19 Mei 2016

Biar BODOH asal PERCAYA DIRI #Hal77


Catatan Harian Eko Utomo

Biar BODOH asal PERCAYA DIRI #Hal77

"Stupidity has No Limitation".

Pernah bertemu dengan seseorang yang "bodoh" namun ngeyelnya sundul langit?. Kalau anda sering berinteraksi, berdiskusi dan berdebat maka ungkapan diatas bakal sering anda aminkan.

Pintar ada batasnya, namun kebodohan tiada batas. Saya sering bertemu dengan seseorang yang sudah diberikan data dan fakta yang bertentangan dengan argumentasinya namun tetap ngeyel bahwa dia yang benar. Kalau sudah sampai tahap seperti itu maka biasanya saya "tinggal pergi" agar debat kusir tidak berlangsung berkepanjangan.

Dalam konteks masa kini, kebodohan terefleksikan dengan masih adanya sebagian orang yang percaya bahwa matahari mengeliling bumi atau bumi bentuknya datar seperti piring. Padahal sudah disajikan padanya photo2 bumi yang bulat hasil pengambilan gambar dari luar angkasa atau data2 penunjang lain. Tetap saja yang bersangkutan ngotot dalam "kebodohannya".

Yang menjadi lebih menarik dalam proses coaching atau konsultansi saya sering dihadapkan pada fenomena bahwa mereka yang "bodoh" tersebut memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

"Pak Eko, sistem HR perusahaan kami merupakan sistem HR yang terbaik di negeri ini", seorang Client dengan penuh percaya diri pamer kepada saya saat proses due diligent sedang dilakukan pra konsultasi.

Dan saya hanya bisa bengong karena sistem HR yang dimiliki oleh perusahaan mereka yang tergolong besar ini sangat "primitif". Sang Client sangat PERCAYA DIRI dalam KEBODOHANNYA.

Fenomena ini diteliti oleh Dunning & Kruger yang menghasilkan hadiah nobel psikologi bagi mereka pada tahun 2000.

Penelitian mereka distimulus oleh sebuah peristiwa dimana seorang perampok hanya dengan melumuri wajahnya dengan perasan air lemon dengan gagah berani merampok bank.

Keberanian tersebut dia yakini atas "pengetahuan" bahwa air lemon dapat yg dijadikan tinta dapat menghilangkan tulisan. Sang perampok berkeyakinan bahwa air lemon akan menghilangkan wajahnya sehingga tidak bisa dilihat orang dan ditangkap kamera!.

Hasil penelitian Dunning & Kruger menunjukkan bahwa seseorang dengan secuil pengetahuan memiliki tingkat kepercayaan diri yang bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sangat ahli (expert) dalam bidang tersebut (lihat gambar). Terjadinya proses pembelajaran pada fase awal bukannya menaikkan kepercayaan diri namun malah menurunkannya sampai pada tingkat tertentu baru kemudian naik kembali.

Saya teringat peristiwa 25 tahun yang lalu saat saya menyalib truk gandeng dengan penuh percaya diri padahal dari arah depan ada bis datang dengan kecepatan tinggi. Yang saya lakukan adalah masuk di sela2 bak depan dan belakang truk gandeng saat bis mendekat. Sebuah ekspresi kepercayaan diri yang sangat tinggi hasil kebodohan yang tinggi pula.

Jadi, pada saat kita memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, sebaiknya mundur sejenak dan berefleksi. Jangan2 kepercayaan diri yang sangat tinggi tersebut karena tingkat kebodohan yang tinggi?

Pernah mengalami?

EU4U
BSDCITY210416

Untuk mereka yang percaya diri.

A Power of Character #Hal75


Catatan Harian Eko Utomo

A Power of Character #Hal75

Investasi properti merupakan investasi jangka panjang yang relatif aman dan menghasilkan keuntungan tinggi.

Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, sangat jarang sekali ditemuin fenomena harga properti (khususnya tanah) mengalami penurunan.

Dari tahun ke tahun harga properti naik terus menerus karena supply selalu kurang dibandingkan dengan kebutuhan.

Bahkan dalam kondisi ekonomi yang kurang baik seperti tahun 2008 dan dua tahun terakhir ini, harga properti tidak turun namun hanya cenderung melandai. Diyakini harga properti akan naik kembali tahun 2016 atau tahun depan saat pertumbuhan ekonomi bergerak diatas 5%.

