Catatan Harian Eko Utomo #Hal119
"Giving Up Hate"
Fact: 80% penyakit diakibatkan oleh emosi negatif
Fact: Political & Emotional Behavior menurunkan kualitas pengambilan keputusan
Q: bagaimana caranya melepaskan diri dari jeratan emosi negatif?
***
"Siapa yang ingin diterapi untuk melepaskan emosi negatifnya kepada
seseorang?", Master Trainer NLP bule dari Aussie itu bertanya.
"I am", saya sigap mengangkat tangan.
Ada sebuah nama, mantan big boss yang kalau disebutkan namanya langsung
memicu unconcious mind saya untuk memerintahkan otot2 kecil bereaksi.
Muka memerah menggelap, nafas jadi lebih cepat dan tarikan2 ketegangan
otot di beberapa bagian tubuh lain.
Nama Senior Manager bule itu
bisa sedemikian menancap (emotional anchoring) karena selama beberapa
tahun berada dibawahnya beberapa kali terjadi debat dan perselisihan
tajam antara saya dengan dirinya.
Dua kali kesempatan promosi
saya diblock dan yang menjengkelkan adalah dia (menurut saya) tidak
bertanggung jawab apabila muncul resiko dari pengambilan keputusan yang
dipaksakan olehnya.
Bahkan sesudah saya resign dari perusahaan
itu dan pindah ke perusahaan lain, setiap kali namanya disebutkan
seketika muka menegang dan emosi memuncak.
Saya sadar betul bahwa
kondisi itu sama sekali TIDAK BERMANFAAT buat saya. Memelihara emosi
negatif yang terpendam dalam sebuah anchoring peristiwa masa lalu ibarat
memelihara kanker.
Jadi kesempatan untuk "get rid of it" jelas sebuah tawaran yang tidak boleh disia2kan.
Tindakan manusia (Act) dipengaruhi oleh STATE yang terdiri dari Pikiran
(Think) dan Perasaan/Emosi (Feel).
Tindakan/perilaku yang excellence
didorong oleh state yang excellence.
Proses yang akan dilakukan
adalah proses menghilangkan "sampah emosi" yang tersimpan di memori
saya. Meruaknya bau sampah itu sangat menganggu (persis seperti bau TPS
sesudah hujan).
Silahkan berdiri, bayangkan sebuah spot semeter
di depan kita adalah spot di mana orang yang tidak kita sukai berada.
Kemudian kita kosongkan diri dan tinggalkan spot kita. Kita menjadi
"sosok yang netral".
Kemudian kita masuk ke spot orang yang kita
benci, berpikirlah (think) seperti dia (dalam konteks kepada kita),
lihat, dengar dan rasakan dari sudut pandang dia terhadap kita. Sesudah
beberapa saat kembali ke posisi semula. Lakukan beberapa kali kalau
perlu.
Proses diatas menggunakan teknik disassociated dan
associated yang sederhana. Namun hasilnya bakal melunturkan kerak2 emosi
yang menjadi sampah di keranjang memori kita.
Proses ini bahkan
lebih dalam dibandingkan kita berganti perspektif. Berganti perspektif
lebih dominan dimensi "think" dan sangat kurang dimensi "feel".
Hanya butuh waktu 15 menit semua kerak emosi saya hilang. Sampah emosi
yang sudah ngendon selama bertahun hilang bak kotoran tersapu banjir.
Apakah anda terpenjara oleh kebencian terhadap orang lain yang bahkan
tidak anda kenal atau sang mantan yang puluhan tahun tidak berjumpa?
Anda mau melepaskannya?
Silahkan mencoba.
EU4U
BSDCity141216
Cocok buat haters agar panjang umur dan bumi lebih damai dan tenteram.
Tampilkan postingan dengan label Artikel NLP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel NLP. Tampilkan semua postingan
05 Maret 2017
21 Desember 2016
Bulan Lebih Besar dari Bintang? #Hal104
Catatan Harian Eko Utomo
Bulan Lebih Besar dari Bintang? #Hal104
Bulan & Bintang
Seorang ayah bertanya kepada anaknya, "adik, Bulan dan Bintang besar mana?", tanyanya sambil menunjuk Bulan terang di kerling malam.
"Besar Bulan ayah, masak begitu aja ayah ngak tahu", sahut sang anak dengan cekatan dan penuh percaya diri.
"Besar Bintang sayang, Bintang besarnya puluhan bahkan ribuan kali lebih besar dibandingkan dengan Bulan", sang ayah mencoba menjelaskan kepada anaknya.
"Ayah bagaimana sih?, tuh lihat di langit! Ayah terbalik, Bulan jauh lebih besar dibandingkan dengan Bintang", sahut sang anak sambil menunjuk malam.
Pada Sebuah Ruang Diskusi
"Apa beda kompetensi Leadership vs Managerial?", tanya saya kepada para peserta.
Muka2 peserta yang terdiri dari para manager terlihat angkuh, percaya diri dan sok tahu.
"Bagaimana menurut bapak!", saya menunjuk wajah the most confidence and sok tahu peserta.
"Leadership itu kepemimpinan pak, nah managerial itu ilmu untuk memimpin", jawabnya penuh percaya diri sambil tersenyum simpul merasa hebat dan menang.
"Oh, okey....tindakan2 leadershipnya seperti apa dan tindakan2 managerialnya seperti apa?", saya mencelupkan kaki mengukur kedalaman kolam.
