27 April 2010

"Is it negotiable?"

"Apakah angka ini bisa dinegosiasikan?" tanya recruiter.
"Maaf, itu adalah angka minimal yang sudah saya tetapkan" jawab yang diinterview tegas.

***

Siang hari itu saya dan dua orang rekan kerja sedang diskusi santai tentang proses seleksi yang baru saja dilakukan oleh rekan kerja kami, sebut saja Anya. Beberapa hari yang lalu Anya mendapatkan panggilan untuk mengikuti suatu proses interview oleh suatu perusahaan. Sesudah proses interview dan proses-proses lainnya selesai, profile Anya dinyatakan cocok dengan kebutuhan perusahaan tersebut.

"Jadi itulah yang terjadi dengan negosiasi saya kemarin" kata Anya kepada kami berdua.

"Bentar bu, jadi Anda mengajukan angka tertentu dan kemudian ditanya apakah angka tersebut bisa dinegosiasikan?" Ito yang sedari tadi diam menyimak mencoba mengklarifikasikan apa yang terjadi antara Anya dan perusahaan yang hendak merekrutnya yang diwakili oleh HR Manager mereka.

"Betul, itulah yang saya jawab".

"Anya, kamu tadi bilang bahwa peristiwa kemarin itu merupakan peristiwa negosiasi gaji antara kamu dan perusahaan yang hendak mengambil kamu, namun kalau mendengarkan ceritamu, kok aku tidak melihat dimana letak proses negosiasi berlangsung ya", kali ini aku bertanya sambil mencoba untuk memberikan sudut pandang lain ke Anya.

"Maksud pak Eko?" alis Anya terangkat.

"Cerita kamu itu mirip dengan proses kita belanja di Mall. Tidak ada negosiasi disana. Yang ada adalah harga pas bandrol. Kalau yang namanya negosiasi tentu saja ada yang naik dan ada yang turun." aku mencoba menjelaskan definisi negosiasi versiku.

"Hmmm, bener juga sih pak. Trus baiknya harus gimana pak?"

"Anya, pihak disebrang meja merupakan manusia juga seperti kita. Dengan demikian mereka pasti ingin juga merasakan suatu kemenangan dalam suatu proses negosiasi. Kalau belum belum kita sudah bilang bahwa angka yang kita ajukan adalah angka mati, tentu saja mereka jadi keki, meskipun angka yang diajukan masuk didalam budget mereka" jawabku. "Sebelum proses negosiasi gaji dilakukan, akan lebih baik kamu tentukan berapa sebenarnya angka yang kamu ingin dapatkan atau istilah kerennya BATNA*. Dari situ baru kamu naikkan sekian persen untuk memberikan kesempatan kepada pihak seberang meja menawar".

"Untung ruginya buat mereka dan kita apa pak?", Ito melontarkan pertanyaan manis.

"Misalkan saja BATNA kamu adalah 10 jt. Let say, kamu naikkan 20% dari angka BATNA sehingga angka yang didapatkan adalah 12 jt. Kita lihat skenario yang mungkin terjadi:
Skenario 1: Disetujui pihak sana karena masuk dalam budget mereka, Anya tetap untung karena dapat lebih tinggi dari BATNA dia. Pihak sana juga senang karena dapat karyawan sesuai budget.
Skenario 2: Ditawar 10 juta. Anya minta 11 juta dan akhirnya ketemu di angka 10,5. Anya senang karena yang didapatkan tetap lebih tinggi dari Batna dan pihak sebrang meja juga senang karena (merasa) menang dan dapat menurunkan permintaan.

"Wah, bener juga tuh pak. Dan sepertinya konsep ini bisa juga dipakai dalam banyak konteks yang lain", sahut Anya dengan gembira. "Saya akan pakai di kesempatan berikutnya pak".

***

"Hallo, ada apa ma?" tanyaku sesaat sesudah mengangkat telepone dari mama Tesa.

"Pa, biaya sekolah Tesa & Jason, plus terapi dan guru bantu total 3 jt. Kirim sekarang ya pa, aku mau bayar ke sekolah hari ini", suara mama Tesa dari sebrang terdengar merdu khas suara (mantan) penyanyi.

"Ma, aku transfer 2,5 jt saja ya?"

"Papa ini gimana sih? biaya sekolah kok ditawar kayak beli ikan dipasar saja!" gerutuan dari sebrang tetap terdengar merdu ditelinga.

BSD City
Hampir tengah malam
24 April 2010
EU 4 U

BATNA: Best Alternative to Negotiate Agreement. Alternative yang bisa kita terima.

"Tesa......tadi menang ngak sayang?" (arti sebuah kemenangan bagi Tesa)

Pagi yang cerah di hari Rabu 21 April 2010. "Papa..........!" suara nyaring nan bening menyambutku saat turun dari lantai 2. Di depan TV seorang gadis kecil cantik sedang membentangkan tangannya sambil memegolkan (memiringkan) pantatnya kekiri dan kekanan. Kebaya modern berwarna putih dan rok corak batik yang agak terlalu besar membalut tubuhnya. Sambil tersenyum centil sirambut keriting kecil ini menatapku sambil memamerkan baju barunya.

"Wah.....cantik sekali nih anak papa!, baju apa nih?"

"Kartini pa....."

"Siapa yang beliin sayang?"

"Bli mama ITC". Aku tahu maksud Tesa, bahwa baju barunya adalah baju untuk memperingati hari Kartini dan dibelikan mamanya di ITC BSD tadi malam.

"Tesa akan ikut lomba di sekolah hari ini pa" mama Tesa tahu-tahu sudah berdiri dibelakang memberikan laporan tentang kegiatan Tesa hari ini.

"Tesa sini sayang..........,papa yakin Tesa nanti pasti menang!" sambil memeluk dan mencium pipinya aku memberikan semangat kepada bidadari kecil ini. Dan Tesa melanjutkan senyum simpulnya sambil mematut matut dirinya di depan kaca.

"Tesa.....ayo berangkat! ajak adik Jason", kata mamanya saat jam menunjukkan pukul 6.30 saat mobil Piso Siwi warna biru itu meninggalkan rumah. Jendela mobil terbuka dan terlihat Tesa melambaikan tangannya. Tesa penuh dengan semangat untuk mengikuti lomba baju di hari Kartini.

***

"Hallo papa............", suara nyaring dan paling merdu sejagad itu kembali menyambutku malam jam 7.30 saat aku pulang kantor.

"Hallo Tesa sayang.........cium dulu dong", aku pegang pipinya dan "ngoook" ciuman sayang di kedua pipi Tesa mendarat dengan sempurna.

"Bagaimana lombanya ma" tanyaku kepada mama Tesa yang berdiri dibelakang pintu.

"Payah........., Tesa nunggu berjam-jam ngak dipanggil2. Padahal dia semangat banget untuk naik ke pentas dan megal megol disana." jawab mama Tesa.

