Tampilkan postingan dengan label Menjadi Doktor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menjadi Doktor. Tampilkan semua postingan

21 Desember 2016

Bersatu (tidak selalu) Teguh. Bagaimana Keputusan Unggul dibuat #Hal96


Catatan Harian Eko Utomo

Bersatu (tidak selalu) Teguh. Bagaimana Keputusan Unggul dibuat #Hal96

Suasana dalam ruangan meeting hening. Ada sekitar 10 orang berada didalamnya. Meeting dipimpin oleh Vice President (VP) operation. Selama lebih dari satu jam, meeting (atau boleh disebut pengarahan) berjalan satu arah. Sang kepala Division (VP) mengemukakan agenda dan permasalahan, yang lain mendengarkan. Beberapa waktu kemudian sang VP mengemukakan solusi dan alasan kenapa solusi tersebut dipilih, peserta lain mendengarkan dan mencatat.

Meeting berjalan lancar dan cepat. Apakah efektif dalam mengambil keputusan? Tunggu dulu. Proses pengambilan keputusan yang diambil (hanya) oleh satu orang dinamakan GROUP THINK (GT).

Fenomena GT sering terjadi diruang2 meeting BOD, Proyek atau ruang2 meeting lainnya dimana ada seseorang yang sedemikian powerful sehingga peserta meeting yang lain menjadi "takut" untuk berbicara dan bersikap berbeda.

Dalam banyak penelitian, baik secara teori maupun empiris, fenomena GT dalam ruang meeting menghasilkan keputusan yang BURUK!. Logikanya sebenarnya sangat sederhana, isi kepala banyak orang jelas LEBIH BAIK dibandingkan dengan isi kepala satu orang!.

Dalam konsep Johari Window, manusia memiliki sebuah area yang dinamakan BLIND SPOT. Blind Spot adalah sebuah area di mana kita secara pribadi TIDAK TAHU tentang diri kita. Orang lain yang malah mampu melihatnya.

Proses pembuatan keputusan hanya oleh satu orang dalam fenomena GT (persatuan semu) akan menghasilkan keputusan yang memiliki banyak "kelemahan" karena bawaan cacat Blind Spot si pembuat keputusan yang dominan.

Semakin kaya dan beragam orang2 yang terlibat dalam pengambilan keputusan (latar belakang, fungsi pekerjaan, pendidikan, karakter, masa kerja dll) maka semakin "kaya" dan komprihensif keputusan yang dihasilkan. Keputusan dibedah dengan menggunakan pisau yang tajam dan beragam, tidak ada lubang yang terlewat.

***
"Pak Eko, saya ingin melanjutkan sekolah S2/S3, kalau saya mengambilnya di Univ dimana saya dulu mengambil S1 bagaimana?".

Saya sering mendapatkan pertanyaan ini, dan jawaban saya sama: "sebaiknya anda mengambil kuliah di Univ yang BERBEDA!".

Landasan jawaban atas pertanyaan ini sama dengan penjelasan fenomena GT diatas, S2 dan S3 di Universitas yang berbeda akan memberikan sudut pandang dan citarasa yang berbeda buat kita. Sehingga kita akan kaya oleh sudut pandang yang berbeda yang pada akhirnya akan membantu kita dalam banyak hal termasuk pengambilan keputusan.

Jadi fenomena sukuisme, almamaterisme dlsb., di tempat kerja sesungguhnya sebuah proses yang mendorong GT terjadi. Semakin seragam sudut pandang pengambil keputusan, semakin buruk keputusan yang dihasilkan, demikian sebaliknya. Susun tim kerja anda dengan latar belakang yang berbeda, anda akan takjub dengan hasilnya.

Bukankah alam dan ilmu fisika mengajarkan bahwa pelangi itu indah?. Bahwa mejikuhibiniu yang beragam itulah yang menghasilkan warna tertinggi dan suci: PUTIH?.

Let's celebrate different!

EU4U
BSDCity140816

Untuk anda yang berbeda.

13 Februari 2016

"A Journey to Ph.D". #Hal40


Catatan Harian Eko Utomo

"A Journey to Ph.D". #Hal40

Pernah jadi gendut? Jangan! Selain gampang ngos2an kalau lagi main tenis, diintip oleh berbagai macam penyakit, ada sebuah kesukaran lain yang bikin sakit kepala.