Terjadi jeda keheningan beberapa saat. "Bagaimana pak?", tanyaku sekali lagi sambil mengukur dan klarifikasi siapa tahu yang bersangkutan diam karena lagi meditasi.
"Hmmm kalau managerial yang memanage pak kalau leadership ya memimpin", akhirnya keluar jawaban dari mulutnya namun dengan derajad percaya diri bak gelas kaca jatuh diatas batu.
Peserta ini dan kawan2nya adalah mereka2 yang pada saat awal workshop ngotot sekali bilang bahwa sesungguhnya mereka tidak butuh lagi ikut workshop karena mereka sudah bertahun2 jadi manager dan tentu saja otomatis jadi pemimpin.
Pada saat menjadi pemimpin mereka merasa secara otomatis memiliki kompetensi kepemimpinan. Bayangan mereka kompetensi kepemimpinan melekat pada jabatan.
Logic Base On Knowledge.
Kembali ke cerita ayah dan anak diatas, apakah sang anak salah?
Sang anak TIDAK salah di dalam konteks apa yang dia KETAHUI. Sebagai anak kecil PENGETAHUANNYA masih dibatasi oleh dinding2 sempit dan sederhana yg mudah dicerna oleh panca indranya.
Bahwa Bulan terlihat oleh matanya jauh lebih besar dibandingkan oleh Bintang menjadi sebuah "KEBENARAN" menurut versinya. Sang anak kecil belum cukup punya pengetahuan bahwa jarak akan menimbulkan distorsi pengenalan terhadap sebuah benda.
Membuat kesalahan adalah manusiawi, sombong dan angkuh dalam keterbatasan adalah jalan kepada kebodohan.
Dalam banyak diskusi di kelas2 workshop dan sesi2 coaching yang saya lakukan, tembok penghalang utama yang sering saya temukan untuk menuju kepada perbaikan adalah sindrom "Katak Dalam Tempurung".
Sang katak sedemikian percaya dirinya karena dengan sekali lompat maka dia bisa menyentuh langit2 "dunianya".
Dan karena sudah menguasai dunia raya dan menyentuh langit maka mereka MERASA sudah paripurna dan tidak perlu belajar lagi.
Yang menjadi lebih parah adalah mereka membawa "keangkuhan akan kehebatan mereka" menjadi penyebab organisasi yang mereka pimpin jatuh meluncur bersama mereka.
Jadi untuk anda para pemimpin perubahan, sudahkan anda membuka tempurung yang membatasi pola pikir organisasi anda?
EU4U
BSDCity160916
Untuk para Pembaharu
Note: thanks pak Anwar Sanusi untuk analogi ayah dan anak nan ciamik
Habit, Perspektif dan Nasib #Hal101
Catatan Harian Eko Utomo
Habit, Perspektif dan Nasib #Hal101
Dalam sebuah kelas workshop terjadi diskusi yang seru. Bagaimana caranya meningkatkan kompetensi peserta agar asessmen kompetensi "Strategic Orientation" dan "Customer Focus" dapat meningkat?.
Ceritanya para peserta yang merupakan first layer (Dir Anak Perusahaan, GM & VP) perusahaan ternama ini mendapatkan nilai yang kurang memuaskan untuk kedua dimensi kompetensi diatas. Padahal untuk bisa lolos masuk "talent pool" calon direksi holding maka nilai yang bagus menjadi syarat wajib.
Banyak orang berfikir bahwa sebuah dimensi kompetensi semata2 "hanyalah" ketrampilan yang mudah untuk dilatih dan diperoleh.
Alih2 membawa diskusi workshop pada "how to learn and practice the competencies", sebagai fasilitator saya membuka diskusi dengan membongkar "pondasi pemikiran dan sudut pandang".
Neuro Linguistic Programming (NLP) mengajarkan bahwa kehidupan manusia ditopang oleh konsep BE DO HAVE. BE atau being adalah values, belives, norma2, mindset dan sudut pandang manusia.
Sedangkan DO adalah perilaku dan tindakan manusia. Sementara HAVE adalah segala sesuatu yang dimiliki atau didapatkan.
BE mempengaruhi DO dan DO akan menentukan HAVE yang dihasilkan.
Jadi dalam diskusi kami membongkar terlebih dahulu BE yang menghambat DO (kompetensi) Strategic Orientation dan Customer Focus mereka.
Para peserta adalah para bos yang cenderung membangun karir secara vertikal. Bos operasi merangkak naik dari posisi staf produksi sampai menjadi VP. GM Finance karir pertamanya adalah Staf Akuntansi dan mendaki ke atas sampai ke posisi sekarang. Sebagian besar menjalani pola yang serupa.
Puluhan hidup dan bekerja dalam sebuah fungsi organisasi (Sales Marketing; Ops; HR; Fin) membentuk perspektif dan pola fikir yang homo function. Padahal "Strategic Orientation" membutuhkan sudut pandang Helicopter View dan melihat masalah dari seluruh perspektif dan fungsi.
Jadi masalah sangat mungkin terjadi karena kebiasaan dan kenyamanan. Untuk berubah maka perspektif lama harus DIBONGKAR!.
Peserta yang merupakan bos2 perusahaan selama bertahun2 terbiasa untuk "dilayani" oleh para anak buah mereka. Apapun yang mereka inginkan akan dikerjakan oleh anak buah. Pikiran dan perintah mereka menjadi prioritas untuk dieksekusi.