"Trus...akhirnya dipanggil ngak?"

"Dipanggil sih, Tesa saat dipanggung percaya dirinya luarbiasa. Persis kayak kamu pa, PD dan sedikit narsis kalau lagi workshop". sambung mamanya.

"Menang ngak?" tanyaku penasaran.

"Itu dia, jurinya kurang fair nih........ngak dapat apa-apa" katanya mamanya dengan nada kecewa.

Sementara itu anak yang sedang dibicarakan malah asik menonton PlayHouse Disney di TV. Pocoyo dan teman temannya menyihir Tesa dan membawanya ke dunia yang penuh dengan warna ceria.

"Tesa........." aku memanggil sang gadis kecil. Tesa menoleh sambil memamerkan senyum manisnya. "Tesa tadi di sekolah lombanya menang ngak?" tanyaku sambil menatap mata beningnya.

"Lomba Kartini!" Tesa bangkit dari duduknya dan kembali bergaya bak pragawati megal megol didepan kami sambil tersenyum lebar. Dari cerah senyumnya dan binar matanya aku tahu bahwa dia menikmati lomba pagi tadi.

"Tuh ma.........bagi Tesa kemenangan adalah lomba itu sendiri dan bukan pialanya!" bisikku kepada sang mama.

BSD City
22 April 2010
Sehabis main tennis malam hari
EU for U

Potret Gayus disekeliling kita......atau malah kita?

Ibuku adalah ODD, istilah ini memang bukan merupakan istilah populer dimedia masa seperti istilah ODH (Orang Dengan HIVAIDS). ODD yang dalam bahasa Inggris merupakan lawan dari even berarti ganjil. Ibu memang menjadi agak ganjil dari sudut pandang orang awam yang sehat karena setiap hari musti suntik insulin pagi dan sore. Tiap pagi Thesa si cucu sulung dengan suara kurang lebih 110 desibel pasti berteriak "Eyang sedang suntiiiiiiiiiik!" saat melihat eyangnya swalayan menancapkan jarum ke paha kanannya untuk memasukkan insulin kedalam tubuhnya. Yup, sejak 10 tahun yang lalu eyang Thesa menjadi ODD, Orang Dengan Diabetes.

Sebulan yang lalu eyang datang ke Jakarta. Tujuan utamanya untuk berobat mata dan juga ketemu cucu cucu tersayang. Diabetes membuat eyang susah beraktivitas dan juga menurun fungsi penglihatannya. Saat di Klaten, pergi ke Rumah Sakit tanpa didampingi anaknya menjadi sangat melelahkan buat beliau apalagi sesudah bapak dipanggil menghadap kanjeng Gusti.Terlebih saat keponakan yang selama ini rajin membantu dan mengantar juga pindah ke Jakarta.

Insulin cadangan yang dibawa dari Klaten kemarin sore habis. Saat ibu memberitahukan keaku tadi pagi aku sempat tanya ke beliau berapa harga insulin yang biasa dipakainya.

"Gratis Le, rumah sakitnya ngasih gratis karena ditanggung sama Askes*"

"Ya sudah bu, nanti malam pulang dari kantor aku tak mampir ke apotik beli insulin, gak usah minta dari rumah sakit negeri dan pakai Askes" kataku kemarin sore dengan percaya diri tinggi untuk mampu membelikan insulin tanpa harus menggunakan Askes. Lha berobat laser mata ke eye center aja mampu membiayai kok masak beli insulin musti pakai Askes, desisku dalam hati setengah sombong.

"Novomix flexpen jarum dan uang lain totalnya 2,2 jt pak!" si mbak apoter menjawab pertanyaanku saat aku bertanya berapa harga insulin yang dibutuhkan ibu.

"What the hell is it" teriakku dalam hati tentunya. "Makasih mbak, coba saya cek dulu ke ibu saya. Nanti saya telepon kesini kalau mau beli" kataku bergegas pulang. Aje gile...., kalau sampai 2,2 juta mending pergi ke Puskesmas minta rujukan dan berobat ke RS Negri dan dapat insulin gratis menggunakan Askes.

***

Pagi ini, ibu, istriku, Thesa dan aku pergi ke Puskesmas untuk mendapatkan surat rujukan sebagai syarat berobat dengan tanggungan Askes. Lokasi Puskesmas sudah diintip dari Google Map dan letaknya di dekat kantor kecamatan Serpong. Dari BSD ke arah Puspitek dan kemudian belok kanan dan posisinya disebelah kanan jalan.

Kami datang agak siang, malah menjadi berkah karena Puskesmas sudah sepi (atau memang sepi?). Eyang dan Thesa kami tinggalkan di mobil sementara aku dan istriku yang akan mengurus surat rujukan. Puskesmas ini memang agak aneh, loketnya sempit dan rendah. Kami tidak tahu alasannya kenapa kok loket pendaftaran dibuat sempit dan harus membungkukkan badan untuk melihat mahluk apa gerangan yang ada didalam loket.

"Pagi bu"

Hampir berbarengan aku dan istriku memberikan salam kepada dua orang ibu-ibu setengah baya yang tampak dari lubang loket. Baju coklat khas PNS, dengan jilbab warna putih menutup kepala mereka dan badan besar kelebihan gizi.

"Perlu apa?" kata ibu yang disebelah kanan dengan ketus. Weladalah, kalau ngak salah PNS dan puskesmas itu pelayan masyarakat kok galak ya? Sudah ngomongnya ngak bersahabat masih ditambah dengan muka ditekuk. Mungkin kami berdua dianggap mahluk pengganggu keasyikan mereka merumpi.

"Ini bu, kami minta surat rujukan untuk berobat ke rumah sakit" kata istriku sambil menyerahkan kartu Askes ibu.

"Ada kartu biru ngak?"

"Kartu biru apa ya bu?"

"Kalau ngak ada kartu biru ngak bisa minta surat rujukan disini"

"Tunggu sebentar, coba saya tanyakan ke ibu saya dulu", kataku menyela pembicaraan antara sang ibu penjaga loket pendaftaran puskesmas dengan istriku yang suhunya aku rasakan meningkat tajam. Dengan bergegas aku kembali ke mobil untuk bertanya ke ibu yang menunggu dengan Thesa disana.

"Ma, ngak perlu pakai kartu biru. Kata ibu, di Klaten, di Bandung atau di Blora cukup dengan menggunakan Kartu Askes!" kataku agak heran karena dari raut muka istriku kelihatannya urusan pendaftaran sudah selesai.

"Sudah beres........"

"Apanya yang sudah beres ma? ibu ngak punya kartu biru katanya".

"Kamu kayak ngak tahu aja pa, waktu papa pergi ke mobil tadi, aku pura-pura tanya ke dia biayanya berapa? dan dia minta 3 rb. Ya udah aku kasih aja 3 ribu dan urusan beres!".

