20 Januari 2010

Watch your move..........dady!


Thesa bidadari kecil kami sedang suka dengan guru pendampingnya di sekolah. Dari sedikit kalimat yang dapat dia ucapkan, salah satu favoritnya adalah "pak Pur Mana?". Ya......pak Pur, guru pendamping yang pandai main gitar itu merupakan guru favorite di TK A Happy Holy Kid. Orangnya masih muda, kurus namun semangat pelayanannya luar biasa.

Posisi guru pendamping dari bisik-bisik teman2 mama Thesa kami bisa tahu bahwa gaji pak Pur dibawah UMR DKI. Gaji yang kecil tidak menghalangi pak Pur untuk untuk memberikan yang terbaik bagi anak2 didiknya di TK A. Setiap pagi dengan penuh semangat pak Pur memetik gitar untuk mengiringi lagu "ayo baris...baris, ayo baris....baris yang rapi......" untuk memberikan semangat bidadari dan bidadara kecil masuk di kelas mereka. Senyumnya yang tulus dan perlakuannya yang lembut terhadap murid2 kecil ini membuatnya jadi terkenal dan selalu disebut oleh semua murid termasuk Thesa.

"Thesa, tadi belajar apa disekolah?" seperti biasa sepulang dari kerja papa Thesa bertanya tentang kegiatan sekolahnya. "Pak Pur...........Matematika" dengan bahasanya Thesa mencoba menjelaskan kepada kami apa yang terjadi pagi tadi. Ada hal yang baru dalam cara Thesa berbicara, bukan pada kosa kata yang bertambah atau kalimat yang lebih runtut tapi cara Thesa berbicara ditambah dengan gaya memencongkan mulut ke kiri dan kekanan. "Thesa, kalau bicara ngak perlu bibirnya di mencongkan" mama Thesa yang melihat perubahan itu segera bereaksi untuk membetulkan. Dan Thesa tidak peduli dengan peringatan mama.....sejak saat itu Thesa selalu memencongkan bibirnya saat sedang berbicara dan kami tidak bisa merubahnya karena pada akhirnya kami tahu bahwa gaya itu ditiru Thesa dari guru favoritenya..............pak Pur.

Naik ke TK B memisahkan Thesa dengan pak Pur..............dan untunglah bahwa warisan gaya bicara memencongkan bibir kekiri dan kekanan hanya bertahan beberapa bulan sebelum hilang karena Thesa sudah jarang berinteraksi dengan pak Pur. Tentu saja kami sebagai orang tua senang dengan perkembangan ini..........masak cantik2 kalau ngomong pletat pletot.

Dua bulan sejak naik kelas 1, kami melihat perubahan digaya Thesa bicara. Kalau setahun ini gayanya wajar tanpa syarat, sekarang kok gaya ngomongnya ditambah dengan memoncongkan bibir kedepan. "Thesa, kalau bicara ngak perlu pakai bibir maju seperti itu dong!" kata mama Thesa sedikit pasrah. Pasrah karena tahu bahwa kata2 permintaan dan harapan ini pasti tidak akan terwujud. Dan sejak saat itulah kami harus membiasakan diri melihat Thesa bicara dengan gaya itu. Harapannya saat nanti naik kelas Thesa akan lupa dengan gaya miss Sinta bicara. Thesa thesa.....masak cantik cantik kalau bicara mecucu!

Pagi ini kami buru-buru berangkat ke gereja. Telat bangun karena tadi malam keasyikan nonton film di HBO. Saking buru-burunya obat batuk lupa diminum. Sudah 2 minggu ini batuk kok ya betah banget bersarang di tenggorokan. Ditambah dengan temannya yang namanya dahak.....jan nyebelin tenan. "Uhuk uhuk uhuk.........." pas diperempatan batuk sialan ini datang plus dengan teman dekatnya si dahak, jelas harus dibuang agar nafas jadi lancar. "rrrrrrrrrrt", kaca mobil diturunkan mulut siap melontarkan dahak keluar jendela setelah dilirik aman ngak ada orang. "Pa.....buka pintu aja, dibuang lewat bawah.......tar ditiru Tesa lho!" disebelah tempat duduk mama Thesa mengingatkan. Wah...bener juga nih, pikir papa Thesa sambil buru-buru menaikkan kaca mobil. "rrrrrrrrrrt" pada saat hampir bersamaan kaca mobil dibelakang turun dan terdengar bunyi "Cuuuuuuh" saat Tesa melontarkan ludah dari atas jendela! waduuuuuuuuuuh blaik......cantik cantik kok jorok sih Thesa...........niru siapa ya???

BSD City
12 January 2010
Eko Utomo

"Sudah sampaiiii" - The Map is Not the Territory


Bumi Serpong Damai (BSD) - Cibubur pp. Jarak kurang lebih 30 km ini musti ditempuh Tesa setiap harinya untuk bersekolah di kelas 1 SD Penuai Cibubur. Jarak segitu kalau ditempuh dengan menggunakan jalan umum non tol harus ditempuh berjam-jam, namun berhubung jalan tol BSD - Pondok Indah sudah sambung dengan jalan tol TB Simatupang dan kemudian dilanjut masuk ke tol Jagorawi maka jarak tempuh dari Jakarta Barat coret sampai dengan Jakarta Selatan coret tadi cukup ditempuh dalam waktu 40an menit oleh supir pribadi bernama Mama Tesa eks sopir Medan dengan kecepatan 100 km/jam.

Perjalanan rutin pagi dimulai jam 6.30 dari BSD masuk ke tol BSD - PI, "Sudah sampaiiii" seru Tesa dari bangku tengah mobil Carents saat sampai di pintu tol Pondok Ranji. "Belum Tesa, ini baru sampai di pintu tol" sahut mbak Pur, asisten keluarga mencoba membetulkan kata2 Tesa. "Enam ribu limaratus" kata Tesa cuek saat supir pribadi membayar biaya tol.