Menjadi gendut membuat saya susah payah saat mencari celana. Apalagi kalau ukuran sudah mendekati batas maksimal yang tersedia.

Ban pinggang celana mungkin pas, namun ukuran panjang selangka membuat tidak enak dipandang mata.
Sering juga ukuran pipa celana tidak proporsional. Semua bermuara karena lingkar perut yang membesar tanpa bertambah tinggi badan.

Butuh eksplorasi yang luar biasa untuk dapat menemukan merk celana yang cocok dan mengerti uniknya bodi saya. Saat sudah menemukan yang pas, merk2 yang lain menjadi tidak relevan lagi.

***
5 tahun lalu, saat mencari universitas mana yang akan dilamar untuk menempuh perjalanan menjadi Doktor tidak kalah memusingkannya seperti mencari celana yang pas buat perut gendut.

Bahkan untuk beberapa kriteria hampir sesulit mencari pendamping wisuda. Semuanya berbicara satu hal: KECOCOKAN.

Sebelumnya kriteria hanya satu: "the great school with best major in the nation". Naif dan berbau kecongkakan anak kecil yang membanggakan bapak siapa yang paling hebat.

Sesuai jalannya waktu, saya sharing beberapa pertanyaan reflektif yang akan membantu "menemukan celana yang paling pas buat anda".

Sudah membaca #Hal35 ? make your objectives LOUD and CLEAR. Jangan sampai tujuan anda tidak jelas. Anda mau ke Bali, kendaraan yang dipakai Angkot, jelas anda butuh waktu berminggu2 untuk sampai. Apalagi kalau anda memilih naik sepeda.

Lain cerita kalau anda mau pergi ke Indomart disebelah rumah. Daripada mengeluarkan Mercy dari garasi, melangkahkan kaki justru lebih nyaman dan efisien.

Seberapa besar dan banyak sumberdaya yang anda miliki? waktu, learning capability, uang, tenaga yang tersedia menjadi faktor utama.

Mungkin anda bisa lolos seleksi ke universitas ternama. Namun anda tidak cukup memiliki waktu dan tenaga, sebuah pilihan yang sia-sia.

Disertasi yang baik adalah disertasi yang LULUS. Disertasi yang akan mengantarkan anda untuk diwisuda dengan tambahan title Dr. atau Ph.D di depan dan belakang nama anda.

Jadi, memilih Univ mana untuk kendaraan anda mendapatkan gelar S3 bukan karena prestise, dan kebanggaan semu. Namun yang akan melayani dan membawa anda mencapai tujuan, dengan 101 sumberdaya dan konstrain yang ada.

Selamat mengeksplorasi perjalanan doktoral anda.

EU4U
BSD090116

Key of Any Sucess: MOMENTUM #Hal37

Catatan Harian Eko Utomo

Key of Any Sucess: MOMENTUM #Hal37

100 orang campuran tua muda, laki perempuan, bass sopran duduk serius memperhatikan pelatih yang berdiri dimuka.

Ini adalah latihan gabungan pertama, 6 Paduan Suara (PS) yang menjadi bagian dari Konser Paskah ambil bagian berlatih "The Great Halleluya" yang akan menjadi lagu penutup pada saat konser.

Dalam waktu 2 jam, lagu sumbang, nada meleset dan suara terseret mulai padu. MOMENTUM mulai terbentuk dan bergulir. Momentum latihan gabungan, merupakan kelanjutan Momentum yang tercipta dan membesar pada persiapan konser Paskah.

Proses kelahiran Konser Paskah juga sebuah momentum tersendiri. Ketidaksetujuan beberapa pihak, pengembangan konsep konser dan drama, penentuan tanggal konser, PS yang terlibat, penjadwalan latihan merupakan serangkaian momentum yang terjadi.

Momentum positif yang terjadi harus digali dan dijaga supaya terus bergulir makin besar dan cepat agar optimal pada hari H nanti.

Hukum mekanika klasik Newton F=m.a menyatakan bahwa besar gaya (F) dihasilkan oleh massa (m) dan akselerasi (a).

Hukum klasik Newton menyatakan bahwa semua yang diam (lembam) cenderung untuk diam. Sedangkan semua yang bergerak cenderung untuk (tetap) bergerak.

Mendorong mobil mogok dari kondisi berhenti terasa jauh lebih berat dibandingkan dengan mendorong mobil yang sudah dalam kondisi berjalan.

