasa sang Istri dengan penuh setia melayani Suaminya dengan penuh kasih sayang. Malam itu, seperti biasa sang Istri datang dari dapur dengan membawakan menu Ayam Goreng untuk disantap suami.

“Istriku, sebelum kita mulai makan malam ini, aku ingin membicarakan suatu hal penting”. Suami membuka pembicaraan saat makan malam akan dimulai. “Suamiku yang tercinta, gerangan apakah yang hendak engkau sampaikan kepadaku?” sahut istrinya dengan penuh kasih sambil tak lupa membenarkan bantal sandaran Suaminya yang sedikit miring.

“Istriku, ini adalah rahasia yang aku simpan selama 10 tahun perkawinan kita, aku harap engkau tidak menjadi marah karena aku mengungkapkan hal ini kepadamu”. Sedikit kaget sang Istri mendengar apa yang diucapkan Suaminya. Hal penting apa yang disembunyikan oleh suaminya 10 tahun ini katanya dalam hati. “Suamiku, engkau tahu aku bukan?, 10 tahun ini semua yang aku lakukan hanyalah ingin membahagiakan dirimu, tidak lebih dan tidak kurang”.

“Istriku, sebenarnya aku tidak suka makan AYAM GORENG!”. Sang Istri yang mendengarkan perkataan Suami tersebut membelalakkan matanya saking terkejutnya. “Suamiku, engkau tidak suka ayam goreng? Selama 10 tahun aku melihat dirimu melahap dengan antusias semua ayam goreng yang aku hidangkan padamu”.

“Istriku, aku makan semua ayam goreng yang engkau hidangkan karena aku sangat menyayanimu, aku tidak ingin membuat engkau kecewa”. Demi mendengar perkataan sang Suami, si Istri menangis terharu. “Suamiku, aku juga ingin mengatakan suatu rahasia kepadamu, bahwa sesungguhnya aku bosan memasak ayam goreng setiap malam selama 10 tahun ini. Aku menghidangkannya kepadamu karena aku melihat Engkau makan dengan penuh semangat dan aku juga tidak mau mengecewakanmu!”
Mendengar perkataan tersebut, sang Suami memeluk istrinya dengan erat, seakan hendak membawanya ke lubuk hatinya yang paling dalam. “Istriku, terimakasih untuk cintamu dan kesetiaanmu padaku, kiranya peristiwa ini membuka mata kita berdua walau kita saling menyayangi, kita tetap butuh terbuka satu dengan yang lain”.

Dan mereka hidup lebih berbahagia puluhan tahun berikutnya sampai Tuhan memanggil.

Eko Jatmiko Utomo
Sidney Australia
12 February 2008

*Metapor
Secara populer Metapor adalah cerita simbolik yang mempunyai makna dibalik ceritanya.

**
Cerita ini aslinya saya baca dari suatu koran (maaf berhubung sudah lama sekali saya lupa nama koran/majalah tersebut). Saya mengembangkan beberapa bagian dari cerita tersebut agar sesuai dengan kaidah Metapor Design – Obstacle – Resource – Achieve.
Metapor ini saya bawakan di Training Practice 1 sebagai metapor ke-4 pada saat saya menjalani NLP’s Trainer Training di Sydney.

07 Februari 2008

Sydney - Harga Rupiah & Pejalan Kaki


Jam Karet bin Oz
Yang namanya jam karet itu kata orang merupakan produk asli dari bangsa Indonesia. Meeting jam 9 pagi, baru bisa dimulai jam 9.15, ngak tanggung-tanggung, yang membuat terlambat tidak hanya mereka yang menjadi undangan, pengundangnya sendiri juga sering datang.

Kenapa hal sepele seperti ini susah di perbaiki? susah banget mas, sebagian orang, dengan sengaja memperlambat diri untuk hadir terlambat. Alasan mereka daripada nunggu orang yang datang terlambat, mereka dengan sengaja melambatkan diri.Jadilah lingkaran setan jam karet yang tiada berkesudahan.