"Kata ibu selama ini kalau minta surut rujukan ngak perlu bayar sama sekali lho" kataku heran.

"Yailah pa........namanya Markus** kan ada dimana2, termasuk di Puskesmas ini. Yang penting mintanya ngak 3 juta biarin aja pa".

***

"Pa, minta uang buat bayar parkir!" mama Thesa sang sopir menodongkan tangannya ke aku saat kami keluar dari basement Teraskota usai makan sore disana.

"Ngak ada uang receh nih, pakai duitmu dong"

"Aku juga ngak ada, uang berapa aja deh....buruan"

Akhirnya aku berikan uang biru dengan tulisan 50.000 untuk bayar parkir 3500. Sesudah menerima kembalian dari petugas parkir dengan santai mama Thesa memasukkan uang kembalian kedalam dompetnya.

"Lho, kok masuk kedompetmu?" kataku heran.

"Alah.............segitu doang!" jawabnya kalem tanpa menoleh.

"Waaah, Markusnya emang dekat nih....bankan jadi teman tidur tiap malam!" desisku mati kutu.

BSD City,
17 April 2010
EU 4 U
Selalu berpengharapan Indonesia menjadi lebih baik!

Siapa bilang susah buat NETWORKING?

"Hallo pak, saya Tomi dari Underground Engineering"

Kalimat sederhana itu menjadi senjata ampuh yang dipergunakan Tomi pada fase 3 bulan pertama keberadaanya di perusahaan pertambangan Freeport Indonesia. Sebagai karyawan baru, di tempat yang sangat jauuuuuh sekali dari kota dimana dia tinggal bahkan harus dilalui dengan menyeberangi ribuan pulau plus 5 jam penerbangan pastilah dirinnya akan kesepian, bosen, sendu, melankolis dan seribu satu emosi negative lainnya plus kerja yang amburadul kalau ngak segera mengoleksi teman dan membuat network sesegera mungkin.

Kalimat "Hallo, nama saya Tomi" sambil mengulurkan tangan dan kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan2 yang lain dengan cepat menambah jumlah teman yang dia miliki, ibarat sembarangan add orang di fb jaman sekarang. Berhubung Tomi sering pindah kerja maka action plan ini sering diulangnya di setiap tempat kerja yang baru sejak 14 tahun yang lalu!

Tempat favorite Tomi untuk menciptakan networking yang pertama adalah kantin perusahaan atau warung yang banyak didatangi karyawan perusahaan dimana dia bekerja. Begitu sudah mendapatkan makanan, matanya segera mencari meja yang sudah terisi tapi masih ada bangku yang kosong. Kalimat pembukanya sedikit dimodifikasi.

"Maaf, apakah saya bisa join disini?......nama saya Tomi"
Target dua orang kenalan baru setiap sesi makan siang segera membuat Tomi segera menjadi manusia "lama" diperusahaan baru karena sudah lebih dari 40 orang yang dia kenal!.

Tempat favorite yang kedua adalah lapangan olahraga. Hobi main bulutangkis dan tennis sangat efektif untuk dimanfaatkan memperluas network dan pertemanan. Pada saat main bulutangkis atau tennis maka pada saat itu juga bertambah 3 teman baru! satu partner dan dua orang sparring partner.

Tempat favorite yang ketiga adalah di bus karyawan. Setiap pagi, paling tidak ada satu orang kenalan baru yaitu teman duduk sebangku. Perbincangan selama sejam dalam perjalanan menuju tempat kerja dengan sendirinya menambah jumlah teman dalam daftar friendlist Tomi.

Tempat favorite yang keempat adalah di ruangan Training. Hobi sebagai fasilitator memberikan kesempatan bagi Tomi untuk mendapatkan kesempatan dan berkenalan dengan para peserta. Tomi selalu menargetkan untuk dapat menghapal nama peserta Training sebelum lunch break. Tempat favorite ini bahkan jauh lebih efisien karena sekali workshop maka ada lebih 20 orang masuk kedalam friendlistnya.

***
Kantin Freeport tahun 2000 jam makan malam.

"Maaf bisa join disini?" Tomi menyapa keseorang pemuda yang sedang duduk makan sendirian di pojok kantin. Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan dan hanya memberikan ijin dengan bahasa senyuman.

"Nama saya Tomi, saya karyawan baru di departmen Engineering" kata Tomi dengan kalimat pembuka yang sudah dia lakukan ratusan kali. Kali ini pemuda itu kembali hanya tersenyum sambil meneruskan makan steak yang ada dipiringnya.

"Kalau boleh tahu, mas namanya siapa?" Tomi agak sedikit gregetan karena sejak tadi hanya mendapatkan balasan senyum dari orang yang hendak dia ajak kenalan.

"Kerja di departemen mana mas?" Tomi menambahkan pertanyaan walaupun yang bersangkutan belum menjawab pertanyaan tentang nama yang bersangkutan.

"Mas Tomi lupa ya?, 2 minggu yang lalu kita kan sudah kenalan disini!" jawaban singkat dari pemuda itu langsung membuat muka Tomi merah menahan malu.

BSD City
16 April 2010
EU 4 U

Membaca Wajah!


Bukan Jakarta namanya kalau tidak macet! tinggal di Jakarta dan berniat menikmati jalan yang lancar hanya bisa didapatkan saat liburan sekolah dan lebaran. Padahal pada saat lebaran kita dengan penuh semangat memindahkan kemacetan ke kota2 lain diluar Jakarta termasuk kota kecil yang tidak pernah macet. Lihat saja jalan Yogya - Solo saat lebaran tak ubah tol kota Jakarta dijam 6 sore!.

Dan karena lebih seringnya macet daripada lancar maka kemampuan reframing* mutlak diperlukan! Bagaimana ngak mutlak diperlukan kalau setiap hari yang namanya macet rata2 3 jam. Kalikan dengan 20 hari kerja perbulan, kalikan 12 bulan pertahun, kalikan 30 tahun masa kerja! sama dengan 21600 jam setara dengan 900 hari atau hampir 3 tahun! Apa ngak buang-buang hidup percuma kalau 3 tahun kita lalui dengan sesuatu hal yang tidak berguna?

Berhubung belum mampu plus tidak mau pakai supir, maka opsi ke kantor sambil baca buku dicoret. Terus terang sampai saat ini belum memiliki kompetensi nyetir sambil baca buku, (Kompetensi naik sepeda sambil baca buku sih sudah dimiliki dan akan diceritakan di note yang lain) dengan demikian maka aktivis di jalan ini diisi oleh berbagai macam ragam kegiatan lain. Aktivitas yang paling digemari adalah mendengarkan radio motivasi Smart FM dan favorite berikutnya adalah visualisasi rencana dan tindakan apa yang akan dikerjakan dikantor.

