08 Agustus 2010

Menang main Tenis (terus terusan)


Saat ini aku sedang memegang serve, dan score 40-40 (deuce) dengan score besar 5-5. Aturan main di club tennis kami adalah siapa yang dapat menyelesaikan 6 game duluan adalah yang menang. Dari awal main, set ini benar-benar memeras tenaga. Lawan seimbang memaksa kami musti lari pontang panting hanya untuk mendapatkan satu point. Bola beberapa kali aku pantulkan ke lapangan sambil mencoba mengumpulkan konsentrasi agar servis pertama bisa masuk dan menghasilkan point. Sekilas aku lirik disebrang lapangan pak Otis bersiap-siap menerima servis yang akan aku lontarkan, terlihat mukanya tegang karena score yang begitu ketat . Didekat net, pasanganku pak Nur sudah dalam kondisi siaga satu.

Pagi ini merupakan pagi yang luar biasa dan hari ketidakberuntungan. Pertandingan sebelumnya dengan pasangan pak Faisal berlangsung luarbiasa ketat! score berkejar kejaran 1-1, 2-2, 3-3, 4-4 dan 5-5. Bahkan pada saat mencari satu game kemenangan deuce terjadi bolak balik sampai 5 kali. Dan sesudah forehand pak Faisal menyangkut di net kami harus kalah dengan angka yang tipis 6-5.

Kembali aku konsentrasi dengan servis yang aku pegang, dari luar lapangan, 4 orang pemain yang lain merangkap sebagai supporter plus provakator.

"Ayo pak Eko, masak kalah lagi, mana tuh backhand titisan Roger Federer!" suara pak Dedi ngak jelas apakah mencoba memberikan semangat atau mematahkan semangat memenuhi udara lapangan tenis.

"Backhandnya ngak bakalan keluar tuh, tadi malam kebanyakan diajak lembur" kembali bom meledak tidak kalah ganas dibandingkan dengan ledakan melon 3 kg!

"Masak, jagoan Wimbledon kalahan mulu! pak Eko kalau kalah lagi harus mempertimbangkan untuk gantung raket nih!" kompor kompor bledug makin banyak meledak diluar lapangan tenis. Panas matahari jam 9 pagi tidak ada apa apanya dibandingkan dengan panas kompor yang keluar dari kawah (mulut) pada provokator lapangan.

Tanda mempedulikan suara suara penyesat diluar lapangan aku lambungkan bola keatas dan mencoba konsentrasi agar servis pertama masuk. Deeesss.......dan bola masuk di dibidang T lapangan lawan. Dari sebrang pak Otis ternyata mampu melakukan return service dengan sempurna, bola forehand inside out memaksaku untuk mengejar kepinggir lapangan dan mengembalikannya dengan slice backhand crosscourt agar tidak dipotong oleh pak Achyar yang ada didepan net. Bola meluncur tipis dan dalam, sekali lagi pak Otis asal Kudus itu mengeluarkan kembali pukulan forehand inside out dan reli panjang berlangsung lebih dari 15 strokes.

Kesempatan itu datang ketika aku mendapatkan kesempatan untuk maju kedepan dan menempatkan backhand volley tipis di sebelah kiri lapangan lawan yang kosong, "lariiiiiiii" gertakku pada lawan diseberang net, satu poin alamat jadi milik kami dan status "one in/match point" jelas ditangan! tiba tiba pak Otis yang sudah out of position berlari dengan kecepatan kira kira 150km/jam dan di detik terakhir mampu mengambil bola dan menempatkannya di kanan dalam lapangan dengan kami hanya bisa melongo melihatnya.

"Horeeeeeeeeeeeeee" teriakan 4 orang diluar lapangan kencangnya setara dengan teriakan 100.000 orang di Stadion Senayan saat final Liga Indonesia!
"Pak Eko, sudah menyerah kalah aja pak! hari ini jatah sampeyan jadi pecundang!". Kembali kompor bledug diluar lapangan.

Sesudah menghirup udara berkali kali dan curi curi nafas plus mengumpulkan tenaga aku kembali bersiap-siap untuk melakukan servis. Score Match Point untuk lawan, nampak pak Nur pasanganku sudah kembali bersiap didepan net, saat jeda sesaat tadi pak Nur terlihat tegang dan kecewa. Sebagai pemain senior, kekalahan sepertinya tidak ada didalam kamus beliau. Tentu saja dengan ketidakadaan kata kekalahan dikamus beliau beban beratnya nemplok dipundakku.

Kembali aku fokus pada bola untuk servis, konsentrasi sejenak sambil melirik pak Achyar diseberang net yang sedang bersiap siap menerima servis. Bola melambung ke atas dan aku arahkan ke bagian pojok lanpangan dan masuk! pak Achyar terpaksa melakukan pukulan defensif, aku segera menyerbu kedepan net untuk memberikan tekanan kepada lawan. Dua pukulan volley kami mendesak lawan semakin dalam dibelakang garis dan pukulan volley yang ketiga memaksa pak Otis melambungkan bola dengan lob yang tidak sempurna. Makanan empuk untuk di smash!

Aku segera mundur tiga langkah kebelakang untuk mendapatkan posisi yang terbaik untuk melakukan smash, bola yang melambung tinggi itu aku tunjuk dengan tangan kiri dan raket sudah siap dibelakang badan yang melengkung siap untuk melakukan smash yang keras. "Deeeeeeeeeeesss" bola segera meluncur ke sebrang lapangan dengan kecepatan 200 km/jam.........dan pak Otis yang terkaget kaget mendapatkan smash yang kencang tadi asal2an menggerakkan raket melindungi tubuhnya agar tidak kena bola dan ternyata secara ajaib raket memantulkan bola dan bergulir lemah menyebrang lapangan. Persis dipojok kiri lapangan kami!

"Menaaaaaaaaaaaang!" pak Otis dan pak Achyar bersorak gembira dipadu oleh teriakan suporter sebanyak 4000 orang (hitungannya diredominasi) yang gegap gempita di luar lapangan.

"Horeeeeeeeeeeeeee, aku menang!" aku bersorak lantang mengalahkan suara mereka semua. Teriakan yang segera membuat semua orang menjadi hening, heran dan campur kaget.

"Pak Eko, smashnya tadi dikembalikan dan masuk tipis pak!" seorang supporter mencoba memberikan klarifikasi.

"Saya tahu pak" balasku dengan senyum sambil menyalami pak Otis dan pak Achyar. "Menang yang saya maksudkan disini adalah saya hari ini "menang" karena mendapatkan permainan 2 set yang benar benar mantap dan seru, terimakasih untuk gamenya yang dahsyat ini".