Kalau Iwan Fals lebih dari 20 tahun yang lalu berdendang "kereta terlambat sudah biasa....." jaman sekarang mah lebih hebat lagi, pesawat2 terbang juga sudah ketularan untuk lebih sering cancel. Duluuuuu sekali, pernah almarhum Sempati Air membuat Komunikasi Pemasaran yang menarik dengan memberikan Voucher kepada konsumennya yang dirugikan karena pesawat terlambat. Apa yang terjadi? Pada akhirnya ngak kuat bayar voucher dan kebijakan ini dicabut.

Siang itu, HP bergetar memberitahukan saya kalau ada sms masuk, dari Nurul ternyata..........”ada info dari Qantas, pesawat ditunda 2 jam”. Disatu sisi saya heran, wah penyakit jam karet Indonesia menyebrangi Samudra Indonesia ke benua Australia ternyata.

Singkat kata, malam itu saya berangkat ke Bandara lebih lambat 2 jam. Agak kemrungsung sebenarnya waktu ke bandara, pak Anwar Sanusi yang jadi teman training dikerjain waktu pesan Taxi Blue Bird sehingga sampai kerumah agak terlambat. Sudah terlambat, ditambah kami harus menerima kenyataan kalau ternyata Supir Taxi yang membawa kami ke Bandara SKH lulusan sekolah nyetir Metromini. Nyetirnya ndut-ndutan, sok ngebut tapi main rem dan kopling sembarangan. Jadi begitu sampai ke Bandara, saya setengah pucat dan mabuk.

Dasar nasib lagi sial, di Notice Board ada pengumuman bahwa Qantas jurusan Sydney diundur lagi. Virus jam karetnya sudah parah nih.....seharusnya berangkat jam 11 malam malah diundur lagi jadi jam 1 pagi! Total dari jadwal awal mundur 4 jam!

Kesan Pertama
Turun dari pesawat, kami berdua sempat ketar-ketir. Pesawat datang terlambat 4 jam dari jadwal, sementara kami berdua baru pertamakalinya menapakkan kaki di Sydney, takutnya ngak dijemput. Ada sih taksi.....Cuma pengalaman dikerjain supir taksi di Kuala Lumpur tahun lalu jadi akar pahit kami.

Lolos dari imigrasi, kami mendorong koper ke pintu keluar. Ada orang bule dengan baju jas rapi memegang karton bertuliskan “Eko Uto”. Gembira juga saya dan pak Anwar, ternyata ada yang jemput, kesalahan penulisan nama sangat bisa dimaafkan.

Kami di bawa ke tempat parkiran dan dipersilahkan masuk ke Taxi yang berupa sedan merek Holden keluaran terbaru, mau tahu ccnya? 6000 cc bok! Ini sedan dengan tenaga Truk. Nyaman sih, cuma jelas ngak nyaman kalau dipakai di Jakarta, Kia Carrens 1800 cc aja sudah buat kantong kempes apalagi Holden 6000 cc.

Disepanjang perjalanan, sopir bule pakai jas(mungkin harusnya kami berdua yang kucel2 ini yang nyetir he he he) banyak ngobrol dengan kami berdua, tentang cuaca(orang Oz, paling senang bicara cuaca) atau tentang bangunan2 yang kami lewati.

Have you ever been Indonesia? Iseng aja saya tanya, no…..I never been Indonesia but I visited Bali last year! Dasar bule katrok, dikiranya Bali negara tetangganya Indonesia kali he he he he………..tambah lagi komentarnya It’s cheap everthing in Bali yeah? Jawaban saya, I think Bali is one of the most expensive city in Indonesia, just like Jakarta.

Coca Cola, Laundry & RokokNgomong2 tentang mahal, sore itu saya dan pak Anwar sempat jalan2 (pakai kaki) disekitar hotel Rydes yang kami tinggali. Lumayan juga dapat mengitari beberapa blok dan cukup membuat pegal kami berdua.