Dalam bisnis properti, ada 3 faktor utama yang menentukan seberapa baik portofolio properti yang kita beli. Tiga faktor utama tersebut adalah : LOKASI, LOKASI dan LOKASI.

Tahun lalu, harian Kompas mengadakan riset peningkatan harga properti di Indonesia. Serpong, Cibubur dan Depok memberikan peningkatan harga properti 1000% dalam 1 dekade ini. Peningkatan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan harga properti di tempat lain di Indonesia.

Ketiga lokasi investasi favorit tadi semuanya ditunjang oleh faktor utama LOKASI. Serpong dkk, merupakan daerah di pinggiran Jakarta dimana harga masih (relatif) murah dibandingkan dengan harga properti di tengah kota.

Harga yang masih murah dibantu dengan akses yang mudah membuat lokasi tersebut menjadi incaran para pengembang untuk membangun kawasan hunian dan komersial sebagai penyangga kota Jakarta. Semuanya berhulu pada satu faktor utama: LOKASI

***
Proses rekrutmen dalam organisasi memiliki kemiripan dengan proses investasi properti.

Untuk mendapatkan kandidat yang baik harus dilakukan riset yang mendalam yang membutuhkan waktu dan biaya yang cukup banyak.

Saat kandidat sudah bergabung dengan perusahaan maka status berubah menjadi karyawan. Perusahaan tentu saja berharap bahwa investasi yang dikeluarkan saat melakukan proses rekrutmen akan membuahkan hasil yang tinggi dalam bentuk kontribusi karyawan terhadap pencapaian tujuan organisasi.

Kalau dalam investasi properti kunci utama adalah Lokasi, Lokasi dan Lokasi. Maka dalam "investasi" SDM kunci utamanya adalah KARAKTER KARAKTER dan KARAKTER.

Lho, bukankah dalam bekerja yang dibutuhkan adalah keahlian dan ketrampilan karyawan? Benar, namun yang seringkali tidak terlihat bahwa TINDAKAN dan PERILAKU semuanya didorong oleh KARAKTER.

Sering kita bertemu dengan karyawan yang sangat jago, ahli dalam bidangnya, namun karena karakter yang buruk, pemalas misalnya, maka kinerja yang bersangkutan menjadi biasa saja bahkan cenderung buruk.

Dalam melakukan proses wawancara, saya mencari tiga karakter utama dalam diri seorang kandidat. Ketiga karakter itu adalah: Keinginan untuk BERPRESTASI, KEMAUAN belajar dan Learning CAPABILITY.

Jika dalam sebuah proses rekrutmen terdapat kandidat dengan tiga karakter utama biasanya saya rekomendasikan untuk diambil. Keahlian dan pengalaman merupakan BONUS jika ditemukan.

Bagaimana dengan anda?

EU4U
BSDCITY050416

Untuk para Rekruiter n User

Gengsi Itu Membunuhmu #Hal74


Catatan Harian Eko Utomo

Gengsi Itu Membunuhmu #Hal74

Dalam melakukan coaching saya menghindari menggunakan teknik "personal attack" atau menyerang pribadi coachee.

Personal attack menyalahi prinsip utama dalam membangun hubungan pribadi dengan coachee. Personal attack akan menghasilkan drop esteem. Padahal yang dibutuhkan dalam proses coaching adalah menjaga harga diri atau meningkatkannya.

Namun dalam beberapa kesempatan langka saya menggunakannya dengan intensi merobohkan internal enemy #1 dalam pengembangan pribadi, GENGSI.

Dalam sebuah "Coaching for Improvement", setelah beberapa lama diskusi pendalaman dan klarifikasi akhirnya ditemukan masalah yang terpendam didalam lubuk sanubari sang manager yang bermasalah dalam pekerjaan yang diembannya.

Sebagai manager baru, ia MALU BERTANYA tentang pekerjaanya kepada manager lama yang ia gantikan, atau bertanya kepada anak buah baru.

Malu BERTANYA maka akan SESAT di jalan. Ketidaktahuan akan kebijakan yang berlaku selama ini membuat manager baru melakukan banyak keputusan yang buruk sehingga menimbulkan masalah bagi perusahaan.

Setelah digali beberapa saat kenapa ia tidak banyak bertanya maka jawaban "unconscious" mind yang keluar adalah : GENGSI!

