19 Mei 2016

Kawin (tidak) paksa #Hal69


Catatan Harian Eko Utomo

Kawin (tidak) paksa #Hal69

"Love is blind". Bagi banyak orang mungkin menganggap ungkapan ini lebay. Namun coba tanyakan kepada mereka yang sedang "gandrung" dan jatuh cinta. Atau paling tidak amati perilaku yang sedang mabuk asmara.

Maka "cinta itu buta" merupakan sebuah ekspresi yang sangat akurat dalam menggambarkan bagaimana kekuatan cinta mampu membutakan manusia. Bukan mata secara fisik, namun mata pikiran rasional dalam memperhitungkan faktor untung rugi dan resiko2 yang ditanggung pada saat mabuk cinta.

Banyak novel, cerita dan film dengan apik menggambarkan bagaimana cinta membutakan rasio manusia. Pernah baca atau menonton film Romeo & Juliet? Semua hal diterjang demi cinta, at any cost!

Duapuluh tahun yang lalu, seorang pemuda menyandang masalah yang sama. Terjangkit virus LiB, Love is Blind. Jatuh cinta pada seorang perempuan beda suku.

Dalam konteks Indonesia 20 tahun yang lalu (masih banyak jejaknya saat ini) pacaran dan menikah beda suku masih banyak menghadapi kendala.

Masing2 suku di Indonesia memiliki budaya adat istiadat yang dijunjung tinggi. Peristiwa pernikahan merupakan salah satu moment untuk menunjukkan bagaimana sepasang keluarga "mempertontonkan" pada keluarga besar dan khalayak ramai bagaimana mereka menghargai dan menempatkan budaya dan adat istiadat dalam kehidupan mereka.

Pacaran sang pemuda Jawa dan pemudi Batak jelas akan menghasilkan benturan2 dan gegar budaya.

Hal yang sederhana, saat pernikahan nanti pesta yang dilakukan menggunakan adat apa? Biaya pernikahan akan menjadi beban siapa? Dalam adat Jawa pihak wanita yang akan menanggung sebagian besar biaya pernikahan. Sedangkan dalam adat Batak maka biaya pernikahan harus banyak ditanggung oleh pihak laki2. Jelas tidak akan ketemu. Yang paling mudah pemuda Batak dan pemudi Jawa, kedua keluarga secara adat "merasa dan bertanggung jawab" untuk menanggung biaya.

Belum lagi paska merger (menikah). Budaya dan adat apa yang akan dipakai. Siapa yang harus mengalah, bagaimana mendidik anak, bagaimana menyikapi stimulus dua keluarga besar dan tetek bengek 1001 urusan yang timbul karena proses merger ini.

Agar proses merger berlangsung mulus dan going concern (till the death do us part) tentu saja harus dipersiapkan strategi, inisiatif dan eksekusi yang ciamik. Kalau tidak ya siap2 terbentur batu karang.

***
Sore ini saya dan tim sedang berdiskusi tentang studi yang kami lakukan tentang kemungkinan proses merger dua perusahaan dibawah holding company.

Studi dilakukan agar opsi2 yang ada, baik itu skenario tetap berdiri sendiri atau merger dapat dievaluasi dengan komprehensif sehingga dapat menjadi pertimbangan top management untuk GO atau NO GO dalam proses merger.

Organisasi atau lebih tepatnya perusahaan jelas merupakan bentuk abstract. Namun organisasi ternyata memiliki karakter dan perilaku yang mirip dengan manusia, termasuk dalam proses "pernikahan" antar perusahaan.

Proses AKULTURASI budaya menjadi penentu apakah merger menghasilkan manfaat yang baik atau malah menciptakan dan memperuncing konflik (Sarala, 2010).

Proses merger perusahaan adalah proses menggabungkan keseluruhan aspek perusahaan menjadi satu. From TWO become ONE. Yang menarik adalah bahwa yang sedikit (one) diharapkan menjadi lebih baik kinerjanya dibandingkan dengan yang lebih banyak (two).

Penggabungan yang paling mudah terlihat adalah penggabungan sumberdaya mereka. Aspek keuangan jadi satu, aspek SDM, material, metode, mesin dan peralatan semuanya menjadi satu.

Penggabungan sumberdaya yang sudah disebutkan diatas relatif mudah dilakukan. Yang paling tidak mudah adalah penggabungan BUDAYA ORGANISASI dua perusahaan yang berbeda.

Sangat mirip dengan perilaku manusia dalam perkawinan antar suku, maka merger dua perusahaan dengan budaya yang berbeda akan menemui banyak tantangan dan rintangan.