Sunday Morning at BSD City
7 Agustus 2010
EU for U

LEAN MANAGEMENT mas satpam bank (jilid 2)


"Selamat pagi pak............selamat datang di CIMB Niaga, ada yang bisa saya bantu?", kata mas Satpam sambil membukakan pintu.

Disebelah luar, sambil berdiri mengantre di ATM mau ngak mau aku tersenyum simpul, kasihan sambil geli hati. Kasihan terhadap mas Satpam karena saat dia baru mengucapkan bagian "di CIMB Niaga" nasabahnya sudah ngeloyor masuk, mungkin bosan atau memang buru buru, tidak ada kontak mata disana. Geli hati, karena siapapun yang ada dibagian "Service Excellence" CIMB Niaga saat membuat standar pengucapan ini pasti tidak pernah nongkrong dan melihat apa yang terjadi atau mungkin juga pelatihan terhadap para satpam kurang bisa membuat para mas satpam cukup fleksibel dalam berkomunikasi dalam melakukan pelayanan dan tidak sekedar seperti kaset memutar "script standard" yang kaku.

Sebagai nasabah CIMB Niaga selama satu dasawarsa, untuk urusan pelayanan dan inovasinya bank yang satu ini patut diacungi jempol. Saat bank lain pasang satpam bertampang galak dan mata melotot, mereka sudah mendidik para satpamnya untuk membukakan pintu masuk sambil tersenyum. Saat service itu ditiru bank lain, Niaga mendidik satpamnya untuk bahkan membukakan pintu di parkiran mobil. Saat satpam yang lain tidak ngerti apa itu transfer dan kliring, satpam Niaga dengan sigap menawarkan diri membantu kesulitan nasabah di ATM dan menjawab pertanyaan bak customer service yang sudah didik habis habisan selama 2 bulan.

Tapi kali ini, inovasi yang dilakukan jelas tidak pas dari sudut pandang customer. Mas satpam bahkan tidak mendapatkan kontak mata dengan customer yang masuk tapi tetep script diucapkan lengkap, bahkan saat ada banyak orang keluar masuk bank, kalimat script itu diulang dengan lengkap dan komplit bolak balik ngak jelas siapa yang diberikan selamat. Satu contoh sempurna tentang pemenuhan standar kualitas (Eleminate Invariabelity) yang diterapkan tidak pada konteksnya sehingga yang terjadi adalah Inflexibelity yang bukannya memuncullkan value di mata pelanggan tapi menimbulkan kesan kasihan dan geli hati.

"Selamat datang di Indomart, silahkan berbelanja................
......"
Baru saja membuka pintu sambutan standard script berkumandang, mencoba mencari siapa yang mengucapkan aku lihat ke sekeliling. Kasir sedangl menunduk dan menghitung uang dan ada 2 pelayan toko yang juga sedang sibuk menghitung inventory. Trus...yang ngomong tadi siapa ya? jangan jangan...................ayak jurig di die....hiiiiiiiiiiii

BSD City
5 Augt 2010
Eko Utomo for U

Kuthukku Netes (anak ayamku menetas)


Kragilan Klaten awal 80an
Kuuuur kuuuuuuur ckckckckck..........sang Induk ayam turun dari susuh (sarang). Pck pck pck cit cit cit.....satu persatu anak ayam dengan bulu yang halus dan lembut itu grotal gratul (tergagap) turun dari sarang dan jatuh terjelungup dengan sukses. Untung mbah putri (nenek) membuatkan sarang ayam tidak tinggi, hanya satu tumpukan batu bata, sehingga peristiwa jatuhnya anak ayam tidak mengakibatkan cedera.

Dari balik pintu kandang ayam, Tomi mengintip moment anak ayam turun ke tanah untuk pertamakalinya dengan penuh perhatian. Kali ini dia sangat berhati-hati sekali karena sebulan yang lalu seekor induk ayam mematok dan mengejarnya habis habisan saat dia mendekati sarang mereka saat hendak melihat anak ayam yang baru menetas. Rasa sakit di kakinya yang kena patuk menjadi alat belajar seumur hidup yang tidak pernah terlupa.

Satu....dua....tiga.......
.......tujuh. Desis pelan Tomi berhenti, anak kecil umur 8 tahun yang baru saja naik kelas dua SD itu sedikit berkerut. Sekali lagi dihitungnya anak2 ayam yang berlarian dan ribut disekitar induk ayam. Tidak salah, jumlahnya hanya tujuh ekor! padahal 3 hari yang lalu dia sempat menghitung bahwa ada 8 buah telor yang dierami. Mungkin satu telor tidak menetas, pikir Tomi.

Kuuur kuuuuur, dilihatnya induk ayam mengajak ketujuh anaknya keluar kandang. Begitu gerombolan induk dan anak ayam sudah agak jauh dari kandang, dengan bergegas Tomi masuk kekandang untuk mencari butir telur ke delapan. Langkahnya terhenti satu meter dari sarang ayam, dilihatnya sebutir telur warna putih yang retak dibagian ujungnya masih berada didalam sangkar.

Dengan perlahan Tomi mendekati sarang dan jongkok sambil mengamati sang telur. Dibagian ujung yang retak dan berlubang kecil, Tomi melihat bahwa ada sebentuk paruh kecil yang sedang berjuang untuk membesarkan retakan dan lubang pada kulit telur. Ciiiiiit, bunyi pelan itu seakan permintaan tolong dari anak yang kehabisan tenaga dan ditinggalkan induk dan saudara-saudaranya. Bermenit-menit Tomi memperhatikan perjuangan anak ayam yang tidak kunjung berhasil memperbesar retak pada cangkang telur.

Ciiiit.........kali ini hatinya tidak mampu lagi untuk menahan tangannya terulur pelan memegang telur ayam. Dengan perlahan diperlebarnya lubang kecil itu. Kepala anak ayam yang lemah itu terlihat jelas sekarang. Kembali anak ayam mencoba keluar dari telur namun tidak mampu juga. Melihat perjuangan yang tidak menampakkan hasil itu tangan Tomi kecil kembali turut campur dengan membuka telur lebih lebar lagi. Kali ini anak ayam mampu keluar dari cangkang.

Kuuur kuuuuur begitu mendengar bunyi induk ayam yang mendekat Tomi segera lari menjauh. Takut dipatok induk ayam yang sedang galak galaknya. Dilihatnya anak ayam yang ditolongnya sedang mencoba untuk belajar berdiri. Badan terhuyung kesana kemari dengan lemah dan akhir jatuh kembali. Sampai lama Tomi mengamati dari kejauhan anak ayam itu tidak pernah berhasil berdiri. Gelapnya kandang di senja hari memaksanya pergi kembali kerumah.