Pak Manager GENGSI bertanya karena masak posisi sebagai manager aka bos banyak bertanya ke anak buah. Bukannya bos harus banyak memberitahu? demikian alasannya.

Pak Manager GENGSI bertanya karena masak sebagai lulusan S1 harus banyak bertanya kepada mereka yang hanya lulusan SMK? apa kata dunia? demikian yang tersirat dari hasil diskusi pendalaman.

Terlintas untuk menggunakan teknik "terlarang" dalam coaching untuk membongkar mindset penghalang kemajuan.

"Bro, btw dulu kan kuliah di Bandung kan. Menurutmu, universitas tempatmu kuliah dulu bagusan mana sama ITB?", tanyaku sambil melihatnya lekat2.

"Bagus ITB pak", jawab sang Manager sedikit bingung kemana arah pertanyaan menuju.

"Tahu Prasetya Mulya Business School kan?", tanyaku sambil melihat mukanya lebih lekat.

"Tahu pak, sekolah MM terbaik di Indonesia", jawabnya tambah heran.

"Pastinya tahu UI dong!", tanyaku melanjutkan.

"Ya tahulah lah pak, masak ngak tahu UI", kebingungannya memuncak.

"Saya kuliah S1 di ITB, S2 di Prasmul dan S3 di UI, dalam setiap pekerjaan baru yang saya tidak tahu saya BERTANYA ke semua orang yang saya anggap tahu termasuk karyawan lulusan SMK. Dan saya sudah 7 tahun jadi Vice President!", peluru miltraliyur keluar dari magazine.

"Jadi apa yang membuat seorang Manager baru lulusan Universitas biasa seperti kamu GENGSI bertanya?", bom atom dijatuhkan.

EU4U
BSDCITY040416

Buat mereka yang membebaskan diri dari belenggu gengsi

Nothing to Lose #Hal73


Catatan Harian Eko Utomo

Nothing to Lose #Hal73

Saya adalah Roker! Sabaaar jangan mengeryitkan alis dulu, saya sadar diri tidak becus bernyanyi, kentutpun fals bunyinya. Maksud saya bukan roker penyanyi yang meneriakkan lagu2 cadas ala GnR atau Achmad Albar. Saya merupakan anggota jemaat imajinatif dari mereka yang tergabung dalam Rombongan Kereta (Roker).

Sebagai jemaat Roker maka setiap pagi saya setia menunggu di stasiun Serpong untuk menumpang KRL jurusan Tanah Abang dan turun di Sta. Palmerah. Dari Sta. Palmerah saya berganti moda transportasi Taxi yang mengantarkan saya ke kantor di bilangan Gatot Subroto.

Pilihan bergabung dalam jemaat Roker adalah pilihan berbasiskan pertimbangan fungsional dan rasional. Saya bisa sampai (pulang) di kantor lebih cepat tanpa takut terjebak dalam lautan macet yg melelahkan di belantara hutan beton ibukota.

Ada sebuah ganjalan. Untuk bekerja saya membawa sebuah laptop dan dokumen2 kerja lainnya dalam sebuah ransel atau tas punggung. Kalau ditotal2 beratnya sekitar 5 kg. Kalau dibawa dalam jangka waktu yang cukup lama menimbulkan beban yang cukup berat bagi tulang punggung saya yang menua.

Karena kondisi itulah saat naik KRL hal pertama yang saya lakukan adalah menaruh tas punggung ke rak yang tersedia di kereta. Namun dalam banyak kesempatan, khususnya saat pulang kerja di jam "peak hours" kesempatan menaruh tas di rak kereta sirna!. Saya terpaksa tetap memanggulnya atau bahkan menggendongnya dibagian depan ala mama dan babynya untuk mengamankan isi tas dari tangan kreatif para pencopet.

Yang terjadi sepanjang 45 menit perjalanan sta. Palmerah - sta. Serpong tulang punggung saya mendapat beban ekstra 5 kg!. Pegal dan linu datang tanpa diundang.

***
Dalam kehidupan sosial sehari-hari, baik itu di kantor ataupun dalam lingkungan sosial non kantor, saya sering kali melihat mereka yang terengah2 keberatan beban namun tetap menggendong ransel berat mereka dalam beraktivitas.