Mega merger HP dan Compaq yang terjadi hampir satu dekade lalu memperlihatkan bahwa "kawin paksa" yang dilakukan oleh 2 perusahaan kelas Godzila (dalam size) ternyata berujung sad ending. Pemrakarsa merger CEO HP Carly Fiona dipecat dan kinerja perusahaan hasil pernikahan alih2 membaik malah terjun bebas.

Apa yang menjadi masalahnya? perbedaan budaya organisasi tidak diperhitungkan oleh Carly Fiona bakal jadi batu sandungan proses merger yang dilakukannya.

Dalam proses merger, dua faktor utama menjadi penentu keberhasilan proses akulturasi adalah PRESERVATION dan ATTRACTIVENESS masing2 perusahaan (Sarala, 2010).

Semakin tinggi tingkat preservation (keinginan mempertahankan budaya lama) maka konflik akan meningkat dan proses akulturasi terhambat. Sebaliknya semakin attractive (menarik) budaya pihak lain maka proses akultarasi menjadi mudah.

Jadi apa yang harus dilakukan agar proses pernikahan dua perusahaan berlangsung efektif? mulai dengan memetakan budaya organisasi masing2 perusahaan. Analisa perbedaan yang ada dan buat bermacam inisiatif sebagai jembatannya.

Langkah berikutnya "melunakkan" sikap Preservation dan membangun persepsi attractive dari partner pernikahan, sehingga konflik bisa direduksi dan upaya dapat difokuskan dalam membangun SINERGI.

***
"Yayang, katanya kamu mau berupaya melakukan proses akulturasi adat batak?", mantan pemudi bertanya.

"Lho, kan aku melakukannya dengan sepenuh hati. Buktinya kalau ke Lapo aku semangat 45!", jawabku mantab.

"Bukan yang itu, suami harus 100% berusaha membahagiakan istrinya!", mantan pemudi meneruskan sok tahu.

"Itu mah tugas semua suami kalee", sahutku sambil menyengir.

"Makanya, kapan mobilku diganti yang baru?", mantan pemudi menembakkan senapan jitunya.

EU4U
BSDCITY290316

Buat yang mau dan sudah merger.

Membaca Langkah Lawan #Hal68

Catatan Harian Eko Utomo

Membaca Langkah Lawan #Hal68

Paling menyenangkan kalau saat main tenis dapat lawan yang seimbang. Malam kemarin kebetulan kami dihadang pasangan lawan nan perkasa.

Kombinasi pasangan musuh demikian tangguh. Pak Tommy cukup umur dan jam terbang, sementara John darah muda yang menggelegak. John menjaga baseline dengan sempurna. Pukulan forehand topspinnya mampu menggoyahkan raket yang menerima bola pukulannya. Belum lagi kemampuan larinya yang tak kalah dengan cheetah. John mampu mengejar bola drop shot sempurna di depan net dari baseline.

Pak Tommy dengan postur yang tinggi sering banget menyerbu net. Semua bola tanggung maupun bola mengambang tinggi bakalan jadi smash empuk baginya.

Pertandingan sungguh seru, angka silih berganti kejar2an. Beberapa kesempatan kami leading, namun mereka sigap mengejar. Sampai kemudian angka 6 sama. Permainan harus ditentukan oleh tie break.

Penentu pemenang malam ini ditentukan oleh satu hal, siapa yang paling cepat dan tepat MEMBACA PERMAINAN LAWAN dan menyiapkan GAME PLAN untuk mengalahkannya.

Membaca permainan lawan berarti mampu memperkirakan servis yg dilakukan, bagaiman pilihan pukulan yang lawan lakukan dan bagaimana harus membuat antisipasinya.

Tie break 6-5, servis dilakukan. Terjadi adu pukulan cross court antara pak Ari pasangan saya dengan John. Saya menunggu di depan siap menubruk bola tanggung.

Saya baca bahwa dalam kondisi angka kritis seperti ini maka John akan terus melakukan pukulan silang keahlian dan kesukaannya.

Saya sedikit bergeser ke kanan, membuat antisipasu membuka ruang kesempatan untuk memotong pukulan cross court lawan. Tiba2 boom! John memukul lurus down the line top spin. Jatuh rendah di kiri saya dan segera berputar jauh ke belakang. Game Set! Saya hanya bisa terbengong melihat pukulan ajaib yg dilakukan John. Saya SALAH membaca permainan dan kemenangan menjadi hak lawan.

***
Bekerja dalam sebuah perusahaan, kemampuan MEMBACA PERMAINAN merupakan yang wajib hukumnya dikuasai oleh mereka yang duduk pada posisi senior management.

Mengelola sumberdaya, khususnya manusia penuh dengan lika-liku dan dinamika. Seringkali apa yang terjadi bisa berbeda 180 derajad dengan apa yang kita perkirakan.

