28 Agustus 2015

Sidang Proposal 2

Story Behind the Scene.

Ruangan sidang doctoral itu sepi dan menegangkan. Semua wajah serius dan tegang. Hmmm semua serius sih iya, cuma kalau yang tegang sebenarnya cuma satu, yg lagi berdiri dan disidang (baca dibombardir pertanyaan). Raut mukanya tegang merefleksikan pikirannya yg kebat kebit.

"Pak Eko!" ketua sidang merangkap dosen penguji berseru.
"Siap bu" jawab mahasiswa dengan tenang (ditenang-tenangkan sebenarnya).
"Draft kuesioner anda ini masih kacau, face validity anda rendah sekali", dosen lulusan Inggris yg sudah jadi dosen di 4 negara memandang tajam.
"Anda ingat ngak apa itu face validity?", si ibu bertanya lebih dalam karena lihat muka yg diuji "blank".
"Maaf bu, saya lupa. Hanya ingat istilahnya dulu saat ibu mengajar 3 tahun lalu", jawab mahasiswa tenang, polos dan naif.

Sontak ruangan sidang ramai dengan tertawa dosen penguji dan dosen pembimbing.
"Wah..... ibu ketua sidang bagaimana sih sebagai dosen pengajar? Mahasiswanya sampai lupa? Dapat A lagi dulu nilainya, benar kan pak Eko?", selak Prof. Martani penguji paling senior yg mantan Dirjen itu sambil bergurau.

"Betul Prof., dapat A. Salah saya yg pendek ingatan", aku sang mahasiswa polos.
Dan seisi ruangan hangat oleh senyuman.
"Pak Eko terlalu banyak pikiran Prof.", kata dosen ketua sidang membela mahasiswanya sekaligus membela nilai yg diberikan.

11 Juli

KRITIK & PENGHINAAN dalam perspektif komunikasi leadership

Ada 3 jenis cara komunikasi: Pasif, Asertif dan Agresif. Cara Pasif adalah cara "ngalahan", digebukin dan "dibully" ya diam saja. Istilah lain yang cocok menggambarkan cara komunikasi ini adalah sansak bag.

Ketemu anjing Herder atau Bulldog yang mengeram dan menyalak mau menggigit dan menyerang adalah gambaran yang tepat untuk cara komunikasi Agresif. Si Agresif sangat senang untuk mendominasi dan selalu menciptakan kesempatan untuk menunjukkan dominasinya, at all cost.

Asertif adalah Mawar merah, kita tahu indah namun "watch out" para pemetik, ada duri yang akan menyengat kalau dikau menganggunya. Cara Asertif adalah jalan hidup Cat 797 Dump Truck, sang godzila pengangkut 400 ton sekali jalan yang produktif dan disegani.

Apa pembeda ASERTIF dan AGRESIF? Saat ketemu dengan sesuatu yang tidak sepaham sepemikiran, sang Asertif tidak segan untuk menyerang PERILAKU, PERBUATAN atau KEBIJAKAN itu. Lain lagi sang Agresif, alih2 fokus pada perilaku, Agresif menyerang pada PRIBADI orang yang berseberangan.
Agresif: "Dasar Jokowi turunan China antek Komunis dan Kapitalis pelanggar HAM!"
Asertif: "Saya tidak suka dan tidak setuju KPK dilemahkan dan Buwas dibiarkan berkeliaran. Memunculkan kembali ayat pasal penghinaan Presiden membawa kembali ke orde diktator ala Orba".
Pasif: ................................................................

Menyerang tindakan/perbuatan/kebijakan, dalam artikulasi lain dinamakan KRITIK. Menyerang pribadi orang yang tidak sepaham dinamakan PENGHINAAN. Asertif menerima perbedaan: agree for not agree. Agresif hanya kenal satu nada, semua harus sama menurut dia.