Siang keesokan harinya Tomi bergegas kekandang dibelakang rumah. Tubuhnya masih memakai seragam merah putih. Begitu pintu kandang terbuka, dilihatnya sang induk sedang asyik mematuk matuk tanah dengan anak anaknya. Satu dua tiga......tujuh, kok cuma tujuh ya? Tomi mencoba mencari anak ayam yang ditolongnya kemarin. Kemana perginya anak ayam berbulu putih semburat kuning itu ya?

"Mbah putri, lihat anak ayam warna putih semburat kuning ngak ya?". Mbah putri yang sedang asyik dengan semprong di dapur memalingkan wajahnya yang bertambah kisut dengan asap kayu bakar.

"Anak ayam yang mana le? yang baru menetas?" tanya mbah putri.

"Iya mbah, anak ayamnya kan ada 8, tapi tadi aku hitung kok cuma ada tujuh ya mbah?"

"Ooooooo yang itu to, tadi ada satu anak ayam yang mati dan sudah mbah kubur dibelakang".

Mendengar itu Tomi terduduk lesu didingklik sebelah mbak putri. "Mati mbah? kok mati ya? padahal kemarin aku bantu dia keluar dari telurnya", suara Tomi memelan dengan kedua tangan menopang dagu.

"Tomi............lain kali kalau ada telur menetas jangan dibantu ya" mulut mbah putri yang mulai perot itu tersenyum simpul.

"Memang kenapa mbah?" mata Tomi yang belok sepertinya membesar dua kali lipat mendengarkan nasehat yang baginya tidak masuk akal.

"Menurut pengalaman mbah putri, anak ayam yang saat menetas dibantu sama kita malah jadi lumpuh dan tidak bisa berjalan!" lanjut mbah putri. Karena ngak bisa berjalan maka saat disarang dia mati terinjak oleh induknya.

"Kok bisa begitu mbah" kali ini nada suara Tomi heran campur perasaan bersalah.

"Memang begitu sifatnya ayam le, perjuangan anak ayam yang dengan susah payah keluar dari cangkang telur itu yang membuat badan dan kakinya menjadi kuat untuk berdiri dan hidup!".

***
Pedalaman hutan Singkarak - Lubuk Alung 1996
Sorot lampu motor Honda Binter itu tidak mampu menembus tebalnya kabut dan hujan deras yang bak tercurah dari langit. Tomi mencoba merapatkan jaketnya kebadannya yang basah kuyup dan kedinginan. Sambil mengusap kacamata yang basah oleh air, diliriknya jam ditangan kirinya. Hmmmm jam 3 dini hari. Sungguh bukan saat yang tepat ban motor ini bocor ditengah tengah hutan. Proyek PLTA Singkarak masih berjarak dua kilo dari sini.

Sudah 2 bulan ini Tomi melakukan riset untuk keperluan Tugas Akhir kuliahnya dan sambil sekalian bekerja sebagai inspektor di konsultan pembangunan PLTA Singkarak. Lokasi proyek ditengah hutan dan jauh dari mana-mana menjadi tantangan berat bagi Tomi.

Air membasahi muka Tomi, keringat campur air hujan membuat matanya pedih. Bunyi hujan yang deras ditengah hutan dan beratnya motor bocor yang harus didorong menanjak bukit membuat kakinya makin lemas dan bergetar. Dikejauhan terdengar bunyi hewan disela-sela gemeratak air hujan. Kata orang beberapa tahun yang lalu hutan disebelah proyek masih ada harimaunya..............hiiiii perasaan takut mulai menghinggapi sanubari. Terbayang kemewahan dan nyamannya kota Bandung yang dia tinggalkan dua bulan yang lalu. Dan masih 4 bulan lagi harus dia tempuh di tengah hutan yang gelap, dingin dan menakutkan ini.

Gubraaaak! motor itu jatuh. Menabrak batu yang bertengger dipinggir jalan. Dan Tomi jatuh terduduk lemas disebelah motornya. Timbul penyesalannya akan pilihan lokasi Tugas Akhir. Kenapa aku ngak ambil riset di laboratorium aja.......pikiran dan penyesalan mulai menjajah dirinya. Dengan tertatih tatih diangkatnya motor itu kembali, masih ada 2 tikungan lagi yang harus dia lewati sebelum sampai di proyek dan moga-moga petugas di workshop ada yang bisa menambalkan motor.

Aduuuuuuhh capeknya, Tomi kembali bergumam dengan bibir yang pucat membiru karena kedinginan. "Daaaaaaaaaar" dan kilat menyambar diikuti oleh bunyi guruh yang menggelegar. Disudut ruang imajinasi yang diterangi kilat Tomi melihat mbah putri sedang duduk di depan pawon sambil memberi makan anak ayam yang baru menetas.

"Le, perjuangan anak ayam yang dengan susah payah keluar dari cangkang telur itu yang membuat badan dan kakinya menjadi kuat untuk berdiri dan hidup!". Kalimat mbah putri menemani Tomi membelah hujan yang turun makin deras dan pekatnya dinihari tengah hutan.

BSD City
3 Agustus 2010
Eko Utomo remembering beautiful Singkarak Lake

Menyikapi perbedaan (persepsi dan pemikiran)


"Pa, sebenarnya aku terlalu kurus ngak sih?"

Pertanyaan yang sensitive dan nyrempet subversif seperti ini jelas bukan sambutan yang diharapkan saat pulang kerja. Pertanyaan ini sebenarnya bukan pertanyaan yang baru pertama kali terlontar, tapi mungkin yang ke-tujuh puluh tujuh atau lebih! Tetep........kalau menjawabnya tidak hati hati bisa bisa ujungnya menjadi berabe.

"Bentar ma, apa yang terjadi dipagi hari tadi di Fitness First?". "Answering question with question" memang skill yang mutlak harus dikuasai oleh para trainer dan fasilitator. Selain bisa "buying time" mencari jawaban yang mungkin masih kabur juga penting untuk mendapatkan konteks pertanyaan supaya jangan jawab ke utara ternyata pertanyaanya ke selatan.

"Aku tadi dibilang sama temanku di Fitness bahwa ngapain aku ke tempat Fitness. Kata mereka badan sudah kerempeng gini kok masih rajin latihan", penjelasan sedikit emosional ditambah bumbu kesal terlontar.

"Terus jawabanmu?"

"Aku bilang aja kemereka bahwa suamiku suka aku seperti ini!".

"Jawaban yang seratus persen tepat" komentarku pendek sambil ganti baju.

"Masalahnya pa, mereka bilang ngapain sih sudah punyai suami dan punya anak kok musti jaga badan banget?".

"Jawabanmu?"