Pagi ini ada aktivitas menarik yang didapatkan ditengah-tengah kemacetan yaitu mengamati wajah mereka yang duduk dibelakang supir. Kaca spion tengah dengan jelas sekali bisa menampilkan wajah supir dibelakang kita. Wajah pertama menunjukkan seorang laki laki dengan wajah coklat tua, rambut pendek ikal. Kumis tipis nangkring diatas bibirnya. Alisnya hampir bertaut dan membentuk kerutan. Wajah yang "tidak enak dipandang" itu sesuai banget dengan karakternya yang tidak sabaran di tengah kemacetan dengan sering-sering memencet klakson. Kalau jadi boss dikantor sangat mungkin sekali bos yang diktator dan maunya semua pekerjaan beres dengan sendirinya!

Wajah kedua adalah wanita karir, nyetir sendiri ke kantor. Make up rapi jali, tapi lagi-lagi mukanya kesaput mendung. Matanya tajam menatap kedepan tanpa senyum bahkan cenderung sinis. Wajahnya yang cukup menarik jadi hilang menariknya karena wajah itu seolah olah memancarkan aura gelap. Ibu Manager tipe ini di kantor mungkin tipe yang cerewet dan tidak mau dibantah oleh anakbuah. Kalau bicara sama anak buah suka menjatuhkan dan pelit memberikan pujian!

"Rekan rekan Smart listener, penelitian menunjukkan bahwa Mind and Body are integrated. Pikiran dan tubuh kita terintegrasi. Apa yang ada dalam pikiran kita terekspresikan ke tubuh kita demikian sebaliknya. Jadi coba lihat diri Anda di kaca, perhatikan wajah Anda! dan lebih penting perhatikan mata Anda. Kalau Anda temukan wajah dan mata yang gelap dan kecewa demikian juga yang dalam pikiran atau hati Anda!" suara motivator Smart Happines Arvan Pradiansyah dari radio menyela ke telinga ditengah klakson kemacetan. "Untuk membantu agar pikiran dan hati kita bahagia maka buatlah wajah dan tubuh kita mendukung pikiran akan bahagia. Tegakkan badan dan angkat wajah serta berikan senyum yang termanis ke orang-orang sekeliling kita. Biarkan mereka merasakan kebahagian Anda dan mendapatkan enegi untuk kebahagiaan mereka sendiri".

***

Malam hari jam 8 di rumah. "Kenapa ma, kok wajahnya kayak bulan disaput mendung gitu?" kataku sambil mencopot sepatu di teras rumah. "Sudahlah..... kalau digodain orang dijalan anggap aja sebagai berkat karena kamu masih dianggap anak perawan he he he" godaku mencoba memecah mendung diwajahnya.

"Pa, butuh tambahan subsidi nih!" katanya sesudah jeda hening satu menit.

"Emang ada perlu apa?"

"Teman-temanku minta ditraktir semua nih"

"Wah, salah pasang wajah nih, kalau mau merayu untuk minta tambahan subsidi harusnya pasang wajah yang menggoda bukannya bulan tersaput mega dong, biar yang dirayu mau nambahin subsidi he he he".

BSD City pagi hari
16 April 2010
EU for U

*Reframing: memandang dari sudut pandang lain (biasanya yang lebih positif)

Ode Untuk Sahabat


Timika 2005
Pagi itu suasana di kantor Nemangkawi Mining Institute(NMI)* ribut, semua orang dengan penuh perhatian mendengarkan kronologi kejadian dari salah seorang staff pengajar yang ditodong pisau saat membawa mobil ke mess karyawan di dekat Bandara Moses Kilangin. Bagaimana tidak ribut kalau pagi hari tadi mobil dinas Head of NMI Landcruiser LWB dengan nomer lambung 229 dirampas 2 orang Papua yang setengah mabuk dan dibawa lari masuk ke daerah Kwamki Lama!

Laporan tentang kejadian pagi tadi segera diteruskan ke security Freeport dan juga ke pihak kepolisian. Saksi mata yang melihat peristiwa yang terjadi termasuk juga security yang menjaga di gerbang mess karyawan dengan jelas menyatakan bahwa mobil 229 dibawa kabur ke Kwamki Lama namun pihak security dan kepolisian masih juga belum masuk ke Kwamki Lama untuk mencari mobil yang hilang. Dari sudut pandang sosiologis hal ini bisa dimengerti. Kwamki Lama bagi pihak security dan kepolisian merupakan daerah ”angker!”.

Kwamki Lama merupakan daerah yang dibuka khusus untuk merelokasi penduduk ”High Land” yang berada di dalam kawasan tambang di dekat Tembagapura. Perang antar suku sering terjadi disini bahkan hampir dibilang rutin dengan seratus satu penyebab. Tahun 2005 ini banyak terjadi gesekan antara penduduk Kwamki Lama dengan Freeport. Sangat bisa dimengerti bahwa security Freeport dan kepolisian sangat hati hati sekali untuk masuk kekawasan itu ”hanya” untuk mencari sebuah LWB 229.

Jam menunjukkan pukul 9 pagi. ”Mas, ikut aku!” aku sedikit kaget dengan ajakan itu.

Sesosok perempuan Papua dengan potongan rambut pendek dan badan besar yang memenuhi pintu depan ruangan kantorku sambil melambaikan tangan mengajak pergi. Ajakan seperti ini bukan merupakan ajakan yang pertama kalinya. Setiap kali ada meeting dan hal2 yang penting yang menyangkut keberadaan NMI dengan 1000 lebih apprentice (pemagang), pasti perempuan satu ini akan mengajak aku untuk naik mobil dan berputar2 kesana kemari sambil sambil meeting dan diskusi didalam mobil!

Perempuan Papua yang aku kenal sejak 3 tahun yang lalu di highland ini sudah menjadi sahabat, teman berantem dan boss sejak interview untuk mengisi posisi Scholarship Section Head. Aku masih ingat bagaimana proses interview berlangsung di sore yang dingin, berkabut dan gerimis dilantai 2 kantor scholarship Tembagapura.

”Pak Eko, silahkan duduk” suara yang nyaring dan tegas menyapaku saat itu, dan kami tenggelam dalam diskusi tentang pekerjaan, keberadaan Freeport, orang Papua dan seribu satu hal lainnya.

”Boleh juga dia ini!” desisku dalam hati pada saat itu.

Walaupun belum pernah kenal secara langsung, aku serba sedikit sudah tahu profile Trifena Tinal. Anak Papua juara 1 sekolah YPJ Tembagapura yang mampu kuliah di New Orleans State University di jurusan yang jarang (atau belum pernah!) diambil oleh anak Papua lain yang sedang sekolah disana, jurusan Teknik Sipil!. Jurusan momok karena syarat untuk lulus sama sulitnya dengan syarat untuk masuk. Dan sore hari itu aku tahu bahwa aku menemukan orang yang sama ”idealisnya” dalam memandang dimensi keberadaan perusahaan raksasa dipucuk gunung Jayawijaya dan juga bagaimana pandangan kami tentang manusia Papua dan keberadaan mereka dibumi Papua yang kaya ini.