Sementara kompetensi "Customer Focus" mensyaratkan pelaku untuk melayani. Customer is the king. Prioritas utama adalah customer. Tidak hanya eksternal customer yang membeli produk dan jasa yang dihasilkan, namun juga internal customer seperti rekan kerja BAHKAN ANAK BUAH!.
Jadi, tindakan dramatis untuk meningkatkan kompetensi Customer Fokus adalah dengan merombak cara pandang dan perspektif dalam bekerja. Bukan "Aku" yang harus dilayani namun "cuatomer" yang terpenting.
Sebelum urusan ini selesai, sesungguhnya workshop pelatihan peningkatan kompetensi ibarat "menggarami laut".
Seperti yang dibilang Gandhi:
Your Action becomes Habit
Your Habit becomes Values
Your Values becomes Destiny
Pertanyaannya adalah apakah anda siap?
EU4U
Yogya80916
Untuk para pembaharu pikiran
19 Mei 2016
Point of View #Hal71
Catatan Harian Eko Utomo
Point of View #Hal71
Kalau kami sedang berlibur bawa mobil masalah ini sering muncul. Mencari rest area yang memiliki toilet duduk bukan toilet jongkok.
Masalahnya bukan hanya sekedar mencari rest area bertoilet duduk, namun juga naiknya tensi udara karena diskusi sesudahnya.
"Mom, heseh banget sih. Urusan toilet aja kok bikin pusing. Tinggal buka celana sreet, pasang posisi udah deh selesai", kataku mengomentari mama Thesa yang uring2an karena tidak menemukan toilet duduk di rest area.
"Papa gimana sih, masak rest area sebesar ini ngak ada toilet duduknya?. Toilot jongkok itu cenderung jorok dan bikin pegel!", yang ditanya masih tinggi tensi.
"Hadeeeeuh, masih untung ada toilet. Gua dulu saat kecil kalau mau buang hajat pergi dulu ke sungai. Nongkrong pinggir kali asoy geboy", komentarku ngak mau kalah.
"Dasar, jorok. Papa mah cah ndeso. Sejak aku kecil aku sudah pakai toilet duduk tahu. Ngak ndesok kayak papa", kata mama Thesa sebel sambil menarik mukanya heran aku bangga dengan pengalaman buang hajat di sungai.
***
Manusia, bisa diibaratkan sebagai komputer. Sama2 memiliki dua komponen penting yaitu HARDWARE dan SOFWARE.
Hardwarenya manusia ya tubuh dan organ2nya. Sedangkan software manusia terletak di hardisk otak dimana didalamnya banyak menyimpan aplikasi2 kehidupan yang diprogramming dan dicoding oleh Values, Beliefs, Norma2, Pengalaman dll.
Yang membedakan antara manusia dan komputer adalah sofware manusia itu unik, tidak ada yang sama. Sementara software komputer bisa seragam. Sofware komputer tinggal beli dan install, bisa dilakukan seketika. Sedangkan sofware manusia lama proses instalnya dan cenderung dinamis (bisa berubah2).
Dalam proses interaksi di kantor atau di lingkungan sosial, proses diskusi, proses coaching, managing atau juga consulting setiap saat menghadapi kasus yang sama. Kasus dimana dua orang yang berinteraksi tidak ketemu ujung pangkalnya karena mereka berdua terlibat dalam sebuah debat dengan basis yang berbeda.
Pernah terjadi dua orang manager berdiskusi tentang jam kerja. Yang satu menerapkan jam kerja bagi anggota timnya secara ketat. Masuk dan pulang kerja harus sesuai aturan perusahaan, datang jam 9 pagi dan pulang jam 6 sore.
Manager yang satu menerapkan aturan jam kerja secara fleksibel, anggota timnya dibiarkan sesukanya datang dan pulang kerja jam berapapun, tanpa pernah ditegur.
Dan mereka berdua berdiskusi dan berdebat tiada habisnya. Yang terjadi sebenarnya sederhana, masing2 manager memiliki point of view yang berbeda. Manager pertama memegang dan menghargai value yang namanya DISIPLIN. Manager yang kedua menghargai value yang namanya FLEKSIBILITAS.
Debat mereka tidak akan pernah selesai kalau tidak menggunakan point of view yang sama. Salah satu berganti posisi dan mengikuti point of view yang lain atau mencari point of view yang sama2 mereka setujui bersama.
Misalnya mereka bisa saja menentukan point of view baru yang disetujui bersama misalnya PRODUKTIVITAS. Pembahasan diskusi akan fokus pada hal sama yang sudah disepakati. Tidak lagi fokus pada perbedaan nilai. Perbedaan nilai baik itu disiplin atau fleksibilitas "hanya" akan menjadi faktor pendukung pencapaian nilai bersama yaitu produktivitas. Dengan konteks ini maka manager yang sebelumnya erat memegang nilai Disiplin akan lebih mudah menerima apa yang dilakukan temannya yang memberikan jam kerja Fleksibel SEPANJANG mereka produktif, demikian sebaliknya
Kasus yang sama terjadi dalam diskusi2 di Medsos. Saya sering menemukan diskusi yang panas dan tiada ujung karena masing2 MEMILIKI point of view yang berbeda.