"Aku bilang aja, emang suamiku suka dan aku suka apa masalahnya"

"Jawaban yang bagus", komentar pendekku ini sama dengan pendeknya celana yang aku pakai sekarang.

"Masalahnya mereka bilang kalau sudah punya suami dan anak masih jaga body dibilangnya tanda tanda ganjen!". Kali ini pernyataan diikuti dengan mimik muka yang kesal.

"Emang kamu ganjen ma?"

"Dasar loe pa, kepikiranpun kagak"

"Ya sudah, selesai kan" jawabanku mengiringi sruputan teh manis panas sajian dari si mbak.


"Ma, coba lihat ini?" kataku sambil menunjukkan gelas teh manis. "Menurutmu, gelas ini setengah isi atau setengah kosong?" ini merupakan pertanyaan standar di ruangan workshop kalau terjadi perdebatan yang mengarah ke perdebatan berdasarkan sudut pandang.

"Hmmm, setengah isi pa!" jawab mama Tesa yakin.

"Great, disisi lain juga banyak orang yang bilang bahwa gelas ini adalah setengah kosong. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Perbedaan jawaban yang muncul terjadi karena sudut pandang, nilai nilai yang dianut, pendidikan, pengalaman, kepercayaan dan banyak hal lain yang dipegang oleh masing-masing kita!".

"Ngerti pa, terus kalau dicecar dengan pertanyaan semacam itu lagi gimana dong?"

"Bilang aja kebeliau beliau bahwa pendapat suami menduduki peringkat teratas. Dan mohon maaf pendapat mereka didengarkan tapi tidak mesti harus dituruti. Kalau masih ngeyel, bilang secara tegas bahwa sampai kapanpun bapak bapak tetap suka lihat yang ramping2 kok".

"Tapi pa, ada salah satu orang yang bilang bahwa suaminya suka lihat istrinya gemuk semlohai".

"Bilang ke beliau, itulah perbedaan antara suami Anda dan suami saya. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Suami Anda benar menurut sudut pandang dia dan suami saya juga benar menurut keyakinannya. Yang salah adalah saat sampeyan memaksa suami saya mengikuti cara berfikir suami Anda, dan Anda memaksa saya untuk mengubur perbedaan selera dan menyeragamkan perbedaan."

BSD City,
August 2010

18 Juli 2010

LEAN MANAGEMENT pada semangkok soto Lamongan

Cibubur minggu pagi sepi dan lancar..................su
atu kemewahan yang luar biasa. Cibubur yang padat oleh perumahan kelas menengah atas selama bertahun tahun menjadi salah satu Oase untuk orang Jakarta yang kaya beneran, orang kaya baru dan orang pura pura kaya untuk membeli rumah baik cash maupun cicilan 20 tahun di daerah yang dibelah oleh jalan Trans Yogi ini. Jelas saja makin lama daerah ini makin macet karena pertumbuhan perumahan dan penghuni bermobilnya tidak sebanding dengan pertumbuhan jalan. Apalagi sejak salah satu penghuninya menjadi RI 1, hobi pulang balik Istana - Cibubur ditambah dengan protap pengawalan VVIP membuat penghuni yang lain cuma bisa ngelus dada saat si boss pulang ke rumah dan menyisakan kemacetan di jalan.

Pagi ini kami mengantar asisten keluarga pulang cuti ke Cilengsi. Minggu lalu si mbak menemani kami sekeluarga menghabiskan hari libur sekolah di Bandung. Minggu ini si mbak mengambil jatah cuti mingguan agar besok senin sudah bisa bekerja kembali di hari pertama Tesa dan Jason masuk tahun ajaran baru. Biasanya saat si mbak cuti, cukup ikut Tesa ke sekolah (di Cibubur juga) dan dari sana naik angkot ke Cilengsi. Namun kali ini kami ramai2 mengantar mbak cuti dan menikmati perjalanan BSD - Cibubur sambil sekalian mampir ke soto Lamongan langganan kami dulu di perumahan Kota Legenda.

"Mbak, boleh minta garam ngak ya?" tanya salah satu pelanggan kepada penjual soto. Kami masih berdiri disamping gerobak menunggu kursi kosong. Tiga meja dengan kapasitas 10 kursi masih full oleh pelanggan lain.

"Pa, sini pa", seru mama Tesa saat ada pelanggan yang meninggalkan meja dibelakang gerobak penjual. Dengan bergegas kami menuju meja yang kosong dan segera memesan soto. "3 soto campur dan satu soto pisah mas. Kalau masih ada kepala ayam tambahkan satu soto campur dan soto pisah". Saya mengorder ke si mbak penjual. Aku masih mengenalinya sebagai adik dari pemilik warung soto ini. Saat ini kakaknya sedang menjaga warung soto satu lagi di Kota Wisata disebrang Legenda Wisata.

"Tiga campur dan satu pisah" mas penjual soto meletakkan pesanan kami didepan meja. Hmmmm sesudah setahun tidak pernah makin soto lamongan, segenap memori cita rasa yang mak nyus tertarik dan masuk kembali ke ujung-ujung syaraf pencecap. "sruuuup" sendok pertama masuk kemulut sesudah sambal ditambahkan ke mangkok.

"Pa.....kok hambar ya?" mama Tesa berucap kurang percaya. "Kok tidak seperti biasanya?" katanya lagi sesudah memasukkan sendok yang kedua. "Mbak, sotonya sudah diberi garam belum ya?' protesnya kepada si mbak penjual, sesudah sendok yang ketiga.

"Anu bu.....garamnya memang saya kasih sedikit"

"Gimana sih si mbak ini, kalau ngak pakai garam ya rasanya jadi anyep" komplain boru Tampubolon lebih lanjut. "Saya minta garam dong....".

"Ini bu garamnya, kemarin ada pelanggan yang minta garamnya sedikit saja, jadi sekarang saya sajikan sotonya dengan garam yang sedikit" jelas si mbak sambil memberikan wadah garam.

"Wah gimana sih si mbak ini, kan selama ini rasa soto ini sudah ada standar rasanya. Mestinya kalau menyajikan dengan resep seperti itu, kalau ada pelanggan yang minta dikurangi atau ditambah garam ya berikan saja. Tapi jangan mengubah standar yang sudah ada!", boru Tampubolon memberikan wejangan kecil ke si mbak penjual soto.

***

"Pa, bener ngak yang aku bilang ke penjual soto tadi? kan papa dulu pernah bilang yang namanya apa tuh? Lean Management*?" dimobil boru Tampubolon mengeksplorasi lebih lanjut peristiwa di kedai soto Lamongan.