Ada akselerasi namun ada deselerasi. Ada percepatan tentu juga ada perlambatan. Kalau akselerasi sifatnya positif maka deselerasi sifatnya negatif.

Efek dari momentum negatif ini luar biasa berat. Butuh energi super ekstra untuk menahan dan membalikkan perlambatan.

Sesudah selesai mengambil kuliah dalam kelas selama 1 tahun dengan nilai hampir semua A, saya mengerem aktivitas dan tidak segera lanjut untuk mengerjakan proposal disertasi.

Momentum yang sudah tercipta hilang. Percepatan berubah menjadi perlambatan. Padahal massa (m) yang terefleksikan dalam pengerjaan proposal disertasi super berat, lebih berat dibandingkan menyelesaikan kuliah di kelas. Saya harus mampu meyakinkan 3 Profesor dan 5 Doktor agar proposal lolos sesuai batas standard mereka.

Saya tidak cukup punya energi untuk membangun momentum baru. Kesibukan kerja dengan sedikit waktu tersisa jauh dari cukup untuk membangun momentum baru menyusun proposal disertasi.

Pembalikan momentum itu berujud sebuah bom Neutron, selembar surat cinta datang dari UI bahwa waktu saya selesai dalam mengerjakan proposal semester itu. Jika tidak kelar maka saya harus good bye dari UI. Status Drop out menanti.

Kondisi ini memaksa saya mau tidak mau harus menciptakan momentum baru. "Trade off" atau pengorbanannya luar biasa. BERHENTI KERJA selama 7 bulan hanya khusus untuk bisa lolos ujian Proposal 1 dan 2!.

Sekolah, kerja, karir, kegiatan sosial semua dipengaruhi oleh hukum alam ini. Kesuksesan anda tergantung bagaimana MENCIPTAKAN dan MENJAGA momentum terus bergulir sampai garis finish.

Tidak perlu Tsunami untuk merobohkan rumah, namun retakan kecil yang terus menerus akibat aktivitas rayap akan mampu melakukannya. It's all about momentum.

***

"Dad, kok akhir2 ini aku perhatikan kamu ngak pernah baca jurnal lagi? kerjanya main fb mulu!", mama Thesa menyapa, tepatnya menyindir kali ya.

"Santai dikit lah ma, mosok manteng terus baca jurnal. Lama2 jadi kutu jurnal betulan gua ma", seperti biasa jurus ngeles gaya Sempora aku keluarkan.

"Katanya semua tergantung momentum? lha kuliah dah molor dari waktu seharusnya gitu masa masih mau pakai bumbu santai2. Jaga momentum dong!", lanjut mama Thesa bak peluru Sniper menemukan momentum sempurna.

Jadi, kalau di rumah ada penjaga momentum kuliah seperti ini aku harus nangis atau terimakasih???

EU4U
BSD070116


JANGAN KULIAH DOKTOR #Hal35

Catatan Harian Eko Utomo

JANGAN KULIAH DOKTOR #Hal35

"Kuliah doktor dimana?", tanya seorang kawan.
"UI bro", jawabku singkat.
"Wah keren! ambil jurusan apa?", kejarnya lebih lanjut.
"Strategic Management", kataku padat.
"Wah hebat dong, keren banget tuh. Gue juga mau tuh", ujarnya penuh semangat.
"JANGAN", aku menyelak keras.

Pendidikan doktoral merupakan pendidikan formal paripurna. Tidak ada pendidikan yang namanya Strata Empat (S4), mentok pada Strata Tiga (S3).

Semua yang serba paling tinggi, dipersepsikan orang sebagai yang paling wah, paling keren dan layak untuk dikejar dengan cara apapun.

Sejak saya kuliah S3 hampir 4 tahun yang lalu, banyak sanak saudara dan handai taulan menyatakan ketertarikan untuk melakukan hal yang sama, kuliah doktoral, S3. Jawaban saya sederhana: JANGAN KULIAH DOKTOR!

Sebagai seorang Coach dan People Developer, saya sebenarnya paling semangat mendorong orang untuk maju, terlebih untuk mengambil pendidikan yang lebih tinggi. Sudah cukup banyak lulusan SMA yang saya dorong untuk mengambil S1. Cukup banyak pula lulusan S1 yang saya dorong untuk mengambil S2. Namun saya memiliki banyak alasan untuk bilang JANGAN kuliah doktor.