Terjadi diskusi antara Islam, Kristen dan Atheis. Topiknya adalah Iblis. Diskusi muter2 ngak kemana2 dan hanya menaikkan tensi dan merusak suasana. Yang mereka (sering) tidak sadari adalah dasar pemikiran (software) yang melandasi diskusi mereka berbeda. Islam mengimani bahwa Iblis diciptakan dari api, Kristen mengimani bahwa Iblis tidak diciptakan namun wujud kelam dari Malaikat. Sedangkan atheis mengimani tidak ada yang namanya Iblis, lha Tuhan aja ngak ada kok.
Kalau masing2 tidak mencoba mengerti basik pemikiran teman diskusinya, maka yang terjadi hanyalah debat kusir yang hanya cocok untuk membuang waktu belaka.
Kalau kemudian kita tahu dasar pemikiran berbeda trus bagaimana? Ya, fokuslah berdiskusi untuk menunjukkan bahwa dasar pemikiran mereka itu salah atau tidak tepat. Untuk merobohkan rumah tidak perlu repot2 mulai dari atap, rusak pondasinya dan rumah akan roboh dengan sendirinya.
Kalau teman tetap kekeh dengan pondasi pemikirannya? Ya biarkan saja. Namanya juga berdiskusi. Seringkali kita ketemu dengan kondisi "we agree.to disagree". Kecuali diskusi itu terjadi di ruang meeting kantor, keputusan tetap harus diambil, dan itu ada di sang atasan. Istilah kerennya "Decision Discretion", hak untuk mengambil keputusan.
Kalau ngak setuju dengan keputusan atasan? Kalau sudah didiskusikan dan sudah jadi keputusan ya harus dilaksanakan, atau anda cari atasan baru.
EU4U
BSDCITY310316
Merayakan perbedaan point of view.
11 Maret 2016
Unconscious Mind Influencer: ANALOGY #Hal47
Catatan Harian Eko Utomo
Unconscious Mind Influencer: ANALOGY #Hal47
Topik diskusi dan coaching hari itu sangat tidak mudah: peran dan fungsi holding company. Holding Company atau sering disebut sebagai Corporate dibedakan peran dan fungsinya dengan entitas Perusahaan atau sering disebut sebagai Business. Divisi kami mendapat tugas untuk melakukan kajian tentang praktek holding kami saat ini dan usulan perbaikan apa yang harus dilakukan.
Seperti biasa, sebelum membahas dan mengerjakan tugas saya kirimkan jurnal referensi kepada dua orang anggota tim saya: Joel & Troy. Sesudah membaca 2 jurnal ilmiah Joel dan Troy mempresentasikan pemahaman mereka terhadap jurnal yang dibaca dan kemudian memfasilitasi diskusi untuk menggali kekedalaman. Penguasaan teori yang benar menjadi bahan yang baik agar rekomendasi yang kami berikan memiliki fondasi yang kuat.
"Fungsi utama dari Korporasi adalah: Being Best Parents of Best Business", Joel berdiri di depan menjelaskan konsep korporasi dari jurnal yang dia baca.
Joel merupakan manager Finance kawakan dengan jam terbang yang tinggi. Dengan latarbelakang pendidikan S1 & S2 Keuangan dan pengalaman kerja puluhan tahun menggeluti keuangan membuatnya menjadi sosok yang tangguh di bidang ini. Namun, menjadi konsultan bisnis dan organisasi merupakan ladang yang sangat berbeda dibandingkan dengan apa yang dikuasainya. Rumput, Belalang dan Tikus yang dihadapinya berbeda jenis.
"Maksud kalimat BEST PARENTS apa ya", tanyaku mengevaluasi pemahaman Joel.
"Untuk bisa menjadi best parents maka korporasi harus mampu menjawab pertanyaan apakah bisa memberikan ADDED VALUE ke business unit bawahnya", jawab Joel.
"Maksudmu? hubungan dengan framework yg kamu gambar serta tulisan OF BEST BUSINESSES apa?", aku eksplorasi lebih jauh.
"Masing2 bagian ini: Best Parents, Of dan Best Business, harus mampu menjawab pertanyaan seperti yang ada di keterangan dibawahnya", Joel memberikan penjelasan sambil menunjukkan kerangka konsep Corporate Strategy.
"Joel, kalau aku jadi orang awam, penjelasanmu bukannya memperjelas tapi makin membingungkan. Jadi inti utama dari Corporate Strategy apa?, aku push the limit proses pembelajaran Joel, sampai ke langit2 pemahamannya.
Joel berdiri di depan mematung. Pertanyaan terakhir membuat dia menjadi kebingungan bagaimana harus menjawab. Wajahnya jelas terlihat bingung dan tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Coba kamu buat Analogy", aku bantu agar keluar dari kebekuan berpikirnya.
Namun tunggu punya tunggu sampai dengan 2 menit berikutnya Joel tetap membeku.
"Joel, kamu kan orang tua dari 2 orang anak. Kamu ingin menjadi orang tua terbaik buat anakmu ngak?", tanyaku.
"Pasti pak!", jawab Joel yakin walau agak bingung mengapa aku memberikan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan diskusi tentang Corporate Strategy.
"Kamu ingin ngak anak2mu menjadi sukses dan menjadi yang terbaik dalam hidup mereka", pertanyaan lanjutan aku lontarkan.
"Tentu pak", jawab Joel singkat.
"Holding Company tidak ada bedanya dengan kita sebagai orang tua. Menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik bagi anak2nya", aku menjelaskan benang merah analogi dan topik yang dibahas.