Pernah dalam sebuah kesempatan seorang manager mengundurkan diri. Penyebabnya yang bersangkutan merasa tidak mampu bekerja sesuai ekspektasi.

Mengundurkan diri merupakan hal biasa, namun mengundurkan diri menjadi luarbiasa karena merasa tidak mampu (padahal banyak kesempatan untuk belajar) ditambah saat ditanya apa yang akan dia lakukan sesudah mengundurkan diri jawabannya TIDAK ADA.

Kondisi dan skenario yang anti mainstream seperti inilah yang harus diantisipasi untuk meminalisir efek buruk yang terjadi dan juga menyiapkan alternatif action yang dilakukan. Kalau tidak dilakukan maka bisnis jadi kocar kacir persis seperti permainan tenis kami.

Nah, apakah anda sudah mengantisipasi perubahan yang (mungkin) terjadi di perusahaan anda?

EU4U
BSDCITY280316

Adam & Jesus, the First and the Last #Hal67


Catatan Harian Eko Utomo

Adam & Jesus, the First and the Last #Hal67

Gladi Kotor berlangsung babak demi babak. Semua yang terlibat berusaha tampil dan berlatih sebaik yang mereka lakukan. Drama dan pujian satu persatu tampil mempertunjukkan hasil latihan demi memberikan yang terbaik bagi satu pelayanan besar awal tahun: Konser Paskah.

Seorang ibu mendekat dan bertanya, "Saya kok bingung ya pak. Ini kan Konser Paskah, kenapa drama pujian dibuka dengan adegan Adam JATUH DALAM DOSA di taman Eden?. Bukannya cerita Adam dan kematian Yesus berjarak ribuan tahun?".

"Betul ibu, kedua cerita berjarak ribuan tahun. Namun, SALIB Yesus kita perlukan karena cerita tentang Adam dan masuknya DOSA dalam dunia. Tanpa Adam dan dosa maka Yesus dan Salib tidak dibutuhkan", jawabku mencoba menerangkan hal yang tidak mudah dan butuh banyak penjelasan ini.

***
Mereka yang mengaku dirinya Kristen, beriman pada Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat, sebagian besar tahu bahwa karya terbesar Yesus bukan terletak pada kelahirannya (yang dirayakan besar2an dan cenderung konsumtif dan hedonis pada perayaan NATAL), juga bukan pada karya MUJIZAT yang dilakukan Yesus baik itu menyembuhkan orang sakit, mengusir Roh Jahat bahkan bukan pula mujizat membangkitkan orang mati seperti yang terjadi pada Lazarus saudara Maria dan Martha.

Karya terbesar Yesus pada iman Kristen adalah pada KEMATIANNYA DI KAYU SALIB!. Sebuah proses kematian yang sangat menyakitkan, memilukan, hina dan rendah pada masanya. Kematian Yesus (Jumat Agung) yang diikuti oleh Kebangkitan Yesus (Paskah) merupakan sebuah monumen hidup dalam iman kekristenan. Tanpa kematian di kayu salib bagaikan sebuah cerita tanpa akhir. Oleh karena itu umat Kristen akan menolak konsep yang meniadakan kematian Yesus di kayu salib, seberapa hina dan pedihnya peristiwa itu. Karena keselamatan muncul darinya.

Manusia Kristen modern, yang banyak dipengaruhi oleh rupa2 ajaran dan "pengetahuan", seringkali kebingungan atau tidak tahu apa hubungan antara cerita Adam dan cerita salib Yesus dalam konteks IMAN Kristen mereka.

Mereka seringkali meletakkan konsep Keselamatan Yesus dalam konteks pribadi (personal) sebagai manusia berdosa yang butuh Juruselamat, tidak ada hubungannya dengan "mitos" ala kitab Kejadian dengan manusia pertama yang dinamakan Adam.

Kesalahan yang sama ironisnya terjadi dengan usaha (sadar tidak sadar) memisahkan Kitab Perjanjian Lama dengan Kitab Perjanjian Baru. Manusia Kristen baru hanya fokus pada Perjanjian Baru yang penuh dengan nilai2 ajaran yang dibutuhkan di masa kini. Mereka meninggalkan Perjanjian Lama karena penuh dengan cerita yang bagi mereka "muskil dan tidak masuk akal".

Padahal, memisahkan Kitab Perjanjian Baru dari Kitab Perjanjian Lama ibaratnya memindahkan pondasi pada sebuah rumah. Rumah pasti akan runtuh. Tidak dibutuhkan PERJANJIAN BARU jikalau tidak ada PERJANJIAN LAMA.