"Yang kamu bilang disana sudah bener ma, didalam memberikan servis atau pembuatan barang maka penyedia jasa atau produk memang harus menjaga standar atau istilah keren Lean Management sebagai "eleminate variabelity". Disisi lain mereka juga harus luwes dan fleksibel dalam memenuhi permintaan dan kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda atau istilah Lean Management sebagai strategi "eleminate inflexibelity".

"Tindakan penjual soto tadi bagaimana pa?"

"Tujuannya baik, namun yang dilakukan mencampur baur dua strategi tadi. Yang terjadi bukannya melakukan flexibelity namun malah merusak standar dan menimbulkan variasi dalam rasa soto yang disajikan" jawabku serius dan menghasilkan dejavu kelas Lean Management di kantor.

"Nah, kalau kasus anak kita Tesa dan Jason gimana dong?, yang satu putih yang satu hitam. Yang satu mukanya runcing yang satu mukanya bulat. Proses bisnis kita variancenya tinggi dong?" boru Tampubolon berpindah dari soto ke hereditas.

"Kalau yang itu pintar pintarnya papa dan mamanya dalam mencampur semua strategi Lean Management jadi satu he he he he" jawabku ngawur sambil menghilangkan kesal karena Cibubur sudah kedatangan tamu abadi: macet.

BSD City,
18 Juli 2010
Eko Utomo untuk Anda


*Tiga strategi utama Lean Management:
1. Eliminate Variabelity
2. Eliminate Inflexibelity
3. Eliminate Waste

Please BELIEF that your BELEIF will make you UnBelievable!

Blora kota Ario Penangsang 1988.

"Braaaaaaaaaaaaak!"

Kami semua mengkeret seperti bunga putri malu yang tersentuh ujung sandal. Penggaris kayu sepanjang satu meter itu untuk kesekian kalinya berfungsi dengan baik ditangan pak Wir. Penggaris yang memunculkan bunyi keras dan mampu menyirep kelas 3E tatkala menghajar meja. Kami duduk membeku dibangku masing-masing, tentu saja dengan kepala tertunduk agar tidak tertangkap pandangan mata beliau. Tangkapan yang membuat kami harus bisa menjawab pertanyaan atau siap untuk dipermalukan.

"Ayo, siapa yang tahu bahasa inggrisnya nyamuk?"

Suara pak Wir makin tinggi dan kencang, dan kami makin menunduk. Pelajaran bahasa Inggris di SMP selama 3 tahun ternyata belum mampu membuat siswa sekelas tahu bahasa Inggrisnya nyamuk! dan kok kebetulan guru berbadan kecil namun galaknya minta ampun itu pagi-pagi bertanya bahasa inggrisnya nyamuk dan kami semua terlongong bengong seperti orang melamun yang kemasukan nyamuk di mulutnya.

"Nah, untuk urusan seperti ini ketua dan juara kelas pasti tahu!"

Dan mata pak Wir dengan senyum tajam menatapku tiba-tiba. Ini benar-benar kiamat kecil. Walau sejak kelas 1 SMP aku selalu juara kelas tapi yang namanya pelajaran bahasa Inggris adalah pelajaran yang maaf...paling tidak aku sukai. Kalau ditanya tentang Matematika, IPS, Bhs Indonesia atau bahkan PMP merupakah makanan empuk bagiku. Tapi..........bahasa Inggris??? tar dulu! aku paling malas belajar bahasa Inggris dan aku percaya bahwa aku ditakdirkan untuk tidak becus cas cis cus pakai bahasanya meneer Charles ini.

"Tomy, sebagai juara kelas dan ketua kelas, saya tahu kamu pasti tahu jawaban dari pertanyaan ini".

Kembali pak Wir menatapkan matanya yang tajam kearahku, dengan tidak lupa membawa penggaris satu meter yang pernah mampir dimuka teman kelasku yang nakal.

"Mosquito pak!", tiba-tiba saja mulutku membuka dengan sendirinya. Mbuh benar mbuh salah aku coba jawab sebisanya.

" Ya betul! kata pak Wir sambil berjalan kembali kedepan kelas. "Kalian harus tiru Tomi. Sebagai juara kelas, selain hebat dalam matematika dia juga hebat dalam bahasa Inggris!"

Suara pak Wir menerbangkan semangatku kelangit-langit ruangan kelas. Dan secara tiba-tiba aku percaya bahwa diriku pasti bisa dan mampu berbahasa Inggris!


Puncak Cianjur, Juli 2010

"Pak Tomi, tadi bapak dikelas menjelaskan bahwa Limiting Belief akan membuat cara kita membuat keputusan juga menjadi terbatas, maaf pak, bisa diberikan contoh yang lain ngak pak?". David, salah satu peserta workshop Leadership Development Program (LDP) yang duduk semeja saat coffee break menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan unek-uneknya yang tidak sempat terlontar pada sesi kelas "Making Effective Decision".

"David, kamu percaya ngak terhadap dirimu sendiri bahwa suatu saat nanti kamu bisa menjadi direktur?" seperti biasa aku lontarkan pertanyaan sebelum menjawab pertanyaannya.

"Bisa pak!" suara David terdengar mantab dan penuh percaya diri.

"Great! suatu belief yang empowering yang akan membantumu untuk mencapai hal itu. Namun diluar sana, banyak karyawan yang jauh dilubuk hatinya tidak percaya bahwa dirinya mampu untuk menjadi direktur. Sehingga keputusan demi keputusan yang diambil tidak pernah membawanya untuk menjadi direktur karena tanpa sadar sudah dia batasi dengan rambu rambu "tidak mampu untuk menjadi direktur". Sebaliknya, kepercayaanmu bahwa kamu mampu untuk menjadi direktur akan membawa dalam membuat keputusan menuju dan berlayar kearah pencapaian hal tujuan itu".

Mendengarkan penjelasanku muka David terlihat bersinar dan bibirnya mengembangkan senyuman lebar. Persis sama dengan senyumku 22 tahun lalu saat pak Wir bilang bahwa aku "jago" bahasa Inggris!.

Nusaloka, sore hari Juli 2010.

"Pa, kapan kamu bisa kurus? lha sampai sekarang masih sak hohah terus gitu lho?"

"Sabar ma, segala sesuatu ada masanya" jawabku santai sambil mengalungkan handuk masuk kekamar mandi. Penat dalam workshop 4 hari dipuncak sudah luntur oleh pijatan tangan mak Erni dan saatnya memanjakan tubuh dengan guyuran air dingin nan segar.

"Perasaan, papa bilang seperti itu sejak tahun lalu lo?" mama Tesa makin bersemangat untuk menyudutkanku di pojok ring untuk yang keseribu sekian kalinya.