Padahal dengan adanya beban berat di punggung mengakibatkan mereka cepat lelah dan kesulitan dalam melakukan aktivitas yang sedang dilakukan. Setiap gerakan membutuhkan tenaga ekstra, sebagian untuk melakukan gerakan itu sendiri sebagian untuk menahan beban di punggung.

Aktivitas tidak dapat dilakukan dengan maksimal dan optimal. Prestasi tidak dapat dicapai karena upaya yang dilakukan bukan merupakan upaya terbaik yang bisa diupayakan.

Fenomena ini saya namakan sebagai fenomena menggendong "something we afraid will be lose".

Kita membawa beban yang takut ketinggalan. Dalam bekerja misalnya kita takut "kena pecat", takut tidak populer, takut "tidak disukai" takut "kena bully", takut tidak naik gaji dan banyak lagi takut2 yang lain. Semakin banyak takut yang dikhawatirkan maka semakin besar beban yang disandang dan semakin pula kita tidak dapat bergerak.

Dalam sebuah penyelenggaraan event yang cukup besar, ada salah satu komponen yang masih bermasalah, padahal dateline sudah terlewati. Saya harus melakukan intervensi dan mengambil alih kendali dengan tujuan agar masalah yang ada terkendali. Muncul pertanyaan:

"Pak, kalau dilakukan intervensi maka penanggung jawab akan sakit hati!", kata salah satu anggota panitia yang lain.

"Bu, thanks buat masukannya, saat ini kita sedang kondisi darurat. Saya sih ngak peduli satu orang sakit hati, 30% sakit hati juga ngak papa daripada semuanya menjadi marah dan kecewa karena rencana rusak dan kacau karena satu orang. Intervensi tetap kita lakukan", jawab saya tegas.

Saya sadar betul bahwa tidak bakalan semua orang akan akan suka dengan tindakan kita. Lha wong nabi aja banyak musuhnya. Presiden Jokowi atau Gub. Ahok saat Indonesia maju mengalahkan Malaysia atau Jakarta melebihi moncernya Kualalumpur pasti tetap ada yang tidak suka pada mereka.

Tidak mengambil keputusan atau tindakan yang tepat pada waktunya seringkali karena "beban" yang kita bawa kemana2. Beban yang tidak kita letakkan pada tempat selayaknya.

Takut tidak populer dlsb membuat kita bermain aman dan kemudian menjadi manusia "mediocre", manusia "biasa2 aja" karena punya "something to lose".

Apakah tidak boleh main aman? boleh aja sih, kita manusia diberikan "free will" spirit. Punya kehendak dan keputusan. Cuma jangan kecewa dan marah saat buah yang dihasilkan biasa2 aja.

EU4U
BSDCITY040416

Untuk para Decision Maker.

Kawin (tidak) paksa #Hal69


Catatan Harian Eko Utomo

Kawin (tidak) paksa #Hal69

"Love is blind". Bagi banyak orang mungkin menganggap ungkapan ini lebay. Namun coba tanyakan kepada mereka yang sedang "gandrung" dan jatuh cinta. Atau paling tidak amati perilaku yang sedang mabuk asmara.

Maka "cinta itu buta" merupakan sebuah ekspresi yang sangat akurat dalam menggambarkan bagaimana kekuatan cinta mampu membutakan manusia. Bukan mata secara fisik, namun mata pikiran rasional dalam memperhitungkan faktor untung rugi dan resiko2 yang ditanggung pada saat mabuk cinta.

Banyak novel, cerita dan film dengan apik menggambarkan bagaimana cinta membutakan rasio manusia. Pernah baca atau menonton film Romeo & Juliet? Semua hal diterjang demi cinta, at any cost!

Duapuluh tahun yang lalu, seorang pemuda menyandang masalah yang sama. Terjangkit virus LiB, Love is Blind. Jatuh cinta pada seorang perempuan beda suku.

Dalam konteks Indonesia 20 tahun yang lalu (masih banyak jejaknya saat ini) pacaran dan menikah beda suku masih banyak menghadapi kendala.

Masing2 suku di Indonesia memiliki budaya adat istiadat yang dijunjung tinggi. Peristiwa pernikahan merupakan salah satu moment untuk menunjukkan bagaimana sepasang keluarga "mempertontonkan" pada keluarga besar dan khalayak ramai bagaimana mereka menghargai dan menempatkan budaya dan adat istiadat dalam kehidupan mereka.

Pacaran sang pemuda Jawa dan pemudi Batak jelas akan menghasilkan benturan2 dan gegar budaya.