"Sudah sampaiiii" seru Tesa lagi saat mereka sampai di pintul tol TB Simatupang. "Belum Tesa, masih jauh....ini baru sampai dipintu tol" segera mbak Pur menyahut untuk membetulkan kalimat Tesa. Tesa tetap cuek bebek dan kemudian bilang "Tujuh ribu" seperti aba2 kepada supir pribadi yang juga merangkap menjadi mamanya untuk membayar ongkos tol.

Mobil kembali meleset cepat di keriuhan pagi hari, berhimpit dan beradu kuat dengan mereka2 yang sedang diburu waktu untuk tidak terlambat di kantor. Beruntung sesudah sampai di Tol TB Simatupang arus kendaraan mencair karena menuju luar kota - melawan arus orang masuk kerja. Tak berapa lama mobil belok kekanan masuk tol Jagorawi arah Bogor.

"Sudah sampaiiii" seru Tesa kembali sesudah mobil keluar tol dan sampai di pintu tol Cibubur. "Belum Tesa, kita belum sampai di sekolah" sekali lagi mbak Pur assisten keluarga membetulkan perkataan Tesa. Sopir pribadi yang dari tadi diam mendengarkan dialog akhirnya turut campur, "mbak Pur, yang dimaksudkan Tesa dengan 'sudah sampai' adalah kita sudah sampai dipintu tol dan harus bayar, bukan sampai di sekolah seperti pikiran kita". Mbak Pur yang mendengarkan perkataan Mama Tesa hanya duduk diam seperti biasanya. Lha namanya juga asisten kalau berani berdebat dengan boss kan bisa berabe.

Pintu tol Cibubur dan sekolah hanya ditempuh dalam jarak 5 menit. "Sudah sampaiiii" dengan bergegas Tesa keluar dari mobil dengan membawa tas sekolahnya yang penuh sesak dengan buku2. "Tuh mbak.....benar kan apa yang saya bilang" kata sopir pribadi sambil tersenyum. "Pikiran Tesa adalah pikirannya sendiri yang belum tentu sama dengan apa yang kita pikirkan!".

29 Desember 2009
Malam waktu berpisah dengan Klaten
Eko Utomo

Bicara TANPA kata


Pejabat publik, khususnya mereka yang menjadi pejabat incumbent (yang sedang menjabat) pada saat pilkada periode kedua melakukan komunikasi politik sangat gencar diakhir masa jabatan agar terpilih (maunya) diperiode kedua. Ratusan baliho, spanduk dipampangkan di jalan2 protokol untuk "membujuk" mereka yang membacanya percaya bahwa mereka layak menjabat di periode kedua. Pada saat kampanye, mulut mereka berbuih merayu, membujuk masyarakat bahwa mereka baik untuk dipilih lagi tanpa melihat apa yang sudah mereka lakukan di periode pertama. Sementara alam bawah sadar (Unconscious mind) tidak terlalu peduli dengan kata2, yang dilihat, didengar dan dirasakan oleh alam bawah sadar adalah gesture dan ekspresi lain.

Pagi ini, perbatasan Jabar-Jateng dengan jernih mengajari kami sekeluarga tentang hal ini. Jalur Selatan dikabupaten Ciamis-Banjar lebar dan mulus. Trotoar di bangun dan dirawat dengan rapi. Sementara kearah timur di kabupaten Cilacap, jalan sempit rusak dan bergelombang. Dari aspek ini kalau saya jadi warga Ciamis-Banjar, tanpa ragu-ragu saya akan pilih kembali bupati incumbent karena perbuatan mereka lebih dari kata-kata. Sementara untuk Cilacap, mohon maaf, jalan Anda yang buruk telah berkampenya jelek sepanjang puluhan kilometer.

Mudik akhir tahun bawa mobil sendiri jelas lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan mudik saat lebaran. Kepadatan jalan bisa dibilang normal atau sedikit diatas normal. Tidak ada cerita satu motor menggotong 4 manusia plus barang2 dijok belakang. Kecepatan 80 km/jam bahkan sekali2 100 km/jam bisa dijangkau.

"Pa, awas!" mama Jason dengan keras berteriak saat melihat sebuah benda meluncur keluar dari jendela mobil kijang didepan kami. Sambil sedikit banting setir kami melihat bahwa yang keluar dari jendela tadi ternyata adalah botol minuman pulpy orange. "Dasar manusia katrok!" makian kecil keluar dari mulut mama Jason. Papa Tesa yang sedang menyetir mobil tertawa kecil sambil nambahin bumbu "manusia kayak begini ini nih yang kaya tapi tidak beretika". Luar biasa...........komunikasi tanpa kata berlangsung tanpa bicara antara sopir kijang dan kami dibelakangnya. Kesimpulan sementara.......pengemudi kijang adalah sebangsa manusia katrok!

"Ma, awas!" gantian papa Tesa yang berterik memberikan peringatan, mama Jason yang kebagian tugas dibelakang setir segera banting setir agak ketengah. Setumpuk tisu kotor berhamburan dari mobil Vios plat B didepan kami. "Dasar katroook!" berbarengan kami berseru. Dan kembali komunikasi tanpa kata telah berlangsung dengan penghakiman segera terhadap pengendara Vios.

"Pa" suara lembut singgah ditelinga, pipi lembut Jason menempel di pipiku. Sambil senyum Jason menunjuk ke tumpukan rambutan di bawah kakiku. Tanpa bertanya papa Tesa langsung mengambil satu rambutan dan kemudian mengupaskannya untuk Jason. Jason menerimanya dan tersenyum..........senyum yang memancarkan trimakasih dan sayang, dan semua berlangsung tanpa KATA.