”Mau kemana Trif?” tanyaku sedikit heran.

Disaat sedang krisis penyanderaan mobil kok malah diajak pergi. ”Nanti kalau security dan polisi cari informasi bagaimana?” tanyaku lebih lanjut. Sebagai orang pertama dan kedua di NMI semestinya kami harus tinggal di kantor dalam kondisi seperti ini. ”Aku ingin cek ke lokasi kejadian, cepat....!” jawabnya keras. Kalau dia sudah menjawab dengan intonasi seperti itu aku hafal itu adalah intonasi yang menyatakan bahwa dia tidak ingin di bantah. Segera kami berdua naik ke mobil pribadinya, kijang kapsul dan meluncur menuju ke lokasi kejadian.

”Trif, ini mau kemana?” seruku bingung, dipertigaan sesudah pos pemeriksaan, mobil bukannya mengarah ke mess karyawan tapi malah belok kanan menuju ke Kwamki Lama!

”Trif, kondisi lagi genting banget nih...........apa kita ngak nunggu security atau polisi yang menyelesaikan masalah ini!” seruku setengah kecut setengah tegang.

Memang bukan pertama kalinya aku pergi ke Kwanki Lama, sudah beberapa kali Trifena mengajakku masuk kesana ketemu dengan beberapa saudaranya atau hanya main2 saja. Tapi kondisi sedang genting seperti sekarang ini membuat adrenalinku naik tinggi! Kami masuk kandang macan!

”Tenang mas, aku kenal mereka. Mereka adalah masyarakatku dan juga saudaraku!” kata perempuan Papua itu yakin.

Yang bisa aku lakukan hanyalah menahan nafas dan berdoa. Sesudah bertanya dalam bahasa Amungme kebeberapa orang di pinggir jalan akhirnya kami berdua masuk ke tengah-tengah perkampungan. Satu putaran, dan mobil putih LWB 229 tidak terlihat. Dua putaran, juga masih tidak terlihat. Dan diputaran ketiga di tengah jalan kampung kami melihat mobil itu dari arah depan berpapasan dengan kami. Segera Trifena memalangkan mobil ditengah badan jalan! Dan mobil LWB 229 berhenti didepan kami.

Yang terjadi kemudian adalah perang mulut dan debat keras dalam bahasa Amungme yang tidak aku mengerti. Perang itu terjadi berjam-jam dari pagi sampai dengan siang hari ditingkahi oleh provokasi seorang Papua setengah mabuk yang naik motor dengan gas yang ditarik sekencang2nya! Makin siang makin penuh area itu karena berbondong2 seluruh penghuni Kwamki Lama datang ketempat itu. Mungkin ada 200 orang Papua disana. Dan aku merupakan satu2nya Oyame (non Papua) yang ada ditempat itu. Aku hanya bisa berdiri menyaksikan Trifena beradu mulut dengan penyandera mobil dan kawan kawanya. Tegang campur takut karena seolah-olah kami masuk area terlarang. Bagaimana tidak takut kalau pikiranku penuh dengan bayangan tiba2 ratusan orang ini marah dan melampiaskannya kepada Trifena dan kepada aku kawannya.

Jam menunjukkan pukul 12 siang, drama itu berakhir. ”Mas Eko bawa kijang dan aku bawa 229” Trifena melemparkan kunci mobil kepadaku.

Drama 3 jam berakhir dengan ”kemenangan” gemilang ditangan singa kampung Waa**. Dan kami berdua keluar dari Kwamki Lama dengan disaksikan ratusan penduduk yang berdiri memenuhi pinggir jalan. Saat laporan itu masuk ke security dan polisi mereka hanya ternganga mendengarkan kenekatan dan keberanian boss NMI ini.

Malam harinya aku dan Trifena merayakan kembalinya 229 ke restoran Nyiur Melambai.

”Trif, gila banget loe........apa yang membuat kamu yakin bahwa kita pagi tadi akan berhasil?” tanyaku kagum.

Aku dan Trifena berloe gue karena dia pernah setahun sekolah di SMA terfavorite di kota Bandung sebelum melanjutkan high schoolnya di Amrik.

”Mas, aku adalah orang Papua juga seperti mereka. Aku dengarkan dan perhatian apa yang menjadi jeritan hati mereka. Sepanjang kita bisa tegas dan tulus, mereka pasti ada dipihak kita!”.

Jawaban yang tidak aku ragukan sedikitpun. Bagaimana aku harus meragukan orang yang tidak pernah peduli berapa besar gaji yang dia terima & berapa kenaikan gajinya sesudah Performance Appraisal. Orang yang hanya peduli bagaimana masyarakatnya bisa maju namun dengan jalan yang benar!

”Aku percaya Trif dan harapanku untuk kamu cuma satu!” kataku sambil menatap matanya.

”Apa itu mas? tanya Trifena sambil menghentikan makan 4 porsi kangkung Cah kesukaanya.

”Kamu tetap seperti ini dan tidak pernah berubah sampai kapanpun! Tanah ini banyak berharap kepada kamu!”.

Jakarta 12 April 2010
Sebuah Ode untuk seorang sahabat
Untuk keberadaan 34 tahun di bumi ini
EU for Trifena
Happy Birthday sister!

*NMI : sebuah institusi yang didirikan oleh Freeport untuk mengembangkan masyarakat Papua agar mampu bersaing dan masuk di formasi karyawan Freeport. Seorang pemagang akan mendapatkan pendidikan selama 3 tahun (setara D3) sesuai dengan jurusan yang dipilih dan uang saku selama belajar di NMI. Mereka yang sudah lulus akan mendapatkan prioritas kerja di Freeport
**Kampung Waa: kampung asal Trifena yang berada di pucuk gunung Jayawijaya.

10 April 2010

Senyum Level 3 dokter cantik! (Learning Matrix)


"Pa..........." bisikan lirih dari sebelah kiri aku abaikan. Buku "What the Dog Saw" sedang sampai di bagian dimana Malcom Gladwell mencaci maki konsultan kelas dunia McKensey gara gara gaya pengelolaan karyawan yang mereka sarankan ke Enron tidak berpengaruh apapun dalam mencegah kejatuhan perusahaan raksasa AS yang paling dramatis diawal milenium dua itu. "War of Talent" usulan McKensey malah dianggap oleh bung Malcom kribo termasuk penyumbang kekacauan di Enron karena membentuk manusia2 narsis yang sok pintar dan dibayar terlalu mahal!