Hal yang sederhana, saat pernikahan nanti pesta yang dilakukan menggunakan adat apa? Biaya pernikahan akan menjadi beban siapa? Dalam adat Jawa pihak wanita yang akan menanggung sebagian besar biaya pernikahan. Sedangkan dalam adat Batak maka biaya pernikahan harus banyak ditanggung oleh pihak laki2. Jelas tidak akan ketemu. Yang paling mudah pemuda Batak dan pemudi Jawa, kedua keluarga secara adat "merasa dan bertanggung jawab" untuk menanggung biaya.

Belum lagi paska merger (menikah). Budaya dan adat apa yang akan dipakai. Siapa yang harus mengalah, bagaimana mendidik anak, bagaimana menyikapi stimulus dua keluarga besar dan tetek bengek 1001 urusan yang timbul karena proses merger ini.

Agar proses merger berlangsung mulus dan going concern (till the death do us part) tentu saja harus dipersiapkan strategi, inisiatif dan eksekusi yang ciamik. Kalau tidak ya siap2 terbentur batu karang.

***
Sore ini saya dan tim sedang berdiskusi tentang studi yang kami lakukan tentang kemungkinan proses merger dua perusahaan dibawah holding company.

Studi dilakukan agar opsi2 yang ada, baik itu skenario tetap berdiri sendiri atau merger dapat dievaluasi dengan komprehensif sehingga dapat menjadi pertimbangan top management untuk GO atau NO GO dalam proses merger.

Organisasi atau lebih tepatnya perusahaan jelas merupakan bentuk abstract. Namun organisasi ternyata memiliki karakter dan perilaku yang mirip dengan manusia, termasuk dalam proses "pernikahan" antar perusahaan.

Proses AKULTURASI budaya menjadi penentu apakah merger menghasilkan manfaat yang baik atau malah menciptakan dan memperuncing konflik (Sarala, 2010).

Proses merger perusahaan adalah proses menggabungkan keseluruhan aspek perusahaan menjadi satu. From TWO become ONE. Yang menarik adalah bahwa yang sedikit (one) diharapkan menjadi lebih baik kinerjanya dibandingkan dengan yang lebih banyak (two).

Penggabungan yang paling mudah terlihat adalah penggabungan sumberdaya mereka. Aspek keuangan jadi satu, aspek SDM, material, metode, mesin dan peralatan semuanya menjadi satu.

Penggabungan sumberdaya yang sudah disebutkan diatas relatif mudah dilakukan. Yang paling tidak mudah adalah penggabungan BUDAYA ORGANISASI dua perusahaan yang berbeda.

Sangat mirip dengan perilaku manusia dalam perkawinan antar suku, maka merger dua perusahaan dengan budaya yang berbeda akan menemui banyak tantangan dan rintangan.

Mega merger HP dan Compaq yang terjadi hampir satu dekade lalu memperlihatkan bahwa "kawin paksa" yang dilakukan oleh 2 perusahaan kelas Godzila (dalam size) ternyata berujung sad ending. Pemrakarsa merger CEO HP Carly Fiona dipecat dan kinerja perusahaan hasil pernikahan alih2 membaik malah terjun bebas.

Apa yang menjadi masalahnya? perbedaan budaya organisasi tidak diperhitungkan oleh Carly Fiona bakal jadi batu sandungan proses merger yang dilakukannya.

Dalam proses merger, dua faktor utama menjadi penentu keberhasilan proses akulturasi adalah PRESERVATION dan ATTRACTIVENESS masing2 perusahaan (Sarala, 2010).

Semakin tinggi tingkat preservation (keinginan mempertahankan budaya lama) maka konflik akan meningkat dan proses akulturasi terhambat. Sebaliknya semakin attractive (menarik) budaya pihak lain maka proses akultarasi menjadi mudah.

Jadi apa yang harus dilakukan agar proses pernikahan dua perusahaan berlangsung efektif? mulai dengan memetakan budaya organisasi masing2 perusahaan. Analisa perbedaan yang ada dan buat bermacam inisiatif sebagai jembatannya.

Langkah berikutnya "melunakkan" sikap Preservation dan membangun persepsi attractive dari partner pernikahan, sehingga konflik bisa direduksi dan upaya dapat difokuskan dalam membangun SINERGI.