"Ma, yang penting aku sudah percaya, memegang belief bahwa aku akan menurunkan berat badan 10 kg lebih rendah dari sekarang. Sama dengan berat badan saat kita menikah dulu. I have the belief ma". Kataku sambil buru-buru masuk kamar mandi untuk menghindari pertanyaan berikutnya.

"Iyaaaaaaaaa, tapi trus kapan?" mama Tesa gigih ngak mau kalah persis seperti tim der Panser Jerman yang menggondol juara 3 WC 2010.

"Nah, untuk urusan timeline memang harus dipikirkan lebih dahulu ma." Jawabku sembarangan sambil membuka shower kencang2 agar tidak terganggu suara dari luar.

Close to Midnight
BSD City, 17 July 2010.
City of Tomorrow
Eko Utomo untuk Anda

Comfort (Zone) yang menina bobokan........

Lebih dari setahun bangku deret ketiga di lantai dua sayap kiri GKI MY itu menjadi bangku favorit. Saya "merasa" bahwa bangku yang pada awalnya saya pilih dengan sembarangan itu ternyata menjadi begitu nyaman dan selalu saya tuju setiap hari minggu. Bangku yang akhirnya menjadi area "comfort" yang susah ditinggalkan karena menjadi standar. Bangku yang akhirnya baru bisa ditinggalkan gara2 bangku itu penuh dan memaksa saya duduk di lantai satu dibelakang mimbar. Lokasi yang akhirnya menjadi area "comfort" lain sebab lokasi baru ini membuat saya dapat leluasa memandang ke song leader yang manis disamping piano di lantai dua!.

Tahun 1997 sebuah bank memberikan saya gaji 500 rb perbulan. Angka yang berlipat dibandingkan dengan uang saku bulanan dan duit beasiswa yang saya dapatkan ditahun sebelumnya. Dengan gaji itu saya bisa mencukupi diri sendiri dan mampu makan di restoran fastfood tanpa harus mikir seribu kali. Jumlah itu cukup dan setiap akhir bulan uang pas............artinya pas habis saat gaji bulan berikutnya masuk rekening.

Tahun berikutnya sebuah pabrik sepatu menggaji saya 750 rb perbulan, 50% lebih banyak dari gaji tahun lalu. Gaji baru memberikan keleluasaan untuk mentraktir teman-teman dan pacar, dan setiap akhir bulan uang pas........artinya pas habis saat gaji bulan berikutnya masuk rekening.

Tahun berikutnya sebuah perusahaan trading membayar saya 2 jt, hampir 3x lipat dari gaji sebelumnya. Dengan gaji baru, kebebasan untuk membeli baju dlsb makin mudah, urusan traktir mentraktir juga makin gampang, dan setiap akhir bulan uang pas......artinya pas habis saat gaji bulan berikutnya masuk rekening.

Tahun berikutnya lagi sebuah perusahaan kontraktor pertambangan menggaji saya 2x lipat dari gaji sebelumnya, uang 4 jt masuk rekening tiap bulan tetap saja setiap akhir bulan uang pas.....artinya pas habis saat gaji bulan berikutnya masuk rekening!

Selidik punya selidik ternyata tanpa sadar saya memiliki "comfort zone" zero saving! habit yang terbawa sejak mahasiwa, uang tidak pernah kekurangan tapi juga tidak punya tabungan. Saat comfort Zone ini dipaksa berubah karena harus nabung untuk biaya menikah...............lho kok ternyata bisa nabung juga.

***
"Pak, saya dapat offering!"
"Wah keren dong...........offering dari mana?" tanyaku sambil tersenyum kepada Andi anggota tim divisiku.
"Dari perusahaan retail pak, angkanya bagus, 10 jt/bulan!" jawab Andi dengan muka yang berseri.
"Hmmm lumayan banget tuh...........saya pikir kamu layak untuk mendapatkan tawaran sebesar itu" balasku sambil mempersilahkan Andi duduk.
"Saya heran pak, ternyata kok saya bisa mendapatkan tawaran sebesar itu. Saya pikir diri saya mentok diangka 3 juta sebulan saja".

"Andi, ingat diskusi kita 2 tahun yang lalu? waktu itu saya tanya kepada kamu apakah apa targetmu 3 tahun kedepan"
"Ingat pak, saat itu saya bilang saya ingin jadi Training Manager! tentu saja dengan gaji yang jauh lebih besar dibandingkan gaji saya pada saat itu" Andi menyahut sambil mengingat-ingat kejadian itu.
"Betul Andi, visi dan targetmu yang baru saat itu merentang comfort zonemu ke area yang baru! dan alam bawah sadarmu membantu kamu untuk mencapai itu".
"Kalau begitu untuk keluar dari comfort zone kita harus membuat tujuan dan standar baru yang lebih besar dari comfort zone kita pak?"
"Jawabannya ada didalam pertanyaanmu Andi, selamat untuk offering ini! sukses ditempat yang baru!".

***
"Pa, emang mau ngontrak terus di Jakarta, masak ngak mau punya rumah sendiri?" tiada hujan tiada angin mama Tesa nyerocos hari sabtu pagi.
"Lho, emangnya yang di Bandung itu bukan rumah apa?" jawabku mencoba mengelak dari pertanyaan.
"Yang aku tanya rumah di Jakarta bukan di Bandung, papa kok anteng anteng aja sih selama bertahun tahun ngontrak di Jakarta".
"Iya-iya, entar kita beli deh, sabar kan harus ngumpulin DP dulu buat beli rumah mah" jawabku tetap dengan semangat membela diri.
"Sabar sih boleh pa, asal jangan terjebak zona nyaman jadi kontraktor. Tuh lihat, rumah di Castilla ini boleh juga!"

Disclaimer: angka2 dan pemeran yang terlibat diatas hanya ilustrasi

BSD City,
27 June 2010
Eko Utomo untuk Anda

17 Juni 2010

Ketakutan sang (ibu) Karate Kid


"Horeeeeeeeeeee.......plok
plok plok plok", Studio 1 Blitz Teraskota BSD serasa hendak runtuh! semua penonton berdiri dan bersorak ramai mengalahkan suara soundsystem yang dahsyat dan mendadak dejavu* itu datang, aku serasa menjadi anak kecil yang sedang berteriak, bersorak dan bertepuk tangan dengan ribuan orang di lapangan bola desa Senden dikotaku di awal tahun 80an. Hmm....ternyata manusia dijaman yang berselisih seperempat abad ini masih memiliki kerinduan yang sama, rindu pahlawannya menang. Rindu kebenaran mengalahkan kejahatan! dan kerinduan itu diwakili oleh Dre (yang diperankan dengan apik oleh Jaden Smith anak Will Smith). Kerinduan yang sulit diwakili oleh tokoh2 masa kini apalagi oleh tokoh2 nasional yang tingkah lakunya layak untuk dituntut harakiri. Dre mengakhiri adegan laga di kejuaraan kungfu dengan satu kaki patah namun mampu mengakhiri sang antagonis dengan jurus cobra yang aduhai!