Malam pertama di kota Klaten tercinta
23 Desember 2009
Eko Utomo for Smansa workshop

The Meaning of your Communication is the RESPONSE you get


Malam itu pak dosen Kusnadi uring-uringan. Dahinya berkerut kerut sampai kedua alisnya manjadi tersambung. Bibirnya menjadi tipis dan pucat ditambah wajah kusam gelap. "Dasar mahasiswa jaman sekarang!" keluhnya sembari "ndlosor" di kursi malas. "Anak-anak sekarang ini terlalu banyak dimanja oleh orang tua dan keadaan", keluhnya lagi sembari menyeruput teh manis yang dihidangkan oleh Yati istrinya.

"Emang ada apa sih mas, kok sampeyan akhir-akhir ini aku lihat uring-uringan terus?" tanya Yati sembari meletakkan pisang goreng teman teh manis diatas meja. Alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, pak dosen Kusnadi mencomot pisang goreng dan kemudian mengunyahnya pelan, terlihat diwajahnya bahwa pikiran Kusnadi seperti tidak ada diruangan itu. Bu Yati sebagai istri membiarkan pertanyaanya mengambang diudara, dia tahu bahwa suaminya butuh waktu untuk mengatasi kesesakan pikirannya. Dan dia juga tahu kalau sudah kembali normal suaminya akan menjelaskan apa yang terjadi.

"Dik, apa kita ini sudah tua ya?" ternyata yang keluar dari mulut pak dosen Kusnadi malah pertanyaan. "Maksud mas Kus apa?" tanya mbak Yati istrinya minta klarifikasi. "Maksudku, apakah memang kita ini sudah terlalu tua sehingga tidak bisa mengikuti jaman lagi" jelas pak dosen Kusnadi. "Mosok kita dibilang tua mas, lha umur 40 saja belum sampai. Emang mas Kus merasa aku sudah kelihatan tua dan tidak secantik dulu apa?" Yati berusaha bergurau agar emosi suaminya lumer. "Aku kesal dengan mahasiswa jaman sekarang dik, beda banget dengan jaman kita dulu. Mosok mata kuliah Kalkulus 101 yang aku ajarkan nilainya jeblok semua.............jan jeblok pol!" sungut pak dosen Kusnadi. "Pelajaran Kalkulus itu kan gampang asal mereka mau belajar. Aku sudah susah payah menerangkan sampai lambeku ndomble kok ya nilai UTS mereka kok dibawah standar semua!". Hening sejenak, Yati tahu bahwa suaminya butuh didengarkan agar emosi itu tidak menjadi magma yang makin membara dan meletus disembarang tempat.

"Mereka seharusnya dengan seksama mendengarkan kuliah yang aku berikan, trus kemudian banyak berlatih soal-soal yang ada di buku pendamping trus kalau ngak ngerti dikelas tanya ke dosennya. Lha ini kalau dikelas diam semua ngak ada yang tanya tapi giliran ujian kok nilainya rantai carbon semua CCCCCCCCCCCCC ngak ada putus-putusnya" kali ini pak dosen Kusnadi bicara dengan nada rendah campur putus asa. "Mas Kus, mungkin mahasiswa angkatan ini tabiatnya seperti itu. Bagaimana kalau mas Kus sebagai dosennya yang menyesuaikan cara mengajar yang kena dan cocok dengan kebutuhan para mahasiswa!" saran Yati istrinya. Mendengarkan usulan Yati itu kedua alis pak dosen Kusnadi terangkat "lha sudah tahunan gaya mengajarku seperti itu dan telah terbukti kok harus dirubah, mestinya para mahasiswa baru itu yang harus merubah cara belajar mereka!" sungut pak dosen keras. Yati tidak membantah ucapan suaminya, karena kalau dia tahu kalau dibantah maka malah akan terjadi perang argumen.

"Mas ini tadi ada surat dari pak RT" kata Yati menyodorkan selembar kertas. "Isinya apa dik" sahut pak dosen Kusnadi. "Aku ngak sempat baca mas, coba sampeyan saja yang baca!" kata Yati sembari mengambil pisang goreng terakhir di piring. Sesaat kemudian pak dosen Kusnadi mengeluh kesal "bagaimana sih pak RT, lha jaman modern gini kok cara berkomunikasinya kok kayak jaman orde baru saja!" keluhnya sambil melemparkan kertas ke atas meja. "Memangnya ada apa mas" tanya Yati heran. "RT kita katanya akan buat pos Ronda baru, dan setiap warga diminta sumbangan sebesar 500 rb, uang segitu kan cukup banyak, masak tanpa babibu tanpa ada rapat persetujuan dan sosialisasi kok tiba2 hanya dengan surat pemberitahuan seperti ini. Ini namanya kembali ke jaman Orba, jaman reformasi seperti sekarang ini cara berkomunikasinya semestinya dirubah harus lebih demokratis. RT itu harus tahu bagaimana kebutuhan dan keinginan warganya. Bukan malah asal perintah dengan menggunakan gaya lama" sesorah pak dosen Kusnadi seperti air bah yang jebol dimusim hujan.

Mbak Yati duduk diam mendengarkan kekesalan suaminya. "Bukankah dari jaman dulu, kalau ada apa2 memang seperti ini cara berkomunikasi RT kita mas?" Yati mencoba mengingatkan pak dosen Kusnadi. "Itu dulu dik.............sekarang jamannya berbeda. Pak RT musti bisa luwes menyesuaikan dirinya dengan jaman dan kebutuhan", pak dosen Kusnadi kelihatan masih kesal.