***
"Yayang, katanya kamu mau berupaya melakukan proses akulturasi adat batak?", mantan pemudi bertanya.

"Lho, kan aku melakukannya dengan sepenuh hati. Buktinya kalau ke Lapo aku semangat 45!", jawabku mantab.

"Bukan yang itu, suami harus 100% berusaha membahagiakan istrinya!", mantan pemudi meneruskan sok tahu.

"Itu mah tugas semua suami kalee", sahutku sambil menyengir.

"Makanya, kapan mobilku diganti yang baru?", mantan pemudi menembakkan senapan jitunya.

EU4U
BSDCITY290316

Buat yang mau dan sudah merger.

Point of View #Hal71


Catatan Harian Eko Utomo

Point of View #Hal71

Kalau kami sedang berlibur bawa mobil masalah ini sering muncul. Mencari rest area yang memiliki toilet duduk bukan toilet jongkok.

Masalahnya bukan hanya sekedar mencari rest area bertoilet duduk, namun juga naiknya tensi udara karena diskusi sesudahnya.

"Mom, heseh banget sih. Urusan toilet aja kok bikin pusing. Tinggal buka celana sreet, pasang posisi udah deh selesai", kataku mengomentari mama Thesa yang uring2an karena tidak menemukan toilet duduk di rest area.

"Papa gimana sih, masak rest area sebesar ini ngak ada toilet duduknya?. Toilot jongkok itu cenderung jorok dan bikin pegel!", yang ditanya masih tinggi tensi.

"Hadeeeeuh, masih untung ada toilet. Gua dulu saat kecil kalau mau buang hajat pergi dulu ke sungai. Nongkrong pinggir kali asoy geboy", komentarku ngak mau kalah.

"Dasar, jorok. Papa mah cah ndeso. Sejak aku kecil aku sudah pakai toilet duduk tahu. Ngak ndesok kayak papa", kata mama Thesa sebel sambil menarik mukanya heran aku bangga dengan pengalaman buang hajat di sungai.

***
Manusia, bisa diibaratkan sebagai komputer. Sama2 memiliki dua komponen penting yaitu HARDWARE dan SOFWARE.

Hardwarenya manusia ya tubuh dan organ2nya. Sedangkan software manusia terletak di hardisk otak dimana didalamnya banyak menyimpan aplikasi2 kehidupan yang diprogramming dan dicoding oleh Values, Beliefs, Norma2, Pengalaman dll.

Yang membedakan antara manusia dan komputer adalah sofware manusia itu unik, tidak ada yang sama. Sementara software komputer bisa seragam. Sofware komputer tinggal beli dan install, bisa dilakukan seketika. Sedangkan sofware manusia lama proses instalnya dan cenderung dinamis (bisa berubah2).

Dalam proses interaksi di kantor atau di lingkungan sosial, proses diskusi, proses coaching, managing atau juga consulting setiap saat menghadapi kasus yang sama. Kasus dimana dua orang yang berinteraksi tidak ketemu ujung pangkalnya karena mereka berdua terlibat dalam sebuah debat dengan basis yang berbeda.

Pernah terjadi dua orang manager berdiskusi tentang jam kerja. Yang satu menerapkan jam kerja bagi anggota timnya secara ketat. Masuk dan pulang kerja harus sesuai aturan perusahaan, datang jam 9 pagi dan pulang jam 6 sore.

Manager yang satu menerapkan aturan jam kerja secara fleksibel, anggota timnya dibiarkan sesukanya datang dan pulang kerja jam berapapun, tanpa pernah ditegur.

Dan mereka berdua berdiskusi dan berdebat tiada habisnya. Yang terjadi sebenarnya sederhana, masing2 manager memiliki point of view yang berbeda. Manager pertama memegang dan menghargai value yang namanya DISIPLIN. Manager yang kedua menghargai value yang namanya FLEKSIBILITAS.

Debat mereka tidak akan pernah selesai kalau tidak menggunakan point of view yang sama. Salah satu berganti posisi dan mengikuti point of view yang lain atau mencari point of view yang sama2 mereka setujui bersama.