Ditengah jalan pulang kembali ke hotel, mampir dulu ke toko swalayan jaringan Seven Eleven beli roti dan minuman. Begitu ke kasir kami baru sadar kalau satu kaleng coca cola yang di Jakarta seharga Rp. 3.500 ternyata di Oz harganya hampir sepulah kali lipat! Alamak…………nasibnya kalau mata uang rupiah kalahan.

Hari ketiga, malam itu kami baru saja kembali ke Hotel selesai Training yang melelahkan, meja di kamar hotel setumpuk cucian dari Laundry ternyata sudah dikembalikan, senang juga sih soalnya stok baju sudah menipis, tapi yang membuat kami kaget setengah mati adalah angka yang tertera di bon laundry, coba tebak berapa? Aus $100, kalau dirupiahkan Rp. 900.000! jumlah yang bikin kami berdua melotot. Waktu kami periksa kembali, 1 kolor yang saya beli kemarin di Cibubur seharga 15 rb, biaya laundrynya 2x lipat dari harga beli sebesar 30 rb! Untung saja hari ini kami dapat jalan keluar, di dekat hotel ada jasa Laundry yang jauh lebih murah. Walau agak repot, itung2 ngirit bantu perusahaan yang sudah mau invest untuk mengirimkan kami training ke Oz.

Pak Anwar ini saudaraan sama kereta api, kalau ngak percaya lihat aja sendiri, tiap hari asap pasti ngepul terus he he he he..... lha namanya perokok itu kan senang coba2, nah isenglah beliau beli rokok sebungkus di supermarket, bayar di kasir baru nyahok kalau harganya dirupiahkan Rp.100.000, kapooooook katanya. Untung bawa 2 slop dari Jakarta, kalau ngak bawa bakalan basah tempat tidur karena pak Anwar ngiler ngak dapat rokok!

Nyebrang JalanDi tanah Oz ini ada satu perilaku yang ngak bakalan laku di Jakarta. Daerah2 yang ada zebra cross namun tidak ada traffict light, para pengemudi mobil benar2 mendahulukan kepentingan penyeberang. Semua pasti berhenti saat melihat ada pejalan kaki yang mau menyeberang. Ada kejadian yang menggelikan terjadi, mindset Jakarta kami bawa ke Sydney, saat mau menyebrang kami serba ragu, namun yang terjadi malah mobil2 pada berhenti untuk menunggu kami menyebarang.

Moga2 saja kalau saya pulang ke Jakarta mindset baru ini tidak saya andalkan kalau lagi menyeberang jalan. Lha wong lawannya Angkot dan Metromini Jakarta je he he he.


Eko Utomo
Sidney Australia
7 February 2008

03 Februari 2008

Personal Approach Vs Task Approach

Orang dulu atau Tugas dulu?: Personal Approach Vs Task Approach
"Kalau urusan pribadi mereka percaya pada kita, urusan pekerjaan pasti bukan masalah”. Wongkla

Bontang 2000Pada suatu malam di awal tahun 2000, ditengah hutan Kalimantan saya sedang duduk santai di depan TV menonton film disalah satu saluran TV kabel yang disediakan oleh pihak perusahaan sebagai fasilitas hiburan untuk para karyawan yang tinggal di mess.

Saya bisa membayangkan kalau tidak ada saluran TV bagaimana bosannya para karyawan yang harus bekerja selama 12 minggu berturut2 sebelum mendapatkan jatah cuti 2 minggu pulang ke kampung halaman di pulau Jawa.

Jam menunjukkan pukul 7 malam saat HT dimeja saya berbunyi, sigap saya ambil dan melakukan komunikasi dengan pemanggil. Teryata salah satu foreman yang sedang bertugas dilapangan. Foreman produksi ini menginformasikan, bahwa tidak ada orang yang bekerja di dispatch memantau perkembangan produksi batubara yang diproduksi ditambang.