Hal yang sama berlaku bahwa SALIB YESUS dibutuhkan karena ada peristiwa ADAM jatuh dalam DOSA, sehingga bumi ciptaan Allah yang sempurna ini menjadi rusak (Lihat Kitab Kejadian).

Adam sebagai manusia pertama adalah manusia yang hidup, yang karena mengundang dosa maka menjadi manusia yang harus mati karena upah dosa adalah MAUT.

Manusia yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah menjadi tercemar. Manusia tercemar dan berdosa tidak bisa bersekutu dengan Allah yang suci dan kudus. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah penebusan untuk mensucikan manusia berdosa. Oleh karena itu Allah mengirimkan "the last Adam", sang roh penghidupan (1 Kor:15:45).

Karya keselamatan Yesus di Kayu Salib, yang penuh dengan sakit dan derita yang tidak terhingga merupakan skenario dahsyat luarbiasa yang sudah dinubuatkan jauh2 sebelumnya.

"Dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" Yesaya 53:5.
Tanpa bilur Yesus, tanpa salib dan kematianNya dan tanpa Kebangkitannya, IMAN KRISTEN adalah sebuah pepesan kosong.

Apakah kita MENGIMANI keberadaan Adam, keberadaan kita sebagai MANUSIA BERDOSA dan KARYA KESELAMATAN YESUS? jawabannya pada terang Iman kita.

Selamat Paskah
Kiranya terang Keselamatan Tuhan bekerja pada kita

EU4U
BSDCITYMINGGUSUBUH
270316

BE SPECIFIC PLEASE! #Hal66


Catatan Harian Eko Utomo

BE SPECIFIC PLEASE! #Hal66

Kami semua serius mendengarkan paparan yang sedang dilakukan oleh Senior Manager Sales & Marketing. Gaya presentasinya cukup mengasyikkan, suara lantang dan jelas, serta gesture yang cukup baik. Semua duduk tenang dan fokus mendengarkan.

Dua halaman excel selesai diterangkan, sesi presentasi selesai. Saya mengangkat tangan:
"Dari target setahun dan perbulan tadi, bisakah saya mendapatkan data tentang area mana target berapa dan sales mana bertanggung jawab pada area apa serta target sales per area?".

Sang Senior Manager yang sedang presentasi berdiri terdiam, mungkin bingung campur ngak ngerti campur kesal dlsb, persis kayak campuran gado2.

"Ada datanya atau sudah didetailkan belum?", lanjutku membuyarkan keheningan.
"Hmmmm ngak ada pak", kali ini jawaban yang keluar dari mulutnya adalah jawaban lemah penuh ketidakpercayaan.

***
Pada banyak kesempatan, baik secara langsung maupun lewat media sosial, saya sering menemukan doa orang tua kepada anaknya agar sang anak pada saat besar nanti jadi "manusia yang berguna bagi bangsa, negara dan agama". Sebuah doa dan harapan yang indah namun absurb jika ditinjau pada sisi yang lain.

Mirip dengan presentasi Senior Manager pada cerita diatas, maka doa dan harapan orang tua ini sangat kualitatif dan luas. Semakin luas ruang bidik anda semakin gampang panah menancap sasaran namun semakin besar juga kemungkinan panah menancap pada titik yang tidak anda kehendaki.

Kalau lagi iseng saya sering menanggapi doa dan harapan orang tua tadi sambil bertanya "macebro, menurut ente, pak Ogah, pasukan orange, tukang parkir, polisi, tentara, PNS, Pejabat, CEO, mereka itu semua berguna buat bangsa dan negara ngak?".

"Pasti dan bergunalah!", ini jawaban standard mereka.
"Trus ente berharap anak loe mau jadi yang mana?", balasku lebih lanjut.

"!@@#/^&*", ditambah garukan kepala mereka yang biasanya terjadi kemudian.

Dalam dunia bisnis (dan juga kehidupan sosial sehari-hari) hanya kurang dari 10% karyawan/manager atau manusia biasa yang TAHU PERSIS apa yang dia inginkan atau apa yang ingin dia dapatkan.

90% yang lain tidak jelas apa yang dimaui bahkan sebagian besar kalau ditanya tidak punya tujuan!.

Dalam ilmu manajemen dasar, membuat TARGET yang SPECIFIC menjadi syarat utama dan pertama dalam teknik membangun target SMART. Target dan tujuan harus SPECIFIC, Measurable, Achiaveble, Relevant dan Time bond.

Apakah dengan target yang spesifik kemudian pasti tercapai? NGAK JUGA, karena ada banyak faktor lain yang mempengaruhinya. Namun dengan target aja belum tentu tercapai apalagi tanpa target? Lha panahnya mau diarahkan kemana?