"Pa, dokternya cantik tuh...........", dasar laki2, walau yang bisikin istri sendiri kalau konten yang disebut adalah kosa kata wanita dan cantik mau ngak mau (unconsciously) mampu mengalihkan perhatian dari buku. "Tuh, diruangan yang sebelah kiri" istriku memberikan petunjuk dengan dagunya saat mataku belum ketemu dokter yang dia maksud. Sore ini, kami berdua sedang mengantarkan ibuku untuk laser mata yang kesekian kali di salah satu "eye center" dibilangan Jakarta Barat. Dari sela2 kaca aku lihat seorang dokter wanita berkulit putih, cantik dan anggun sambil tersenyum ramah sedang melayani konsultasi dengan pasiennya. "Hmmm boleh juga tuh, sangat terawat sekali" desisku sambil kembali melototin buku.

"Pa.......dokternya keluar!", mahluk yang berkelamin perempuan ini kalau lihat mahluk sejenis yang keren pasti selalu tertarik untuk melakukan benchmarking, tidak terkecuali istriku. Aku lirik sang dokter wanita keluar dari ruangan konsultasi dan berjalan melintasi kami para pasien yang sedang menunggu giliran. Dagu diangkat, mulut ditarik dan dada dibusungkan penuh percaya diri, untung cantik kalau jelek pasti dah kayak wewe gombel saking angkuhnya. Pandangan mata jauh ke depan, jauuuuh dari para pasien. "Pa, gile...angkuh banget, ngak ada senyum samasekali!" mahluk perempuan yang sudah 8 tahun menjadi teman seranjang ini tambah bawel ngasih komentar. Aku diam saja dan tetap meneruskan bacaan.

"Pa, ada yang aneh tuh...........!". "Apalagi yang aneh?" ucapku ngak tahan juga dicecer pertanyaan. " Bu dokter saat ada didalam ruang konsultasi kembali ramah dan banyak senyum". Segera kuarahkan pandangan mata ke celah kaca di ruang praktek. Woooila, dokter cantik itu berubah kembali jadi bidadari yang murah senyum. Sama sekali tidak tersisa keangkuhannya saat jalan didepan kami. Padahal pasien yang dia layani saat ini adalah pasien yang sama sekali tidak diliriknya saat berjalan keluar.

"Senyumnya palsu! bisik istriku untuk yang kesekian palsu. "Bukan ma, dokter itu sangat sadar sekali bahwa dia harus bersikap ramah kepada pasien, cuma belajar senyumnya belum lulus!", kataku menampik pendapatnya. "Maksud papa?" istriki menuntut penjelasan. "Dalam konsep Learning Matrix dia baru sampai level 3 Conscious Competence dan belum masuk ke level 4*. Jadi saat dia ingat dia akan senyum dan saat tidak ingat (tidak sadar) kembali ke karakter aslinya yang judes!". "Lha terus, bagaimana caranya agar dia bisa senyum lebih tulus" istriku mengejar jawaban. "Latihan senyum terus menerus sampai jadi reflex" pungkasku. "Trus bagaimana caranya kita bisa ngukur orang sudah masuk level 4 unconscious competence?" desaknya. "Lihat orang dalam kondisi santai dan rilex, disaat itulah hal2 yang masuk level 4 akan terlihat". Istriku kelihatan puas dengan jawaban yang aku berikan.

"Ssssst ma, kalau aku lagi tidur kelihatan cemberut dan galak ngak?", pandangan heran muncul di raut mukanya. "Emang napa?" kata istriku. "Mau cek kondisi unconsciousku" lanjutku menjawab pertanyaan yang muncul diwajahnya. Istriku senyam senyum menggoda. "Gimana ma?" aku mendesak saking penasarannya. "Santai pa, mukamu saat tidur rilek dan ramah kok!". Jawaban yang melegakan hati. Kalau nanti dibilang galak di kantor aku bisa bilang ke anakbuah bahwa itu adalah kondisi yang dibuat-buat. Aslinya aku ramah tamah dan baik hati. Kalau ngak percaya tanya aja sama istriku.

BSD City
Saturday night
10 April 2010
EU for U

*Learning Matrix Level
1. Unconscious Incompetence
2. Conscious Incompetence
3. Conscious Competence
4. Unconscious Competence

Kutek, Kontex dan Konten


Pernah mendengar atau melihat tanaman yang namanya Pacar? atau yang lebih terkenal dengan nama panjang Pacar Kutek? Masa kecil diawal tahun 80an di kota Blora memberikan kami banyak kesempatan bermain-main dengan tanaman ini. Tumbuhan Pacar banyak tumbuh liar di jalan setapak dipinggir kampung, di pinggir sawah, di dekat papringan (gerumbul bambu) atau duduk manis di halaman orang. Tumbuhan tidak berkambium ini memiliki keistimewaan bagi anak2 kecil khususnya anak perempuan. Bocah2 yang suka meniru gaya orang tua bisa memanfaatkan daun pohon pacar untuk mewarnai kuku mereka! ya....daun pohon pacar yang ditumbuk halus dan ditempelkan di kuku bisa menjadi pengganti kutek pewarna kuku keluaran salon. Dari situlah maka pohon ini lebih terkenal dengan nama pohon Pacar Kutek.

Pemakaian pohon Pacar sebagai perwarna kuku untuk bocah bocah perempuan kecil LAZIM dan COCOK dan bahkan memberikan pelajaran Biologi yang luar biasa untuk mereka. Namun hal yang sama menjadi TIDAK LAZIM kalau dipakai nona nona dewasa dan ibu-ibu pejabat yang banyak duitnya untuk mewarnai kuku mereka menggunakan daun Pacar. Kalau tetep maksa menggunakannya dan belang bonteng hasilnya, saat pergi ke pesta bisa-bisa dilirik dan dibilangin orang "kukunya ngak kuku pakai pohon kutek karena kurang uang ya nyah?".

***

Pagi itu kantor saya kedatangan pak Pardi. Pak Pardi yang berkumis tipis merupakan seorang Supervisor dibagian produksi. Kedatangannya ke kantor saya bukan merupakan kedatangan yang pertama kali, namun kumis tipisnya yang agak kusut ditambah rambut yang acak2an plus wajah yang ditekuk memberikan sinyal kepada saya bahwa naga-naganya suasana hati beliau sedang gelap. "Pak Pardi, silahkan duduk pak". Aku persilahkan pak Pardi duduk di kursi hitam di depan bangku. "Ada yang bisa saya bantu?" pancingku membuka percakapan."Bruuuk" kursi hitam yang sudah agak reyot itu ditimpa tubuh pak Pardi yang lagi kesal. "Perusahaan ini ngak adil mas!", desah pak Pardi dengan nadi kesal. "Hmmm maksud sampeyan bagaimana pak" tanyaku mencoba menggali informasi lebih dalam. "Masak yang dipromosi menjadi Manager si Parno dan bukan saya!" nada kesalnya naik satu oktaf.