Saat itu saya bertugas sebagai Supervisor yang membawahi section di Engineering yang bernama Project Control. Salah satu tugas adalah menjalankan fungsi dispatch untuk memantau volume produksi baik overburden(tanah penutup) maupun batubara di lapangan. Data kompilasi tersebut bisa diakses oleh seluruh pihak, baik lewat komputer maupun lewat telpon atau radio kepada crew yang sedang bertugas di dispatch. Setiap jam crew akan meminta data produksi kepada para operator loader (Backhoe maupun Shovel) dari lapangan.

Mendengar berita bahwa crew yang bertugas pada shift malam itu tidak hadir, saya sebagai Supervisor langsung naik darah. Kurang ajar ini anak, tadi pagi dia tidak bilang apa-apa, kenapa malam ini tiba2 tidak masuk. Dasar bandel dan ngak bisa diatur, awas besok saya akan marahi dia dan kalau perlu akan saya berikan sangsi. Kalimat2 amarah berjubel di dalam kepala saya.

Sambil ngomel, saya membayangkan bahwa saya besok pagi2 harus datang ke kantor dispatch untuk mengejar laporan yang belum masuk. Sebab pada jam 7 pagi data produksi tersebut akan dipakai oleh Project Manager untuk mengevaluasi kinerja sehari sebelumnya.

HT dimeja sengaja tetap saya hidupkan, khusus untuk berjaga2 kalau2 ada hal yang harus saya lakukan sehubungan dengan absennya crew Dispatch. "Shovel 1 monitor, shovel 1 monitor", saya terlonjak dari tempat tidur saat mendengar suara dari HT tersebut, ternyata si Bandel ini masuk kerja, kata saya dalam hati sambil melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan jam 10 malam.

Siap saya raih HT dan kontak ke Badrun, crew dispatch tersebut. Begitu panggilan saya di sambut oleh Badrun, tanpa babibu saya menumpahkan kekesalan saya di HT. “Kamu kok bodoh banget sih? Kalau memang tidak masuk kerja atau datang terlambat bilang pada saya! Supaya saya bisa menyiapkan pengganti kamu”. HT membisu beberapa waktu, dan baru beberapa saat kemudian terdengar jawaban lirih “iya boss”.

Pagi harinya, masih dengan perasaan marah saya datang ke kantor dan ketemu dengan Badrun. Kata2 pertama yang keluar dari mulut adalah “Badrun, kamu kalau kerja yang benar dong!”. Dengan ekspresi tidak kalah garangnya Badrun menjawab, “Emang pak Eko tahu tentang alasan saya datang terlambat? Bapak telah mempermalukan saya di seluruh Tambang dengan memarahi saya di HT yang didengar oleh semua karyawan!”.

Seiring dengan berlalunya kalimat yang dia lontarkan sambil setengah berteriak, Badrun berjalan keluar meninggalkan saya yang berdiri mematung tanpa bisa berkata-kata.

Sejak saat itu, sampai saya meninggalkan Bontang, hubungan saya dan Badrun menjadi dingin dan tidak pernah bisa pulih lagi.

Tembagapura 2003"Pak Eko, saya mau minta saran pak". Kata seorang karyawan lulusan GDP (Graduate Development Program) PTFI, saat yang bersangkutan baru saja duduk di kursi didepan saya. "Apa yang bisa aku bantu?" Kata saya. "Ini pak, saya minta pendapat saya tentang A, dia beberapa waktu yang lalu melamar saya. Saya tahu bapak cukup kenal dengan yang bersangkutan".

Saat itu saya merupakan Section Head di Scholarship & GDP disalah satu dept. di PTFI. Hampir semua GDP merupakan fresh graduate dan mereka yang masih “hijau” ini baru saja lepas dari hangatnya suasana perkuliahan di kota besar langsung ditempatkan di pucuk gunung di Papua. Dingin (betulan dingin lho, 10 C bok.....kalau ngak percaya silahkan datang kesana) dan jauh dari mana-mana.