Pandangan Yati beralih dari kertas pemberitahuan ke tumpukan kertas lain diatas meja, tumpukan kertas ujian UTS mahasiswa pak dosen Kusnadi yang bertaburan dan penuh dengan nilai C disana-sini. Sambil merapikan kertas ujian, Yati bertanya ke pak dosen Kusnadi "mas Kus, mungkin betul ucapan sampeyan bahwa pak RT harus menyesuikan diri cara berkomunikasinya dengan warga. Trus masalah kuliah Kalkulus sampeyan ini apa ngak mirip dengan kasus pak RT ya mas. Mas Kus butuh gaya mengajar yang berbeda dari sebelumnya dan butuh tahu kebutuhan mahasiswa agar pemahaman mereka jadi baik dan hasil ujian bagus?" tanya Yati hati-hati. Dan pak Dosen Kusnadi terduduk diam dan merenung.

Pagi yang cerah di Bandung nan sejuk
21 Desember 2009
Eko Utomo for SmansaKla workshop

Note: The meaning of your communication is the response you get = efektif atau tidaknya komunikasi yang kita lakukan dapat dilihat dari response yang kita terima dari partner yang kita ajak berkomunikasi.

Disclosure:
Nama, lokasi dan cerita hanyalah fiksi. Kesamaan tokoh dlsb tidak disengaja dan tidak dapat diganggu gugat

20 Desember 2009

"Papa ngak Cinta aku lagi!"


Udara malam yang dingin tidak mampu menghalangi keringat yang mengucur disekujur tubuh Agus, 3 hari belakangan ini setiap kali pulang kantor, Ani istrinya membuka pintu dengan wajah cemberut, malam ini dia bawakan 2 ikat rambutan rapiah kesukaan Ani, berharap akan disambut dengan sukacita.

"Ma, ini aku bawakan rambutan kesukaanmu" bergegas Agus menyodorkan rambutan kepada Ani yang baru membukakan pintu. "Makasih" jawab Ani singkat sambil menutup pintu. Agus bingung, perkawinan mereka yang sudah berjalan hampir 10 tahun berjalan dengan baik bahkan cenderung hebat, luarbiasa dan bahagia, tapi apa yang terjadi dengan 3 hari ini? Ani selalu cemberut setiap kali Agus pulang kerja!

"Ma, mengapa kamu cemberut terus akhir2 ini" Agus tidak tahan untuk tidak bertanya. "Ngak ada apa apa" jawab Ani singkat sambil pergi ke dapur membuatkan teh manis kesukaan Agus. "Kalau ngak ada apa-apa, kenapa mukamu cemberut terus!" kejar Agus penasaran. Hening.............hanya bunyi jengkerik diluar dan denting sendok dan gelas yang mendominasi.

"Mas Agus, masih sayang sama aku ngak? mas Agus masih Cinta sama aku ngak sih sebenarnya?" bukannya menjawab, Ani malah melontarkan pertanyaan bertubi2 kepada Agus. Agus bengong campur heran dan gemas. "Ma, emang selama ini apa yang kamu lihat, apakah semua hal ini tidak bisa meyakinkan kamu bahwa aku masih mencintaimu kamu seperti 10 tahun yang lalu!" jawab Agus penasaran. "Mas Agus beda, dulu saat kita pacaran dan pengantin baru, mas Agus sering bilang I love you, sedangkan sekarang tidak pernah lagi" jawab Ani sambil duduk tertunduk di kursi. "Lho ma, apakah semua tindakanku, usahaku dan barang2 yang aku belikan tidak kamu lihat sebagai wujud rasa sayangku ke kamu dan anak2?" pertanyaan Agus hanya terjawab oleh isak tangis kecil dari Ani.

Keesokan hari, saat tiba dikantor Agus segera bergegas menemui Budi sahabatnya. Bagi Agus, Budi seperti kamus berjalan, banyak pertanyaanya yang terjawab oleh Budi. "Budi, aku mau konsultasi nih" segera Agus meletakkan pantatnya di kursi didepan meja Budi. Tanpa menunggu jawaban Budi, Agus bercerita kejadian tadi malam dan juga sikap istrinya akhir2 ini.

"Agus, menurut konsep VAK, kamu adalah manusia Visual yang suka akan gambar2, sedangkan dari ceritamu tadi istrimu adalah orang Auditory yang suka akan suara. Kamu berkomunikasi dengan menggunakan cara komunikasi yang kamu sukai yang belum tentu disukai oleh istrimu. Kamu lebih mengedepankan "yang terlihat" sedangkan istrimu butuh "suara". Agus duduk diam menyimak pendapat Budi. "Gus, kamu bisa mencoba menyesuaikan gayamu berkomunikasi dengan istrimu sesuai dengan gaya komunikasi yang dia sukai!".

Malam itu, Agus dengan harap2 cemas berdiri didepan pintu menunggu dibuka oleh istrinya. "Mama, makin lama kok aku makin cinta sama kamu" kata Agus sambil mencium pipi istrinya. 'Terimakasih ya ma, atas kesetiaan mama dan dukungan mama ke papa selama ini". Dan Agus melihat cahaya cerah dimuka istrinya yang hilang 4 hari ini, muncul dan kembali bersemi.


Bandung akhir Desember 2009
Eko Utomo

What you THINK is what you GET


"Ma, jam tangan Raymond Weill (RW) yang warna silver ada dimana ya?" tanya Anggoro kepada istrinya sambil sibuk memeriksa laci lemari. "Bukankah papa biasa pakai jam itu ke kantor?" Dinda istri Anggoro balik bertanya. "Jam RW yang papa pakai ini yang warna gold, aku nyari yang warni sliver ma" Anggoro menjawab sambil masih sibuk membolak2 lemari pakaian dengan harapan menemukan jam itu di antara tumpukan baju di lemari.