Jangan #1
Kuliah S3 untuk mendapatkan GENGSI. Anda (maaf) cacat logika. Gengsi itu adalah mereka yang turun dari mobil Mercy keluaran terbaru. Gengsi itu tinggal di Apartemen Sudut di bilangan Kuningan. Gengsi itu jadi CEO perusahaan besar dengan gaji yang cukup beli mobil baru tiap bulan. Menjadi doktor tidak akan memberikan gengsi.

Jangan #2
Kuliah S3 untuk menjadi PINTAR. Ini kesalahan yang sama dengan yang saya alami. Kenyataannya sesudah menjalani hampir 4 tahun dan membaca lebih dari 1000 jurnal ilmiah saya kok merasa semakin BODOH! Semakin banyak yang tidak saya ketahui. Sangat beda saat saya lulus S2, merasa paling hebat dan paling pintar kayak "lelananging jagad". Menjadi doktor menambah pertanyaan dalam pikiran anda, bukan sebaliknya.

Jangan #3
Kuliah S3 untuk menjadi KAYA. Apalagi yang ini. Untuk menjadi kaya jadilah pengusaha, bukan ambil S3. Bill Gate & Steve Job lulus S1pun tidak, tapi buruhnya ratusan Doktor. Ambil S3 malah bisa jadi MISKIN. Uang SPP 40 jt/semester. Paling cepat lulus 6 semester. 240 jt hanya SPP belum yang lain2. Coba buat jualan sate, dengan margin 20% perbulan maka uang anda jadi 1.7 M dalam 3 tahun. Alih2 makin kaya, anda jadi miskin bukan?.

Jangan #4
Kuliah S3 untuk mengejar KARIR. Anda dosen? kalau jawabannya bukan dan masih mengambil S3 untuk karir maka pantas anda bukan dosen. Kenapa? yang bodoh memang tidak layak jadi dosen. Menjadi doktor harus merumuskan teori baru!. Dan kudu orisinal saudara2. Belum harus publikasi di jurnal Internasional kelas satu. Merumuskan teori jelas beda dengan membangun kompetensi dan kontribusi untuk promosi (baca #hal34).

Jangan #5
Kuliah S3 untuk mengisi WAKTU. Ini alasan paling epic ngawurnya. Ramuan antara naif dan ignorance jadi satu. Khususnya buat mereka yang sibuk kerja namun sok punya kemampuan menyisihkan waktu. Kuliah S3 akan mengambil semua waktumu, bahkan waktu untuk buang hajat akan dirampas olehnya. Suka baca buku? Berapa banyak dalam 1 bulan? 2 buku? Itu cemen. Sekarang bayangkan, anda harus baca minimal 1 jurnal satu hari sepanjang hidupmu sebagai mahasiswa doctoral. Ssst kata banyak orang, baca jurnal ilmiah lebih alot dari baca 1 buku umum lho. Masih bilang punya banyak waktu?

Kalau anda tipe yang super keras kepala, mirip kayak badak bercula tiga. Sudah dibilang JANGAN masih main tabrak sila kontak saya. Siapa tahu saya bisa bantu singkirkan virus mau jadi doktor di pikiran anda. Atau saya akan sharing sedikit pengalaman agar anda tidak gila saat mengambil S3.

Masih nekat?
Yowis karepmu, aku ra tanggung jawab.

EU4U
BSD040216

BUSINESS NEXT LEVEL #Hal29

Catatan Harian Eko Utomo

BUSINESS NEXT LEVEL #Hal29

Tahu apa yang menyebalkan kuliah S3 dibandingkan dengan kuliah S1 dan S2?
Kuliah S3, dosen pembimbing (promotor) cenderung cuek bebek level dewa.

Saat mengerjakan skripsi atau thesis pada S1 atau S2, saya "menghilang" 2 minggu sudah dicari-cari dosen pembimbing. Sedangkan saat mengerjakan disertasi S3, saya menghilang 7 bulanpun boro2 telepon, disms pun tidak.

Saat muncul kembali sesudah 7 bulan hilang, yang terucap dari promotor adalah "kemana aja pak Eko, kok baru kelihatan lagi". Hanya itu, tidak ada embel2 lain. Kalau ngikutin gaya alay mungkin saya akan bilang "tampar aku Prof, tampar aku", teriakan jengkel sebagai ekspresi sudah bayar mahal2 SPP kok dicuekin.