Sebagai Koordinator program, saya mencoba menempatkan diri sebagai kakak bagi mereka. Saya berfikir bahwa mereka pasti membutuhkan keluarga yang bisa menjadi tempat sandaran dan teman diskusi masalah apapun didunia yang asing dan baru ini. Jadi pertanyaan yang dilontarkan salah satu eks peserta program GDP tersebut tidak mengagetkan. Banyak dari mereka yang curhat urusan pribadi.

Bisa dibilang para peserta program GDP menerima peran ganda yang saya bawakan, ya Koordinator ya saudara tua. Imbal balik tidak langsungnya adalah, urusan tugas, program dan pekerjaan yang berkaitan dengan program GDP mereka jalankan dengan senang hati. Termasuk untuk mengikuti program English Club 2x dalam seminggu pada malam hari dan juga Saturday Presentation 2 mingguan pada hari sabtu tanpa lembur dan mengurangi waktu istirahat mereka!

Personal Approach & Task Approach
Seorang atasan yang melakukan pendekatan Task Approach akan mengedepankan tugas dan pekerjaan saat berinteraksi dengan anak buah. Atasan dengan pendekatan seperti ini dapat dikenali saat ybs. ketemu dengan anakbuahnya yang keluar dari mulutnya adalah “Gimana, pekerjaan yang kemarin sudah selesai belum”. Dia akan datang ke kita saat ada pekerjaan baru atau mengecek pekerjaan lama yang belum selesai.

Seorang atasan dengan gaya pendekatan pribadi (Personal Approach) dapat dikenali dengan kalimat yang dia ucapkan kalau ketemu dengan anak buah. "bagaimana kabar anakmu si Andi? Diterima di SD mana?”. Seringkali atasan ini akan datang kepada kita dengan mengajak kita berbicara hal pribadi sebelum bicara masalah pekerjaan. Bahkan seringkali di saat makan siang sering nimbrung dalam pembicaraan yang sedang berlangsung. Topik pembicaraan yang berlangsung ini sering tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, namun berkisar mengenai kehidupan sehari-hari.


Pilih Mana?Dari pengalaman saya pribadi diatas, hubungan saya dengan Badrun yang rusak karena saya menempatkan tugas diatas pribadi mengajarkan pada saya bahwa performance di section saya tidak bisa maksimal karena pendekatan yang saya lakukan.

Dilain pihak, sebagai koordinator GDP semua tugas dan pekerjaan beres dan berjalan dengan baik karena hubungan pribadi saya baik dengan para GDP. Orang Klaten akan bilang seperti ini, lha wong urusan pribadi saja, sampeyan dipercaya kok, apalagi urusan kerjaan. Pasti akan dikerjakan dengan senang hati.

Dari kacamata saya sebagai observer di pabrik kita tercinta ini, kedua pendekatan ini mempunyai fansnya masing2. Ada yang senang dengan gaya Personal Approach, namun jauh lebih banyak lagi yang suka dengan gaya Task Approach. Dan yang luarbiasa, efek yang terjadi mirip sekali dengan apa yang saya alami sekian tahun yang lalu tersebut.

Nah para Leader, Supervisor dan Manager, Anda mau memilih pendekatan yang mana yang akan Anda terapkan kepada anakbuah Anda?

Eko Utomo
Sydney Australia
February 2008

TipsLangkah Awal membangun Personal Approach
1. Ketahui Asal dan sekolah anakbuah Anda
2. Ketahui Hobi mereka
3. Pengalaman kerja mereka
4. Asal Istri dan dimana mereka ketemu
5. Ketahui jumlah anak (dan istri kalau perlu) dari masing2 anakbuah Anda.
6. Umur dan sekolah dari anak2 mereka
7. Prestasi anak2 tersebut
8. Teruskan sendiri

22 Januari 2008

Job Description: Madu atau Racun?

"Big jobs usually go to the men who prove their ability to outgrow small ones."
-Ralph Waldo Emerson,


Diskusi kecil pada suatu hari kerja

Manager : pak Badu apa kabar?