Dinda segera sibuk membantu Anggoro mencari jam RW itu dilaci2, bahkan dilemari diantara tumpukan2 baju. Setelah 30 menit mencari akhirnya mereka berdua menyerah. "Mungkin tertinggal di Bandung kali pa" kata Dinda, "tar weekend kita cari disana". Anggoro menyetujui usulan Dinda dan segera berangkat kerja.

Sabtu pagi dua hari kemudian di Bandung. Pagi2 Anggoro dan Dinda sudah sibuk membongkar laci dan lemari untuk mencari jam RW yang hilang. "Wah....kok ngak ada juga ya ma?" kata Anggoro lesu kepada Dinda istrinya yang ikutan lesu dan capek membongkar barang2 namun tetap tidak menemukan jam yang dicari. "Pa, jangan2 si Mbak yang mengambil! gerak-geriknya mencurigakan!" kata Dinda tiba-tiba. "Ah....kamu jangan asal tuduh ma, ngak baik itu" bantah Anggoro, "mungkin jam itu ketinggalan di Klaten saat kita pulang kampung kemarin" lanjutnya. "Tapi pa, bulan lalu si Mbak pinjam uang 1 juta, siapa tahu uang itu kurang" desis Dinda. "Aku telpon ibu dulu deh", bergegas Anggoro menelpon ibunya di Klaten dan meminta bantuan untuk mencari jam itu disana. Namun sang Ibu tidak mendapati jam yang dicari.

Pulang ke Jakarta, semakin diperhatikan gerak gerik si Mbak makin mencurigakan bagi Dinda. Dua hari yang lalu, si Mbak tidak mengembalikan sisa uang belanja yang dia berikan, padahal biasanya tidak pernah lupa dia mengembalikan kelebihan uang belanja. Siang tadi saat selesai menyetrika pakaian, Dinda memperhatikan bahwa si Mbak saat memasukkan baju kedalam lemari, tangannya merogoh dikanan kiri tumpukan baju, seakan-akan sedang mencari2 barang atau uang disana. Dia juga perhatikan bahwa setiap kali hendak menyapu kamar tidur, si Mbak menunggu Dinda keluar ruangan dan baru membersihkannya. Kecurigaan Dinda makin memuncak, pada saat membersihkan kamar sendiri itu sangat mungkin dipakai si Mbak untuk mengambil barang2.

"Pa, pasti dia!" sergah Dinda sesaat sesudah Anggoro masuk ke kamar pulang dari kerja. Anggoro segera mengerti arah pembicaraan istrinya. "Tapi kita tidak memiliki bukti ma, kalau tuduhan tanpa bukti itu jelas tindakan yang tergesa-gesa" lanjut Anggoro. "Kurang bukti apa lagi pa?, tindak-tanduk si Mbak akhir2 ini makin mencurigakan!", segera Dinda menceritakan kepada Anggoro hal2 yang dia perhatikan beberapa hari ini. "Ma, itu bukan merupakan bukti. Uang yang tidak dikembalikan siapa tahu memang habis buat belanja, sedangkan tangan merogoh kiri kanan tumpukan saat memasukkan baju kedalam lemari bukankah memang musti demikian agar rapi? sedangkan membersihkan kamar menunggu kamu keluar ya wajar lah, emangnya kamu mau makan debu dikamar saat di sapu?". Anggoro mencoba melunakkan tuduhan istrinya. "Ah, papa ini gimana sih, lha wong sudah jelas gitu kok, emangnya siapa lagi yang akan mengambil jam itu kecuali dia?" kata Dinda dengan jengkel dan kesal.

"Kriiiiing, bunyi HP Anggoro memisahkan perdebatan mereka. "Hallo, iya ada apa bu" kata Anggoro sesaat sesudah melihat bahwa yang menelpon adalah ibunya dari Klaten. "Le, ini ibu menemukan kotak warna putih dibawah lemari, didalamnya ada jam" kata ibu Anggoro. "Bu, coba dibaca jam itu mereknya apa?" kata Anggoro tidak sabar, Dinda juga ikut beringsut mendengarkan dengan berdebar-debar. "Bentar ya, ibu coba baca......mereknya adalah Raymond Weill!".

Bandung at Midnight 19 Dec 2009
Eko Utomo for Smansa Workshop

14 September 2009

Berhala Tradisi

Pagi itu pada sebuah biara, kesunyian yang biasa menemani terusik pergi dengan kedatangan para pencari Tuhan yang berondong-bondong datang pada minggu istimewa yang hanya sekali singgah pada setiap tahunnya. Minggu yang tidak akan terlewatkan oleh penghuni tetap biara dan juga mereka2 yang datang untuk melakukan hal yang sama dalam pencarian arti kehidupan.

Semua persiapan sudah lengkap. Alat sembahyang, bangku, buku pujian dan semua yang diperlukan untuk menjalani ritual suci yang mereka nanti. Jam menunjukkan pukul 6 pagi ketika semua sudah bersiap ditempat duduk masing-masing ketika kepala biara yang menjadi pemandu doa datang untuk memulainya. "Saudara-saudara yang terkasih.......", meooooooooooooong, "kesempatan yang istimewa ini", meooooooong, "marilah kita pergunakan", meoooooooong, "untuk memuji Dia", meooooooong. Sahut-sahutan antara pemandu doa dan kucing berlangsung selama beberapa menit dan baru berhenti ketika kucing diambil dan dibawa keluar ruangan .