Wajah Joel seketika bercahaya, seperti anak kecil yang mendapatkan oleh2 mainan dari orang tuanya.
***
Menjadi karyawan, pemimpin, konsultan dan juga orang tua, kemampuan untuk MEMBUAT ANALOGI merupakan IMPERATIF SKILL. Kemampuan yang harus dikuasai.
Analogi memudahkan orang untuk belajar. Struktur pikiran manusia yang terdiri dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar seringkali mempersulit manusia untuk mempelajari dan mengerti suatu pelajaran atau permasalahan baru.
Pikiran sadar sifatnya sangat KRITIS dan sangat tergantung terhadap LOGIKA. Saking kritisnya malah membangun TEMBOK PENGHALANG yang tinggi dalam proses belajar. Semua hal dikritisi.
Pikiran bawah sadar sangat senang dengan simbol2. Yang menarik pikiran bawah sadar menganggap simbol2 atau cerita2 yang tidak ada hubungannya sebagai hal yang PERSONAL.
Kalau anda dengan tidak sengaja mendengar atau melihat teman anda bergosip, pikiran sadar menyatakan bahwa belum tentu mereka sedang menggosipi anda. Sebaliknya pikiran bawah sadar secara PERSONAL menganggap bahwa anda sedang jadi obyek pergosipan.
Penelitian menunjukkan bahwa pikiran bawah sadar mengontrol lebih dari 90% aktivitas manusia. Dengan demikian kemampuan untuk mempengaruhi pikiran bawah sadar menjadi jauh lebih penting dari meyakinkan pikiran sadar.
Membuat Analogi (dan Metaphor dikonteks yang lebih tinggi) menjadi kompetensi penting bagi siapapun yang berkepentingan untuk meyakinkan dan mempengaruhi orang lain. Termasuk orang tua terhadap anaknya.
Menanamkan nilai2 kepada anak2 dengan cerita2 (pararel dengan metaphore) jauh lebih dahsyat dan bertahan lama dibandingkan dengan memberikan instruksi dan kotbah kepada mereka.
Tidak terkecuali orang dewasa. Saat pergi ke rumah ibadah, sekian minggu berikutnya yang kita ingat bukan isi kotbah namun cerita2 yang disampaikan oleh pemuka agama.
Seberapa baik anda membuat analogi dan bercerita?
EU4U
BSDCITY230116
13 Februari 2016
"Diffusing Negative Emotions". #Hal41
Catatan Harian Eko Utomo
"Diffusing Negative Emotions". #Hal41
Kehidupan manusia digerakkan oleh "state". Gabungan antara "Feeling & Thinking" pada suatu waktu tertentu pada obyek yang spesifik.
Saat saya sampai di rumah dan bertemu Jason, state saya adalah state pingin meluk badanya yang montok dan menghirup (mencium pipinya dalam2) yang semanis madu. State ini bahkan lebih kuat dibandingkan keinginan untuk mencium Thesa atau mamanya (ehem).
State yang berbeda mucul saat saya lagi nyetir di jalan dan bertemu Polantas yang berdiri di pinggir jalan. State saya gabungan antara pikiran "pasti nih polantas lagi cari uang sarapan" sama perasaan sebel karena "bukannya ngelancarin jalan malah cari2 kesempatan".
Dalam teori pengambilan keputusan, proses utama dipengaruhi oleh dua hal: RASIONAL dan EMOSI. Semakin rasional proses dilakukan dan semakin rendah faktor emosi terlibat, maka keputusan yang dihasilkan makin berkualitas. Demikian sebaliknya.
Oleh karena itu benar adanya nasehat orang2 tua yang bilang "jangan membuat keputusan penting pada saat sedang emosi". Hasil keputusan yang dibuat akan banyak memunculkan penyesalan.
Puluhan tahun lalu, saat saya LDR (Long Distance Relationship) Bandung - Tembagapura, kalau sedang marahan saya langsung tutup telepon. Ngak peduli yang disebrang sambungan makin marah.
Saat marah, selain membakar uang di udara (SLJJ berjam2), juga keputusan pokok diskusi yang dihasilkan tidak sesuai yang diharapkan. Pada akhirnya harus dibahas ulang kembali. Dan Telkom mendapat lebih banyak pendapatan karena emosi kami.
Emosi positif dan emosi negatif sama2 "mendistorsi" pengambilan keputusan yang dilakukan. Emosi negatif memberikan pengaruh yang relatif lebih buruk dibandingkan dengan emosi positif.
Emosi negatif utama seperti: MARAH, TAKUT, SEDIH, MERASA BERSALAH, akan menggelapkan pikiran rasional kita sehingga keputusan yang dihasilkan jadi jelek.
Coba anda perhatikan orang2 yang sedemikian dalam terlibat pada sebuah peristiwa yang sangat emosional dimasa lalu. Peristiwa itu membuat "current state" bergelimang emosi negatif. Ekspresi dan keputusan yang diproduksi turun level sangat dalam.
Peristiwa Pilpres 2 tahun yang lalu, membekas sedemikian dalam. Emosi Marah, Sedih, Kecewa dan Jengkel berkelindan jadi satu. Sehingga muncul aliran kepercayaan baru: SALAWI, semua salah Jokowi.
Sedemikian ekstrimnya emosi negatif ini mempengaruhi, mampu mematikan pikiran rasional. Data dan informasi palsu diproduksi hanya untuk dapat menjatuhkan pihak lawan.