Cara komunikasi Pasif akan memancing orang lain untuk menjadi Pasif juga atau malah Agresif. Cara komunikasi Agresif membuat orang lain jadi Pasif atau Agresif. Asertif membuat orang jadi Asertif dan jalan win win menjadi peluang yang bisa diwujudkan.

Mau jadi KRITIKUS atau Pembully yang jago MENGHINA, itu pilihan anda.

EU4U
Met Pagi
Agustus 2015

Penggusuran Kampung Pulo: Perspektif Diametrikal

Layar TV nasional hari ini penuh dengan gambar bentrok antara aparat pemerintah (khususnya Satpol pp) dengan warga Kampung Pulo.

Masalahnya jelas, warga Kampung Pulo yang sudah menempati bantaran kali Ciliwung selama puluhan tahun ini tidak mau pindah ke rusun yang sudah disediakan oleh Pemprov DKI. Warga maunya selain difasilitasi rusun juga diberikan uang ganti rugi karena sudah puluhan tahun menduduki tanah negara.

Saya tidak sedang berkehendak menyatakan siapa yang benar dan siapa yang salah antara Pemprov DKI vs Warga Kampung Pulo, namun mengangkat fenomena menarik dalam kasus ini.

Sosial media dan internet sejak Pilpres tahun lalu, terbukti menjadi alat pertempuran dan propaganda yang efektif bagi political marketing. Sisi buruknya massa (yang terhubung denga sosmed) sangat mudah sekali untuk digosok dan diprovokasi. Sisi positifnya masyarakat memiliki akses yang sama cepatnya untuk meneriakkan suara hati tanpa harus lewat pak polisi atau politisi.

"Dasar ngak sadar diri, sudah menjadi penghuni liar puluhan tahun saat diminta pindah masih minta uang ganti rugi!"
"Masih mending disediakan rusun, harusnya dituntut dan dihukum karena menduduki tanah negara"
"Tangkap mereka yang menyerang aparat dan melakukan perusakan backhoe"
-Kutipan suara sosmed pro pemprov-

"Pemerintah ingkar janji, katanya akan diperlakukan manusiawi, nyatanya digusur semena-mena"
"Warga Kampung Pulo bukan warga liar, mereka bayar listrik dan PBB juga. Seharusnya dibantu sertifikasi tanahnya, bukan malah dianiaya"
"Ternyata rakyak kecil hanya jadi tumbal kampanye. Saat tidak dibutuhkan digusur-gusur"
-Kutipan suara sosmed pro warga Kampung Pulo-

Dua jenis suara yang berbeda, bagai bumi dan langit, bagi kutub Selatan dan kutub Utara untuk sebuah hal yang sama!

Jadi apa yang sebenarnya membuat dua pihak menjadi sedemikian diametrikal (berlawanan) untuk hal yang sama?

Stimulus dari luar (dalam kasus ini penggusuran Kampung Pulo) sebelum direspon oleh sebuah pribadi diseleksi (difilter) terlebih dahulu oleh Pengetahuan, Kepercayaan, Budaya, Intensi, Sifat dan Nilai2 yang dimilikinya. Sehingga apapun stimulus yang masuk akan termanipulasi sedemikian rupa sehingga menyesuaikan dengan filter yang dimiliki.

You are what you think
You see what you want to see
Your perception is your projection (yPyP)

Ada kemiripan dengan konsep "Law of Attraction". Kalau LoA semesta akan mendukung/memenuhi apa yang kita inginkan, maka konsep yPyP memperlihatkan bahwa value kita menuntun apa yang akan kita lihat dan persepsi seperti apa yang akan terbangun.

Penggusuran Kampung Pulo merupakan sebuah peristiwa yang nirvalue, hanyalah sebuah peristiwa, kita (para filter) yang kemudian memberikannya makna. Makna yang mana? ya terserah (filter) anda.

