20 Desember 2009

What you THINK is what you GET


"Ma, jam tangan Raymond Weill (RW) yang warna silver ada dimana ya?" tanya Anggoro kepada istrinya sambil sibuk memeriksa laci lemari. "Bukankah papa biasa pakai jam itu ke kantor?" Dinda istri Anggoro balik bertanya. "Jam RW yang papa pakai ini yang warna gold, aku nyari yang warni sliver ma" Anggoro menjawab sambil masih sibuk membolak2 lemari pakaian dengan harapan menemukan jam itu di antara tumpukan baju di lemari.

Dinda segera sibuk membantu Anggoro mencari jam RW itu dilaci2, bahkan dilemari diantara tumpukan2 baju. Setelah 30 menit mencari akhirnya mereka berdua menyerah. "Mungkin tertinggal di Bandung kali pa" kata Dinda, "tar weekend kita cari disana". Anggoro menyetujui usulan Dinda dan segera berangkat kerja.

Sabtu pagi dua hari kemudian di Bandung. Pagi2 Anggoro dan Dinda sudah sibuk membongkar laci dan lemari untuk mencari jam RW yang hilang. "Wah....kok ngak ada juga ya ma?" kata Anggoro lesu kepada Dinda istrinya yang ikutan lesu dan capek membongkar barang2 namun tetap tidak menemukan jam yang dicari. "Pa, jangan2 si Mbak yang mengambil! gerak-geriknya mencurigakan!" kata Dinda tiba-tiba. "Ah....kamu jangan asal tuduh ma, ngak baik itu" bantah Anggoro, "mungkin jam itu ketinggalan di Klaten saat kita pulang kampung kemarin" lanjutnya. "Tapi pa, bulan lalu si Mbak pinjam uang 1 juta, siapa tahu uang itu kurang" desis Dinda. "Aku telpon ibu dulu deh", bergegas Anggoro menelpon ibunya di Klaten dan meminta bantuan untuk mencari jam itu disana. Namun sang Ibu tidak mendapati jam yang dicari.

Pulang ke Jakarta, semakin diperhatikan gerak gerik si Mbak makin mencurigakan bagi Dinda. Dua hari yang lalu, si Mbak tidak mengembalikan sisa uang belanja yang dia berikan, padahal biasanya tidak pernah lupa dia mengembalikan kelebihan uang belanja. Siang tadi saat selesai menyetrika pakaian, Dinda memperhatikan bahwa si Mbak saat memasukkan baju kedalam lemari, tangannya merogoh dikanan kiri tumpukan baju, seakan-akan sedang mencari2 barang atau uang disana. Dia juga perhatikan bahwa setiap kali hendak menyapu kamar tidur, si Mbak menunggu Dinda keluar ruangan dan baru membersihkannya. Kecurigaan Dinda makin memuncak, pada saat membersihkan kamar sendiri itu sangat mungkin dipakai si Mbak untuk mengambil barang2.

"Pa, pasti dia!" sergah Dinda sesaat sesudah Anggoro masuk ke kamar pulang dari kerja. Anggoro segera mengerti arah pembicaraan istrinya. "Tapi kita tidak memiliki bukti ma, kalau tuduhan tanpa bukti itu jelas tindakan yang tergesa-gesa" lanjut Anggoro. "Kurang bukti apa lagi pa?, tindak-tanduk si Mbak akhir2 ini makin mencurigakan!", segera Dinda menceritakan kepada Anggoro hal2 yang dia perhatikan beberapa hari ini. "Ma, itu bukan merupakan bukti. Uang yang tidak dikembalikan siapa tahu memang habis buat belanja, sedangkan tangan merogoh kiri kanan tumpukan saat memasukkan baju kedalam lemari bukankah memang musti demikian agar rapi? sedangkan membersihkan kamar menunggu kamu keluar ya wajar lah, emangnya kamu mau makan debu dikamar saat di sapu?". Anggoro mencoba melunakkan tuduhan istrinya. "Ah, papa ini gimana sih, lha wong sudah jelas gitu kok, emangnya siapa lagi yang akan mengambil jam itu kecuali dia?" kata Dinda dengan jengkel dan kesal.

"Kriiiiing, bunyi HP Anggoro memisahkan perdebatan mereka. "Hallo, iya ada apa bu" kata Anggoro sesaat sesudah melihat bahwa yang menelpon adalah ibunya dari Klaten. "Le, ini ibu menemukan kotak warna putih dibawah lemari, didalamnya ada jam" kata ibu Anggoro. "Bu, coba dibaca jam itu mereknya apa?" kata Anggoro tidak sabar, Dinda juga ikut beringsut mendengarkan dengan berdebar-debar. "Bentar ya, ibu coba baca......mereknya adalah Raymond Weill!".

Bandung at Midnight 19 Dec 2009
Eko Utomo for Smansa Workshop

14 September 2009

Berhala Tradisi

Pagi itu pada sebuah biara, kesunyian yang biasa menemani terusik pergi dengan kedatangan para pencari Tuhan yang berondong-bondong datang pada minggu istimewa yang hanya sekali singgah pada setiap tahunnya. Minggu yang tidak akan terlewatkan oleh penghuni tetap biara dan juga mereka2 yang datang untuk melakukan hal yang sama dalam pencarian arti kehidupan.

Semua persiapan sudah lengkap. Alat sembahyang, bangku, buku pujian dan semua yang diperlukan untuk menjalani ritual suci yang mereka nanti. Jam menunjukkan pukul 6 pagi ketika semua sudah bersiap ditempat duduk masing-masing ketika kepala biara yang menjadi pemandu doa datang untuk memulainya. "Saudara-saudara yang terkasih.......", meooooooooooooong, "kesempatan yang istimewa ini", meooooooong, "marilah kita pergunakan", meoooooooong, "untuk memuji Dia", meooooooong. Sahut-sahutan antara pemandu doa dan kucing berlangsung selama beberapa menit dan baru berhenti ketika kucing diambil dan dibawa keluar ruangan .

Damai sejahtera hanya tergapai selama beberapa saat sebelum sang kucing kembali masuk ruangan dan ikut memuji dengan bahasanya. Manusia yang terganggu dengan kolaborasi kucing yang tidak diundang ini akhirnya mengambil keputusan untuk mengikat anggota tidak resmi ini kesebuah tiang didepan ruangan. Demikianlah yang terjadi selama seminggu, sang kucing setiap pagi terikat selama seminggu pada masa pemujaan berlangsung. Hal yang sama berlangsung selama 10 tahun sampai pada akhirnya kucing dan kepala biara sudah pergi meninggalkan biara menemui sang pencipta.

Pagi itu minggu pemujaan datang kembali, semua persiapan sudah lengkap. Para jemaat sudah datang, namun pengurus biara kelihatan masih kebingungan. Ada gerangan apalagi yang kurang? "masih ada yang kurang................" kata salah seorang anggota pengurus biara. "Apa yang kurang, bukankah semua sudah ada?", kata jemaat. "Masih kurang kucingnya, salah seorang dari rekan pengurus sedang mencari kucing untuk kita ikat di tiang". Demikian jawab pengurus biara yang lain.


Berhalaku
Ada puluhan berhala atau mungkin ratusan berhala yang aku pelihara. Aku ingat berhala "Terimakasih". Berhala ini aku lakukan saat seseorang memberikan bantuan padaku dan kuucapkan berhala itu tanpa sedikitpun tulus melihat matanya. Atau mungkin berhala yang satu ini, berhala "Maaf", berhala yang sering diucapkan tanpa makna, hanya sekedar karena itu ada dan harus selalu ada dalam kehidupan.

Bagaimana dengan Anda? berapa banyak berhala yang Dikau pelihara?

Note: Cerita teratas terinspirasi dari kotbah pagi ini

Eko Utomo
Serpong
Akhir Agustus 2009

Menjauhkan yang Dekat dan Mendekatkan yang Jauh

Malam sudah beranjak tua, diruangan yang asri dan luas itu lebih dari 40 orang duduk menyebar memenuhi ruang terbuka yang menyambung dengan halaman. Pramusaji di pojok halaman mendapatkan kesempatan untuk istirahat dan duduk setelah diserbu mereka-mereka yang sedang berbuka puasa. Dibagian dalam, meja makanan "berat" disebelah kolam ikan juga sudah tidak ada satu batang hidungpun yang antri mengambil nasi bakar.