Ternyata gosip bahwa Pardi tidak terima rekannya Parno naik jadi manager bukan gosip. "Apa yang membuat sampeyan bilang bahwa perusahaan ngak adil?" tanyaku lebih jauh lagi. "Ya jelas ngak adil mas, lha saya ini kan sudah bekerja di perusahaan ini selama 15 tahun, sudah berpengalaman kerja tinggi, sedangkan Parno kan baru 5 tahun yang lalu masuk keperusahaan ini!" jawabnya tetap dengan nada tinggi. "Maaf pak Pardi, kalau boleh tahu apakah masa kerja menjadi syarat untuk promosi menjadi manager?" tanyaku pura2 tidak tahu. Hening sejenak..............."nga
k sih mas, kata mereka syarat utamanya harus kompenten sesuai dengan hasil assesment" kali ini nada suara Pardi turun 2 oktaf. "Oooo kalau begitu konteks promosinya dilihat dari kompetensi hasil assesment dan bukan dari masa kerja yang pak? kalau begitu apakah kita bisa bilang bahwa dalam kontek ini perusahaan tidak adil ke sampeyan? dan pak Pardi hanya duduk mematung.

***

"Pak Eko, saya masih belum mengerti pak, kenapa dalam setiap meeting bapak selalu bilang kepada saya untuk jangan terjebak ke konten dan harus lebijh fokus ke konteks, proses dan structure?" Budi anggota termuda Learning & Development sore itu tiba2 melontarkan pertanyaan saat aku lewat dibelakang meja kerjanya. Sambil tersenyum simpul aku duduk dikursi disamping Budi. "Bud, apa saja material pokok yang dibutuhkan untuk membuat rumah?" tanyaku kepada Budi. "Hmmm, pasir, batu, batubata, kayu, besi, kayu, keramik dan lain lain pak" jawab Budi sedikit bingung ditodong pertanyaan saat bertanya. "Betul Bud, yang kamu sebut tadi merupakan bahan yang diperlukan untuk membuat rumah megah seperti rumah yang ada di Pondok Indah sana. Bahan bangunan tadi kalau misalnya masih berada di toko bangunan dan diletakkan digudang atau dihalaman lebih berharga mana dibandingkan dengan rumah Pondok Indah?" tanyaku sambil menatap mata Budi yang penasaran. "Ya pasti jauh lebih mahal kalau sudah jadi rumah di PI pak? tapi apa hubungannya dengan pertanyaan saya tentang konteks proses structure vs konten" desak Budi campur bingung. "Bahan bangunan yang kamu sebutkan diletakkan di Pondok Indah sebagi konteksnya, dan dibangun menurut gambar arsitektur jempolan sebagai structurenya dan dikerjakan oleh kontraktor kelas satu akan menjadi pembeda dengan bahan bangunan yang masih tinggal di toko material" Budi terdiam dan mencoba memproses. "Coba bayangkan Bud, bahan bangunan yang sama tadi dipakai membangun rumah di Legok, ngak pakai gambar arsitek dan dikerjakan oleh tukang dari desa tetangga. Hasilnya apakah sama dengan yang di Pondok Indah" aku mencoba menerangkan lebih jauh.

***

"Teman-teman, dalam proyek kali ini kita harus memastikan bahwa semua stakeholder terkait harus buy ini terhadap action plan yang kita buat. Kita harus memastikan bahwa semua Division Head dan Department Head menerima rencana ini" jelasku kepada tim LD. "Maaf pak, apakah yang bapak maksud adalah pak Bowo, pak Toni, pak Amir" tiba-tiba Budi menyela. "Konteeeeeeeen, ngak penting" dan tiba2 tim yang lain gantian menyela Budi. Aku tersenyum simpul melihat gaya mereka memberikan feedback kepada Budi. "Ok, saya lanjutkan kembali. Masing-masing dari penanggung jawab action plan secara reguler memberikan report di meeting mingguan". "Pak Eko, saya bertanggung jawab untuk action plan yang X kan pak" tanya Budi Innocent. "Konteeeeeeeen" teman2nya dengan ramai-ramai memotong sambil cengar-cengir!.

BSD City
Tengah malam 8 April 2010
EU 4 U

Note:
+ Gajah bagi 4 orang buta akan dideskripsikan berbeda pada saat mereka meraba pada konteks lokasi yang berbeda (konteks lokasi)
+ Kontent tergantung Konteks
+ Manusia sukses akan fokus dan mendudukkan segala sesuatunya pada konteks, proses dan strukture yang tepat sebelum membahas konten

Negative Thinking


Terganggu ngak sampeyan kalau pada saat meeting tiba2 salah satu peserta meeting mendapat telepon? untuk mereka yang agak sopan, biasanya segera minta maaf dan permisi untuk menerima panggilan diluar. Yang lebih seru, ada (banyak juga) yang menerima didalam ruangan dan berbicara keras keras karena harus bersaing dengan mereka yang sedang diskusi. Bagi saya pribadi yang namanya menerima telepon saat sedang meeting merupakan salah satu pantangan yang sebisa mungkin harus dihindari (kecuali kalau yang nampak dilayar HP nama direktur he he he). Kalau terpaksa harus menerima maka saya akan bergegas untuk menerima di luar ruangan. Ketidaksukaan saya untuk melakukan dan melihat orang terima telepon atau sms-an saat meeting tentu saja dengan sengaja saya tularkan saat meeting di divisi yang saya pimpin. Semua tim Learning & Development (LD) tahu pasti kalau saat meeting menerima telepon pasti akan dapat lirikan yang tajam dari boss mereka. Saya merasa bahwa mereka yang menerima telepon di ruangan meeting sangat tidak menghargai proses yang sedang berjalan plus mengganggu meeting itu sendiri.

Ketidaksukaan itu menular kalau dalam event2 yang lain termasuk pada saat workshop didalam kelas. Setiap awal workshop biasanya saya akan menyatakan bahwa salah satu Groundrules yang menjadi peraturan bersama pada saat workshop adalah: HP silent mode dan kalau terpaksa menerima harus diluar ruangan! Namanya juga orang Indonesia, pernah suatu ketika kelupaan memberikan groundrules tentang penggunaan HP dan yang terjadi adalah sepanjang jam pertama berkali kali fasilitator beradu keras suara dengan penerima telepon! Kejadian itu baru bisa terselesaikan saat groundrules tentang HP disusulkan di jam kedua!

Minggu kemarin merupakan minggu yang bertepatan dengan Paskah. Seperti biasa saya dan istri berangkat pagi ke GKI MY Bandung untuk kebaktian dan selesainya brunch (breakfast and lunch) terus langsung meluncur pulang ke Jakarta agar tidak terjebak macet. Pagi itu jemaat lebih banyak dari biasanya, mungkin karena sedang perayaan Paskah. Seperti biasa kalau lagi banyak jemaat saya dan istri dengan percaya diri menuju tempat di sisi kanan mimbar, ada beberapa bangku yang 99% pasti kosong dalam kondisi apapun (Hanya mereka yang penghuni lama yang tahu hal ini).