Kalau anda melihat sekeliling hitam, gelap dan menakutkan, jangan2 anda salah pilih filter? Cepat2 ganti filter jangan sampai terlanjur mabok dan keblinger

Happy Thursday
EU4U
Agustus 2015

LGBTI, Problematika dan Tuntutan Eksistensi. Perspektif hubungan pribadi dan menyikapi pernikahan sejenis



“Love but not agree - mengasihimu namun tidak menyetujuimu”

Eko Utomo

 

Sebuah Titik Tolak Baru
Pada sebuah percakapan WhatsApp (WA) Group:
Kawan 1: “Pernah berhubungan langsung dengan Gay & Lesbian ngak?”.
Kawan 2: “Pernah, ada yang teman kerja dan ada yang teman beraktivitas diluar kerja”
Kawan 3: “Bagaimana caranya tahu kalau mereka itu Gay atau Lesbian?”
Kawan 2: “Kalau sering bergaul maka kita bisa merasakan dan melihat ciri2nya”.
Kawan 1: “Bagaimana bersikap terhadap mereka?”
Kawan 2: “Yang rekan kerja? Ya biasa saja, yang penting sesuai aturan perusahaan”.

Diskusi tentang Lesbian Gay Bisexual Transgender & Intersex (LGBTI) menjadi topik yang hangat yang banyak diperbincangkan di forum-forum dan media sosial termasuk media sosial tertutup semacam WA group. Fenomena ini dipicu oleh disahkannya Gay Marriage (GM) oleh Supreme Court Amerika (yang juga disetujui oleh Presiden Obama) pada tanggal 26 Juni 2015.

Didunia tanpa batas seperti sekarang ini, dentuman di Amerika segera terdengar gaungnya di Indonesia yang berjarak puluhan ribu kilometer. Banyak profile picture (PP) pengguna sosial  media berubah dengan warna pelangi, simbol dukungan terhadap pernikahan LGBTI. Pro dan kontra terjadi, termasuk pada kalangan orang Kristen Indonesia yang goyah pandangannya dan kebingungan cara menyikapinya. 

Dalam Alkitab, Yesus menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa pernikahan itu dilakukan oleh laki-laki dan perempuan (Matius 19:4-6), pernikahan tidak dilakukan oleh laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan dan juga bukan manusia dengan binatang atau tumbuhan. Tujuan dari pernikahan laki-laki dengan perempuan ini agar manusia bisa berkembang dan memenuhi bumi (Kej 1:28). Nah, kalau sesama jenis dan beda spesies jelas tujuan berkembang biak tidak akan terpenuhi bukan?