Judulnya jelas ngawur yaitu Karate Kid! seharusnya berjudul Kungfu Boy karena tidak ada Kata** namun jurus kungfu sepanjang 2 jam melototin layar lebar. Produsernya kurang percaya diri sehingga mendompleng judul dan skenario film yang serupa ditahun 80an. Anyway, mantan pacar yang nonton bareng berkata bahwa Karate Kid merupakan film yang paling dia sukai sepanjang tahun ini, lebih berkesan dibandingkan dengan "Prince of Persia" yang kami tonton 2 minggu yang lalu.

Adegan remake versi baru ini menyajikan pesan yang tidak lekang oleh jaman dan selalu uptodate: sang jagoan mengerang kesakitan saat dihajar lawan di semifinal dan hampir hampir tidak bisa bangun untuk melanjutkan pertandingan di babak final. Sang Master (diperankan oleh Jacky Chen) dengan bijak menasehati bahwa kemenangan bukan segala-galanya. Proses untuk mendapatkan kemenangan adalah yang terpenting. Sang jagoan menjawab bahwa kenekatan dia untuk maju ke final bukan karena mengejar kemenangan tetapi untuk menghadapi musuh besarnya, musuh semua manusia yaitu ketakutan! ketakutan yang timbul karena proses "bulliying" yang dilakukan lawannya disekolah. Dan jagoan ingin menaklukkan ketakutan itu, bukan sekedar mengejar kemenangan.

"Pa, kamu takut ngak?" mantan pacar yang duduk dijok samping tiba-tiba bertanya saat kami meninggalkan Teraskota.

"Takut apa?" jawabku sambil mengambil uang 8 ribu buat bayar biaya parkir.

"Jason, karate kid kita sampai sekarang belum lancar bicara juga" jelasnya dengan mata menerawang seakan akan menembus remang cahaya lampu pusat kota BSD. Mungkin dia terbawa bisik bisik kami tadi saat nonton, Jaden mirip dengan Jason, hitam dan manis.

Yang ada kemudian adalah hening...........yang ribut adalah dialog internal dalam pikiranku dan mungkin juga pikiran mantan pacar dibangku kebelah. "Ma, coba kita bareng-bareng, visualisasikan masa dimana Jason dengan cerewetnya bertanya ini itu kepada kita. Sudah dapat?" aku lirik senyum tipis membayang diwajahnya. "Simpan itu dalam pikiran kita!, Jason is fine and will be fine. Kita akan support dia dan Tuhan akan bekerja secara ajaib dalamnya." Roda mobil menapaki jalan Nusa Loka saat tangan kiriku terasa hangat dipegang tangan lembut mantan pacarku.

BSD City,
June 12, 2010
Eko Utomo untuk Anda



* Dejavu: already seen, merasa sudah mengalami peristiwa yang sama di masa lalu
** Kata: jurus karate
*** Bulliying: kekerasan fisik dan psikis dari orang lain

Wiyata Guna: melihat dengan hati.


Plang jalan Pajajaran terlihat dan terbaca jelas di seberang lampu lalu lintas. Lampu merah menghentikan honda Astrea Prima yang menemaniku dengan setia selama 4 tahun menuntut ilmu di bumi parahiyangan, pengganti Vespa putih yang kumusiumkan sejak lulus SMA tahun 91 lalu. Siang hari ini, lalu lintas yang turun dari jalan Cihampelas mengarah ke stasiun kereta lenggang. Orang mungkin malas keluar rumah disiang hari bolong walau udara Bandung jelas lebih dingin terutama kalau dibandingkan dengan kota Klaten kota asalku.

Bergegas aku tarik gas saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Tak berapa lama aku sudah sampai di depan GOR Pajajaran dan aku segera sign kanan masuk ke gedung kuno dan kusam didepan GOR. Aku parkir Astrea Prima dibawah pohon dan melangkah cepat masuk melewati gerbang kecil yang terbuka. Dibagian depan gedung berdiri kokoh papan nama yang bertuliskan: Panti Sosial Bina Netra WIYATA GUNA.

Sejak 2 bulan yang lalu hampir setiap minggu siang aku datang ke tempat ini. Persekutuan pemuda GKI MY sabtu malam itu memberikan pengumuman bahwa dibutuhkan pelayanan membaca untuk mahasiswa tunanetra yang tinggal di Wiyata Guna. Atas ajakan teman aku tergerak untuk ikut serta pelayanan ini mumpung kuliah disemester 2 tahun 1995 ini tinggal beberapa sks saja dan banyak waktu luang yang aku punya disela-sela kesibukan mencari tempat untuk Tugas Akhir (skripsi).

Siang ini aku berangkat sendiri, bergegas aku masuk ke dalam komplek dan sejurus kemudian aku sudah masuk disalah satu gedung asrama berwarna kusam itu.

"Simon, selamat siang"

Seorang pemuda berkulit hitam dan berambut keriting yang sedang duduk di pinggir ranjang itu sedikit mengerutkan dahinya. Kepalanya sedikit diangkat dengan telinga kanan mengarah ke pintu masuk.
"Eko, selamat siang juga...silahkan masuk!" dan bibir yang gelap dan tebal itu membentuk senyuman yang lebar. Tangannya terulur kedepan.

"Pa, kabar Mon?" aku tangkap tangan yang terulur sambil memandang bola mata Simon yang menatap kearahku......bola mata yang jarang berkedip dan tanpa sinar itu.

"Baik, selalu baik. Kebetulan banget Ko, besok aku mau ujian. Aku butuh bantuanmu untuk untuk belajar materi ujian", wajah Simon yang asli NTT bersinar-sinar. Tangannya meraba-raba keatas meja sederhana di sebelah tempat tidur. Sesaat kemudian Simon mengangsurkan diktat kuliah dengan judul "Tata Bahasa Indonesia".

"Buku Tata Bahasa Indonesia ya Mon? bab berapa?" tanyaku sambil mengambil posisi duduk disebelah tempat tidur. "Aku rekam sekalian ya", aku ambil tape recorder kecil di ujung meja.

"Mulai aja dari bab 1 Ko, kemarin sempat dibacakan sama orang lain tapi kelupaan direkam. Jadi sekalian mengulang sekalian merekam". Senyum Simon tidak pernah pergi dari wajahnya, terlihat bahwa pembacaan buku yang aku lakukan sungguh berarti baginya untuk persiapan ujian di kampus IKIP Bandung dimana Simon mengambil kuliah jurusan Bahasa Indonesia. Dan 2 jam berikutnya kami berdua tenggelam dengan kegiatan belajar, aku membaca, Simon mendengarkan dan tape recorder merekam suaraku.