Malam itu adalah malam berbuka puasa dirumah direktur perusahaan multimedia. Tentu saja, karyawan perusahaan multimedia pasti sangat "melek" dengan yang namanya teknologi terkini. Lebih dari separo mereka yang hadir dalam ruangan mengenggam ponsel "wagu" karena bentuknya yang mirip kalkulator itu, ponsel yang sekarang menjadi icon extravagansa komunikasi yang mendapatkan nama kesayangan BB.

Disudut timur, pada sebuah ayunan yang nyaman 2 orang sedang duduk manis dengan akrabnya. Akrab karena bahu mereka bersentuhan satu sama lain, kedekatan yang sungguh dekat dan hangat. Disudut yang lain 3 orang nona dan nyonya duduk bersandar pada sebuah sofa, pada sebuah posisi yang juga cukup akrab. Salah seorang diantaranya memainkan BBnya untuk mengabadikan momentum acara "Bubar" tersebut.

Sungguh suatu acara kebersamaan yang hangat dan nyaman, makanan kecil juga betebaran diatas karpet halus yang digelar diatas lantai. Bergantian tangan mereka beraksi selaras dengan aksi goa selarong (mulut) yang bergerak ritmik mengunyah materil enak itu. Semua serba bagus dan baik adanya...................t
unggu, ada sesuatu yang aneh dan asing. Moment yang sempurna tadi serasa masih kurang satu hal, yaitu bunyi suara! ya bunyi suara. Semua sunyi dan tenang...............semua asik dengan BB yang ada ditangan masing2.

Seorang nona terlihat sibuk mengupload foto ke FB dan memberitahukan kepada 1000 orang temannya di FB. Karyawan yang masih berumur dibawah seperempat abad di pojok ruangan sedang menulis status bahwa BuBar kali ini makanannya asik punya. Sedangkan teman disebelahku sibuk membalas SMS tidak tahu kepada siapa? Aku sendiri duduk termanggu memandangi semua ini, semua terlihat dan terasa dekat, namun juga jauuuuh tak tersentuh.

Luar biasa.............teknologi yang demikian canggihnya ini telah membantu untuk mendekatkan ribuan orang bahkan mereka yang jauh itu bisa tahu secara detail apa yang sedang kita kerjakan. Namun kami berdua yang duduk sebelah menyebelah dengan bahu kami bersinggungan selama 1 jam hanya terlontar satu kalimat "pak Eko, saya kirimkan pesan untuk sampeyan, tolong buka inbox, cepat dibalas ya pak!".

Bandung 5 September 2009
Salam hangat dari jauh.
Eko Utomo

Pada Sebuah Sepatu

Si Cantik ini tidak pernah bisa lepas dariku, tubuhnya yang mulus dan bodynya yang cukup up to date membuat aku tidak malu untuk mengajaknya menemani aku kemanapun aku pergi, juga kepergianku kali ini kesebuah gedung besar disebelah stadion Klaten. Gerimis kecil yang menerpa kulit tanganku takkuhiraukan. Aku segera bergegas menuju papan pengumuman yang diletakkan didepan gerbang sekolah. Ya.....hari ini adalah hari pengumuman penerimaan SMAN 1 Klaten. Hari yang sudah sore memudahkan aku untuk segera melihat papan pengumuman tanpa perlu berdesakan.

No. 55 Eko Jatmiko Utomo
Semprul......Nilai Ebtanas tertinggi dari kota asalku yang hampir menyerempet di angka 50 ternyata cuma mendarat di posisi 55 dari sekitar 500 orang yang diterima di SMAN 1 Klaten tahun 88 ini. Hmmm Eko Utomo sang juara kelas merangkap ketua kelas SMP1 Blora ini kelihatannya harus meninggalkan kebiasaan buruk malas belajar kalau mau survive di SMA favorite di seantero jagad Klaten ini. Tapi biarlah, daripada jadi jago kandang disana mending punya banyak sparing partner di sini, bisikku kepada si Cantik berbaju biru yang setia menemaniku sejak tadi.

Mataku menelusuri aturan dan tata tertib sekolah saat aku tertumbuk pada kalimat: "menggunakan sepatu hitam dan kaos kaki hitam". Waduh...........mau dikemanakan sepatu cantik kesayangan warna biru ini? sepatu kebanggaan yang aku pakai ngeceng ponakan pak Wiji guru sejarah SMPku dulu ini. Pikiran kacau dan balau tentang nasib sepatu biru cantikku terbawa sampai kerumah (tepatnya rumah simbah). Untuk membeli sepatu baru warna hitam merek Kasogi jelas merupakan kemewahan yang berlebihan bagi anak guru SMP seperti aku. Belum lagi Bapak dan Ibu nun jauh ada disana di Blora yang membutuhkan waktu tidak kurang dari seminggu untuk meminta uang.

Kala kekalutan makin berat dan menekan, terlihat sebuah spidol warna hitam bekas pesta perpisahan SMP beberapa bulan yang lalu. Aku melompat dari tempat dudukku sambil berteriak Horeeeeeeeeeeee laksana Archimedes berterial Eurekaaa menemukan hukum aksi dan reaksi. Bergegas aku ambil spidol hitam dan menaruh si cantik kebiruan kedalam haribaan, dengan hati-hati aku torehkan spidol sakti yang menyulap sepatu biru menjadi hitam (lebih cocok dikatakan kehitaman). Dalam waktu 15 menit semua sudah selesai dan beban berat terangkat dari pundak. Besok senin aku bisa berangkat sekolah dengan sicantik biru yang menyamar menjadi black sweety.

Senin itu gerimis kembali menyapa bumi dikaki Merapi, sekali lagi aku ngak peduli dan tidak mau tahu tentang gerimis. Semangat untuk masuk sekolah dan berkenalan dengan teman baru jauh lebih besar daripada sekedar gerimis yang hanya mampu membuatku sedikit basah dan lembab. Paling setengah jam lagi juga akan kering dengan sendirinya. Sesudah memasukkan sepeda ke tempat parkir aku segera bergegas menuju kelas IF kelas dimana aku akan melewati tahun pertama.

Kegembiraanku terhenti ketika seorang guru laki-laki menghadangku di tengah jalan. "Hei kamu...................kam
u anak kelas satu ya" katanya galak. "Betul pak......" jawabku takut-takut. "Kamu baca aturan tidak tentang sepatu?" kata pak Guru galak yang berkumis tebal itu. "Baca pak, sepatu hitam dan kaos kaki hitam". "Dasar...baru hari pertama saja sudah mencoba melawan aturan kamu ya............" bentak pak guru yang membuat semua tulang-belulang seraya terlepas sendinya. "Tidak pak, saya mentaati aturan kok............"kataku bergetar menahan takut. "Masih menyangkal kamu ya...................., coba lihat sepatumu! kamu pulang dan jangan kembali sebelum memakai sepatu sesuai aturan!". Bentakan terakhir ini membuatku tertunduk dan jauh dibawah..............diujung kaki terlihat bahwa si Biru cantik nongol kembali karena warna hitam spidol telah hanyut oleh gerimis pagi.

BSD City
City of Kuliner
Eko Utomo

Hereditas in Action

Hereditas ini memang suatu hal yang luar biasa, bagaimana tidak luarbiasa kalau orangtua bisa mewariskan banyak hal kepada anak2nya. Tidak hanya profil dan bentuk muka saja yang diturunkan namun juga cara berfikir, tingkah laku, cara bertindak dan juga hal kecil2 lainya yang mungkin kelihatan remeh temeh.