Hak Asasi & Tuntutan
Bagaimana dengan dengan Hak Asasi Manusia? Bukankah LGBTI juga manusia yang juga memiliki hak yang sama untuk melakukan pernikahan di gereja? Tuntutan ini ibaratnya menemukan anak tersesat dikeramaian dan mengklaim bahwa anak itu hak dia sebagai penemunya. Lembaga perkawinan didirikan sebagai standar moral manusia oleh Tuhan. Untuk apa gay harus melakukan pernikahan di gereja? Agar memenuhi standard moral? Bukankah menjadi seorang gay sudah dengan sendirinya tidak masuk dalam standard moral kekristenan? Dalam hal ini kita tidak berbicara tentang benar dan salah secara relativisme namun pemenuhan sebuah standar aturan dalam kekristenan yang sudah ditetapkan dan dituliskan sebagai pedoman menurut Alkitab.
Jadi jelaslah bahwa GM bukan merupakan masalah hak asasi namun merupakan masalah moral. Allah jelas menyatakan bahwa hubungan laki-laki dengan laki-laki masuk dalam katagori kemesuman yang dibenci olehNya (Roma 1: 26-32). Masuk ke lembaga pernikahan dengan restu pemerintah dunia “monggo” silahkan, itupun jika pemerintah menyetujui. Namun pernikahan sejenis dan minta restu ke gereja jelas sebuah kekacauan berpikir. Kalau standar manusia yang dipakai, tidak akan lama lagi kawin dengan binatang, saudara sekandung dan juga kawin dengan anak dibawah umur juga minta untuk disahkan. Heran? Jangan! silahkan google. Tuntuan atau tindakan ini sudah banyak terjadi diberbagai tempat di Bumi yang makin tua ini. Gereja berdiri dengan seperangkat nilai-nilai, aturan dan pedoman. Gereja yang mengingkari nilai-nilai dan pondasinya jelas bukan gereja lagi.
Bukannya orang Kristen diajarkan untuk tidak menghakimi? (Matius 7:1-2). Benar bahwa kita tidak diperbolehkan menghakimi orang lain dengan alat ukur kita sendiri. Kita juga tidak boleh menghakimi orang lain hanya dari penampilannya namun menghakimi orang harus dengan benar (adil). Maksudnya? Dengan  menggunakan alat pengukuran yang sudah diberikan oleh Tuhan (Roma 1:26-32), karena yang berhak menjadi hakim Tuhan dan bukan manusia. Maka alat penghakiman yang dipakai adalah alat penghakiman sang hakim. Kalau alat ukur yang sudah diberikan tidak kita pakai dan dicampakkan, lebih berintegritas kalau menjadi orang ateis saja daripada mengaku Kristen tadi tidak hidup menurut nilai-nilai ajaran Kristen.
Sikap Pribadi
Menjadi LGBTI adalah sebuah pilihan mungkin beberapa menyebutnya sebagai naluri, tentu dengan segala konsekuensinya. Namun melakukan pernikahan sejenis jelas sebuah pilihan, GM yang disahkan oleh pemerintah (Amerika misalnya) mungkin (seolah-olah) sebuah pemenuhan kebutuhan akan hak warga, namun GM yang minta disahkan oleh gereja jelas sebuah kekacauan logika berfikir.
Apakah tidak menyetujui GM kemudian membenci mereka secara pribadi? Tentu saja tidak. Mengasihi dan mendoakan mereka tanpa harus menyetujui dan membenarkan adalah sebuah sikap yang bisa diambil. Yesus turun dari kemuliaan surga untuk orang berdosa, Yesus jelas mengasihi orang berdosa. Namun Yesus juga dengan jelas menunjukkan bahwa Ia datang untuk mengampuni dan menunjukkan jalan yang benar bagi mereka yang tersesat. Seperti yang diucapkanNya pada perempuan yang berbuat zinah:
“Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”, (Yohanes 8:11)

Disclaimer: tulisan ini adalah perspektif pribadi penulis. Tidak mewakili pihak manapun, sambil menunggu dan mendorong GKI menyatakan sikap secara resmi tentang hal ini.

Jakarta, 19 Agustus 2015

STRATEGI MINTA NAIK GAJI

"Percayailah aku untuk menaikkan gajiku"

Beberapa waktu ini ketemu sebuah fenomena agak janggal namun juga umum terjadi: seorang karyawan minta kepada bosnya untuk dinaikkan gajinya (secara langsung atau tidak langsung). Mintanya agak ngotot karena ybs merasa sangat layak untuk naik gaji. Atau bahkan mungkin anda sendiri pernah melakukannya?

Muara dari peristiwa ini sederhana, yaitu keinginan naik gaji. Yang tidak sederhana adalah proses yang terjadi dan kesalahan yang bersangkutan dalam mewujudkannya.

Kesalahan yang terjadi (juga paling umum), yang bersangkutan datang ke bos dan bilang "Bos, saya minta naik gaji. Percayai saya bahwa saya layak untuk mendapatkan kenaikan gaji!". Tindakan ini tidak hanya dilakukan sekali, namun diulang-ulang bak mantra yang diharuskan diucapkan sekian kali baru manjur.

Kesalahan utama adalah kesalahpahaman tentang kepercayaan aka "Trust". Karena sesungguhnya kepercayaan itu merupakan "PEMBERIAN" dan bukan karena "PERMINTAAN". Jadi saat seseorang bilang "Percayai Saya" maka yang terjadi adalah sebuah cacat pikir.