Sehat? Jelas tidak sehat.
Bermanfaat? Sangat tidak bermanfaat karena KEPUTUSAN yang dihasilkan buruk adanya. Pikiran rasional ditundukkan oleh emosi negatif dalam state.
Hanya ada satu cara untuk menyehatkan kembali state kita yang sedang tidak sehat. Caranya adalah membuang (diffuse) emosi negatif sehingga pikiran rasional kembali berkembang.
Caranya?
Tarik nafas dalam2, masuk dalam peristiwa (bayangkan) yang penuh emosi dimasa lalu dan cari PEMBELAJARAN dari peristiwa itu. Cari pembelajaran (Take Learning) sampai dapat.
Yang ajaib adalah, pada detik kita mendapatkan pembelajaran sebuah peristiwa, di detik yang sama emosi negatif akan luruh.
Kita bebas dan merdeka dari jajahan emosi. Harta karun yang tertinggal adalah pembelajaran. Yang pasti akan berguna saat ini dan masa depan. Dalam mengambil keputusan.
***
"Dad, kamu lagi emosi positif ya?", pertanyaan jebakan muncul dari mama Thesa.
"Kok tahu?", tanyaku gantian menggoda.
"Lha itu, mukamu bercahaya dan bersinar terang", jelasnya mempraktekkan ajaran Sensory Acuity NLP.
"Trus", tanyaku penasaran.
"Beliin aku sepatu Nike baru ya, kan dah lama gak beliin", rajuk mama Thesa.
Mengajari dan meng-coach ilmu NLP kepada istri di rumah bagaikan main boomerang. Sering berbalik arah ke kita yang melemparnya.
EU4U
KRLTASerpong090116
"LEADER and KOPPIG". #Hal36
Catatan Harian Eko Utomo
"LEADER and KOPPIG". #Hal36
"Dasar KOPPIG!".
Ungkapan itu merupakan ekspresi verbal kekesalan yang populer jaman opa oma dan yangkung yangti hasil didikan Belanda yang kembali populer belakangan ini.
Koppig kembali populer gara2 boss DPR "ngrasani" big bos Presiden karena keras kepala dan sukar diatur. Yang kemudian didengar seluruh warga dalam skandal #papamintasaham.
"Wooo dasar bocah TAMBENG!", gerutu almarhum bapak 35 tahun lalu saat memgetahui anak lakinya nekat melanggar larangan mandi di sungai saat banjir.
Upah saya untuk tambeng melanggar larangan adalah diikat pakai selendang di tiang ruang keluarga. Ditonton puluhan mata yang numpang nonton TV di rumah saya.
Coba perhatikan tombol yang ada di smartphone anda, ada berapa jumlahnya? hanya SATU tombol. Sebuah kesaksian seberapa KOPPIGnya laki2 botak berbaju lusuh terhadap semua kritik, masukan dan tentangan.
Laki2 kurus koppig ini tanpa peduli menutup telinga dan memaksa tim produksinya untuk membuat smartphone hanya cukup satu tombol. Againts All Odds kejayaan HP bertombol qwerty yang berjumlah puluhan. Laki2 Koppig itu bernama Steve Jobs dan produk koppignya adalah Iphone. Produk yang merevolusi dunia.
Koppig seringkali dipandang sebagai sifat yang negatif. Sifat keras kepala yang tidak mau mendengarkan masukan dan pendapat orang lain.
"Gaya anda memimpin memunculkan banyak musuh pak Ahok?", Andy Noya bertanya di layar kaca.
"Saya tidak peduli, untuk bisa dipilih kembali saya hanya butuh 50% +1", jawab Ahok luar biasa Koppig.
Addie MS menyatakan bahwa Presiden Jokowi tetap akan melanjutkan proyek High Speed Train Jakarta Bandung. Tidak peduli hujan kritik dan cercaan tentang proyek ini. Jokowi KOPPIG.
Puluhan tahun lalu, para pakar leadership aliran "traits" menyatakan bahwa trait atau sifat yang membedakan seorang pemimpin dan pengikut adalah "locus of control". Pemimpin cenderung memiliki LoC INTERNAL. Sedangkan pengikut cenderung EKSTERNAL.
Pemilik LoC internal akan KOPPIG dan tegas dalam mengambil keputusan. Hasrat muncul dari dalam. Pemilik LoC eksternal butuh persetujuan dari luar dalam mengambil keputusan.
Pemimpi besar butuh LoC besar. Karena sering kehebatan tersembunyi dari mata orang banyak. Butuh manusia koppig untuk memutuskannya melawan semua arus.
Jadi kalau anda dibilang koppig, jangan surut dulu. Siapa tahu anda adalah "Satrio Piningit", calon pemimpin besar masa depan.
EU4U
BSD050116
Memegang Bayangan (No Reality only Map) #Hal27
Catatan Harian Eko Utomo
Memegang Bayangan (No Reality only Map) #Hal27
"Tahu ngak mom, jaman aku kecil dulu, aku sangat terpengaruh sama buku cerita silat", aku membuka cerita. Gara2 mamanya Jason melihat anaknya main lompat disetiap anak tangga saat turun dari lantai 2.
"Maksud papa?", mama Jason bingung dengan cerita tiba-tiba.
"Jadi, saat aku kecil sekitar kelas 3 SD, aku sering main lompat ke bibir sumur bolak-balik maju mundur. Bibir sumur setinggi 1 m lebih dengan kedalaman 10 m", lanjutku menuntaskan cerita.