Dalam konteks yang sama istri saya sering banget melemparkan tuduhan yang sangat tendensius, "pa, kamu waktu kecil suka ngences ya?" tuduhnya dengan kalimat yang tajam. Jelas tuduhan yang seperti ini bisa menurunkan martabat bangsa dan langsung mengaktifkan "self defence mechanism". Belum 1 menit saya mencoba menjelaskan bahwa ngences bukan merupakan bagian dari sejarah masa kecil, istri saya langsung mencela dengan kartu trufnya, "lihat saja Jason anakmu, kalau bukan dari kamu dari siapa lagi dia memiliki kebiasaan ngences!". Jawaban yang sangat telak, karena pada saat itu bukti hidup sedang asyik main kereta sambil tentu saja tes tes tes ngences sekenanya.

Itu belum seberapa, saat ini yang namanya Jason Utomo ini sedang dalam masa kreatif-kreatifnya. Segala macam dicoba dan segala larangan dilanggar. Yang ada dalam kepalanya adalah mencoba semua hal yang menarik hati, istilah orang awamnya adalah "Bandel". Kalau sudah jengkel terhadap Jason maka yang digumamkan istri hanyalah "Dasar bandel kayak papanya!". Tentu saja saya mencoba membela diri dan balik menuduh itu diturunkan dari dia. Kalau sudah begitu dengan kalem mamanya Jason akan bilang, "lha itu tulisan papa di internet itu apa kalau bukan bandel!". Weladalah.........ternyata
tulisan di internet berbalik menjadi senjata makan tuan he he he he

Saat saya SMA, seorang saudara yang terhitung pakde pada satu kesempatan memberikan sabdanya "Eko, nanti kalau besar nanti kamu cocoknya jadi guru seperti orangtuamu!". Sebuah ramalan yang menyakitkan hati (maaf para guru semua ya), masak Eko Utomo sang ketua karang karuna, ketua kelas nan cerdas kok diramalkan jadi guru. Eko Utomo ini cocoknya jadi tukang Insinyur yang gajinya besar seperti yang selalu saya gembar-gemborkan ke bokde belakang rumah simbah kalau sedang pinjam uang. "Mbokde, kalau saya nanti sudah lulus kuliah dan kerja, gaji saya lebih dari 6 jt perbulan" demikian bualan saya (tahun 1989).

Jadi guru itu PENGABDIAN, sengaja saya tulis dalam huruf besar. Selama puluhan tahun jadi anak bapak dan ibu yang guru SMP saya tahu persis berapa gaji mereka. Setiap awal bulan, slip gaji ibuk pasti hampir nol karena harus dipotong ini itu, sedangkan gaji bapak harus diirit untuk membiayai hidup dan sekolah ketiga anaknya. Bahkan untuk membeli sepatu Kasogi warna hitam(lihat notes "pada sebuah sepatu") merupakan sebuah utopia, angan angan yang terlalu tinggi yang tak mungkin tergapai.

So, profesi guru ada dalam urutan terakhir daftar karir yang akan ditempuh sesudah lulus kuliah nanti, kalau bisa tidak masuk daftar sama sekali. Lima tahun sesudah lulus kuliah dan mencoba berbagai macam profesi akhirnya saya masuk di fungsi Human Resource (HR) khususnya Leadership Training. Posisi yang disandang adalah Fasilitator. Saat saya cuti dan pulang kerumah, ibu bertanya apa kerjaan saya sekarang dan saya jelaskan dengan bahasa yang keren tentang fasilitator, beliau cuma bilang "Ooooooooo kerjane podo karo guru to le!". Saat ini, posisi yang tertera di kartu nama adalah "Learning & Development Division Head", namun seringkali kalau lagi ketemu dengan teman baru boss saya yang direktur itu mengenalkan saya dengan ungkapan "Kenalkan, ini pak Eko kepala sekolah kita".

Sore ini badan saya terasa meriang semua, mungkin karena terlalu sering kena AC atau bisa juga karena lagi musim pancaroba. Saat istri saya mengajak pergi ke Carrefour untuk cari Kompor baru saya sempat malas-malasan. Namun sesudah dibilang bahwa kompornya sudah merah warna apinya plus memang sudah umur 8 tahun maka dengan terpaksa saya menyetujuinya sambil bilang "kamu yang nyetir ya ma!".

Pulang dari Carrefour jam 7 malam badan makin meriang, kalau tidak diambil tindakan khusus bisa jadi bahaya nih. "Ma, aku panggil mak Erni ya" kata saya kepada istri yang sibuk mencoba install kompor baru. "Pa, ini kapan kompornya mau dipasang? habis lebaran? aku butuhnya sekarang!" bukannya menjawab pertanyaan saya, dia malah uring2an karena saya dari tadi diam saja tidak masang kompor baru.

Mak Erni datang jam 8, "dari tetangga depan" demikian katanya sambil memperlihatkan giginya yang sudah hitam dan ompong dimakan usia saat ditanya kenapa datang terlambat. Mak Erni usianya sudah 62 tahun, Betawi asli, sudah punya cucu dan punya penyakit latah. Sepanjang acara pijat memijat, saya silih berganti melakukan dua ekspresi muka: nyengir kesakitan saat urutan kena urat bandel dan nyengir kegelian saat mak Erni latah melihat film Horor yang ada ditayangan TV.

Saat pijatan usai, badan menjadi enteng. Istri saya yang gantian minta diurut. Saya segera melihat hasil kerja instalasi kompor oleh istri barusan. Bah, dalam waktu 1 jam ternyata kemajuan yang tercapai hanyalah mengeluarkan kompor dari kertas karton pembungkusnya. Memang para ibu ini pandai dalam memakai perkakas dan mobil namun kalau disuruh perbaikan atau install tetap kaum Adam yang harus maju. Hanya dalam waktu 15 menit kompor baru sudah terpasang dan melihat hal itu istri tersenyum sambil bilang "thanks pa, hebat juga kamu!". Hmmm ternyata menikah 8 tahun dan pacaran 3 tahun belum cukup meyakinkan dia betapa serbabisanya papa Thesa ini he he he he

"Ma, warisan almarhum bapak yang satu ini memang oke". kataku sambil nonton TV. "Warisan apaan" potong mama Thesa dengan wajah penasaran. Memang kalau urusan warisan itu saaangat sensitive dan harus hati-hati dibicarakan. "Jangan mikir yang aneh-aneh, ini lho warisan kebiasaan dipijat dan diurut. Coba kalau kebiasaan yang diturunkan adalah berobat ke Mount Elisabeth Singapore, kita kan bisa bangkrut!" jelas saya. Mama Thesa hanya nyengir menandakan setuju.

Tidak berapa lama mama Thesa selesai diurut, belum juga mamanya selesai memakai pakaian, Thesa (7 tahun) yang dari tadi duduk tenang langsung bangkit berdiri dan lukar ageman (copot pakaian) serta pasang posisi siap dipijat. "Oooooalaha Thesa, memang kacang ora ninggalake lanjaran!".

BSD City
Tengah malam saat nonton Nadal Vs Del Potro
14 September 2009
Eko Jatmiko Utomo

13 September 2009

Sukses & Bahagia

Sukses & Bahagia! (Seri 1)

“Success means having the courage, the determination and the will to be come person you believe you were meant to be.” George Sheehan

Cerita di tepi pantai Pangandaran
Tersebutlah seorang direktur muda sedang berlibur di pantai Pangandaran. Direktur muda ini, kita sebut saja Brian, merupakan salah satu contoh sukses seorang profesional muda. Selain cerdas dan merupakan lulusan perguruan tinggi terbaik di negeri ini baik S1 dan gelar MBA-nya, Brian dalam usia pertengahan 30an sudah menduduki posisi Direktur disebuah perusahan MNC yang terkenal.

Pagi itu sambil menikmati hawa sejuk yang dikirimkan laut selatan, Brian berjalan-jalan bertelanjang kaki disepanjang bibir pantai Pangandaran yang cukup indah. Semenanjung “Pangandaran ini sungguh unik” gumam Brian. Dalam lokasi yang sama (berdekatan) kita bisa menyaksikan sunshine dan sunset muncul dan tenggelam dari laut di kejauhan.