"Terimakasih untuk kedatangannya" tangan Simon mengenggam tanganku erat-erat. Senyum lebar dan tulus itu memenuhi mukanya. "Membantuku banyak dalam persiapan ujian minggu depan", ujarnya sambil mengantarku keluar dari asrama.

"Sama-sama Simon, semoga sukses di ujian nanti" kataku lirih sambil menatap bola matanya yang memandang kemukaku, bola mata itu kosong tak bersinar. Bola mata orang buta.

"Hati-hati dijalan Ko, jangan ngebut ya" teriaknya sambil tetap tersenyum saat aku mulai mengarahkan Astrea Prima meninggalkan halaman Panti. Sekali lagi aku lihat Simon yang melambaikan tangan, senyum yang tidak lepas dari wajahnya dan tiba-tiba aku merasa bahwa Simon memandangku dengan tajam. Aku dapat merasakan bahwa Simon melihatku.........melihatk
u dengan hatinya!.

Bandung, 12 Juni 2010
Note untuk Simon.
dari Eko Utomo

Tanggung jawab siapakah?


Long weekend kali ini sungguh produktif. Tiga hari libur, mulai hari Jumat, Sabtu dan kemudian Minggu diisi dengan jadwal ketemu dengan teman baru, teman lama atau teman lama yang baru ketemu kembali. Banyak memori lama muncul dan juga memori baru minta jatah waktu untuk diendapkan.

Materi diskusi di hari sabtu sore adalah tentang bagaimana membangun komunikasi yang efektif dan powerfull. Bagian penting dari materi adalah memiliki mindset atau belief dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Salah satu belief penting itu adalah "The Meaning of Your Communication is the Response you Get". Efektif atau tidaknya cara kita berkomunikasi tidak terletak dari apa yang kita pikirkan namun dari response yang diberikan oleh partner didalam berkomunikasi. Artinya kalau partnernya ngak ngerti yang salah ya kita .......dan bukan partner bicara!.

Konsep diatas memicu diskusi yang menarik, salah seorang teman diskusi memberikan contoh bagaimana kalau orang yang diajak berkomunikasi kemampuan pemahamannya sederhana? atau dengan kata lain prosesornya agak lambat. Saya mencoba berdiskusi dengan mengajukan pertanyaan sederhana: sebenarnya tujuan dari kita berkomunikasi apa? jika tujuannya adalah kita ingin agar pesan yang disampaikan dapat dimengerti oleh pihak lain, maka tanggung jawab untuk membuat mereka mengerti pesan kita 100% ada ditangan kita, karena kita yang butuh.

Lha, bagaimana kalau orang yang diajak bicara masuk dalam katagori prosesor 386? ya bungkuslah pesan yang ingin disampaikan bisa dipahami oleh prosesor 386. Bagaimana jika lawan bicara keras kepala, tidak mau mengerti, sok pinter dan mau menang sendiri? sebagai pihak sender tugas kita membuat ybs menjadi lunak kepala, mau mengerti, menghargai orang dan mau mendengarkan! Walah.....berat banget dong kalau begitu sebagai sender? yes..............sebab sender dalam posisi menginginkan bahwa pesan yang dia kirimkan dapat dimengerti dan dibeli oleh pihak lain.

Hal penting lain yang muncul sebagai konsekuensi dari belief "The Meaning of Your Communication is the Response you Get" adalah membuat sender menjadi manusia yang bertanggung jawab untuk membuat proses komunikasi berjalan dengan efektif dan tidak mencari kambing hitam pada saat komunikasi tidak berjalan seperti yang diinginkan. Pemberi pesan menjadi kreatif dalam mencari cara agar pesannya dapat ditangkap dan dimengerti.

***

"Bu Santi, ada satu hal yang ingin saya bicarakan", guru pendamping* Tesa yang masih berstatus mahasiwa itu mendekati mama Tesa pada istirahat siang.
"Miss Sari, silahkan duduk. Mau bicara apa ya?" mama Tesa menggeser duduknya untuk memberikan ruang bagi Sari.
"Makasih bu, saya berdiri saja"
Mama Tesa tersenyum mencoba mencairkan suasana yang agak kaku, walau dalam hatinya penuh tanda tanya tentang masalah yang hendak dibicarakan oleh Sari.

"Begini bu Santi, sudah seminggu ini Tesa sering banget memanggil nama saya tanpa Miss didepannya. Saya sudah beberapa kali mengingatkan Tesa tapi Tesanya tetap saja melakukan hal yang sama. Saya ngak enak bu, takutnya nanti ditirukan oleh teman2 Tesa yang lain".

"Oooo masalah itu to, maaf miss Sari, memang Tesa beberapa hari ini kalau dirumah sering membicarakan miss Sari langsung sebut nama. Kami dirumah selalu mengingatkan Tesa untuk menyebut nama miss Sari lengkap tidak hanya Sari saja. Maapin Tesa ya miss".

"Tapi bu Santi, Tesa harus diingatkan terus menerus. Tadi pagi dia masih melakukan hal yang sama" terlihat bahwa guru pendamping ini masih belum puas dengan jawaban mama Tesa.

"Iya miss, nanti saya ingatkan kepada Tesa kembali. Tesa kan memang masih kelas 1, jadi mungkin dia meniru kalau saya atau ibu-ibu yang lain membicarakan guru pendamping anaknya menyebut nama langsung, maaf ya miss".

"Iya bu Santi, kalau dirumah tolong diingatkan Tesa terus bu, biar Tesanya tahu kalau menyebutkan nama saya harus dengan kata miss, tidak hanya nama saja!", Sari kelihatannya mengalami kekecewaan yang cukup dalam dengan Tesa anak bimbingannya semata wayang itu.

"Miss Sari, sebagai guru pendamping salah satu tugas utama miss Sari adalah mengerti perilaku dan kebutuhan Tesa. Kalau Tesa yang harus mengerti perilaku dan kebutuhan miss Sari artinya Tesa yang jadi guru pendamping dan miss Sari yang jadi murid kelas 1 SD!" kali ini kalimat yang dilontarkan mama Tesa membuat miss Sari diam dan merenung.


* Guru Pendamping: dalam sistem pendidikan di sekolah inklusif, anak dengan kebutuhan khusus belajar dan bergaul bersama anak2 lainnya. Namun agar proses belajar menjadi efektif maka anak berkebutuhan khusus memiliki guru pendamping pribadi yang membantu mereka didalam kelas.



BSD City
Akhir May 2010
Eko Utomo untuk Anda