Trus, bagaimana bisa kita mendapatkan kepercayaan? jawabannya sederhana, kita mesti menimbulkan kesan (perceived) bahwa kita memang bisa dipercaya. Kenapa kesan? ya karena kalau urusan tentang penilaian untuk dan oleh manusia tidak akan pernah bisa obyektif 100%, semuanya tergantung persepsi yang menilai.

Menurut ahli psikologi manajemen Roger Mayer, untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari seseorang, kita harus mampu menimbulkan kesan yang positif pada tiga hal utama: Ability, Benevolence, Integrity. Dipersepsikan mampu "Ability", tulus dalam melakukan pekerjaan (tidak egois dan punya kepentingan tertentu/Benevolence), serta memiliki Intergritas (kesamaan tindakan dan perkataan).

Jadi anda harus membangun persepsi bahwa anda MAMPU, TULUS dan BERINTEGRITAS untuk mendapatkan (diberikan) kepercayaan dari bos. Nah, dari sanalah sumber kenaikan gaji, bukan karena kita yang minta.

Kalau kita sudah MTI (Mampu Tulus Integritas) tapi gaji ngak naik2 gimana dong? Ada beberapa skenario:

- Anda GR (gede rumongso/over confidence) bahwa anda sudah MTI padahal belum. Coba minta pendapat orang lain yang netral apakah anda sudah MTI atau belum. Atau tanya langsung ke atasan apakah anda sudah MTI khususnya bagian M. Bagi anda yang bekerja di perusahaan yang sudah ada sistem penilaian kinerja yang bagus, bagian ini seharusnya sudah menjadi rutinitas.

- Bisa saja karena posisi dan tempat kerja memang tidak memungkinkan atau tidak ada budget untuk kenaikan gaji anda.

- Atasan anda tutup mata dan tidak obyektif terhadap anda. Yakin tidak atasan tidak obyektif? kalau yakin atasan tidak obyektif dan anda sudah MTI silahkan cari atasan baru atau perusahaan baru yang bisa melihat MTI anda.

Happy Thursday
EU4U
Agustus 2015

"NGONO YO NGONO NING OJO NGONO"

"NGONO YO NGONO NING OJO NGONO"
Semakin tinggi maka semakin luas yang dilihat.

Pada Sebuah Meeting
"Menurut saya tidak bisa pak!" kata sang General Manager.
"Kenapa tidak bisa?" tanya CEO
"Karena kalau itu kita lakukan kita tidak mengikuti kaidah Finance yang benar" jawab General Manager dengan penuh keyakinan.
"Kamu itu General Manager atau Finance Manager sih?" kata CEO sambil tersenyum simpul.
"Ngono yo ngono ning ojo ngono", sambung pak CEO.
"Maksud bapak?" sang GM berkata penuh tanya.
"Maksudnya, walau kamu punya background lama kerja di Finance, saat jadi GM janganlah seluruh aspek bisnis kamu ukur dengan perspektif Finance semata. Pertambangkan aspek perspektif fungsi yang lain juga", jawab CEO dengan bijak.

$$$
Sebagian besar karyawan mendaki karir mereka dengan jalan serupa. Masuk pada sebuah fungsi (Sales Marketing, Operation, HR, Finance & Accounting) dan kemudian mendaki keatas pada fungsi yang sama selama puluhan tahun sampai kemudian tiba pada posisi yang mengharuskan dia melihat dan mengawasi seluruh fungsi seperti posisi General Manager atau CEO (Chief Executive Officer).

Pola karir menanjak keatas membentuk sang karyawan menjadi karyawan yang super spesialis dalam arti menguasai seluk beluk fungsi itu namun juga membentuk yang bersangkutan menjadi sangat kaku. Kenapa kaku? karena puluhan tahun ya hanya fungsi itu yang dia kenal dan dia ketahui. Kebenaran adalah milik perspektif fungsinya sendiri.