Badu : Baik pak Manager, ada apa ya pak? Ngak biasanya saya dipanggil.

Manager : Begini pak Badu, bulan depan ini management ingin menjalankan proyek perbaikan efisiensi kerja yang akan dijalankan di 3 area, yaitu Quarry, Raw Mill, dan Lab. Saya melihat bahwa pak Badu mempunyai kemampuan untuk memimpin team ini. Saya minta pak Badu untuk memimpin tim lintas departemen ini.

Badu : Maaf pak Manager, saat ini saya sedang sibuk dengan pekerjaan saya di Raw Mill, saya kuatir kalau konsentrasi saya terpecah dengan pekerjaan lain, pekerjaan utama saya akan menjadi terbengkalai. Selain itu pekerjaan tersebut tidak ada dalam job description saya!

Selang satu hari dari pembicaran diatas, terjadi pembicaraan lain antara pak Manager dan anak buah yang lain, yaitu Agung yang juga merupakan Superintendent RawMill.

Manager : pak Agung, apa kabar?

Agung : baik sekali pak Manager, apa yang bisa saya bantu?

Manager: begini pak Agung, management menginginkan kualitas limestone kita lebih stabil dalam hal volume persediaan dan juga kualitasnya. Menurut saya hal tersebut hanya bisa diatasi apabila 3 dept. Yaitu Produksi Rawmill, Quarry dan Technical khususnya lab, duduk bersama dan membentuk task force. Saya minta pak Agung bersedia untuk mewakili produksi dan memimpin tim ini.

Agung : Wah, ini merupakan kehormatan bagi saya pak Manager. Saya bersedia dan dengan senang hati menerima tugas ini.

Job DescriptionJob Description/daftar paparan kerja, dari namanya kita bisa menebak bahwa mahluk ini adalah penjelasan tentang pekerjaan apa saja yang harus dilakukan oleh seseorang yang menduduki posisi tertentu. Gampangnya gawean opo bae (pekerjaan apa saja) yang harus dikerjakan.

Jobdes, tentu saja sangat diperlukan dalam sistem kerja modern. Semakin besar organisasi kebutuhan akan jobdes semakin kuat. Tanpa adanya jobdes maka sistem kerja menjadi acakkadut dan saling tumpang tindih. Suatu pekerjaan bisa dikerjakan oleh 2 orang atau lebih(rework) dan seringkali dalam banyak kasus ada pekerjaan yang tidak ada orang yang mengerjakan! Semua orang berharap dan berfikir orang lain yang mengerjakan.

Dengan adanya jobdes maka semua orang menjadi jelas apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Performance Management juga akan berjalan dengan baik karena ada alat ukur yang jelas terhadap kinerja seorang karyawan.

Body Builder dan Baju Barunya
Kehidupan karir seseorang mirip dengan seseorang yang sedang berlatih menjadi binaragawan, setahap demi setahap dia membentuk tubuhnya manjadi lebih baik dan berotot. Semakin tinggi level pembentukan tubuh yang dicapai, badan makin besar dan ukuran baju juga makin besar.

Anak laki2 saya Jason (umur 3 th) suka memakai baju yang kedomboran (ukuran jauh lebih besar dari badannya). Mungkin dia rasakan baju yang besar nyaman dipakai dan memudahkan dirinya untuk lari kesana kemari.

Baju kedomboran wajar dan ditolerir untuk anak kecil, Anda pernah lihat ngak orang dewasa yang pakai baju kedomboran? Saya jamin pasti terlihat ngak enak dimata. Ngak keren gitu lho.........

Orang dewasa yang pakai baju kedomboran sama dengan seorang karyawan yang kompetensinya lebih kecil dari posisi yang ditempati atau kinerja yang diharapkan oleh perusahaan sesuai dengan job diskripsinya.