Langkah kaki Brian terhenti tatkala dikejauhan dilihatnya seorang nelayan sedang memancing ikan dilaut. Bukan proses memancingnya yang menarik perhatian, namun sungguh luarbiasa, hampir setiap menit Nelayan itu mengangkat Joran dari laut dan mendapatkan beragam ikan tersangkut diujung kailnya. Brian berdiri terdiam menikmasi “proses bisnis” yang demikian mulus dan sukses, sampai dia melihat sang Nelayan berhenti memancing dan mengemasi peralatan yang dibawanya.

Penasaran dan ingin tahu, Brian datang mendekat ke Nelayan. “Pak Nelayan, mengapa Anda berhenti memancing?”. Sang Nelayan dengan rambut disaput uban menoleh kepada Brian dengan pandangan sedikit heran. Melihat hal itu Brian tersadar ketidaksopanan yang dia lakukan. “Maaf pak, saya turis di pondok itu. Nama saya Brian dan kebetulan tadi saya sempat perhatikan bapak saat memancing dan mendapatkan hasil yang banyak. Cuma saya heran kenapa bapak berhenti memancing?”, jelas Brian sambil mengulurkan tangan untuk memberikan salam. Kali ini sang Nelayan separo baya menyambut tangan Brian dan memberikan senyum hangat tanda dia menerima kehadiran Brian.

Berdua mereka duduk di sebuah batu besar yang tergelatak ditepi pantai curam sambil memandang laut dikejauhan. “Nak Brian tadi tanya apa ya?”, kata sang nelayan sambil mengeluarkan rokok lintingnya. “Ini pak, saya heran mengapa bapak berhenti memancing padahal hasil yang didapatkan bagus sekali”, ulang Brian sambil menunjuk sebuah ember yang penuh dengan ikan. “Oooooo itu pertanyaanya......ya memang harus berhenti, lha wong ember yang saya bawa sudah penuh kok!” jawab sang nelayan sambil tertawa terkekeh memperlihatkan giginya yang kehitaman dimakan asap rokok.

“Mengapa bapak tidak membawa ember-ember yang lebih banyak untuk membawa hasil tangkapan?” desak Brian penuh keheranan. “Lho, ember lain itu untuk apa nak Brian?”, gantian sang Nelayan yang terbelalak keheranan. “Ya, tentu saja agar bapak bisa memancing ikan lebih banyak lagi pak”, jelas Brian dengan gemas akan jawaban polos sang Nelayan. “Ikan2 yang lebih banyak itu untuk apa nak Brian”, tanya Nelayan kali ini sambil meneruskan isapan pada rokoknya yang tinggal separuh. “Wah, bapak ini gimana sih, kalau bapak bisa mendapatkan lebih banyak ikan, bapak bisa menjualnya dan kemudian mengumpulkannya untuk jadi modal beli pancing lagi pak”, jelas sang lulusan Cum Laude MBA dengan berapi-api.

“Hmmm, kalau punya banyak pancing untuk apa?”, kembali sang Nelayan bertanya. “Bapak ini gimana sih, dengan banyak pancing artinya bapak bisa memancing lebih banyak lagi ikan, sehingga hasilnya bisa bapak tabung dan ketika sudah cukup bapak bisa membeli perahu”, saking gemasnya Brian menjawab seperti senapan yang memuntahkan peluru. “Kalau punya perahu, apa yang saya dapatkan?”, kembali sang Nelayan dengan naif bertanya.

Uuuuuuuh..........kali ini sebelum menjawab Brian menarik nafas panjang untuk menyabarkan hatinya yang panas saking gemasnya dengan Nelayan yang duduk santai didepannya ini. “Bapak, kalau bapak punya perahu, maka bapak akan dapat menangkap lebih banyak ikan, dengan demikian maka bapak akan memiliki cukup uang untuk makan, sekolah anak2, dan juga berlibur. Trus yang paling penting bapak cukup memiliki waktu untuk bermain dengan anak2 dan cucu bapak tanpa diganggu oleh kesibukan kerja”, detik terakhir kalimat terlontar Brian teringat bahwa liburan ini adalah liburan pertama dengan keluarga yang dia lakukan sejak 2 tahun lalu saat dirinya diangkat jadi direktur.

“Oooooo, itu to yang dimaksud nak Brian, untuk bisa makan, sekolah anak dan terutama meluangkan waktu dengan keluarga”, balas sang Nelayan sambil tersenyum. “Benar pak, itu adalah hal yang paling mahal dan paling susah kita dapatkan” jawab Brian setengah mengeluh. “Kalau itu yang dicari, makan dan sekolah anak2, sudah bapak berikan dengan hasil seember ikan ini. Kembali dari sini bapak momong cucu yang baru umur 2 tahun. Nak Brian mau bapak perkenalkan?”, ajak pak Nelayan sambil mengangkat peralatan dan hasil tangkapan. Brian hanya berdiri termangu dan diam.

Definisikanlah!
Dalam banyak Leadership, Managerial dan Motivational workshop yang dilakukan oleh penulis, pertanyaan tentang rahasia kesuksesan merupakan salah satu pertanyaan favorite banyak orang. Bahkan pertanyaan yang sama seringkali dilontarkan pada saat coaching “one on one” yang lebih pribadi.

Tidak salah dan jelas bukan dosa kalau semua orang ingin sukses. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu seringkali berkata “Eko, kamu sekarang jadi orang sukses ya, beda dengan saya”. Pertanyaan yang sederhana namun mengandung unsur “menyesatkan” didalamnya. Kalau mendapatkan pertanyaan tersebut biasanya saya akan bertanya balik, “menurut sampeyan sukses itu yang bagaimana sih?”. Jawaban dari pertanyaan ini akan membawa kita masuk lebih dalam ke konstruksi bangunan kesuksesan masing-masing individu. Temuan mengejutkan lainnya ternyata bangunan kesuksesan masing-masing orang berbeda, tergantung bagaimana mereka mendesign dan membangunnya.

Jadi, pertanyaan apakah Anda sukses merupakan pertanyaan yang sangat relatif. Rumah megah dan mobil mewah bisa merupakan tanda sukses bagi seseorang namun tidak ada artinya bagi orang lain. Jabatan direkur perusahaan ternama mungkin mentereng bagi orang lain, namun tidak berarti untuk seorang ibu rumah tangga yang mengukur kesuksesan dengan seberapa banyak cinta & kasih tumbuh dan berkembang di hati dan perilaku anak2nya.

Pernyataan inilah yang merupakan jawaban mengapa dialog Brian dan Nelayan diatas seperti percakapan antara dua mahluk dari planet yang berbeda. Sang Nelayan memaknai kesuksesan dia dengan cara yang sederhana, tangkapan ikan secukupnya dan waktu yang cukup untuk bermain dengan keluarga. Sementara Brian lebih fokus kepada cara untuk mendapatkan kesuksesan daripada kriteria kesuksesan itu sendiri.

Sukses & Bahagia
Arvan Pradiansyah, seorang motivator memberikan definis yang sederhana untuk membedakan dua istilah ini. Dua istilah yang sering kali rancu ditangkap dalam alam pemikiran manusia.
Sukses: Mendapatkan apa yang diinginkan
Bahagia: Menginginkan apa yang didapatkan.
Sesama lulusan perguruan tinggi sangat sah bilang dirinya sukses karena sekarang sudah menjadi Manager disebuah perusahaan. Sementara seorang yang lain bilang bahwa dirinya kurang sukses walaupun posisi dirinya lebih tinggi dari teman tadi yaitu seorang Senior Manager.

Mengapa ini terjadi, sebab 2 orang yang berbeda memberikan makna yang berbeda tentang kesuksesan, yang satu mendefinisikan kesuksesan apabila 15 tahun sesudah lulus kuliah menjadi Manager dan satu lagi mendefinisikan kesuksesan adalah menjadi Direktur pada kurun waktu yang sama. Jadi kalau Anda ingin sukses langkah pertama yang harus kita lakukan adalah difinisikanlah sukses itu seperti apa? Semakin detail definisi tersebuat semakin mudah Anda mengukurnya.

Bagaimana menurut Anda?

Eko Jatmiko Utomo
BSD City
13 September 2009

Note: tulisan ini merupakan tulisan berseri tentang sukses dan rahasianya.