Misalnya mereka bisa saja menentukan point of view baru yang disetujui bersama misalnya PRODUKTIVITAS. Pembahasan diskusi akan fokus pada hal sama yang sudah disepakati. Tidak lagi fokus pada perbedaan nilai. Perbedaan nilai baik itu disiplin atau fleksibilitas "hanya" akan menjadi faktor pendukung pencapaian nilai bersama yaitu produktivitas. Dengan konteks ini maka manager yang sebelumnya erat memegang nilai Disiplin akan lebih mudah menerima apa yang dilakukan temannya yang memberikan jam kerja Fleksibel SEPANJANG mereka produktif, demikian sebaliknya

Kasus yang sama terjadi dalam diskusi2 di Medsos. Saya sering menemukan diskusi yang panas dan tiada ujung karena masing2 MEMILIKI point of view yang berbeda.

Terjadi diskusi antara Islam, Kristen dan Atheis. Topiknya adalah Iblis. Diskusi muter2 ngak kemana2 dan hanya menaikkan tensi dan merusak suasana. Yang mereka (sering) tidak sadari adalah dasar pemikiran (software) yang melandasi diskusi mereka berbeda. Islam mengimani bahwa Iblis diciptakan dari api, Kristen mengimani bahwa Iblis tidak diciptakan namun wujud kelam dari Malaikat. Sedangkan atheis mengimani tidak ada yang namanya Iblis, lha Tuhan aja ngak ada kok.

Kalau masing2 tidak mencoba mengerti basik pemikiran teman diskusinya, maka yang terjadi hanyalah debat kusir yang hanya cocok untuk membuang waktu belaka.

Kalau kemudian kita tahu dasar pemikiran berbeda trus bagaimana? Ya, fokuslah berdiskusi untuk menunjukkan bahwa dasar pemikiran mereka itu salah atau tidak tepat. Untuk merobohkan rumah tidak perlu repot2 mulai dari atap, rusak pondasinya dan rumah akan roboh dengan sendirinya.

Kalau teman tetap kekeh dengan pondasi pemikirannya? Ya biarkan saja. Namanya juga berdiskusi. Seringkali kita ketemu dengan kondisi "we agree.to disagree". Kecuali diskusi itu terjadi di ruang meeting kantor, keputusan tetap harus diambil, dan itu ada di sang atasan. Istilah kerennya "Decision Discretion", hak untuk mengambil keputusan.

Kalau ngak setuju dengan keputusan atasan? Kalau sudah didiskusikan dan sudah jadi keputusan ya harus dilaksanakan, atau anda cari atasan baru.

EU4U
BSDCITY310316

Merayakan perbedaan point of view.

Doing a New Way #Hal70


Catatan Harian Eko Utomo

Doing a New Way #Hal70

"If you only do what you can do, you will never be better than you are".

Master Shifu Kungfu Panda

***

Lapangan tenis kedatangan banyak pemain baru. Satu yang menarik perhatian adalah cowok endut potongan rambut pendek, fresh blood usia unyu2 awal 20an.

John demikian kami memanggilnya. Dari awal pemanasan, terlihat bahwa John pemain tennis sekolahan. Pemain tennis sekolahan memiliki "strokes" pukulan yang "benar" karena dilatih dan berlatih melakukan pukulan oleh pelatih. Berbeda dengan pemain tenis "kampung" seperti kami yang melakukan pukulan tenis dengan "mengira-ngira" cara memukul yang benar.

Bagiku, setiap kali ketemu pemain baru pasti menimbulkan semangat baru untuk menjajal ilmu lawan. Mungkin inilah yang terjadi pada masa dulu dimana para pendekar berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk "sambung" atau bertanding menjajal kedigdayaan pendekar lain yang mereka temui.

John berdiri disebrang lapangan. Terbukti ini anak memang pemain tenis sekolahannya. Pukulan forehand keras dengan spin yang deras. Susah dikembalikan karena pukulan melengkung dan spin kencangnya mampu menggetarkan raket kita.

Namun sebagai pemain tenis kawakan dengan jam terbang 20 tahun lebih (cie cie cie) saya bisa langsung membaca kelemahan John. John jorok dalam bermain, sering melalukan unforce error (mati sendiri). John juga sangat lemah dalam backhand. Selain itu dengan berat badan lebih dari 90 kg, John kelimpungan kalau mendapatkan bola dropshot dan pontang panting untuk mengejarnya.