Damai sejahtera hanya tergapai selama beberapa saat sebelum sang kucing kembali masuk ruangan dan ikut memuji dengan bahasanya. Manusia yang terganggu dengan kolaborasi kucing yang tidak diundang ini akhirnya mengambil keputusan untuk mengikat anggota tidak resmi ini kesebuah tiang didepan ruangan. Demikianlah yang terjadi selama seminggu, sang kucing setiap pagi terikat selama seminggu pada masa pemujaan berlangsung. Hal yang sama berlangsung selama 10 tahun sampai pada akhirnya kucing dan kepala biara sudah pergi meninggalkan biara menemui sang pencipta.

Pagi itu minggu pemujaan datang kembali, semua persiapan sudah lengkap. Para jemaat sudah datang, namun pengurus biara kelihatan masih kebingungan. Ada gerangan apalagi yang kurang? "masih ada yang kurang................" kata salah seorang anggota pengurus biara. "Apa yang kurang, bukankah semua sudah ada?", kata jemaat. "Masih kurang kucingnya, salah seorang dari rekan pengurus sedang mencari kucing untuk kita ikat di tiang". Demikian jawab pengurus biara yang lain.


Berhalaku
Ada puluhan berhala atau mungkin ratusan berhala yang aku pelihara. Aku ingat berhala "Terimakasih". Berhala ini aku lakukan saat seseorang memberikan bantuan padaku dan kuucapkan berhala itu tanpa sedikitpun tulus melihat matanya. Atau mungkin berhala yang satu ini, berhala "Maaf", berhala yang sering diucapkan tanpa makna, hanya sekedar karena itu ada dan harus selalu ada dalam kehidupan.

Bagaimana dengan Anda? berapa banyak berhala yang Dikau pelihara?

Note: Cerita teratas terinspirasi dari kotbah pagi ini

Eko Utomo
Serpong
Akhir Agustus 2009

Menjauhkan yang Dekat dan Mendekatkan yang Jauh

Malam sudah beranjak tua, diruangan yang asri dan luas itu lebih dari 40 orang duduk menyebar memenuhi ruang terbuka yang menyambung dengan halaman. Pramusaji di pojok halaman mendapatkan kesempatan untuk istirahat dan duduk setelah diserbu mereka-mereka yang sedang berbuka puasa. Dibagian dalam, meja makanan "berat" disebelah kolam ikan juga sudah tidak ada satu batang hidungpun yang antri mengambil nasi bakar.

Malam itu adalah malam berbuka puasa dirumah direktur perusahaan multimedia. Tentu saja, karyawan perusahaan multimedia pasti sangat "melek" dengan yang namanya teknologi terkini. Lebih dari separo mereka yang hadir dalam ruangan mengenggam ponsel "wagu" karena bentuknya yang mirip kalkulator itu, ponsel yang sekarang menjadi icon extravagansa komunikasi yang mendapatkan nama kesayangan BB.

Disudut timur, pada sebuah ayunan yang nyaman 2 orang sedang duduk manis dengan akrabnya. Akrab karena bahu mereka bersentuhan satu sama lain, kedekatan yang sungguh dekat dan hangat. Disudut yang lain 3 orang nona dan nyonya duduk bersandar pada sebuah sofa, pada sebuah posisi yang juga cukup akrab. Salah seorang diantaranya memainkan BBnya untuk mengabadikan momentum acara "Bubar" tersebut.

Sungguh suatu acara kebersamaan yang hangat dan nyaman, makanan kecil juga betebaran diatas karpet halus yang digelar diatas lantai. Bergantian tangan mereka beraksi selaras dengan aksi goa selarong (mulut) yang bergerak ritmik mengunyah materil enak itu. Semua serba bagus dan baik adanya...................t
unggu, ada sesuatu yang aneh dan asing. Moment yang sempurna tadi serasa masih kurang satu hal, yaitu bunyi suara! ya bunyi suara. Semua sunyi dan tenang...............semua asik dengan BB yang ada ditangan masing2.

Seorang nona terlihat sibuk mengupload foto ke FB dan memberitahukan kepada 1000 orang temannya di FB. Karyawan yang masih berumur dibawah seperempat abad di pojok ruangan sedang menulis status bahwa BuBar kali ini makanannya asik punya. Sedangkan teman disebelahku sibuk membalas SMS tidak tahu kepada siapa? Aku sendiri duduk termanggu memandangi semua ini, semua terlihat dan terasa dekat, namun juga jauuuuh tak tersentuh.

Luar biasa.............teknologi yang demikian canggihnya ini telah membantu untuk mendekatkan ribuan orang bahkan mereka yang jauh itu bisa tahu secara detail apa yang sedang kita kerjakan. Namun kami berdua yang duduk sebelah menyebelah dengan bahu kami bersinggungan selama 1 jam hanya terlontar satu kalimat "pak Eko, saya kirimkan pesan untuk sampeyan, tolong buka inbox, cepat dibalas ya pak!".

Bandung 5 September 2009
Salam hangat dari jauh.
Eko Utomo

Pada Sebuah Sepatu

Si Cantik ini tidak pernah bisa lepas dariku, tubuhnya yang mulus dan bodynya yang cukup up to date membuat aku tidak malu untuk mengajaknya menemani aku kemanapun aku pergi, juga kepergianku kali ini kesebuah gedung besar disebelah stadion Klaten. Gerimis kecil yang menerpa kulit tanganku takkuhiraukan. Aku segera bergegas menuju papan pengumuman yang diletakkan didepan gerbang sekolah. Ya.....hari ini adalah hari pengumuman penerimaan SMAN 1 Klaten. Hari yang sudah sore memudahkan aku untuk segera melihat papan pengumuman tanpa perlu berdesakan.