25 Agustus 2009

Duuuuuh kakunya dirimu.........


"Person with the most flexibelity will control.”.
NLP Belief


Tomy Way

Ini kisah tentang mas Tomy Engineer, bukan kisah tentang sebuah lagu favorite yang selalu dinyanyikan oleh bapak-bapak pejabat diatas panggung kampanye kehidupan atau kalau pas lagi kelayapan di ruang2 gelap karaoke.


Mas Tomy yang kuliah engineering ini adalah tipikal engineer tulen….benar-benar pulen seperti beras pulen plus organic pula! Tomy merupakan manusia berbakat yang kalau ditest secara IQ tidak akan malu-maluin, IQ-nya lebih dari 120! Cukup untuk membuatnya mempunyai banyak pilihan dalam memilih Universitas yang ingin dimasukinya selepas lulus dari SMA favorite di kota kecil tempat dia dilahirkan dan melewati masa remajanya.


Universitas yang Tomy masuki merupakan salah satu perguruan tinggi teknik terbaik yang ada di negri ini. Yang lebih penting daripada itu ternyata PT ini memberikan Tomy asupan makanan jiwa yang didamba. Yaitu kepercayaan diri yang tinggi dan persaingan yang tinggi. Sepertinya tidak salah pilihan yang dibuatnya saat memilih sendiri PT mana yang akan dimasuki (pilihan Tomy ini sebenarnya bertentangan dengan pilihan ibunya yang menginginkan dia kuliah disekolah kedinasan yang gratis dapat uang saku dan menjamin pekerjaan masa depan).


Saat pertama kali menginjakkan kakinya di gerbang kampus tercintanya, sebuah spanduk besar terbentang di pintu gerbang ”Slamat datang putra putri terbaik bangsa”. Dengan sadar dia bantah didalam pikirannya, ” wuiih.., sombong sekali kampus ini”. Tidak berhenti disitu, kalimat dari spanduk tadi bahkan dia jadikan materi debat saat diskusi P4 dengan teman2 barunya. ”Teman-teman, spanduk didepan sana dengan jelas merupakan refleksi megalomonia kompleks yang harus kita hindari” serunya dengan penuh semangat kepada teman2 lainnya.


Yang tidak disadari oleh Tomy bahwa jauh menelusup di labirin-labirin gelap, diantara belitan dendrit** yang menyambung bulatan Neuron2* dibatok kepalanya yang agak oversize itu ungkapan ”Putra-Putri Terbaik Bangsa (PPTB)” menemukan tempat bersemayam yang nyaman dan subur untuk berkembang.

Waktu 5 tahun lebih dibutuhkan Tomy mahasiswa menjadi Tomy Engineer. Waktu rata2 ini ternyata waktu yang lebih dari cukup agar mahluk PPTB bereproduksi dan beranak pinak dikekedalaman sanubarinya. Tomy mahasiswa menjadi Tomy Engineer yang cerdas (hobi utama yang mengasah hal ini adalah menjadi ahli debat masalah apapun), percaya diri tinggi (jarang kalah dalam berdebat, kalaupun kalah selalu bisa ngeles biar tidak kelihatan kalah) dan idealis. (dunia ini dibagai menjadi 2 yaitu hitam dan putih tidak ada yang namanya abu-abu titik! Ndak pakai koma)


I, We not YOU!

Ruangan meeting perusahaan Tambang besutan Paman Sam itu terlihat penuh sesak, muka-muka merah menahan amarah dan kekesalan mengambang diudara, padahal cuma ada 13 orang karyawan lokal Indonesia ditambah dengan 2 orang manager bule expatriats. Kalau dihari-hari biasa bisa muat orang 20 tanpa terasa sesak, hari ini kelihatan sesak dan menekan. Dinding serasa bergerak menyempit dan menghimpit mengakibatkan makin susah menghirup udara, atau mungkin memang karena hawa permusuhan dan pertentangan yang menyebar dan menyempitkan ruangan?


“Sir, what WE want is mr. Joe Doe being fired! He put all unexperience and young expats engineers here in our engineering department! Almost all of them have no exceptional competencies, what they can do WE can do!. The different is the salary 10 fold of OURs!” seru Tomy yang pada saat itu menjadi jurubicara sekelompok engineer yang mengajukan petisi untuk melengserkan Joe Doe manager mereka. Manager yang menurut mereka tidak adil karena merekrut bule2 kroco yang tidak bisa apa2 namun gajinya berlipat-lipat dari mereka.


“Tomy, are there sometings wrong with you guys? We recruit them because we need them, these expatriates, if you guys need a discussion let’s do it” Senior Manager boss dari John Doe mencoba menengahi. “NO, again what we want is John Doe must pack his stuff here beacuse his deeds, period or WE will release our petition to the Chief Operating Officer!”. Tomy berseru kencang merasa paling benar dan marah bahwa hal yang baik menurut dirinya dan teman2nya tidak bisa diterima oleh Senior Manager.


Reputation Builder

Sejak saat itu, perlahan-lahan reputasi Tomy terbentuk di perusahaan. Reputasi sebagai seorang engineer muda yang berani, pintar dan idealis. Tomy bangga akan reputasi yang dia bangun.

Sssssssst reputasi yang dibangun diatas adalah reputasi yang menurut Tomy dia tangkap dari orang2 sekelilingnya yang menyatakan hal tersebut. Di balik pintu2 kantor reputasi lain terbentuk untuk dirinya: engineer muda yang sok pinter, naif kaku, sulit bekerja sama dan mudah dimanfaatkan oleh kepentingan orang lain. Tomy melakukan itu semua bahkan sebelum masa probation period*** dia lewat.

Sejak saat itu reputasi Tomy makin besar didalam pekerjaan dan idealismenya namun karirnya ternyata tidak berkembang sebesar perkembangan reputasinya.


Flexibelity

Apa yang paling susah diterima oleh orang yang (merasa) pintar dan percaya diri tinggi? Menerima kenyataan bahwa pendapat dirinya salah dan pendapat orang lain benar.

Kekerasan hati seorang kaisar Hirohito yang tidak (atau tidak mau?) melihat bahwa pasukan Jepang di banyak front pertempuran (PD2) kocar kacir, baru luluh hatinya pada saat Hirosima dan Nagasaki lancur lebur menjadi ajang ujicoba nuklir secara nyata!


Unsur flexibelity ini ternyata menjadi kemampuan yang penting yang harus dimiliki oleh semua orang. Mereka2 yang tidak fleksibel (luwes) didalam kehidupannya sering akhir berakhir dengan menyedihkan.

Orang2 gila sebenarnya memiliki dimensi ketidakluwesan yang parah. Mereka tidak bisa melihat, mendengar dan merasakan bahwa dalam kehidupan ada sekian banyak cara yang lain yang bisa ditempuh. Saat pilihan hidup tinggal satu (menurut mereka), dan itu merupakan pilihan hidup yang mereka tidak sukai maka yang terjadi adalah proses menuju jurang yang curam stress – depresi dan gila.


Tentukan pilihan Anda!

Pagi yang cerah disebuah rumah yang indah dinodai dengan pertengkaran yang hebat. Mari kita dengarkan dialog pertempuran verbal mereka:


Suami: mama, ini untuk yang kesekian kalinya, kamu ini bisa belajar ngak sih? Sudah aku bilang berkali-kali. Buang wadah sampo, sabun, lotion dan tetek bengek barang kosong habis pakai dari kamar mandi. Mengerjakan begini aja tidak becus kamu!

Istri: papa yang tidak becus dan tidak bisa mengerti. Kalau orang lupa ya lupa masa dipaksain untuk ingat Urusan sepelu, emang kamu ngak pernah lupa apa? begitu aja digede-gedein

Suami: dasar kamu istri yang tahu diri

Istri: dasar kamu suami yang tidak pengertian


Apakah hal diatas merupakan pilihan saya dan Anda? Apakah tidak ada pilihan lagi yang lebih luwes?

Wahai suami, bisakah kamu memanjangkan kesabaranmu satu meter saja? Mengapa bukan kamu sendiri yang membuang benda2 kosong itu?