Sepanjang permainan aku eksploitasi kelemahan John sambil membullynya bertubi-tubi secara verbal.
"John, bisa mukul backhand ngak?", teriakku setiap kali John mati saat mengembalikan bola yang aku arahkan ke backhandnya.
"Belajar backhand dong, masak cuma bisa mukul forehand terus!", lanjutku sambil menyeringai.
John hanya bisa tersenyum pasrah kena bully. Kalah usia dan kalah senior membuatnya tidak mampu membalas ledekan gua. Dan malam itu dia dan pasangannya kalah telak 6-2.

Beberapa minggu sesudahnya. "Boom!" backhand dua tangan John mendarat mulus di belakang sisi lapangan gua.
"Dah lulus belajar backhand loe John", cetusku. Kali ini aku mengubah strategi dengan membully John dengan banyak2 melakukan pukulan dropshot. John si endut pontang panting mengejar dan tetap kehilangan point.

Bulan berganti, John sudah tidak bisa dibully untuk lari. Sepertinya dia turun 10 kg karena sekarang larinya kencang dalam mengejar bola dropshot.
"Kejar bro! masak bisanya cuma pukulan forehand cross court? gampang kebaca nih", candaku saat berhasil memotong pukulan John dan memvolleynya kembali jadi pukulan winner.
John tersenyum simpul tanpa mengucapkan kata2, agak irit membalas bullyan gua.

Dua hari yang lalu.
Aku bergeser perlahan ketengah untuk siap2 memotong pukulan silang John.
"Boom", bola pukulan forehand down the line jatuh mulus tak tertepis disisi kiriku. Sejenak aku ternganga.
"Gile, dah bisa down the line rupanya loe John?", tanyaku sambil menggaruk kepala.
Dan malam itu kami kalah 7-6. John telah "Lets the racket do the talk!". Setiap waktu dia belajar pukulan baru khususnya pukulan kelemahan dia yg menjadi obyek ledekan.

Aku harus cari area baru kelemahan John, apa ya? hmmm service kedua!.

***
"Pak W, apa yang membuat pak W melakukan pengaturan seperti itu?", tanyaku pada manager operasi yang baru.
Salah satu perusahaan dalam holding kami kedatangan manager operasi baru. Sebuah posisi yang strategis karena "custmer experience" dan kinerja perusahaan akan tergantung sama kualitas pekerjaan posisi ini.

Sejak kedatangan manager operasi yang baru menggantikan pjs operasi manager yang dipegang orang lain kinerja operasi jadi kocar kacir. Job order menumpuk dan SLA jebol semua. Anak2 teknisi yang sebelumnya baik2 saja, sekarang memasalahkan kerja lembur dan disiplin merosot tajam. Kalau sebelumnya jam 9 pagi ada briefing pagi, sekarang jam 10 beberapa orang baru datang. A chaotic condition, berubah jauh dibandingkan kondisi sebelumnya.

"Apa yang membuat pak W melakukan seperti itu", tanyaku lagi karena yang ditanya diam seribu bahasa. Dalam proses coaching ini aku mencoba menggali apa yang membuat kinerja operasi terjun bebas.

"Hmmm, saya sudah berusaha melakukan yang terbaik sesuai yang SAYA TAHU pak", jawabnya pelan hampir tidak terdengar.
"Trus, menurutmu kinerjamu bagus ngak?", aku memancing pernyataan.
"Jelek pak, saya sadar kinerja saya tidak sesuai harapan direksi", jawabnya kemudian.
"Bagus tuh pak W, pengakuan bapak bisa jadi menjadi modal untuk belajar management organisasi yang baru agar kinerja membaik. Bapak akan di coach dan didampingi sama mantan pjs pak Julidon yang sudah terbukti bagus dalam mengelola departemen operasi", aku memberi action plan untuk dikerjakan.

Stasiun Palmerah pagi hari.
"Pak Eko, pak W resign", kata Julidon sambil berjalan di selasar turun stasiun mencari taxi.
"Oh ya? Kenapa? Bukannya dia bersedia untuk belajar hal baru sebagai manager?", tanyaku sedikit heran.
"Sepertinya dia ngak nyaman dengan cara2 baru dan tidak bisa meninggalkan cara lama. Dan dia menyerah", jawabnya.

"Okey, itu pilihan dia. Pembelajaran buat kita sederhana, kalau kita ngak pernah mencoba hal baru ya kita ngak akan berkembang, jalan ditempat. Orang jalan ditempat ya ditinggalkan sama yang lain", kataku sebelum masuk taxi.

EU4U
BSDCITY300316

Untuk para pembelajar.