No. 55 Eko Jatmiko Utomo
Semprul......Nilai Ebtanas tertinggi dari kota asalku yang hampir menyerempet di angka 50 ternyata cuma mendarat di posisi 55 dari sekitar 500 orang yang diterima di SMAN 1 Klaten tahun 88 ini. Hmmm Eko Utomo sang juara kelas merangkap ketua kelas SMP1 Blora ini kelihatannya harus meninggalkan kebiasaan buruk malas belajar kalau mau survive di SMA favorite di seantero jagad Klaten ini. Tapi biarlah, daripada jadi jago kandang disana mending punya banyak sparing partner di sini, bisikku kepada si Cantik berbaju biru yang setia menemaniku sejak tadi.

Mataku menelusuri aturan dan tata tertib sekolah saat aku tertumbuk pada kalimat: "menggunakan sepatu hitam dan kaos kaki hitam". Waduh...........mau dikemanakan sepatu cantik kesayangan warna biru ini? sepatu kebanggaan yang aku pakai ngeceng ponakan pak Wiji guru sejarah SMPku dulu ini. Pikiran kacau dan balau tentang nasib sepatu biru cantikku terbawa sampai kerumah (tepatnya rumah simbah). Untuk membeli sepatu baru warna hitam merek Kasogi jelas merupakan kemewahan yang berlebihan bagi anak guru SMP seperti aku. Belum lagi Bapak dan Ibu nun jauh ada disana di Blora yang membutuhkan waktu tidak kurang dari seminggu untuk meminta uang.

Kala kekalutan makin berat dan menekan, terlihat sebuah spidol warna hitam bekas pesta perpisahan SMP beberapa bulan yang lalu. Aku melompat dari tempat dudukku sambil berteriak Horeeeeeeeeeeee laksana Archimedes berterial Eurekaaa menemukan hukum aksi dan reaksi. Bergegas aku ambil spidol hitam dan menaruh si cantik kebiruan kedalam haribaan, dengan hati-hati aku torehkan spidol sakti yang menyulap sepatu biru menjadi hitam (lebih cocok dikatakan kehitaman). Dalam waktu 15 menit semua sudah selesai dan beban berat terangkat dari pundak. Besok senin aku bisa berangkat sekolah dengan sicantik biru yang menyamar menjadi black sweety.

Senin itu gerimis kembali menyapa bumi dikaki Merapi, sekali lagi aku ngak peduli dan tidak mau tahu tentang gerimis. Semangat untuk masuk sekolah dan berkenalan dengan teman baru jauh lebih besar daripada sekedar gerimis yang hanya mampu membuatku sedikit basah dan lembab. Paling setengah jam lagi juga akan kering dengan sendirinya. Sesudah memasukkan sepeda ke tempat parkir aku segera bergegas menuju kelas IF kelas dimana aku akan melewati tahun pertama.

Kegembiraanku terhenti ketika seorang guru laki-laki menghadangku di tengah jalan. "Hei kamu...................kam
u anak kelas satu ya" katanya galak. "Betul pak......" jawabku takut-takut. "Kamu baca aturan tidak tentang sepatu?" kata pak Guru galak yang berkumis tebal itu. "Baca pak, sepatu hitam dan kaos kaki hitam". "Dasar...baru hari pertama saja sudah mencoba melawan aturan kamu ya............" bentak pak guru yang membuat semua tulang-belulang seraya terlepas sendinya. "Tidak pak, saya mentaati aturan kok............"kataku bergetar menahan takut. "Masih menyangkal kamu ya...................., coba lihat sepatumu! kamu pulang dan jangan kembali sebelum memakai sepatu sesuai aturan!". Bentakan terakhir ini membuatku tertunduk dan jauh dibawah..............diujung kaki terlihat bahwa si Biru cantik nongol kembali karena warna hitam spidol telah hanyut oleh gerimis pagi.

BSD City
City of Kuliner
Eko Utomo

Hereditas in Action

Hereditas ini memang suatu hal yang luar biasa, bagaimana tidak luarbiasa kalau orangtua bisa mewariskan banyak hal kepada anak2nya. Tidak hanya profil dan bentuk muka saja yang diturunkan namun juga cara berfikir, tingkah laku, cara bertindak dan juga hal kecil2 lainya yang mungkin kelihatan remeh temeh.

Dalam konteks yang sama istri saya sering banget melemparkan tuduhan yang sangat tendensius, "pa, kamu waktu kecil suka ngences ya?" tuduhnya dengan kalimat yang tajam. Jelas tuduhan yang seperti ini bisa menurunkan martabat bangsa dan langsung mengaktifkan "self defence mechanism". Belum 1 menit saya mencoba menjelaskan bahwa ngences bukan merupakan bagian dari sejarah masa kecil, istri saya langsung mencela dengan kartu trufnya, "lihat saja Jason anakmu, kalau bukan dari kamu dari siapa lagi dia memiliki kebiasaan ngences!". Jawaban yang sangat telak, karena pada saat itu bukti hidup sedang asyik main kereta sambil tentu saja tes tes tes ngences sekenanya.