Duhai sang istri, tidakkah kamu bisa meluangkan waktu untuk belajar membuang barang-barang kosong dari kamar mandi?

Karena pada akhirnya hal kecilmu ini bisa menutup sejuta hal yang baik pada apa yang pernah terjadi padamu.


Luweslah pada dirimu dan orang lain!


Bagaimana menurut Anda?



Eko Jatmiko Utomo

Karawaci

25 August 2009

* Dendrit: Penghubung Neuron yang berfungsi mengirimkan pesan

** Neuron: Sel saraf otak

*** Probation Period: masa percobaan untuk karyawan baru, biasanya 3 bulan.

06 Mei 2008

Emosi Negatif & Pembelajaran

Memori, Emosi dan Pembelajaran.
Rahasia yang akan membawa Anda untuk maju dan tidak tersandera oleh masa lalu.

“Apa yang Anda pelajari dari peristiwa itu?". Eko Utomo

Rapat Membara
Ruang meeting berukuran 4x5 meter itu hening. Walaupun sesak dipenuhi oleh 10 orang, tidak ada suara terdengar, senyap, namun hawa panas menggelegak sangat terasa, batuk kecil dari salah seorang peserta meeting seakan-akan bunyi geledek 120 desibel.

Diujung meja, seorang pria bule setengah baya dengan rambut yang sudah memutih terlihat kontras dengan mukanya yang merah, tanda bahwa banyak darah yang memenuhi sekujur sel-sel diwajahnya. Raut mukanya menyinarkan aura yang gelap. Bibir bagian bawah tipis seperti garis, tanda bahwa dia sedang sangat tidak senang dengan kondisi yang dihadapi dalam meeting tersebut.

Dimeja yang sama, namun di ujung yang berbeda, seorang anakmuda diusia awal 30an duduk dengan tegak. Mukanya yang memang sudah gelap tambah gelap dengan banyaknya darah yang mengalir disana. Rahangnya terlihat mengeras dan siap untuk beradu argumentasi

8 orang peserta yang lain duduk diam tepekur, beberapa orang bermain-main dengan pena dan notebook dengan mencoretkan kalimat2 tanpa makna.

“Eko, this is my order. As your manager I order you to do and accept 20 Non Papuan for the new batch of our apprentice” ucap pria bule diujung meja dengan nada keras penuh dengan representasi kekuasaan.

“As I said before, you are the manager. I will do what you said. But again I am warning you that this decision will create a riot and strike! It will happen here, In front of our building. I want everybody including you responsible if the strike happen not just only me”. Balas anak muda diujung meja dengan tidak kalah tegas.

Pak Manager Bule yang mungkin hampir seumur hidupnya tidak pernah dibantah ini seperti tersengat kalajengking. Betapa kurang ajarnya bawahan dia yang masih muda ini. Berani melawan perintah dia. Dengan segera dia menutup meeting dan meminta semua pihak untuk melaksanakan action plan yang sudah dibahas dalam meeting.

Disisi lain, anak muda diujung meja panas hatinya sepanas gunung Merapi. Sang Anak muda panas karena dia pikir bahwa tetap saja dia yang akan menanggung akibat kalau keputusan merekrut 20 orang Non Papua di batch apprentice minggu depan akan menyulut demo ratusan Papuan yang sudah berbulan2 menunggu kesempatan dan antri untuk menjadi apprentice.

Hantu Masa Lalu
Peristiwa yang sudah berlangsung lebih dari 3 tahun itu sedemikian erat melekat dalam benak sang Anak Muda. Setiap kali nama manager bule tersebut di sebut, secara tidak sadar (Unconscioulsy) emosinya naik, mirip dengan emosi yang dia alami di ruang meeting tersebut.

Bahkan tidak jarang apabila pada suatu meeting dia bertemu dengan seorang yang memiliki kedudukan tinggi, arogan, dan memaksakan kehendak, maka peristiwa meeting horor tadi akan datang dengan cepat menguasi dirinya. Dan memaksa dia sukarela dan paksa untuk melakukan tindakan defensif yang sama yaitu: LAWAN!

Pilar2 Memori
Semua peristiwa yang kita alami dalam kehidupan disimpan didalam otak sebagai memori. Memori ini sangat penting didalam kehidupan manusia. Kenapa demikian? Memori ini akan menjadi rujukan bagi kita untuk memutuskan apakah kita akan melakukan sesuatu.

Sebagai contoh jika pada kali pertama kita pergi berlibur ke Bali mengalami peristiwa2 yang menyenangkan, maka kalau ada kesempatan lain kita dengan senang hati untuk pergi ke Bali kembali. Karena otak kita memberitahu bahwa dari memori ada hal2 yang menyenangkan yang akan kita alami di Bali seperti liburan sebelumnya.

Masalahnya adalah bahwa tidak setiap memori yang tersimpan dibenak kita adalah memori dengan emosi yang positif. Banyak memori2 negatif yang tersimpan dan terkubur disana dan sewaktu2 bisa bangkit dari kuburnya untuk merongrong keputusan2 yang hendak kita ambil.

Seorang anak sekolah yang mengalami perlakukan tidak menyenangkan dari guru Matematikanya, bisa2 tidak akan pernah suka dengan pelajaran matematika seumur hidup, walaupun pelajaran matematika diajar oleh guru yang berbeda-beda.

Memori memiliki 3 pilar utama yaitu:
1. Fakta dan gambar
2. Emosi
3. Learning/Pembelajaran


Yang sangat mengherankan adalah bahwa Pembelajaran dan Emosi Negatif berlaku sebagai faktor yang saling menggantikan. Artinya didalam memori yang masih tersimpan Emosi negatif pasti belum terdapat Pembelajaran disana. Sebaliknya apabila ada Pembelajaran disana makan Emosi negatifnya sudah menyingkir.

Apakah Emosi Negatif ada manfaatnya buat kita? Kalau saya sih ogah ah.....Emosi negatif ini akan merusak perilaku saya dalam banyak hal, khususnya dalam mengambil keputusan.

Emosi Negatif yang terbawa dalam meeting membara 3 tahun lalu diatas sering banget merongrong saya dalam pengambilan keputusan dalam meeting. Saya sering kali terbawa oleh emosi, ingin sekali saya menyingkirkan emosi negatif ini.

Apakah Anda juga tertarik untuk menyingkirkan Emosi2 negatif di memori Anda? Langkah2 dibawah ini akan bisa membantu Anda.

Mengganti Emosi Negatif dengan Pembelajaran
1. Duduk dan tarik nafas dalam dan tenang
2. Ingat kembali pada saat peristiwa tersebut berlangsung. Lihat apa yang dilihat pada waktu itu, rasakan apa yang dirasakan (emosi2 negatif yang terjadi) dan dengar suara2 yang didengar pada saat peristiwa tersebut terjadi.
3. Keluarkan diri Anda dari Anda dan lihat diri Anda pada waktu itu(menjadi pihak netral). Apa yang bisa Anda pelajari dari peristiwa tadi?
4. Saat Anda sudah mendapatkan pembelajaran (learning) dari peristiwa tadi coba Anda rasakan kembali apakah masih ada emosi negatif dari memori tersebut.
5. Apabila masih terasa emosi negatif silahkan kembali ke no. 1


Kelima langkah diatas membantu saya untuk bisa mendapatkan Pembelajaran dari Meeting Membara 3 tahun yang lalu. Sejak tahun lalu jika nama manager bule tersebut disebut, bukan lagi emosi negatif yang muncul tapi senyum dikulum.

Ujar2 Lama
Jaman dulu, saat saya masih tinggal di desa dan hidup dengan orang2 desa. Mereka ternyata sangat paham dengan prinsip ini bahkan menjalankannya dalam kehidupan mereka yang sederhana. Apabila ada orang yang sedang bermasalah dan memunculkan emosi negatif maka mereka akan berujar “apa yang kamu pelajari (hikmah) dari peristiwa ini”.

Anda mau mencoba?

Apa yang anda pelajari dari peristiwa tidak menyenangkan terakhir yang Anda alami?