Masalahnya kesalahan ada ditangan saya saudara-saudara. Menulis disertasi S3 ada PADA LEVEL yang JAUH BERBEDA dibandingkan saat saya mengerjakan skripsi (tugas akhir) atau thesis (business plan) di level sebelumnya.

Bagaimana mungkin mau merumuskan teori yang tiada duanya di dunia (kalau ada duanya artinya plagiat) dengan spirit harus dikejar-kejar untuk melakukan riset dan bimbingan. Beginilah nasib mahasiswa S3 Strategic Management UI. Sudah masuknya susah, bayar mahal, keluarnya lebih susah lagi.

Saya tidak hendak berlama-lama curcol suka duka kuliah S3. Next time saya akan membuat catatan tentang ini. Saya hanya mau menggaris bawahi bahwa ada LEVEL yang BERBEDA saat kuliah S3 dibandingkan dengan kuliah di level sebelumnya. Mirip dengan bisnis, ada level yang BERBEDA dimasing-masing tingkatannya.

Seperti yang pernah saya tuliskan pada catatan sebelumnya, saya sering ketemu dengan pengusaha yang bisnisnya mentok pada level tertentu. Seakan-akan ada langit2 pada dinding kamar. Membatasi ruang bawah dan ruang atas.

Untuk mengembangkan bisnisnya, pengusaha harus memiliki dua strategi utama. Yaitu Exploration Strategy (opportunity seeking behavior) dan Exploitation Strategy (advantage seeking behavior) seperti yang diteliti oleh Ireland dkk., (2003).

Exploration strategy membekali pengusaha untuk menemukan peluang2 usaha dan melakukan inovasi untuk bersaing. Exploitation strategy memampukan pengusaha untuk membangun organisasi yang efektif dan efisien dalam mendorong pertumbuhan perusahaan.

Apa yang terjadi di lapangan? Seorang client yang berbisnis manufacturing peralatan baja bingung bisnisnya mentok pada angka 200 M/tahun. Client yang lain mengeluh usaha telecommunication support yang dibangunnya selama 3 tahun terakhir mentok diangka pendapatan 50 M/tahun.

Sebagai pengusaha muda yang membangun bisnis dari nol, jelas Exploration Strategy mereka tidak perlu diragukan. Mereka cakap dalam melihat dan mengeksekusi peluang sehingga bisnis berkembang.

Mereka juga cukup baik dalam Exploitation Strategy. Perusahaan yang mereka dirikan memiliki bangunan organisasi yang cukup rapi. Client yang berbisnis manufacturing peralatan baja memiliki perusahaan dengan karyawan 100 orang dalam payrol mereka.

Namun kenapa bisnis nabrak langit-langit? Kenapa bisnis begitu sulit untuk naik ke level berikutnya?

Bisnis yang berkembang besar semakin membutuhkan Exploitation Strategy yang solid. Disisi lain Exploration Strategi juga tetap harus dikembangkan. Kedua-duanya dibutuhkan organisasi. Makin besar organisasi, makin tinggi pula strategi.

Yang sering tidak diketahui (atau tidak disadari), penguasaan Exploitation Strategy yang makin tinggi akan MELEMAHKAN kemampuan Exploration Strategy (Siren dkk., 2012). Semakin kuat Exploitation semakin lemah Exploration. Pengusaha juga manusia, ada kelemahannya ada batasnya.

Pilihan ada dua, tumbuh lebih tinggi dengan MENDELEGASIKAN urusan Exploitation Strategy pada orang lain, atau menggenggam sendiri kekuasaan namun bisnis tidak berkembang.

***
Dalam diskusi di kantor muncul pertanyaan, "bagaimana dengan Bill Gate dan Steve Jobs pak? Bukankah Microsoft dan Apple tumbuh besar luarbiasa? Dengan demikian mereka berdua memiliki Exploration dan Exploitation Strategy yang tinggi semua dong?".

"Kenal Steve Balmer ngak? tahu Tim Cook", tanyaku pada yang bertanya.

"Ngak tahu pak. Siapa mereka?", jawabnya polos.

"Mereka adalah tangan kanan Bill Gates dan Steve Jobs. Merekalah yang mengeksekusi Explotation Strategy", terangku lebih lanjut.