Kebaktian segera dimulai dan kami segera larut dalam kebaktian merangkap perayaan Paskah. Majelis jemaat memimpin kebaktian dan kami terbawa oleh pilihan lagu2 rohani yang pas dengan konteks dan suasana. Dan kemudian kami sampai dengan bagian pembacaan firman. Dibagian depan persis didepan mimbar duduk sepasang suami istri yang cukup funky. Sang suami memakai baju kasual ditambah dengan sepatu sendal ala pendaki gunung. Sedangkan sang istri memakai baju terusan ala penari flamengo hispanik, gaya orang2 yang tidak mau diikat oleh aturan dan formalitas. Namun bukan baju mereka yang menarik perhatianku, tetapi tingkah laku sang suami yang sangat menjengkelkan: membaca sms saat kebaktian!

"Sttttt, ma coba lihat kedepan" bisikku pelan ke telinga istriku. "Ada apa" sahut istriku. "Coba lihat itu, dasar katrok, jelas2 ditulis dari pintu masuk untuk mematikan handphone saat kebaktian lha kok malah santai banget smsan! desisku kesal. Istriku tidak menjawab, ekor matanya melirik ke arah orang yang aku maksud. "Kalau anak buahku sudah aku marahin dia" bisikku dengan nada kesal. Istriku tidak menjawab karena masih sibuk mencari ayat2 bacaan di Alkitab yang kami bawa.

Sambil membaca ayat2 bacaan, sekali kali saya mencuri pandang kedepan dan mendapati sang suami masih sibuk dengan HPnya." Hmmmm tak tahu etika, sudah duduk paling depan melanggar aturan pula" desisku pelan. Namun ada hal yang menarik, sang suami dan sang istri kok saat pembacaan ayat mereka berdua bareng2 melihat HP suami. "Wah, jangan2 mereka membaca firman dari program E-Bible di HP itu" pikirku. Pikiran itu makin menguat dan mendapatkan kebenaran saat pembacaan firman selesai dan sang suami dengan sigap menyimpan HPnya dan dengan khusuk mendengarkan khotbah pendeta di mimbar.

"Ma, wah aku salah kira. Negative thinking sama orang itu, ternyata dia baca E-Bible di HPnya" aku berdesis di telinga istriku. "He he he, makanya jangan negative thingking pa!" ujar istriku sambil tersenyum simpul. "Ssssssst, jangan lupa berdoa minta maaf karena negative thinking tar saat masuk bagian Pengakuan Dosa ya!". Skat mat dari mama Thesa membuatku tersenyum kecut.

BSD City
6 April 2010
EU 4 U

Tiiiiiiiiiiin Tiiiiiiiiin, minggir euy.......(belajar berempathy)


Sudah setahun ini separo jalan arteri menuju villa di Giri Mekar Permai (GMP) rusak. Memang njelehi (menjengkelkan) sekali, jalan yang panjangnya 1.5 km yang menghubungkan perumahan GMP dengan jalan raya Bandung-Cibiru menjadi saksi bisu acak kadut dan kacau balaunya birokrasi di Indonesia. Sepanjang 750 meter dari bawah sudah diaspal hotmix mulus, sedangkan 750 m berikutnya ngak jauh beda dengan kondisi sungai yang lagi kering! Saat dikomplain oleh masyarakat mengapa bagian atas tidak ikut dihotmix, jawabannya karena lain daerah. Bagian bawah wilayah kotamadya Bandung sedangkan bagian atas wilayah kabupaten Bandung. Akibat kerusakan itu jelas lalu lintas jadi sangat tersendat dan harus hati2 pada saat mau menyalib atau papasan dengan kendaraan lain.

Malam ini aku dan istri keluar dari GMP hendak hangout di kota. Kebetulan peran sopir berangkat jatuh ke aku dan baru nanti pulang dari kota mama anak2 gantian pegang setir. Baru saja keluar dari gerbang GMP dan masuk ke jalan arteri, didepan kami Baleno merah sudah pasang posisi. "Mobil siapa ma?" tanyaku sambil memperhatikan plat nomer Baleno yang diawali huruf B itu. "Ngak tahu pa, mungkin orang di Blok B atau blok A". "Waduh, jalannya kok slow but sure gini ma? yang nyetir ibu2 ya?" generalisasi tentang gaya menyetir ibu ibu yang klemar klemer kayak putri Yogya terekspresikan keluar. "Bukan ibu2 kok pa, coba kamu perhatikan. Potongan rambut dan bentuk badannya sih bapak bapak kok?" kami berdua mencoba memperhatikan siapa yang duduk dibelakang kemudi Baleno merah itu.

"Mungkin orang lagi belajar nyetir ma, makanya dia hati-hati banget" aku berusaha berempati saat Baleno itu dengan sangat pelan dan lembut melewati jalanan yang berlubang. "Atau mungkin shockbreakernya lagi soak" kataku lagi saat mobil itu membutuhkan 2 menit sendiri untuk melewati polisi tidur yang sebenarnya bisa langsung digilas. Istriku yang duduk disampingku hanya senyam senyum simpul.

"Waduh kapan sampainya nih, kalau kecepatan 5 km/jam!" aku mulai menggerutu saat Baleno didepan tetap anteng dan slow but sure. "Sabar pa..........siapa tahu istri yang punya mobil lagi hamil jadi harus pelan-pelan" istriku mencoba menurunkan tensi yang mulai naik. Prejengane! saat aku siap2 nyalib, dengan tanpa dosa Baleno merah bergeser ketengah memblok jalan. "Wah...........SIMnya nembak pasti ini!" kataku mulai hilang kesabaran. "Sabar pa, kan kita harus berfikir positif dan berempati terhadap orang lain. Bukankah itu yang diajarkan sama papa di workshop?". Kalau kena senjata makan tuan seperti ini yang bisa aku lalukan hanyalah senyum kecut dan mencoba untuk lebih sabar menghadapi Baleno merah di depan.

Setelah belasan menit yang menjemukan itu, jalan raya tampak didepan. Aku menarik nafas lega karena segera terbebas dari belakang siput bernama Baleno merah. Ketika kami sampai di simpangan, Baleno merah itu berhenti didepan kami menunggu sepinya kendaraan. Namun yang namanya jalan raya ya pasti ngak pernah sepi. Kita harus memotong arus. Semenit, dua menit, tiga menit...........5 menit akhirnya aku ngak tahan juga. "Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin" jeng SiWi menyalak nyaring. Mungkin karena kaget atau memang lalin sudah sepi Baleno itu akhirnya menyebrang juga. "Dasar amatir, kalau nunggu sepi mah ya sampai tengah malam baru nyebrang!" gerutu istriku disamping. "Sabar ma, kita kan harus berempati......siapa tahu selain baru belajar nyetir, mobilnya tadi pinjaman jadi takut rusak", gurauku membalas ledekan dia sebelumnya.

Bandung 2 April 2010
Giri Mekar Permai nan sejuk
EU for U