"What???, dasar ya, bandelnya Jason jelas menurun dari papa", katanya heran sekaligus senang. Senang, kalau Jason bandel jelas ada yang bisa dikambing hitamkan.
***
Kami sudah menikah 15 tahun. Bukan waktu yang pendek. Setara dengan 180 bulan dan 5475 hari. Dan kami MASIH MENEMUKAN potongan2 informasi tentang kami berdua "for the very first time"!. Baru tahu sesudah menikah 15 tahun.
Ada banyak informasi yang tidak saling kami ketahui, baik sengaja atau tidak sengaja. Jangan2 kami menikah dengan bayangan yang tidak pernah jelas wujud aslinya?
Manusia memiliki keterbatasan dalam mengelola informasi 2 juta bit/second yang dia terima, padahal yang mampu dicerna kurang dari 200 bit/second.
Manusia melakukan Genddis (Generalisasi Deletion Distortion) untuk menyaring informasi yg overloaded itu dan kemudian menciptakan bayangan (bolehlah dinamakan peta) sebagai referensi dari realitas yang tidak mampu dicerna seutuhnya.
Jadi bayangkan 200/2.000.000 jauh dibawah 1% data stimulus yang mampu kita cerna.
Hampir semua hal didunia dalam bentuk persepsi dan peta pikiran. Tidak ada realitas sejati disana. Pasangan kita bukan seperti yang kita pikirkan. Citra diri kita tidak seperti yang kita bayangkan. Karena menghitung rambutpun kita tidak mampu.
Menariknya adalah manusia termasuk kita sering banget sedemikian fanatik terhadap "kebenaran" yang kita pegang. Kita benar dan orang lain pasti salah. Padahal semuanya hanyalah persepsi berwujud peta terhadap realitas yang tidak akan pernah dimengerti sepenuhnya.
Pernah ngotot dalam diskusi? Pernah merasa paling hebat saat bicara kebenaran? Ya itulah kita. Kelinci kecil di Bumi yang melihat bayangan sendiri di Bulan.
***
"Mom, handuk mana?" seruku gusar. Mama Jason punya kebiasaan tidak mengembalikan handuk ke gantungan setiap selesai pakai. Sudah tak terbilang aku komplain kepadanya.
"Gitu aja gusar, nih handuknya", ujar mama Jason santai.
Dan aku cuma bisa garuk kepala melihatnya. Sampai pesta kawin emas mungkin aku tetap tidak bisa memahaminya sepenuhnya.
Jadi ........ apakah aku menikah dengan bayangan?
EU4U
BSD270116
18 Januari 2016
"Dia (tidak) Bertanggungjawab atas Kebencianku!". #Hal17
Catatan Harian Eko Utomo
"Dia (tidak) Bertanggungjawab atas Kebencianku!". #Hal17
Ruangan hening, hanya detik kecil jam dinding yang terdengar. Suara TV pun lenyap. Aku lirik ternyata dalam mode "mute", hasil kerja Thesa yang sedari tadi ikut mencuri dengar.
"Begitulah, ucapan dan tindakan yang dia lakukan selama bertahun-tahun ini sungguh sangat mengesalkan. Hatiku sakit dan marah, dia yang menyebabkan ini semua", ujarnya lirih tersendat.
Kami duduk diam. Sosok sepuh rambut putih itu layu dan kusut. Emosi negatif yang bersimaharaja di hati dan pikiran bahkan sudah menguasai fisiknya. Tubuh ringkih menolak asupan dan penyakit psikosomatis sering bermunculan.
"Maaf Mi, kalau aku boleh berpendapat semua hal ini, kesehatan yang memburuk dan hati serta pikiran yang sakit sebenarnya karena Mami sendiri bukan karena Dia", ujarku tenang.
Semua diam, termasuk dua orang yang duduk di depanku. Mungkin mereka sedang mencerna ucapanku yang terdengar aneh dan tidak masuk akal. Sosok yang kami sayangi di depan kami sakit hati dan fisik karena tanggung jawabnya sendiri, bukan karena Dia yang kami semua tahu memang kurang ajar.
"Semua sakit itu tanggung jawab Mami, karena Mami membiarkan dan mengijinkan tindakan dan ucapan Dia menyakiti perasaan Mami", lanjutku sejurus kemudian. Semua masih diam.
"Kalau Mami tidak mengijinkan Mami marah, kesal dan sakit hati, apapun yang dia lakukan tidak akan ada artinya. Padahal yang dibutuhkan oleh semua keluarga adalah Mami yang sehat dan gembira yang menjadi sumber sukacita", kataku sejurus kemudian.
***
Di semua sisi kehidupan, urusan Stimulus - Response yang berkaitan dengan timbulnya emosi negatif selalu up to date dan datang kembali dan kembali.
Manusia hidup dalam lingkungan sosial. Lingkungan sosial menyediakan manusia2 untuk saling berinteraksi dan tentu saja memberikan stimulus.
Yang sering tidak disadari adalah bahwa manusia lain hanya bertanggung jawab pada STIMULUS yang mereka BERIKAN. Jenis RESPONS yang muncul kemudian sepenuhnya tanggung jawab KITA.
Kita bertanggung jawab terhadap respons yang kita munculkan, apakah itu respons emosi negatif atau positif. Kita yang memproduksinya bukan orang lain.