***
"Daddy, kapan beli New Fortuner?", mantan pacar kalau sudah bertanya beginian bikin keder.
"Nabung dululah buat bayar DP, sabar ya", jawabku mencoba menentramkan gejolak hati sang penanya.

"Dad, Fortunernya yang Silver, tipe VRZ, jok kulit warna biru trus kaca film V Cool 70%. Trus jangan lupa ditambahin kamera semua arah", saya gak bisa membedakan lagi antara tembakan miltraliyur dan berondongan request spec.

"Kan katamu kalau mau sesuatu harus detai!", rayu mantan sambil senyum menggoda melihat mukaku yang terpana.

EU4U
BSDCITY240316

Bagaimana dengan anda?

MENTAL SILO #Hal65


Catatan Harian Eko Utomo

MENTAL SILO #Hal65

Pernah lewat pabrik semen? Buat anda orang Jakarta, jika sedang menuju Bogor lewat tol Jagorawi sempatkan keluar exit Gunung Putri atau Citereup. Maka anda akan bertemu dengan salah 2 perusahaan semen terbesar di Indonesia, Holcim & Indocement.

Tanpa harus masuk ke kompleks pabrik, maka kita akan disuguhin pemandangan yang spektakuler. Bangunan yang tinggi menjulang. Warna abu gelap, kokoh, dingin dan tak tersentuh. Sangat mencolok dibandingkan dengan bangunan2 di sekelilingnya.

Dari dalam keheningan bangunan tebal nan perkasa itu menyiratkan pesan "STAY AWAY FROM ME". Mereka2 yang mendekat belum2 sudah dibuat grogi, gelapnya warna mewakili kata "don"t mess with me".

Bangunan tinggi, angkuh dan gagah perkasa itu adalah SILO. Dibangun khusus untuk menampung ratusan bahkan ribuan ton semen hasil produksi pabrik sebelum dikirim ke proses pengantongan.

***
Dalam organisasi, baik organisasi bisnis atau non bisnis, kita akan banyak menemukan silo silo yang menjulang tinggi. Bukan merupakan silo secara fisik seperti yang ditemukan di pabrik semen namun silo dalam bentuk MENTAL yang dinamakan SILO MENTALITY.

Pasti anda sering menjumpai dalam sebuah meeting seseorang atau sekelompok orang duduk tenang dan cuek saat semua orang sibuk mencari jalan keluar suatu masalah. Mereka santai dan cuci tangan karena masalah itu bukan masalah mereka atau departemen mereka.

Dalam konteks yang lebih parah, saat solusi yang muncul membutuhkan keterlibatan mereka, maka orang2 ini menyilangkan dada dan mengambil jarak. Mereka tidak mau repot oleh urusan yang bukan urusan mereka atau departemen mereka. Angkuh, sombong dan dingin keras persis seperti Silo.

Yang mereka tidak sadari, bahwa kalau perusahaan sedang menghadapi masalah KONSUMEN tidak peduli urusan internal organisasi (baca #Hal64).

Silo silo mentality ini yang merusak proses penting didalam Organisasi yang bernama KOLABORASI. Kolaborasi mencakup banyak hal, tukar menukar informasi dan ide, kerjasama dalam melalukan eksekusi, gotong royong dalame mencari solusi.

Tanpa Kolaborasi maka efektivitas dan efisiensi organisasi menjadi terhambat. Organisasi menjadi lamban dan rapuh, tinggal tunggu waktu untuk digilas pesaing.

Para pemilik mental silo ini persis seperti katak dalam tempurung. Dunia bagi dia hanyalah sebesar tempurung yang mengurungnya. Mereka tidak memiliki cukup perspektif untuk bisa berempati. Manusia silo "kurang piknik".

Satu2nya cara agar mental silonya pecah yang bersangkutan harus dibawa keluar dari zona nyamannya. Letakkan pada posisi yang sedemikian berbeda bahkan berlawanan dari posisi saat ini. Meluaskan cakrawalanya. Kalau sebelumnya hanya melihat dari timur buat ybs melihat dari arah barat.

Dalam industri manufaktur misalnya, silo mentality yang legendaris biasanya muncul dan bersaing antara divisi penjualan vs produksi.

Penjualan membangun silo dengan membuat sales plan menurut apa kata hati mereka tanpa bertanya pada orang produksi. Tugas gue jualan agar perusahaan dapat duit. Tugas produksi meneketehe, itu tugas mereka.

Produksi membangun silo lain. Tugas gue saving cost dengan menekan biaya produksi serendah mungkin. Jadwal2 pemeliharaan mesin yang sudah ditetapkan tidak boleh diganggu gugat. Ngak mau tahu order sales lagi tinggi dan antri dilayani.