Selamat Tinggal dan Sukses Selalu!

Salam Perpisahan:
- Saya akan kenang dan simpan semua memori yang manis, menyenangkan dan membahagiakan selama 2 tahun kehidupan profesional saya di Holcim.
- Tidak ada kenangan negatif tentang Holcim di diri saya, yang ada adalah Pembelajaran.


Eko Jatmiko Utomo
CCR Narogong
Awal Mei 2008
Akhir Pelayanan di Holcim

21 April 2008

The Meaning of Your Communication is The Response You Get

Be Flexible Please!
The Meaning of Your Communication is The Response You get.

“If you get slapped, try anything else.". NLP Saying

Jason Utomo
Nama lengkapnya adalah Jason Ariel Kusuma Utomo. Rambut ikal, ganteng dan punya senyum manis yang bisa menaklukkan banyak hati wanita. Saking kesengsemnya sama Jason, ada seorang ibu-ibu yang sampai berujar, “Jason, tunggu Jandaku ya!”.

Jason (Spellingnya Jesen), memang orang yang teguh hatinya. Tidak mudah dirinya dibujuk, dirayu dan juga diperintah oleh orang lain. Mirip dengan batukarang di pantai Krakal Yogyakarta. Namun, keteguhan hati Jason ini seringkali membuat banyak orang jadi pusing karena tidak bisa membelokkan apa yang sudah menjadi kemauannya termasuk juga Orang tuanya sendiri.

Salah satu lakon keteguhan hati yang sering dimainkan oleh Jason adalah naik kursi main saklar lampu! hidup – mati – hidup – mati, demikian berulang-ulang membuat semua orang pusing.

Segala macam cara sudah dicoba oleh orang tua Jason untuk mengubah perilaku itu, cara yang pertama tentu saja cara yang paling konvensional dan sering dilakukan oleh semua orang tua anak berumur Balita di dunia, yaitu dengan berkata, “Jason, berhenti main saklar lampu!” 1x, 2x.....20x dan hasilnya: TIDAK BERHASIL

Berhubung papa Jason adalah Master NLP maka dicobalah untuk mengubah kebiasaan/kesenangan Jason ini dengan teknik motivasi Toward* dari NLP. “Jason, sini nak, daripada kamu main skalar, lebih baik main puzzle sama Papa. Atau ayo kita lihat acara Baby di TV”, dst, dst, dst, dan hasilnya?
TIDAK BERHASIL

Huuuuuih, pernah ngalami hal seperti diatas ngak? Papa Jason pada akhirnya give up dan menggunakan teknik paling barbar yang bisa dilakukan (jangan ditiru saudara-saudara) pada saat Jason mulai main saklar, Papa Jason melakukan tindakan agresif yaitu: weeeeeeer, jewer telinga Jason, turunkan dari kursi. Hasilnya Jason tidak berani melakukan hal yang sama lagi. Luar biasa, ternyata cara paling kuno dan tradisional manjur! Eiiiiiiiit nanti dulu, ternyata besoknya Jason mengulangi hal yang sama tanpa takut untuk dijewer!

Minggu lalu, saat berlibur ke Bandung, Jason si Ganteng kreatif ini dengan semangat yang sama melakukan kesenangannya di rumah Bandung. Sang Master NLP sudah kehabisan kreativitas untuk mengubah perilaku Anak bungsunya ini saat dia mendengar istrinya berbicara ke Jason: “Jason, ayo terus kamu mainkan skalar, Mama senang nih jadi kayak lampu disko, terus jangan berhenti, terus, terus”. Apa yang terjadi? Jason langsung menghentikan main skalar dan beralih kemainan yang lain! Ternyata Istri Master NLP, akibat coaching luar dalam ternyata lebih kreatif dibandingkan sang Master NLP dalam menemukan alternatif cara mengubah perilaku anaknya he he he.

Gaji untuk Ngomong
Kalau boleh dihitung, saya kok yakin kalau gaji yang kita terima setiap bulan lebih dari 30% diperuntukkan oleh perusahaan untuk menggaji kita untuk ngomong! Edan tenan! Enak benar nih, digaji untuk ngomong! Kalau gaji perbulannya adalah 6 jt maka uang 2 jt adalah gaji untuk ngomong!.

Tentu saja perusahaan ngak mau ngasih uang sia-sia bukan? Pekerjaan ngomong tadi ditambahi embel-embel bahwa omongan kita, harus didengar dan dituruti oleh orang yang kita ajak berbicara. Ngak peduli itu anak buah, rekan kerja, kontraktor bahkan atasan. Ngomongnya gampang, tapi untuk didengar dan dituruti.......ini dia sulitnya.

Coba bayangkan! Anda sedang berbicara dengan anak buah tentang suatu pekerjaan. Anda jelaskan semuanya dengan sejelas-jelasnya dengan harapan Anak buah mengerti. Bahkan akhir pembicaraan Anda menanyakan kalau-kalau ada yang belum dimengerti, semua mengangguk tanda mengerti. Kemudian Anda minta kepada mereka untuk segera kerja saat Anda harus meeting ke ruangan atas selama 2 jam. Saat Anda kembali, ternyata apa yang dikerjakan oleh mereka sama sekali berbeda dengan yang Anda inginkan!!

Atau, saat Anda berbicara dengan pasangan Anda (istri, suami atau pacar), Anda mendapati bahwa response mereka jauh diluar dugaan, tidak seperti yang diharapkan! Yang lambat seraya Komputer XT sebenarnya mereka atau kita ya??

Response sebagai parameter
Seperti yang pernah ditulis di artikel Selayang Pandang sebelumnya, setiap orang memiliki peta/program yang berbeda dalam menanggapi peristiwa dari luar. Demikian juga mereka pada saat berkomunikasi dengan kita, mereka menggunakan peta yang berbeda dengan peta kita dalam menterjemahkan apa yang kita katakan. Sangat mungkin sekali kita bicara tentang A, namun yang tertangkap adalah B. Sebaliknya saat kita bicara tentang B yang tertangkap malah A.

Apa yang bisa kita lakukan? Menyalahkan mereka?
it’s their fault they didn’t get it. But then they didn’t get it, you didn’t get it, nobody got anything.
Salah mereka kalau ngak ngerti. Tapi kalau mereka ngak ngerti, kerjaan ngak beres. Kalau kerjaan ngak beres, kerjaan kita juga jadi ngak beres dan akhirnya semua terbengkalai!

Kalau kita tidak ingin berakhir seperti diatas, satu-satunya cara untuk mengukur apakah cara kita berkomunikasi (mohon jangan diterjemahkan komunikasi ini dalam arti sempit berbicara, tetapi juga termasuk negosiasi, mempengaruhi, mimpin meeting, memimpin dll) sudah efektif atau belum adalah melihat response lawan bicara.

Kalau response mereka seperti yang kita inginkan, artinya cara kita berkomunikasi sudah benar. Tapi kalau response mereka tidak seperti yang kita inginkan, tidak perlu kita menyalahkan mereka, namun coba cari cara lain> Kalau tetap ngak berhasil? Cari lagi cara yang lainnya sampai berhasil!. Kita menjadi orang yang bertanggung jawab pada diri kita sendiri dan tidak menyalahkan orang lain atas response yang tidak kita kehendaki.

Performance dan Persepsi
Minggu lalu, saat memberikan materi kepada NR Laboratory di Team Day workshop, ada pertanyaan yang menarik dari salah seorang peserta. Pertanyaanya seperti ini: “Pak Eko, kalau kita sudah berusaha memperbaiki kinerja kita dengan sekuat tenaga, tapi tetap saja dipandang tidak berprestasi, apa yang bisa kita lakukan?”.

Sebelum menjawab pertanyaan tadi saya bertanya kepada yang bersangkutan “Prestasi/perbaikan kinerja” tadi dari sudut pandang siapa? Atasannya atau dirinya sendiri? Kalau perbaikan kinerja tadi diukur dari diri sendiri, wait a minute! Alat ukur kita bukan diri kita sendiri tapi orang lain.