"Kenal Robin ngak?", tanyaku berlagak serius.

"Ngak tahu juga pak, CEO dimana tuh", jawabnya sesudah mengerutkan muka dan memeras otak saat mencari jawaban.

"Robin itu CEO di Gotham city. Robin merupakan Exploitation Strategynya Batman", sahutku sambil cengengesan.

Sahabatku pengusaha,
Pilihannya ada pada anda.
Siapkah untuk berbagi peran dan posisi?

EU4U
BSD290116

18 Januari 2016

Mau, Mampu dan Max #Hal12

Catatan Harian Eko Utomo
Mau, Mampu dan Max #Hal12

"Prof, berapa jurnal ilmiah yang harus kami baca agar kami cukup punya pondasi pengetahuan sebagai mahasiswa doctoral?", pertanyaan naif campur ingin tahu dari mahasiswa baru program S3 Strategic Management UI.

"Minimal 1000 jurnal", Prof. Serbatau menjawab santai sambil tersenyum simpul.

Ruang kelas hening. Tiada satupun dari 10 mahasiswa baru yang angkat suara. Sepertinya semua sedang mengkalkulasikan dan berusaha memampatkan 1000 jurnal di jadwal harian mereka sebagai bos perusahaan yang penuh tiada jeda.

Dalam keheningan muncul cletukan "Artinya selama 3 tahun ke depan kita harus baca 1 journal 1 hari dong?".

"Waduuuuh, buku yang beli bulan lalu aja belum habis dibaca. Ini satu jurnal ilmiah sehari???".

***
"Thesa mau latihan Taekwondo?", tanyaku kepada Thesa karena kapok jadi korban tendangannya sesaat keluar dari Cinema nonton aksi Donnie Yen di IP Men.

"Ngak mau, latihan gym aja", jawab Thesa tak tergoda.

"Atau mau latihan dance joged-joged?", aku tawarkan pilihan lain untuk menambah aktivitas Thesa.

"Ngak daddy, Thesa gym dan renang aja", jawab Thesa si batu karang.

Dalam pergaulan sehari-hari, saya sering mendengar orang tua dengan bangga bercerita seribu satu kegiatan yang mereka sediakan bagi anak mereka.

Anak2 mereka pagi siang sibuk sekolah dan sorenya les akademis, kursus renang, latihan piano, les Mandarin, belajar menari, kursus menggambar, latihan balet dan lain-lain.

Tidak jarang juga saya sering mendengar orang tua mengeluh karena anaknya kemudian tidak "passionate" dalam kursus bahkan seringkali pusing karena sang anak "mogok" kursus.

Malcolm Gladwell dalam buku "Outliers" menyatakan bahwa untuk bisa berprestasi di level dunia maka seseorang harus berlatih 10.000 jam!.

Bill Gate menghabiskan waktu siang dan malam selama bertahun-tahun belajar bahasa pemrograman dengan komputer yang masih sangat langka pada awal 70an.

Roger Federer maestro tenis dunia mulai berlatih sejak usia 6 tahun selama 6-8 jam perhari selama bertahun-tahun.

Keduanya mengumpulkan lebih dari 10.000 jam latihan pada saat kondisi membutuhkannya. Bill Gate kemudian mampu memproduksi windows yang menguasai dunia. Federer menjadi laki-laki yang mengoleksi 17 Gelar Grandslam. Rekor dunia.

Bagaimana mereka melakukannya? Mengerjakan satu hal terus menerus selama bertahun-tahun? tanpa bosan?

Kuncinya sederhana, "mau". Didalam "mau" ada passion bahkan naik ke level yang lebih tinggi "hobby".

"Do what you like". Kerjakan apa yang dimaui. Mengerjakan sesuatu yang disukai memberikan energi ekstra untuk mengulang dan mengulang dan mengulang.

"Alah bisa karena biasa". Proses pengulangan yang intens yang membentuk "kemampuan". Kemampuan aka ketrampilan adalah proses pengulangan. Federer melakukan latihan servis ratusan kali setiap hari.

Menjadi Maximal, menjadi juara dunia, menjadi diri kita yang terbaik dalam karunia talenta adalah hasil final dari Mau dan Mampu.