Tugaskan para penyandang silo mentality ini di kubu yang berbeda. Dan kita lihat apa hasilnya.

EU4U
BSDCITY170316

SUDUT PANDANG #Hal64


Catatan Harian Eko Utomo

SUDUT PANDANG #Hal64

Ruangan meeting sunyi, seolah semua menahan nafas. Yang terdengar hanya gemuruh lembut desis AC di pojok ruangan.

"Mengapa harus butuh rata2 23 hari untuk melakukan instalasi?", suara keras dan menusuk keluar dari mulut CEO, tepatnya ibu Presdir. Suara perempuan yang marah sama mengintimidasinya dengan suara sejawat mereka yang laki2.

Ruangan kembali sunyi, hanya gaung suara CEO yang bertalu2 di gendang imajinasi para peserta meeting.

"Sales Manager, masalahnya dimana?", ibu CEO mencecar.
"Kami sudah submit request ke Operation jauh2 hari bu", jawab yang ditanya.
"Kami kehabisan perangkat bu", manager operasi menjawab sebelum ditanya, takut kena tembak pertanyaan langsung.
"Supplier lagi ngak ada stock", manager pembelian berkata sesudah semua mata mengarah padanya.

"Btw, memangnya calon pelanggan peduli masalah internal kita ya? yang mereka peduli adalah order pemasangan BUTUH 23 hari, SANGAT LAMA!", ibu CEO berkata tegas, campur marah.

***
Apa yang terjadi dalam meeting pada cerita diatas sangat sering ditemukan. Fungsi2 perusahaan bekerja SENDIRI2 dan TERPISAH seakan2 menganggap bahwa fungsi yang lain bagaikan orang asing yang tidak ada hubungannya dengan diri mereka sendiri.

Fungsi yang satu menyalahkan fungsi yang lain. Departemen A menganggap departemen B sebagai pesaing. Saling menjauh dan saling bersaingan. Kalau ada masalah berperilaku BEJ (Blamming, Excuses and Justified).

Mereka tidak sadar bahwa KONSUMEN sangat TIDAK PEDULI urusan INTERNAL ORGANISASI. Yang dipedulikan oleh konsumen adalah saya sudah bayar harga dan selayaknya mendapatkan pelayanan terbaik. Consument DOES NOT CARE your internal process. Mereka hanya peduli produk atau jasa yang mereka beli. Kalau tidak puas mereka tinggal PINDAH pada PESAING.

Secara psikologis, mereka2 yang bekerja pada suatu fungsi atau departemen berlama2 memiliki kecenderungan untuk inward looking, hanya peduli pada diri sendiri.

Untuk menghindari hal buruk yang menganggu kinerja perusahaan seperti ini maka keseluruhan proses bisnis harus dilihat dari kacamata KONSUMEN. Semua hal yang membuat konsen happy dilakukan, dan sebaliknya.

Leader harus berdiri tegak ditengah menjewer departemen yang bekerja egois. Key person harus sering DIROTASI sehingga mereka memiliki perspektif yang holistik dari sebuah proses bisnis.

Bagaimana dengan anda?

EU4U
BSDCITY160316

PART OF SOLUTION #Hal63


Catatan Harian Eko Utomo

PART OF SOLUTION #Hal63

Tahun lalu kami memutuskan menjual rumah kami di Bandung. Bukan merupakan keputusan yang mudah. Kami membeli rumah itu di tahun yang sama dengan tahu perkawinan kami. Rumah dibeli sebagai tanda keseriusan kami membangun rumah tangga baru.

Rumah di pinggir timur Bandung itu diperoleh dengan tidak mudah. Cicilan DP 6x sebesar satu bulan gaji. Jadi selama 6 bulan saya di Papua dan Istri di Bandung hidup dari bonus bulanan dan tunjangan terpencil karyawan tambang. Selesai DP kami masih harus melanjutkan dengan 12x7 cicilan sesudahnya.

Rumah di pucuk bukit itu mengukir banyak kenangan. Setiap hari, tidak peduli malam atau siang hawanya selalu dingin dan segar. Ketinggian 900 m dpl membuat AC alam on terus.

Sesudah menjadi bagian pembagun memori selama 12 tahun, kami memutuskan untuk dijual.

Kami memiliki rumah baru di BSD Tangerang. Pekerjaan, aktivitas dan kesibukan berputar di sana. Semakin lama semakin jarang kami pulang ke Bandung. Kami tidak berniat untuk menyewakannya, kami putuskan untuk menjualnya. Bersama seluruh kenangan di dalamnya.