Dalam kasus ini alat ukurnya adalah atasan. Kalau response atasan tidak seperti yang kita harapkan apa yang harus kita lakukan? Menyalahkan atasan? he he he he...........hayoo siapa yang lebih berkuasa! Anda atau atasan Anda? Jelas jawaban satu-satunya adalah dengan merubah cara dia (penanya) dalam berkomunikasi! Bahkan kalau perlu tanya langsung ke atasan (minta feedback) apa yang harus dia lakukan agar sesuai dengan peta atasan tentang yang namanya prestasi!

SELAMAT MENCOBA!

Tips komunikasi efektif:
1. Kenali lawan bicara
2. Gunakan pendekatan yang disukai lawan bicara
3. Lihat response
4. Berhasil? Lanjutkan komunikasi dengan cara yang sama.
5. Tidak berhasil? Ubah pendekatan
6. kembali ke no. 3

Sayonara und Adios!

Eko Jatmiko Utomo
CCR Narogong
Minggu ke-3 April 2008

* Ada 2 jenis teknik memotivasi:
1. Toward : teknik motivasi dimana kita mendorong orang untuk mencapai goal (Toward) tertentu.
2. Away From: teknik memotivasi dimana kita menarik orang untuk menjauhi (Away) sesuatu yang tidak diinginkannya

07 April 2008

Siapa yang Benar?

Siapa yang Benar?
The Map is Not The Territory.

“Our perception of reality is not reality itself, but our own version of it, or our "map". Rex Steven Sikes

Miss Thailand
Minggu lalu saya mendapatkan email dari seorang teman, judul emailnya cukup menarik, “Miss Thailand”. Terlebih lagi kalimat pembuka dari email tersebut sangat menggoda, “Friends, mau lihat pose dan gaya Miss Thailand ngak?, ada foto swim suitnya lho”.

Dengan terpaksa saya tidak dapat menahan godaan untuk tidak membuka email tersebut. Ada beberapa gambar yang dilampirkan dari email tersebut. Satu persatu saya buka gambar dengan judul Miss Thailand tersebut. Tentu saja sebagai peserta kontes Miss Thailand, para peserta dalam gambar tersebut semuanya memiliki wajah yang enak dipandang, tubuh yang seksi dan tentu saja senyum yang menawan.

Kurang lebih 2 menit saya melihat gambar2 yang ada dan mata saya menangkap pesan terakhir dibagian bawah email, “Friends, sesudah puas melihat gambar tersebut saya perlu informasikan bahwa kontes diatas adalah kontes Miss Thailand Transvetit*!, saya jamin kalian akan melihat gambar2 diatas sekali lagi!”.

Ramalan teman saya terjadi, dengan penuh rasa penasaran saya melihat sekali lagi gambar2 wanita cantik tersebut untuk menemukan apakah ada tanda-tanda bahwa mereka adalah Tansvetit, pagi bernama Joko dan malamnya menjadi Joice he he he he……………

Peta Pikiran
Apa yang saya pelajar dari cerita diatas? Suatu pembuktian bahwa apa yang saya tangkap dengan pancaindra saya dan kemudian tertuang dalam bentuk persepsi di benak saya (Peta/Map) ternyata salah.

Cewek berwajah cantik, feminin dan berbodi seksi yang saya lihat dan saya persepsikan sebagai wanita “sejati” ternyata adalah pria tulen!.

Semua hal yang kita lihat, dengar, rasakan, cium, kecap oleh pancaindra diubah menjadi sebentuk peta didalam otak kita. Satu hal yang harus diperhatikan bahwa Peta yang kita buat sering tidak tepat dan cepat menjadi out of date(tidak relevan lagi).

Saya memiliki kebiasaan baru sejak menikah 7 tahun yang lalu. Pada status lajang, saya membeli baju baik celana, kemeja dan kaos dan dengan pertimbangan saya sendiri yang saya pikir baik. Kebiasaan ini berubah sejak menikah, apa yang saya anggap bagus (peta saya), sering dianggap jelek oleh istri saya (peta istri).

Perbedaan ini sering menimbulkan pertengkaran kecil diantara kami berdua. Pada suatu ketika saya mengalah untuk membeli kemeja pilihan istri, dan yang menakjubkan adalah banyak teman kantor yang memuji bahwa baju yang saya pakai bagus!, suatu pujian yang tidak pernah saya dengar sebelumnya!.

Sejak saat itu saya dengan sukarela menyerahkan keputusan membeli baju kepada istri tercinta. Peta tentang baju bagus milik Istri saya ternyata lebih cocok di muka umum dibandingkan peta saya sendiri he he he he.......

Memberikan Empati
Masih ingat Key Principle #2 yang kita pelajari saat mengikuti workshop LDP?
KP #2 berbunyi “Listen and Response with Emphty”. Empati dalam bahasa sederhana berarti “mencoba mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain” atau mencoba memakai sepatu yang dipakai orang lain.

Konsep Empati akan mendapatkan pendalaman makna dengan tambahan konsep Peta Pikiran, pada saat kita menyadari bahwa tidak ada satu petapun yang sama dalam menangkap suatu peristiwa. Pada saat kita menyadari bahwa orang pasti berbeda dengan kita maka proses kita untuk bisa berempati kepada orang lain menjadi jauh lebih mudah!.

Coba Anda ambil Peta yang ada dirumah atau di mobil anda masing-masing. Perhatikan, seberapa akurat peta tersebut? 80%?, 90%?, yang jelas peta tersebut pasti tidak akan mencapai akurasi 100%. Demikian juga peta yang kita ciptakan dalam pikiran kita dalam menangkap suatu peristiwa diluar.

Pertengkaran Atasan dan Bawahan
Pada suatu pekerjaan Overhaule, seorang Superintenden Maintenance berdebat dengan anakbuahnya Team Leader Mntc**. Mereka berdebat tentang apakah satu suku cadang(part) perlu diganti atau cukup diperbaiki.

Sang Superintendent ngotot bahwa suku cadang tersebut tidak perlu diganti dengan yang baru, cukup diperbaikisaja. Alasannya adalah bahwa suku cadang tersebut masih cukup bagus dan proses perbaikannya jauh lebih murah dibandingkan dengan penggantian baru.

Team Leader punya alasan yang kuat mengapa dia ngotot suku cadang tersebut harus diganti. Menurut pengalaman dia, dari kondisi fisik yang dia lihat, apabila suku cadang tersebut tidak diganti akan menimbulkan potensi breakdown maintenance di masa depan.

Mana diantara mereka berdua yang benar? Apakah Superintenden ataukah Team Leader? Mereka berdua memiliki Peta yang berbeda dari suatu kondisi (suku cadang) yang sama!.

Pemahaman tentang Peta yang Berbeda akan membantu kedua tokoh diatas untuk tidak terlibat dalam pertengkaran. Kedua belah pihak sadar bahwa masing2 mempunyai Peta yang berbeda terhadap suku cadang tersebut. Sehingga yang terjadi bukan berdebat untuk memaksakan Petanya diterima oleh pihak lain, namun mendengarkan Peta orang lain dan mengevaluasi Peta siapa yang lebih akurat pada saat itu untuk dipakai untuk membuat keputusan.

Summary
Apa yang dapat kita pelajari dari prinsip yang hebat ini:
1. Semua orang memiliki Peta yang berbeda.
2. Menerima perbedaan adalah langkah awal untuk mendapatkan kesepakatan
3. Hormati Peta Orang Lain
4. Share Peta Anda dan bukan memaksakannya untuk diterima orang lain.

Anda setuju dengan tulisan diatas? Atau tidak setuju? Atau bingung? Saya mengakui dan menghormati Peta Anda untuk berbeda dengan Peta saya dalam memaknai artikel selayang pandang ini.

Jadi siapa yang benar dalam pertengkaran antara Superintenden dan Team Leader diatas? Jawabannya saya serahkan kepada para pembaca.

Sayonara und Adios!

Eko Jatmiko Utomo
CCR Narogong
Minggu ke-2 April 2008

* Transvetit: istilah lain untuk Waria yang sering dipergunakan di Thailand.
** Kasus ini merupakan kasus fiktif/karangan