Prof. Harrison ahli pengembangan manusia kelas dunia mengatakan "carilah apa yang anakmu sukai, yang mereka maui". Sediakan ruang dan dukungan untuk mereka. Lakukan eksplorasi untuk menemukan talenta yang terbenam bukan kemauan orang tua. Karena busur hanya mengarahkan, anak panah yang terbang ke sasaran.

***
"Pa, kok nonton tenis melulu sih?", nada suara naik satu oktaf.

"Ini, tenis grandslam ma. Mumpung Roger Federer masih main belum pensiun", jawabku mencoba menurunkan nada.

"Trus mana komitmen lulus tepat waktu? hari ini sudah baca jurnal ilmiah belum?", desaknya.

"Tenang ma, entar aku rapel di weekend", jawabku sekenanya.

EU4U
BSD120116

MAU SEKOLAH LAGI? #Hal8

Catatan Harian Eko Utomo
MAU SEKOLAH LAGI? #Hal8

Sering orang datang ke saya, minta saran tentang keinginannya untuk kuliah lagi, ambil master. Sebagian besar jurusan bisnis dengan gelar Magister Management.

Bagi orang yang belum begitu saya kenal saya eksplorasi aktivitasnya di dalam pekerjaan. Seberapa aktif dia belajar dan bekerja dalam fungsi organisasinya, seberapa aktif dia belajar dan juga bekerja dalam bidang non fungsinya.

Bagi mereka yang sudah dalam posisi manager, proses eksplorasi lebih mudah dilakukan. Jika ybs. adalah seorang HR manager, seberapa baik dia menguasai seluk beluk pekerjaan di fungsi HR. Inisiatif HR apa yang sudah dia kembangkan yang berkaitan dengan sistem dan program HR.

Jika eksplorasi ini mendapatkan penilaian yang baik, maka penelusuran naik ke level berikutnya. Seberapa sering dia terlibat dalam aktivitas bisnis di fungsi lain. Seberapa banyak dia terlibat di fungsi sales marketing, operasi atau finance?

Kalau kedua proses eksplorasi di atas mendapatkan fakta yang kurang memuaskan, maka saran saya tunda dulu keinginan untuk kuliah master bisnis.

Saran saya, setahun dua tahun ke depan yang bersangkutan saya dorong untuk mengambil sekolah bisnis lain yang lebih baik daripada sekolah bisnis Prasetya Mulya sekalipun! di mana? di PEKERJAAN dalam perusahaanya.

Pekerjaan kita sehari-hari adalah sekolah yang luarbiasa. Kenapa luarbiasa? karena merupakan tempat dimana kita bisa belajar banyak dan DIBAYAR. Coba cari universitas mana yang memberikan bayaran sama kita! ngak bakalan ketemu.

Masalahnya banyak pekerja yang tidak menyadarinya. Mereka membuat dikotomi antara sekolah dan bekerja. Kalau sekolah ya belajar, demikian juga di ujung yang lain, kalau kerja ya kerja.

Padahal bekerja dan belajar ada di ujung yang sama. Kedua2anya bisa dilakukan dalam waktu yang sama. Kalau selama ini hal itu tidak terjadi dalam hidup kita, ya mungkin karena kacamata kuda yang kita pakai. Jadi lepaskanlah kacamata kuda itu.

Proses pembelajaran di pekerjaan jauh lebih mendalam dibandingkan dengan belajar di bangku kelas. Dalam pekerjaan kita tidak hanya berteori, kita juga mengerjakannya, merasakan emosinya.

Kita tersenyum lebar dan jantung berdesir kencang saat berhasil. Kita tertunduk lesu dan sering sakit hati saat bertemu masalah dan kegagalan. Kognitif, afektif dan kinestetik semua terlibat disana. Jauh lebih mendalam dibandingkan dengan studi kasus yang cuma menggali aspek kognitif.

Jadi, saat kita kemudian mengambil S2, maka proses pembelajaran yang kita lakukan adalah tinggal mengkalibrasi ulang pengalaman yang kita miliki dibandingkan dengan teori2 yang diajarkan dan tentu saja pengalaman2 rekan kuliah.

Proses pembelajaran intensif di pekerjaan juga membantu kita untuk tahu pasti teori apa yang kita cari yang tidak kita temukan di pekerjaan sehari-hari. Kuliah lagi adalah proses "kulakan" bahan untuk kembali "jualan".

Jadi, masih mau ambil S2?

EU4U
080116