"Pa, bagaimana dengan lemari buku jati ini?", mama Thesa bertanya sedikit kebingungan. Kami putuskan memberikan isi rumah kepada pembeli rumah. Sangat repot membawa isinya ke BSD dimana disana juga sudah ada perabotannya.

Lemari buku ini sangat istimewa. Dibuat dari kayu jati asli dari Blora. Penghasil kayu jati terbaik di Indonesia. Kayu khusus dipesan oleh almarhum bapak dan ibu. Diplitur halus dengan ketebalan papan 10 cm lebih!. Dikirim dengan truk khusus dan butuh 6 orang untuk mengangkatnya ke dalam rumah!. Indah, kokoh dan klasik penuh kenangan.

"Pa, lemari jati bagaimana?", tanya mama Thesa membangunkanku dari kenangan.
"Sepertinya harus kita relakan tetap di rumah lama, kita berikan ke pembeli juga. Lemari Jati KLASIK ini TIDAK COCOK dengan rumah baru gaya MINIMALIS di BSD", sambungnya.

"Setuju", jawabku sesudah mempertimbangkan semua hal untung rugi termasuk kilasan memori yang tersimpan.

***
Menjadi karyawan baru pada sebuah perusahaan ibarat potongan puzzle kecil yang dimasukkan dalam puzzle besar yang sudah tersusun sebelumnya.

Kalau tidak tepat puzzle baru akan merusak gambar lama, bukannya melengkapi gambar besar supaya menjadi lebih sempurna.

Melanjutkan diskusi tentang bagaimana menjadi manager baru disebuah perusahaan (#Hal62), maka pertanyaan besarnya adalah kita sebagai karyawan baru apakah merupakan gambar puzzle yang tepat pada gambar puzzle besar yang baru?

Puzzle yang tidak cocok alih2 memperindah gambar akan merusaknya. Sama seperti lemari Jati klasik yang indah berpelitur halus dalam rumah minimalis. Tidak cocok, part of peoblem, bukan part of solution.

Dalam 3 bulan masa probation pertanyaan refleksi diri karyawan/manager baru adalah "Apakah aku menjadi part of solution di perusahaan baru ini?". Atau bahkan sebaliknya.

Saya sering melihat manager baru datang dengan membawa lensa pembesar dan dengan sigap menunjukkan apa saja kelemahan dan kekurangan di perusahaan baru. Kurang karyawan! Tidak ada sistem! Strategi lemah! dlsb.

Menunjukkan dan mengetahui kelemahan sangat mungkin sekali sudah diketahui oleh orang lama. Orang baru diundang datang untuk membantu MENEMUKAN JALAN KELUAR menjadi PART OF SOLUTION. Kalau orang baru datang tanpa membawa dan membangun solusi trus apa nilai lebih yang dibawa?

Jadi, kalau anda manager baru dalam meeting lebih banyak menemukan dan membawa ke permukaan banyak permasalahan tanpa solusi, siap2 saja anda untuk mencari puzzle baru yang lebih cocok.

EU4U
BSDCITY150316

Untuk para PROBLEM SOLVER

PEKERJAAN BARU #Hal62

Catatan Harian Eko Utomo

PEKERJAAN BARU #Hal62

Sepasang anak muda turun dari sepeda kotor. Sang pemuda segera memarkir motornya di tempat yang kosong. Mencopot helm dan merapikan baju yang agak kusut ditiup angin. Mukanya cerah bersemangat. Ini adalah kali pertama dia berhasil mengajak cewek "kecengannya" untuk makan malam berdua.

Saat baru mau jalan, sang cewek sempat bertanya mau makan dimana. Sang pemuda hanya membalas dengan senyum dan ucapan singkat "ikut aja, kamu pasti suka".

"Ayuk", ajak pemuda kepada sang pemudi yang sedang menunggu di depan tempat parkir.

"Makan dimana?" tanya sang pemudi kembali kepada sang pemuda kembali.

"Warung di depan itu, warung rica2 ikan ala Manado", jawab sang pemuda sambil tersenyum yakin bahwa pemudi pujaanya akan suka.

"Rica-rica?", sang pemudi berseru agak kaget.
"Kenapa?", kali ini sang pemuda yang tertegun dan memghentikan langkahnya.
"Aku ngak bisa makan pedas dan alergi ikan", jawab sang pemudi dengan muka pucat campur aduk ketidaksukaan dan perasaan tidak nyaman.

***

Memiliki PEKERJAAN BARU, baik itu pindah kerja ke perusahaan baru atau mendapatkan penugasan pada departemen yang berbeda merupakan peristiwa yang menarik.

Semua serba baru, ya orang2nya, ya sistem kerjanya, ya kantornya, termasuk atasan dan bawahan. Ketemu hal baru jelas menarik, karena kita akan mendapatkan perspektif baru. Melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang belum pernah kita alami sebelumya.