Itu belum seberapa, saat ini yang namanya Jason Utomo ini sedang dalam masa kreatif-kreatifnya. Segala macam dicoba dan segala larangan dilanggar. Yang ada dalam kepalanya adalah mencoba semua hal yang menarik hati, istilah orang awamnya adalah "Bandel". Kalau sudah jengkel terhadap Jason maka yang digumamkan istri hanyalah "Dasar bandel kayak papanya!". Tentu saja saya mencoba membela diri dan balik menuduh itu diturunkan dari dia. Kalau sudah begitu dengan kalem mamanya Jason akan bilang, "lha itu tulisan papa di internet itu apa kalau bukan bandel!". Weladalah.........ternyata
tulisan di internet berbalik menjadi senjata makan tuan he he he he

Saat saya SMA, seorang saudara yang terhitung pakde pada satu kesempatan memberikan sabdanya "Eko, nanti kalau besar nanti kamu cocoknya jadi guru seperti orangtuamu!". Sebuah ramalan yang menyakitkan hati (maaf para guru semua ya), masak Eko Utomo sang ketua karang karuna, ketua kelas nan cerdas kok diramalkan jadi guru. Eko Utomo ini cocoknya jadi tukang Insinyur yang gajinya besar seperti yang selalu saya gembar-gemborkan ke bokde belakang rumah simbah kalau sedang pinjam uang. "Mbokde, kalau saya nanti sudah lulus kuliah dan kerja, gaji saya lebih dari 6 jt perbulan" demikian bualan saya (tahun 1989).

Jadi guru itu PENGABDIAN, sengaja saya tulis dalam huruf besar. Selama puluhan tahun jadi anak bapak dan ibu yang guru SMP saya tahu persis berapa gaji mereka. Setiap awal bulan, slip gaji ibuk pasti hampir nol karena harus dipotong ini itu, sedangkan gaji bapak harus diirit untuk membiayai hidup dan sekolah ketiga anaknya. Bahkan untuk membeli sepatu Kasogi warna hitam(lihat notes "pada sebuah sepatu") merupakan sebuah utopia, angan angan yang terlalu tinggi yang tak mungkin tergapai.

So, profesi guru ada dalam urutan terakhir daftar karir yang akan ditempuh sesudah lulus kuliah nanti, kalau bisa tidak masuk daftar sama sekali. Lima tahun sesudah lulus kuliah dan mencoba berbagai macam profesi akhirnya saya masuk di fungsi Human Resource (HR) khususnya Leadership Training. Posisi yang disandang adalah Fasilitator. Saat saya cuti dan pulang kerumah, ibu bertanya apa kerjaan saya sekarang dan saya jelaskan dengan bahasa yang keren tentang fasilitator, beliau cuma bilang "Ooooooooo kerjane podo karo guru to le!". Saat ini, posisi yang tertera di kartu nama adalah "Learning & Development Division Head", namun seringkali kalau lagi ketemu dengan teman baru boss saya yang direktur itu mengenalkan saya dengan ungkapan "Kenalkan, ini pak Eko kepala sekolah kita".

Sore ini badan saya terasa meriang semua, mungkin karena terlalu sering kena AC atau bisa juga karena lagi musim pancaroba. Saat istri saya mengajak pergi ke Carrefour untuk cari Kompor baru saya sempat malas-malasan. Namun sesudah dibilang bahwa kompornya sudah merah warna apinya plus memang sudah umur 8 tahun maka dengan terpaksa saya menyetujuinya sambil bilang "kamu yang nyetir ya ma!".

Pulang dari Carrefour jam 7 malam badan makin meriang, kalau tidak diambil tindakan khusus bisa jadi bahaya nih. "Ma, aku panggil mak Erni ya" kata saya kepada istri yang sibuk mencoba install kompor baru. "Pa, ini kapan kompornya mau dipasang? habis lebaran? aku butuhnya sekarang!" bukannya menjawab pertanyaan saya, dia malah uring2an karena saya dari tadi diam saja tidak masang kompor baru.

Mak Erni datang jam 8, "dari tetangga depan" demikian katanya sambil memperlihatkan giginya yang sudah hitam dan ompong dimakan usia saat ditanya kenapa datang terlambat. Mak Erni usianya sudah 62 tahun, Betawi asli, sudah punya cucu dan punya penyakit latah. Sepanjang acara pijat memijat, saya silih berganti melakukan dua ekspresi muka: nyengir kesakitan saat urutan kena urat bandel dan nyengir kegelian saat mak Erni latah melihat film Horor yang ada ditayangan TV.

Saat pijatan usai, badan menjadi enteng. Istri saya yang gantian minta diurut. Saya segera melihat hasil kerja instalasi kompor oleh istri barusan. Bah, dalam waktu 1 jam ternyata kemajuan yang tercapai hanyalah mengeluarkan kompor dari kertas karton pembungkusnya. Memang para ibu ini pandai dalam memakai perkakas dan mobil namun kalau disuruh perbaikan atau install tetap kaum Adam yang harus maju. Hanya dalam waktu 15 menit kompor baru sudah terpasang dan melihat hal itu istri tersenyum sambil bilang "thanks pa, hebat juga kamu!". Hmmm ternyata menikah 8 tahun dan pacaran 3 tahun belum cukup meyakinkan dia betapa serbabisanya papa Thesa ini he he he he

"Ma, warisan almarhum bapak yang satu ini memang oke". kataku sambil nonton TV. "Warisan apaan" potong mama Thesa dengan wajah penasaran. Memang kalau urusan warisan itu saaangat sensitive dan harus hati-hati dibicarakan. "Jangan mikir yang aneh-aneh, ini lho warisan kebiasaan dipijat dan diurut. Coba kalau kebiasaan yang diturunkan adalah berobat ke Mount Elisabeth Singapore, kita kan bisa bangkrut!" jelas saya. Mama Thesa hanya nyengir menandakan setuju.

Tidak berapa lama mama Thesa selesai diurut, belum juga mamanya selesai memakai pakaian, Thesa (7 tahun) yang dari tadi duduk tenang langsung bangkit berdiri dan lukar ageman (copot pakaian) serta pasang posisi siap dipijat. "Oooooalaha Thesa, memang kacang ora ninggalake lanjaran!".

BSD City
Tengah malam saat nonton Nadal Vs Del Potro
14 September 2009
Eko Jatmiko Utomo