Karyawan yang tumbuh pada satu fungsi semata, pada saat menjadi GM atau CEO maka keputusan yang dibuat menjadi berat kepada fungsi yang dia kuasai. "Logic base on knowledge", logika keputusan yang diambil berdasarkan pengetahuan yang dikuasainya selama ini, pada perspektif fungsi bisnis yang digelutinya berpuluh tahun, sama seperti yang dinyatakan oleh General Manager diatas.

Semua anak sungai menuju ke sungai induk. Semua sungai besar akan bermuara di laut. Seluruh posisi dalam organisasi bisnis ya pada akhirnya menuju keatas pada posisi CEO. Laut menerima semua air yang masuk kedalamnya, tidak peduli sungai itu datang dari gunung atau dari bukit. Posisi yang tinggi seperti GM atau CEO mengharuskan mereka "mengerti" dan "tahu" tentang semua fungsi. Karena bisnis adalah sinergi dari fungsi2 yang ada didalamnya.

Jadi bagaimana kita yang sudah terlanjur terjebak pada satu fungsi dan ingin mendaki ke posisi atas? jawabannya sederhana, ya cobalah fungsi2 yang berbeda dalam pekerjaan anda? anda mengernyitkan dahi? banyak orang yang pernah dan sedang melakukannya saat ini.

Kalau langkah pindah fungsi pada saat ini kurang memungkinkan, bergaulah sebanyak mungkin dengan orang-orang pada fungsi yang lain. Dengan demikian anda terekspose bahwa ada standar "kebenaran" lain tentang bagaimana menjalankan bisnis diluar standar anda.

Kalau berpindah2 fungsi bagaimana dengan kompetensinya? Secara sederhana saya bagi karir menjadi 4 tingkat/posisi: pertama Staff, kedua Manager, ketiga GM dan kempat Direktur.

Kompetensi utama yang harus dimiliki seorang staff adalah kompetensi Fungsional. Kalau kerja sebagai Sales Staff ya harus jagoan penjualan, kalau Operation Staff ya harus jago dalam hal operasi dst. Posisi Manager sesuai dengan namanya maka kompetensi utamanya adalah Management, hebat pada salah fungsi adalah bonus. Posisi GM mengharuskan selain management juga harus memiliki kompetensi Leadership, karena seorang GM harus memimpin anggota tim yang banyak untuk mengeksekusi pekerjaan dan mencapai target yang ditetapkan. Posisi Direktur kompetensi utamanya Bisnis dan Strategi. Kompetensi ini diperlukan agar perusahaan yang dipimpin mampu bersaing dengan kompetitor.

Perusahaan yang bagus dalam mengembangkan talenta organisasi akan melakukan rotasi pekerjaan (job rotation) kepada para managernya. Kenapa pada posisi ini? kembali ke paragraf diatas, posisi manager kompetensi utamanya sudah bergeser dari kompetensi fungsi ke kompetensi managerial. Sehingga para manager bisa dirotasi dan bisa tetap berkontribusi sepanjang kemampuan managerial mereka dikembangkan.

Lha kalau perusahaan gue sekarang tidak ada program rotasi pekerjaan bagaimana? ya jangan bergantung pada program. Secara proaktif mintalah untuk dirotasi. Atau kalau ada posisi lain yang lagi kosong angkat tangan anda tinggi-tinggi.

Ribet amat sih? tidak akan ribet kalau sudah sampai pada saatnya nanti. CEO yang sukses adalah CEO yang mengerti dan bisa mensinergikan seluruh fungsi, bukan Manager Finance yang berbaju CEO.