Dalam konteks pekerjaan menjadi lebih menantang, khususnya mereka yang mendapatkan tempat baru sebagai management, MANAGER baru misalnya.

Selain bertemu dengan semua yang serba baru, seorang manager baru membawa beban lain yaitu PROBATION PERIOD. Manager baru dituntut untuk bisa menunjukkan "potensi" berprestasi sebagai karyawan baru dari hasil interview. Kalau mereka tidak berhasil menunjukkan potensi untuk berprestasi maka bisa2 probation tidak lolos dan harus siap2 berburu pekerjaan baru.

Tekanan untuk segera memulai "pertunjukan" dan "making a positif impression from first sight" membuat manager baru ini membuat banyak asumsi dan cenderung "jump to conclusion" terhadap fenomena2 baru yang dihadapinya ditempat baru.

Tanpa ba bi bu dia buat perubahan2 terhadap sistem, organisasi, peran dengan secuil informasi yang dimiliki. Semua hal lama pasti kurang dan jelek, makanya butuh saya di tempat ini, demikian pikir manager baru.

***
"Pak, untuk meningkatkan kualitas layanan pelatihan, kita harus membuat semacam panduan agar semua trainer tahu persis apa yang harus dilakukan pada saat mengajar modul baru", Training Manager baru yang duduk di kursi depanku memberikan usul.

Training Manager ini baru satu minggu join di divisi kami, ini adalah sesi coaching pertamaku sebagai Div Head kepadanya.
"Maksudmu?", aku bertanya ingin tahu lebih dalam lagi apa yang dia maksudkan dengan usulannya.

"Sesuai pengalaman saya, divisi kita harus memiliki buku panduan atau manual agar modul2 training kita yang banyak ini dapat dibawakan oleh para trainer dengan kualitas yang sama", jelasnya dengan panjang lebar.

"Facilitator guide maksudmu", tanyaku singkat.
"Betul pak, itu standard tinggi di luar yang harus dimiliki oleh training deparmen yg hebat", timpalnya penuh semangat.

Aku berdiri dan bergerak ke arah rak lemari perpustakaan yang kami miliki. Mengambil setumpuk buku dan meletakkannya di meja depan kami.

"Sudah pernah baca fasilitator guide ini? Atau sudah bertanya sama yang lain apakah kita punya fasilitatir guide?", tanyaku sambil memandang muka yang sekarang terlihat pucat pasi.

***
Peristiwa yang terjadi seperti cerita diatas merupakan peristiwa yang sangat umum terjadi. Manusia punya kecenderungan untuk pamer dan dianggap "hebat" oleh orang lain, khususnya orang baru.

Bukan suatu hal yang aneh, namun orang baru sering lupa bahwa mereka benar2 baru di tempat itu. Dan persepsi hebat satu tempat bisa sangat berbeda dibandingkan dengan tempat lain, termasuk tempat lamanya.

Sang pemuda tanpa mencoba mencari tahu kesukaan cewek kecengannya "memaksa"nya untuk makan rica2 kesukaan dia. Jelas catatan kuning dihasilkan dari kencan pertama yang amburadul ini.

Training Manager baru memberikan masukan perbaikan kepada sistem dimana dia baru masuk menggali sebelumnya. Yang terjadi dia KEHILANGAN MUKA karena tertangkap basah tidak (mau) bertanya sebelum berbicara.

Orang baru sering lupa bahwa Probation Period itu berlangsung 3 bulan, bukan 1 bulan apalagi 1 minggu. Waktu yang tersedia lebih dari cukup untuk mencoba MENGERTI kondisi tempat baru sebelum memberikan memberikan MASUKAN.

Manager baru ditempat baru harus tahu CURRENT CONDITION sebelum bisa memberikan masukan untuk DESIRE CONDITION.

Darimana tahu tentang current condition? sederhana, banyak BERTANYA, MENDENGARKAN dan MENGAMATI. Tutup mulut erat2 dan menahan diri memberikan masukan sebelum tahu medan sesungguhnya.

Bagaimana tahu desire condition? tinggal tanya atasan anda. Membuat desire condition baru sesuai kemauan kita jelas bukan tujuan yang diinginkan oleh atasan yang merekrut kita.

Coba lakukan proses bertanya, mengamati dan memahami ini selama 1 bulan pertama, atau kalau waktu agak terburu lakukan 2 minggu dengan intensitas yang lebih tinggi. Niscaya peluang anda untuk selamat dalam probation dan berprestasi masih terjaga

EU4U
BSDCITY150316

Untuk para Manager (ditempat) baru.