Madu atau Racun?Siapa diantara sidang pembaca yang pernah mendapatkan jawaban seperti Badu di atas? "Itu bukan jobdes saya pak" Atau bahkan kita sendiri yang melontarkan jawaban tersebut.

Untuk naik ke jenjang karir berikutnya dibutuhkan pengembangan kompetensi yang kita miliki. Pengembangan kompetensi tersebut biasanya mengarah pada kompetensi yang harus dikuasai oleh level diatas kita*. Nah, yang menjadi masalah adalah tentu saja pekerjaan2 satu level diatas TIDAK ADA dalam JOB DES kita!

Jadi pada saat kita menolak pekerjaan yang tidak ada dalam jobdes sebenarnya mirip dengan binaragawan yang tidak mau berlatih di fitness center untuk membesarkan ototnya. Yang bersangkutan meracuni mindsetnya sehingga pribadinya menjadi tidak berkembang.

Dilain pihak, seseorang yang menerima pekerjaan di luar jobdes (khususnya pekerjaan level diatasnya) mirip dengan orang yang sedang melatih tubuhnya. Layaknya seseorang yang memberikan madu kepada pikiran dan tubuhnya untuk tumbuh dan makin kokoh.

Atau dalam kata lain seseorang yang mendapatkan “kepercayaan” untuk mengerjakan tambahan pekerjaan diluar jobdes sebenarnya patut bikin kondangan sukuran! Kepercayaan tadi menandakan Anda dipercaya oleh orang, plus bisa jadi ajang latihan untuk mendapatkan ketrampilan baru.

Creating Opportunity.Pada suatu kesempatan diskusi, ada pertanyaan menarik berkaitan dengan kesempatan memperoleh (delegasi) pekerjaan dari atasan “boss saya tidak pernah memberikan delegasi pekerjaannya ke saya pak!”.

Hmml.........kedengaran seperti sikap effect**kan? Menurut Anda, tindakan apa yang bisa kita lakukan yang lebih bersikap Cause dalam kasus ini?

Setuju, tindakan pertama yang mungkin dilakukan adalah minta delegasi pekerjaan langsung ke atasan! Saya jadi ingat dengan salah satu kalimat sakti yang sering dilontarkan oleh seorang Cause sejati “Ada yang bisa saya bantu?”.

Kalau atasan menolak? Inilah kesempatan terbaik Anda untuk mendapatkan feedback yang jujur dari atasan. Jika alasannya karena karena Anda belum perform pada jobdes sekarang, bukankah ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk memperbaiki diri langsung dari orang yang akan menentukan nilai dialoque?

Satu hal yang saya yakini, boss (yang baik tentunya) akan sangat senang dirinya dibantu oleh seorang anak buah yang proaktif dan kompeten.

Kedua jika masih ngak dipercaya juga? Well, buaaanyak banget lho rekan kerja2 lain yang butuh bantuan kita. Sekali tabok 2 lalat kena, bantu teman dan memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan plus suatu langkah cantik untuk melakukan personal branding sebagai orang yang ringan tangan (bukan panjang tangan lho!)

Pada Suatu MasaPada suatu ketika ada baju yang ditinggalkan pemilik sebelumnya, siapa yang akan mendapatkan warisan baju tersebut? Orang yang minum racun dengan tubuh kecil, atau orang yang minum madu yang tubuhnya berkembang dan pas dengan baju tersebut?

Jadi, Anda mau jadikan JOBDES sebagai MADU atau RACUN?

Eko Utomo
CCR Narogong
Medio Akhir Januari 2008

* Pada NSDP workshop Oktober 2007, saya memberikan tips pada para peserta untuk bisa mengalokasikan waktu kurang lebih 30% dari total waktu yang ada untuk mengerjakan pekerjaan2 level diatas kita.

** Effect (akibat) adalah suatu sikap yang dipegang oleh seseorang yang menempatkan dirinya sendiri sebagai akibat dari tindakan dari luar (atasan, perusahaan, lingkungan, keluarga, teman dll). Lihat artikel selayang pandang minggu lalu.