Selamat bereksplorasi dan berotasi
EU4U
Happy Friday
Agustus 2015

"EMPATI", Warisan Terbesar Buat Anak

Perubahan Paradigma
Tahun 90an, buku Daniel Goleman tentang Emotional Intelligence (EI) mendekonstruksi pola pikir banyak orang tentang faktor utama pendukung kesuksesan anak manusia. Goleman menemukan bahwa EI berperan 70% dalam kesuksesan, jauh lebih besar dibandingkan IQ.

Bertahun-tahun sebelumnya pola pikir utama khususnya orang tua adalah bahwa IQ (Intelleligence Quotient) merupakan kartu As buat anaknya. Pola pikir ini membuat orang tua fokus agar anaknya juara. Dengan segala macam cara dengan segala sumberdaya, whatever it takes. Dari mulai iming2 hadiah jika juara, sampai les ini itu dari sore sampai malam hari.

Konsep baru tentang EI memberikan perspektif baru. Walaupun munculnya konsep baru tidak berarti bahwa orang tua mengerti dan paham tentang nilai dan perilaku apa yang harus dikembangkan untuk anaknya.


Komponen Utama EI
Komponen utama IQ tentu saja kemampuan kognitif (pikiran) seseorang. Besar kecilnya gelas (IQ) yang diturunkan secara genetis ditambah dengan pendidikan yg diterima berpengaruh besar pada perkembangan kognitifnya.

Sementara EI dari namanya adalah intelektualitas dalam mengelola emosi (afektif) pada diri seseorang. Kemampuan EI seseorang akan sangat berpengaruh pada saat yang bersangkutan berhubungan dengan pihak lain (inter personal).

Kesuksesan di Bumi jelas kesuksesan yang diukur pada ruang ramai kota besar bukan pucuk sunyi Himalaya. Ruang ramai kota besar penuh dengan personal2 lain yang berperan membantu dan atau menggagalkan kesuksesan. Dari sanalah peran EI muncul.

Trus komponen utamanya apa? menurut banyak pakar, kemampuan berEMPATI merupakan kemampuan komponen utama dalam EI. Pribadi yang mampu berempati merupakan pribadi yang bisa "menempatkan dirinya pada perspektif dan emosi" orang lain pada saat menerima stimulus tertentu. Kemampuan berempati membuat pribadi ini mudah bergaul dan diterima banyak kalangan. Why? karena pribadi berempati dianggap sebagai bagian dari mereka.


Menyemai Benih Di Usia Muda

"Bro, aku bisa menilai orang tua mendidik anaknya tentang Empati sekejab mata" kataku keseorang kawan.

"Yang benar mas? Bagaimana caranya" tanya sang kawan penasaran.

"Sederhana, pada saat aku, istriku dan anak2 bertemu mereka dan anak2 mereka. Disitulah moment penilaian terjujur terjadi" jawabku singkat.

"How?" tanya sang kawan tambah penasaran.

"Dua anakku berkebutuhan khusus (ABK), perilaku mereka tentu saja berbeda dengan anak2 normal. Response anak2 teman akan menunjukkan bagaimana pendidikan empati berlangsung dikeluarga itu" jelasku.

"Maksudnya?" sang kawan minta tambah penjelasan.

"Anak yang dididik empati akan memberikan response penerimaan tentang perbedaan, kalaupun bertanya tentang ekspresi anakku yang berbeda dan tidak umum sifatnya eksploratif pingin tahu. Anak yang tidak atau kurang dididik empati cenderung "tidak menerima" kehadiran anak ABK dan cenderung menunjukkan emosi ketidak sukaanya" aku tambahkan detail.

"Mumpung masih kecil, mendidik anak2 agar punya perilaku empati jauh lebih mudah dibandingkan dengan nanti saat sudah jadi Manager dan kena komplain serta tidak dipromosi karena terkenal sebagai pribadi yang tidak berhati dan tak berempati" kataku menutup percakapan.

Nah, kita sebagai orang tua mau mulai mendidik empati kepada anak2 mulai kapan?
Jawabannya ditangan anda para orang tua.

EU4U
Agustus 2015