Dan kita tahu bahwa emosi negatif yang berkepanjangan tidak baik untuk hati dan pikiran, bahkan akan merusak badan karena mengundang penyakit.
Jadi, kalau anda Marah, Sedih, Benci dan merasa Bersalah semua itu tanggung jawab Anda bukan tanggung jawab siapa-siapa.
***
"Sebal banget nih ketemu sama orang yang tidak asertif. Di rapat bilang iya iya, di belakang berkoar-koar tidak setuju ngomong sana-sini", gerutuku sambil duduk di kursi.
"Sudahlah pa, namanya juga manusia, jenisnya ya rupa-rupa. Apalagi ini kan pekerjaan pelayanan bukan pekerjaan kantoran", mama Thesa berujar bijaksana.
"Tetap aja nyebelin banget, bukan merupakan tindakan pemimpin yang baik", kataku kesal.
"Pa, ngapain kamu yang kesal dan sebal? Bukannya papa yg bertanggung jawab sendiri atas emosi papa? Lha Mami aja sekarang sudah bisa tersenyum riang, jangan sampai malah papa yg jadi meriang", gurau mama Thesa.
"Okey deh", sambutku mesra. Aku kecup tangannya. Seringkali Coach memang butuh dicoaching. Karena coach juga manusia.
EU4U
BSD170116
Untuk mereka yang bersukacita
Happy Sunday
"Dia (tidak) Bertanggungjawab atas Kebencianku!". #Hal17
Ruangan hening, hanya detik kecil jam dinding yang terdengar. Suara TV pun lenyap. Aku lirik ternyata dalam mode "mute", hasil kerja Thesa yang sedari tadi ikut mencuri dengar.
"Begitulah, ucapan dan tindakan yang dia lakukan selama bertahun-tahun ini sungguh sangat mengesalkan. Hatiku sakit dan marah, dia yang menyebabkan ini semua", ujarnya lirih tersendat.
Kami duduk diam. Sosok sepuh rambut putih itu layu dan kusut. Emosi negatif yang bersimaharaja di hati dan pikiran bahkan sudah menguasai fisiknya. Tubuh ringkih menolak asupan dan penyakit psikosomatis sering bermunculan.
"Maaf Mi, kalau aku boleh berpendapat semua hal ini, kesehatan yang memburuk dan hati serta pikiran yang sakit sebenarnya karena Mami sendiri bukan karena Dia", ujarku tenang.
Semua diam, termasuk dua orang yang duduk di depanku. Mungkin mereka sedang mencerna ucapanku yang terdengar aneh dan tidak masuk akal. Sosok yang kami sayangi di depan kami sakit hati dan fisik karena tanggung jawabnya sendiri, bukan karena Dia yang kami semua tahu memang kurang ajar.
"Semua sakit itu tanggung jawab Mami, karena Mami membiarkan dan mengijinkan tindakan dan ucapan Dia menyakiti perasaan Mami", lanjutku sejurus kemudian. Semua masih diam.
"Kalau Mami tidak mengijinkan Mami marah, kesal dan sakit hati, apapun yang dia lakukan tidak akan ada artinya. Padahal yang dibutuhkan oleh semua keluarga adalah Mami yang sehat dan gembira yang menjadi sumber sukacita", kataku sejurus kemudian.
***
Di semua sisi kehidupan, urusan Stimulus - Response yang berkaitan dengan timbulnya emosi negatif selalu up to date dan datang kembali dan kembali.
Manusia hidup dalam lingkungan sosial. Lingkungan sosial menyediakan manusia2 untuk saling berinteraksi dan tentu saja memberikan stimulus.
Yang sering tidak disadari adalah bahwa manusia lain hanya bertanggung jawab pada STIMULUS yang mereka BERIKAN. Jenis RESPONS yang muncul kemudian sepenuhnya tanggung jawab KITA.
Kita bertanggung jawab terhadap respons yang kita munculkan, apakah itu respons emosi negatif atau positif. Kita yang memproduksinya bukan orang lain.
Dan kita tahu bahwa emosi negatif yang berkepanjangan tidak baik untuk hati dan pikiran, bahkan akan merusak badan karena mengundang penyakit.
Jadi, kalau anda Marah, Sedih, Benci dan merasa Bersalah semua itu tanggung jawab Anda bukan tanggung jawab siapa-siapa.
***
"Sebal banget nih ketemu sama orang yang tidak asertif. Di rapat bilang iya iya, di belakang berkoar-koar tidak setuju ngomong sana-sini", gerutuku sambil duduk di kursi.
"Sudahlah pa, namanya juga manusia, jenisnya ya rupa-rupa. Apalagi ini kan pekerjaan pelayanan bukan pekerjaan kantoran", mama Thesa berujar bijaksana.
"Tetap aja nyebelin banget, bukan merupakan tindakan pemimpin yang baik", kataku kesal.
"Pa, ngapain kamu yang kesal dan sebal? Bukannya papa yg bertanggung jawab sendiri atas emosi papa? Lha Mami aja sekarang sudah bisa tersenyum riang, jangan sampai malah papa yg jadi meriang", gurau mama Thesa.
"Okey deh", sambutku mesra. Aku kecup tangannya. Seringkali Coach memang butuh dicoaching. Karena coach juga manusia.
EU4U
BSD170116
Untuk mereka yang bersukacita
Happy Sunday
Langganan:
Postingan (Atom)